Tipologi Agama dalam Spektrum Politik Pakistan (Tulisan 1 dari 4).

Di  kalangan Muslim (bahkan juga non-Muslim) Pakistan (bahkan juga India), Khanqah telah menjadi lembaga penting bagi kehidupan  beragama sejak abad pertengahan. Khanqah adalah organisasi para penganut mistitisme yang di dalamnya para santri mendapat bimbingan keagamaan dari seorang guru.  Islam Khanqoh adalah Islam kerakyatan.  Mistitisme Muslim mencapai India hampir bersamaan dengan berdirinya kesultanan Delhi, abad 14, yang pada waktu itu terdapat sekitar 200 Khanqoh (Riaz Hasan, Islam dari Konservatisme Sampai Fundamentalisme, terj. Dewi Haryani S., (Jakarta: Rajawali Press, 1985), 56-58).

            Arti penting Khanqah timbul terutama dari fungsi- fungsi keagamaan,  kesejahteraan sosial, pendidikan dan kebudayaan. Dalam masyarakat Khanqah telah mengembangkan suatu lingkungan tak berstratifikasi serta  menerapkan cara-cara hidup sederhana dengan dilandasi rasa persaudaraan.  Gaya hidup demikian ternyata menarik perhatian masyarakat, apalagi dari kaum Hindu kasta rendah (baca: kaum harijan atau untouchable caste) yang menjadi “korban” sistem struktur  sosial masyarakat yang sangat berstratifikasi secara kaku. Begitupun kaum Muslim, Khanqah menjadi menarik terutama karena keberadaannya sesuai dengan cita-cita Islam tentang persamaan dan persaudaraan, jauh dari praktek diskriminasi yang  dijalankan kelas penguasa Muslim.

            Namun, pada perkembangannya Khanqah secara idiologis spiritualitas mengalami perubahan penting.  Penganut  Khanqah dan pengetahuan tentang mistitisme yang dipelajarinya  telah bergeser ke arah proses turun temurun,  yang pada gilirannya mengarah pada pertumbuhan hubungan Kyai-Santri  (meminjam istilah popular dari Indonesia), suatu paradigma di mana Kyai adalah pemimpin dan Santri adalah pengikut yang wajib taat dan atau menyerahkan diri pada Kyai.  Kharisma  Kyai tersebut dirutinisasi dalam praktek kepemimpinan Cult-Association (persekutuan pemujaan) yang didasarkan pada aspek keturunan dan bukan pada jasa.  Praktek demikian akhirnya  membangkitkan suatu kelas baru yang terdiri dari orang-orang  yang disebabkan oleh keturunan dari seorang suci sufi.  “Sang keturunan” dapat mengklaim status spiritual mereka yang biasa dikenal dengan sebutan Sajjada-Nishin, Qoddinashin atau  Wali (Ibid., hlm. 62).

            Pengaruh sosial-budaya yang ditanamkan dalam Khanqah oleh Sajjada Nishin pada murid-muridnya ini ternyata menarik perhatian kelas penguasa.  Akhirnya, berdasar  alasan keagamaan dan politis, penguasa pun lantas mengusahakan kerjasama dengan organisasi Khanqah terutama guna memelihara stabilitas politik. Bahkan, penguasa akhirnya juga mempergunakan pengaruh dan kekuasaan Sajjada Nishin terhadap para santri untuk menyediakan tenaga militer baru (mobilisasi) hanya lewat pengumuman singkat. Mekanisme  paling berpengaruh –kendati bukan satu-satunya– yang dipergunakan negara untuk memperoleh kerjasama Khanqah bagi  pemeliharaan stabilitas dan kerukunan sosial ini adalah melalui  pemberian tanah wakaf, yang dikenal dengan Ma’adad-e-ma’ash . Praktek demikian pertamakali dilakukan para Sultan Delhi, yang akhirnya diikuti Kaisar Moghul, bahkan juga oleh kolonial  Inggris.

            Bagi Khanqah sendiri, dengan memiliki tanah luas serta persekutuan politik dengan negara telah menjadikan Kyai sebagai kekuatan  ekonomi dan politik dalam masyarakat.  Kyai akhirnya memegang dan  menggunakan pengaruh politik, ekonomi dan keagamaan yang  besar terhadap sejumlah besar santri mereka. Bahkan, seringkali karena kesamaan kepentingan dengan para tuan tanah Muslim (Zamidar), para Kyai  tak jarang pula mengadakan kerjasama yang berkembang menjadi persekutuan  Kyai-Zamidar, bahkan sering berlanjut pada ikatan perkawinan antara keluarga mereka. Alhasil, elit Kyai-Zamidar akhirnya menjadi  inti yang sangat menentukan dalam masyarakat Muslim sekaligus menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah “negara” di anak benua India.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: