Nasionalisme dan Ukhuwah Islamiah ? (Tulisan 2, Terakhir)

Nasionalisme pada mulanya berasal dari dunia Barat yang pada akhirnya tumbuh berkembang serta berpengaruh dalam berbagai wilayah termasuk wilayah Islam.  Hapusnya sistem khalifah dalam pemerintahan Islam disusul dengan munculnya nasionalisme yang memecah umat Islam berdasar ikatan primordial/ashobiyah secara jelas terkait erat dengan sejarah Turki. 

            Di Turki sejak seperempat terakhir abad ke-19 telah muncul jendral-jendral liberal revolusioner yang berusaha menentang Sultan yang dispot. Dengan “sekali coretan pena”, kaum revolusioner pengikut Mustafa Kemal Pasha ini telah menghapuskan sistem khilafah dengan mendapatkan suara secara intimidasi kekerasan dari Majelis Besar Nasional yang mengesahkannya.  Mulai saat itu umat Islam kehilangan organ yang  secara formal (informalnya adalah hati mereka) menyentralisir, dan  pada waktu berbarengan telah berkembang pula kecenderungan-kecaenderungan  kesukuan, atau nasionalisme dalam tubuh Muslim.  Orang-orang Arab pun mulai bergabung dengan tentara-tentara Eropa untuk memerdekakan diri dari cengkeraman kerajaan Turki (Kirdi Dipoyudo, Timur Tengah: Pusaran Strategis Dunia, (Jakarta: CSIS, Desember 1981), hlm. 22-23).

            Keadaan demikian terus berkembang dan berlanjut sampai kini.  Dari realistas dewasa ini terlihat bahwa Nasionalisme Muslim menyangkut dua hal pokok, yakni: pertama, perasaan bahwa negara yang didiami oleh kaum muslimin adalah suatu negara yang terpisah.  Kedua, negaranya tidak berbeda dari negara-negara lainnya, hanya lebih unggul, terutama jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. 

            Bagi Muslim fundamentalis yang ingin menerapkan ajaran dasar dari Islam, perasaan nasionalisme semacam itu dianggap terkutuk, bukan saja kerena berpikiran sempit dan chauvinistis, melainkan juga sangat tidak Islami. Pendapat demikian terutama didasarkan pada beberapa argumentasi:

            Pertama, Nasionalisme membagi-bagi umat manusia menjadi unit-unit kecil yang –seringkali– saling bermusuhan adalah menyangkal kesatuan dan keuniversalan umat manusia yang disebutkan dalam AlQur’an (Al-Qur’an S. 34:28, 36: 70, 61: 9) Allah itu Maha Esa, begitu pulalah manusia sebagai mahluqnya pada dasarnya satu.  Nilai persatuan ini secara jelas terefleksi dari peristiwa Haji yang secara efektif mempersatukan umat manusia dari berbagai suku, bangsa, yang berbeda-beda warna kulitnya maupun postur tubuhnya.

            Kedua, Nasionalisme telah memecah-mecah Muslimin dunia, dan karena itu pula telah melemahkannya.  Perasaan nasional ini menghasilkan negara-negara “modern” tetapi ia telah merusak kesatuan dunia Muslim dan telah mendorongnya sebagai umpan imperialisme kolonialisme Nasrani dan Zionisme.   Sementara seluruh dunia condong bergerak menuju internasionalisme –seperti parlemen eropa, Pasar Tunggal Eropa, bahkan Uni Eropa– Muslimin justru mundur kepada kesetian-kesetiaan kesukuan dan kebangsaan yang sempit (Richard P. Mitchell: The Society of the Muslem Brother, (Londone: OUP, 1969), hlm. 264).

   Sebagai ganti darul Islam yang merupakan sebuah rumah bagi seluruh umat Islam, beberapa anggota keluarga justru mencoba mengunci diri mereka dalam kamar sendiri-sendiri.

            Ketiga,  Nasionalisme sempit produk peradaban Barat telah menjadi obyek pujaan  –seperti nasionalisme Arab– bangsa meterialis yang destruktif menentang persatuan umat berdasar prinsip uluhiyat (ketuhanan) yang diperintahkan Islam.  Bahkan sampai ada yang berpendapat, bangsa modern cenderung terlalu mengagung-agungkan nasionalisme  yang telah mengarah ke dalam makna “sekutu Tuhan”.

            Memang, kalangan nasionalis Muslim sering berusaha mementahkan argumentasi tersebut.  Tetapi apapun alasan yang mereka kemukakan, tetap saja realistas sosial telah sering membuktikan kebenaran ketiga argumen tersebut. Dalam prinsip Islam secara jelas diterangkan, Alam ini diatur oleh dekrit-dekrit Tuhan Yang Maha Satu.  Seorang Muslim seharusnya adalah seorang yang tunduk kepada kehendak Illahi.  Kemanusiaan adalah satu.  Manusia-manusia bukan saja berasal dari satu orang pertama, akan tetapi juga berasal dari suatu kehendak yang mencipta yakni kehendak Tuhan yang Esa (Q.S. 66:98 dan 7: 189).  Monotheisme mengandung pengertian adanya suatu orde yang satu dan menyeluruh.  Hukum yang abadi adalah universal, sehingga pluralitas dalam penciptaan manusia pada dasarnya pada saat bersamaan telah menegaskan persatuan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: