Lelaki di Lampu Merah Surabaya yang Menginspirasi

Sobat,  berikut saya kutipkan tulisan Ahmad Arif,  yang saya pikir  bisa kita tarik hikmahnya untuk kehidupan kita.  Semoga.

Sejatinya hidup dan kehidupan adalah menjadi inspirasi bagi yang lain atau mengambil inspirasi dari orang lain. Siapa saja bisa menginspirasi, seperti halnya siapa pun boleh mengambil inspirasi tersebut dari setiap pergerakan di atas jagad raya ini. Tentu, inspirasi itu untuk hal-hal bersifat positif bagi masa depan yang lebih baik.Lelaki di Lampu Merah Surabaya yang Menginspirasi

Seringnya, si pengendara itu menyerahkan selembar pecahan Rp 5 ribu tanpa meminta kembalian. Sesekali, diberinya si penjaja koran yang sudah tua itu dua lembar pecahan 2.000, juga tanpa meminta kembalian. Si penjual koran selalu menyerahkan kembalian, tapi selalu pula ditolaknya dengan halus.

Karena penasaran, Jumat (3/1/2014) pagi saya menanti lelaki itu beraksi. Meskipun masih ada waktu 5 detik lagi baru lampu merah menyala, sengaja saya pelankan laju “kuda” kesayangan. Pagi tadi dewi fortuna menyertai saya. Baru 11 detik lampu merah menyala, lelaki baik budi itu pun beraksi. Pada detik ke tiga puluh, transaksi mereka selesai. Seperti biasanya, lelaki itu memberikan pecahan 5.000 tanpa meminta kembalian. Senyum bahagia jelas terpancar pada air muka sang penjual Koran.

“Kok ngasih uangnya lebih pak?” tanyaku kepada lelaki baik itu setelah “kuda” saya sejajarkan sebelah “kuda” tuanya.

“Enggak apa-apa. Anggap saja sedekah,” jawabnya agak terkaget dengan pertanyaan dari orang yang tidak ia kenal.

“Bukannya lebih baik bapak kasih ke pengemis itu,” saran saya sembari menunjuk ke arah pengemis yang telah beraksi sepagi itu.

“Maaf pak, saya lebih menghormati para pedagang jalanan seperti ibu penjual koran itu dari pada pengemis yang membuat kesan nista terhadap agama dan daerah kita,” ujarnya berintonasi tegas.

“Apa enggak rugi pak? Kan serambi harganya 3.000,” tanyaku lebih lanjut kaena masih penasaran dengan sikap bijak lelaki bajik itu.

“Enggak ada ruginya kita bersedekah. Malahan, sedekah itulah harta kita sesungguhnya. Mari pak, saya duluan,” katanya sembari menjalankan sepeda motor bututnya setelah lampu hijau menyala.

“Terima kasih ya pak,” ujarku setengah berteriak. Pada saat yang sama saya perhatikan ternyata jaket yang dipakainya ada yang telah sobek di bagian kanan.

Lelaki muda dengan “kuda” bututnya itu telah menginspirasi, bahwa berbagi dan memberi tidak mengenal kelas sosial. Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah. Inspirasi, seperti disebutkan dalam “Mata Najwa”, menjadi kunci agar semua mau berpartisipasi. Bahu membahu perbaiki negeri. Bersama-sama mengabdi tanpa henti. (mar)
Sumber: Liputan6.com/ Ahmad Arif / Surabaya, anta_xxx@yahoo.com/Posted: 03/01/2014 15:01

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: