Sobat,  sebentar lagi kita akan  menghadapi  “pesta demokrasi”,  baik untuk  memilih wakil kita di DPR maupun untuk memilih presiden.  Banyak tokoh yang ingin tampil  dan atau ingin ditampilkan  sebagai caleg (calon anggota legislatif) atau  capres (calon presiden).   Ada  yang vulgar  menampakkan  ambisi dan keinginannya itu,  namun ada pula  pura-pura malu tapi sangat mau.  Media massa “yang jika dicermati ternyata telah partisan”  juga tidak kalah heboh,   Media partisan tadi telah sedemikian rupa mengemas berbagai berita  dan acara talk-show untuk  menggelembungkan pamor  figur tertentu bahwa profil itu sangat layak memimpin Indonesia,   sembari berusaha mendowwn-grade figur-figur lainnya. Nah,  terkait dengan kiprah berbagai media (juga survei-survei) partisan ini,  sekedar tahu  berikut saya kutipkan sebuah tulisan dari “tetangga”.  Semoga tulisan ini ada manfaatnya.

Media  adalah entitas yang paling kuat di bumi. Mereka memiliki kekuatan untuk membuat orang yang tidak bersalah menjadi bersalah, dan membuat yang bersalah menjadi tidak bersalah, dan itu adalah kekuasaan. Karena mereka mengendalikan pikiran massa”
MALCOLM X

Maka cermatilah media yang tiap hari anda konsumsi – atau malah Anda bekerja di dalamnya: basis teologi-ideologi, basis histori, basis massa dan basis modalnya. Pastikan Anda di pihak yang sama. Jika tidak, beralihlah kepada media yang mempersaudarakan Anda dengan orang-orang yang semestinya menjadi saudara Anda di dunia dan di akhirat.

Media bukan pabrik sendal atau panci yang tidak ada urusan langsung dengan pemikiran. Media adalah pabrik kata-kata; pabrik opini, ia berurusan dengan bagaimana mengkonstruksi opini dan sikap publik. Adalah paradoks jika Anda seorang muslim, tetapi bekerja di dalam media yang secara latent mencuri kesempatan untuk menghantam saudara-saudara muslim Anda.

Jadi, Anda tidak perlu melakukan pengembaraan intelektual yang melelahkan untuk sampai pada kesimpulan yang terlambat di bibir liang lahat, bahwa media itu BERPIHAK.

Sobat,  sekali lagi,  janganlah anda terlu mudah percaya apa yang dikatakan media.  Bisa saja berbagai media menggelembungkan  seorang figur (caleg atau capres)  seolah ia seekor macan,  padahal dia hanyalah seekor anak kucing.  Singkat kata,  sikap yang paling pas kita terapkan di tengah situasi “para tokoh yang  sedang obral diri” seperti sekarang ini  adalah : Ojo  nggumunan (jangan mudah terkagum-kagum pada figur yang digelembungkan media), Ojo kagetan (jangan mudah terheran-heran  pada figur yang digambarkan oleh media telah melakukan sesuatu proses pekerjaan yang luar biasa,  padahal hasilnya sama sekali belum nyata).

Gambar: iwanyulianto.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: