Agama dan Faktor Perpecahan – Persatuan: Di Balik Lahirnya Negara Pakistan (Tulisan 1 dari 3)

Pakistan lahir tahun 1947 sebagai akibat dari pembedahan jazirah India menjadi 2 negara, yang satu India sebagai negara nasional sekuler, dan yang lain Pakistan sebagai negara agama.  Pakistan lahir di bawah pimpinan Muhammad Ali Jinnah, seorang tokoh Liga Muslim.  Semula Jinnah adalah anggota Congress National yang memperjuangkan India merdeka dan bersatu mengatasi perbedaan agama, bahasa, ethnis dan sebagainya.  Namun, karena adanya rasa saling curiga yang muncul akibat primordialisme, akhirnya pada tahun 1940 Ali Jinnah mulai memperjuangkan lahirnya suatu negara Muslim di Pakistan, lepas dari bagian-bagian lain Jazirah India.

            Tuntutan Jinnah bagi suatu negara Muslim terpisah tersebut meliputi Baluchistan, Bengali Timur, Propinsi Perbatasan Barat Laut, Punjab Barat dan Sind, membentuk suatu koleksi dari keaneka-ragaman kelompok-kelompok ethnik dan linguistik dengan sedikit kesamaan kecuali agama.  Gagasan Ali Jinnah tersebut akhirnya melahirkan negara Pakistan.

            Islam mulai masuk ke anak benua India pada tahun 711 M, lewat serangan-serangan orang Arab (dipimpin Muhammad Ibnu Qosim) terhadap wilayah Sind.  Namun pemukiman dan pemerintahan Muslim benar-benar dimulai baru pada abad 10 M oleh orang-orang Ghazaravid, Asia tengah, yang mendirikan ibukotanya di Lahore tahun 1021 M.  Mulai saat itu pemerintahan dan kebudayaan Islam berkembang pesat di India dan mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Dinasti Mughal, tahun 1526-1857. 

            Sejak abad 11 M, orang-orang Islam walaupun waktu itu jumlahnya tak lebih dari seperempat dari seluruh penduduk di anak benua tersebut, namun telah memegang kendali kekuasaan, memerintah mayoritas Hindu.  Selama minoritas Islam memerintah, meskipun interaksi antara Muslim dan Hindu berjalan secara berkelanjutan, namun tak pernah mengarah pada wujud pembauran walaupun juga tak dapat dikatakan bermusuhan.  Kedua komunitas ini tetap secara mendasar mununjukkan realitas perbedaan (John L. Esposito, Agama dan Perubahan Sosio-Politik, terj. S.H.S, (Jakarta: Aksara Perdata, 1983),hlm. 227).

            Setelah kolonial Inggris masuk India, pemerintahan Muslim mulai menurun.  Walaupun pada awal abad 18 M dan seterusnya seorang pimpinan Mughal tetap berada di atas tahta, tetapi Inggris semakin mendominasi kehidupan politik dan ekonomi.  Proses ini mencapai puncak setelah dihapuskannya pemerintahan Muslim Moghul serta dibentuknya pemerintahan kolonial Inggris secara resmi.  Peristiwa ini terjadi terutama setelah gagalnya Sepoy Mutiny tahun 1857 –yang oleh kaum nasionalis India disebut Perang Kemerdekaan India pertama melawan kolonial Inggris (Fathi Yakan, Gerakan Islam di Abad modern, terj. Masrur Zaenuddin, (Jakarta: Media Da’wah, 1987), hlm. 52. Juga lihat Richard L.  Wheeler, The Politics of Pakistan: A Constitution Quest, (Ithaca and London: Cornel University Press, 1970), hlm.  2-7)– dengan dipimpin penguasa Muslim, Moghul.

            Selama gerakan kemerdekaan melawan kolonial Inggris para pemimpin Hindu dan pemuka Muslim India sebenarnya menghendaki sebuah Front Nasional.  Maulana Abdul Kalam Azad (1888-1958) misalnya, adalah seorang tokoh Muslim yang selalu menyeru bagi persatuan Hindu-Muslim dalam rangka melawan kolonial Inggris.  Azad mendesak umat Islam untuk membebaskan diri dari kekhawatiran terhadap mayoritas Hindu, yang dikatakannya telah dengan sengaja ditanamkan dalam pikiran mereka oleh kolonial Inggris. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: