Agama dan Faktor Perpecahan – Persatuan: Di Balik Lahirnya Negara Pakistan (Tulisan 2 dari 3)

Selama gerakan kemerdekaan melawan kolonial Inggris para pemimpin Hindu dan pemuka Muslim India sebenarnya menghendaki sebuah Front Nasional.  Maulana Abdul Kalam Azad (1888-1958) misalnya, seorang tokoh Muslim yang selalu menyeru bagi persatuan Hindu-Muslim dalam rangka melawan kolonial Inggris.  Bahkan Azad memperluas konsep Jihad, menyamakannya dengan perjuangan kemerdekaan yang di dalamnya umat Hindu juga dapat ikut serta. Kalangan Barat sering menerjemahkan Jihad hanya sebagai Holy War (perang suci).  Sebenarnya Jihad berasal dari kata Jahada, yaitu berusaha hingga sampai tujuan.  Dalam Islam Jihad berarti bersungguh-sungguh dalam setiap usaha yang diridloi Allah untuk tercapainya tujuan dengan hasil yang baik.  Bahkan melawan hawa nafsu juga termasuk jihad.  Jadi bukan semata-mata hanya dengan mengangkat senjata (pedang) saja, tetapi semua usaha untuk tercapainya da’wah Islam (A’la Maududi, “Jihad di Jalan Allah”, dalam Jihad Fi Sabilillah, (ed.), (Jakarta: Media Da’wah, 1986), hlm.  17, 24).

            Azad menyatakan: “Ingatlah bahwa patriotisme juga dituntut dari umat Hindu agar mereka berjuang demi kemerdekaan negara mereka.  Bagi Umat Islam, hal ini merupakan tugas agama, yaitu jihad. Kalian adalah pejuang-pejuang yang bertempur untuk Tuhan dan Jihad termasuk setiap usaha yang dilakukan atas nama kebenaran dan kemerdekaan.  Saat ini orang-orang itu (Hindu, pen) yang ikut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan negara adalah jihad juga.  Kalian mestinya berada di garis terdepan dalam jihad ini.” (Edward Mortimer, Islam dan Kekuasaan, terj.  Enna Hadi Dan Rahmani Astuti, (Bandung: Mizan, 1984), hlm. 177).

            Namun, antusiasme para pemimpin Hindu dan Muslim untuk mewujudkan India bersatu ternyata sulit terealisir. Rasa saling curiga dan cemburu antara Muslim dan Hindu menjadi hambatan utama bagi terwujudnya tujuan itu. Berbagai pertentangan berakar dari nilai budaya, ekonomi dan terutama keagamaan demikian kuatnya, sehingga walaupun telah hidup bersama selama berabad-abad, pengertian dan perasaan  kebersamaan yang merupakan landasan bagi suatu rasa kebangsaan tak pernah dapat tercipta.  Agama yang menjadi bagian Integral dari dua  budaya tradisional besar di India, serta menjadi suatu sumber kekuatan yang mengilhami dan menjamin serta melestarikan identitas hidup mereka akhirnya disalah mengertikan menjadi suatu fenomena yang distruktif-chauvinistis. Adanya saling curiga yang berlandaskan semangat komunal Hindu-Muslim akhirnya sangat merongrong upaya persatuan India.

            Jurang pembatas tersebut menjadi semakin lebar saat politik baru demokrasi ala Inggris diterapkan, yang memberi keuntungan lebih kepada golongan Hindu yang mayoritas dibanding golongan lain yang minoritas, termasuk kalangan Muslim. Padahal, bagi Muslim sebagai suatu “bangsa” yang hampir 1000 tahun berpengalaman sebagai raja-raja  atau penguasa –termasuk di India– tentu tak akan rela diubah menjadi suatu golongan minoritas yang dirugikan. Oleh karena itu, tidak aneh jika tujuan utama aktifitas politik di kalangan Umat Islam menjadi semakin bersifat anti Inggris, terutama setelah tahun 1911, yakni  ketika Inggris mengalah terhadap tekanan Hindu untuk membatalkan pembagian Bengali, yang isinya umat Islam diberi janji bahwa Bengali Timur, yang di daerah itu Muslim jelas mayoritas, akan tetap diakui sebagai propinsi yang terpisah.

            Penempatan Muslim dalam posisi marginal dalam spektrum politik tersebut akhirnya merangsang para pimpinan Muslim, seperti Mohammad Ali Jinnah, untuk memperjuangkan dan mendesak status yang sama bagi mereka.   Desakan yang dilontarkan mengarah pada keinginan adanya pengakuan kesamaan kelembagaan antara Liga Muslim seluruh India dengan Congress Nasional seluruh India dalam perjanjian Lucknow tahun 1916. Tetapi, satu hal penting yang harus dicatat adalah para pemimpin Muslim (termasuk Ali Jinnah) pada waktu itu tidaklah mempersoalkan pilihan mereka pada program pemisahan dalam pengertian yang berkaitan dengan wilayah.  Mereka hanya mendasarkan tuntutan agar umat Islam diakui sebagai masyarakat tersendiri dalam negara dan diberi perwakilan seimbang dalam segala tingkatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: