Nasionalisme dan Ukhuwah Islamiah ? (Tulisan 1 dari 2)

Al-Qur’an S. 49:13 telah menegaskan, “Hai manusia, sesungguhnya Aku menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan.  Lalu Aku menciptakanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal.  Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa di antara kamu”. Ayat tersebut telah menjelaskan, betapa suku dan bangsa adalah realistas yang tak bisa dipungkiri. Namun demikian, perbedaan suku dan bangsa bukanlah faktor pemecah belah, melainkan lebih diarahkan pada suatu kesatuan dan kebersamaan melalu prinsip kenal mengenal dan prinsip ketaqwaan.

            Beranjak dari keaneka-ragaman suku dan bangsa, Islam menandaskan bahwa prinsip kenal mengenal perlu dan harus dikembangkan secara universal (sebagaimana disebutkan pada awal ayat yang menyatakan hai manusia, dan bukan hai orang Islam) baik yang Muslim maupun non Muslim.  Dengan kenal mengenal antar bangsa dan antar suku, maka dimungkinkan terjadinya inter relasi dan interaksi antar umat manusia, baik antar muslim maupun antara Muslim dengan non Muslim, baik antar suku maupun antar bangsa.   Melalui interaksi dan saling kenal inilah, maka dimungkinkan terciptanya mutual-understanding (kepahaman timbal balik) antar mereka sehingga akan dapat menimalisir rasa curiga yang mungkin timbul.   Melalui saling mengenal (taarruf) akan dimungkinkan terwujudnya saling kefahaman (tafahhum).  Dengan terbentuknya rasa tafahhum diharapkan akan menumbuhkan rasa cinta dan atau hormat menghormati (tuhibbun).  Walhasil, beranjak dari tuhibbun ini tentu akan dapat terkembang sikap ta’awun (saling membantu).  Dengan kata lain, berakar dari kenal mengenal maka persatuan dan kesatuan antar berbagai suku dan bangsa akan dapat terwujud, sehingga tugas manusia sebagai khalifah, sebagai pemakmur dan pensejahtera bumi akan dapat terealisir.

            Bahkan, secara khusus kepada kaum Muslim lebih ditekankan lagi dengan prinsip ketaqwaan, yakni melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya.   Beranjak dari prinsip ini, maka kendatipun realitas manusia dicipta dalam berbagai suku dan bangsa, namun  karena diikat oleh prinsip taqwa, maka perbedaan-perbedaan tersebut akan terkikis dengan sendirinya.  Kenapa ? karena, realitas kesukuan dan kebangsaan akan dikalahkan oleh komitmen kesatuan aqidah dan pelaksanaan syariah.   Logikanya adalah Siapapun yang bertaqwa, dia sudah pasti akan melaksanakan syariah (melaksanakan perintah dan menjauhi larangan) Allah.   Mengingat sebagian dari syariah adalah penyingkiran rasa ashobiah diantara sesama Muslim, maka ikatan golongan baik berupa suku maupun bangsa sudah selayaknya untuk digeser dengan persaudaraan aqidah.  “Muslim satu dengan Muslim lainnya adalah bersaudara”.  Bahkan dapat dikatakan bahwa “Muslim itu ibarat satu tubuh, sehingga bila satu bagian tubuh menderita sakit, maka bagian tubuh yang lain akan ikut merasakan rasa sakit tersebut.” (Al-Hadits).   Muslim dapat dikatakan sebagai “satu bangunan, di mana bagian yang satu dengan bagian yang lain saling memperkokoh untuk tetap menjaga berdirinya bangunan tersebut” (Al-Hadits).  Bahkan, pernah dikatakan Nabi, “Siapapun Muslim yang tak menaruh perhatian pada kepentingan umat Islam, hakekatnya dia bukan termasuk golongan Muslim” (Alhadits). Walhasil, manusia yang berasal dari satu (Adam), yang diciptakan oleh Dzat Maha Satu (Allah), dengan saling kenal, dengan suatu kepemimpinan, dan atau dengan suatu persaudaraan aqidah,  akhirnya akan kembali bersatu.

            Prinsip persatuan Muslim (Ukhuwah Islamiah) tersebut sudah pernah terwujud, terutama pada masa Nabi dan masa Khulafa ‘urrasydin.  Tatkala Muslim menerapkan sistem pemerintahan empirium macam Umayyah, Abbasyiah, maupun Utsmaniah prinsip ummatan wahidah (umat yang bersatu) relatif masih dapat dipertahankan kendatipun di sana sini terdapat banyak penyimpangan atas ajaran Islam.   Lantas, kenapa realitas dunia Islam sekarang oleh sebagian kalangan dinilai lebih menekankan prinsip nasionalisme (kebangsaan) atau ashobiah dibanding ukhuwah Islamiah?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: