Tipologi Agama dalam Spektrum Politik Pakistan (Tulisan 2 dari 4).

Khanqah memiliki tanah luas serta persekutuan politik dengan negara telah menjadikan Kyai sebagai kekuatan  ekonomi dan politik dalam masyarakat.  Bahkan, seringkali karena kesamaan kepentingan dengan para tuan tanah Muslim (Zamidar), para Kyai  tak jarang pula mengadakan kerjasama yang berkembang menjadi persekutuan  Kyai-Zamidar. Elit Kyai-Zamidar akhirnya menjadi  inti yang sangat menentukan dalam masyarakat di wilayah anak benua India sekaligus menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah negara.

            Meskipun  telah memisahkan diri dari India tahun 1947,  pemerintah  Pakistan tetap berusaha memanfaatkan Kyai-Zamidar ini.  Dengan suatu sistem baru pemerintah Islamabad telah memperkuat negara dengan meletakkan manajemen tempat suci di bawah  manajemen birokrasi negara.  Tatkala Ayub Khan berkuasa, pengawasan dan manajemen tempat-tempat suci dilembagakan dalam West-Pakistan Waqaf Properties Ordinancy Of 1959, yang dalam perkembangannya digantikan oleh  peraturan tahun 1961 dan 1976. Sedangkan tatkala Zulfikar Ali Bhutto memimpin, beberapa fungsi tradisional pengelolaan tempat suci, seperti perayaan Urs bagi orang suci  terkemuka, diambil alih oleh birokrasi waqaf baru.  Baik Ayub Khan maupun Ali Bhutto, sesuai dengan fungsi kuno Khanqah dan fase-fase Tariqo Sufisme keduanya berusaha menghidupkan  kembali ide tempat suci sebagai pusat kesejahteraan. 

            Namun,  tatkala Zia ul-Haq mengambil alih kekuasaan, kebijakan kedua pendahulunya ini dirubah esensinya. Pertalian antara  tempat suci dan nilai-nilai tradisi dengan tujuan-tujuan  politis dari pemerintah dikurangi. Perayaan-perayaan tempat suci tak lagi dilaksanakan dengan dukungan dana pemerintah, kendati tempat- tempat suci  itu tak diabaikan dan sanak keluarga orang suci Sufi  tetap menikmati dukungan dari pemerintah.

            Meskipun alam politik Pakistan memberi posisi  cukup kokoh dan berpengaruh pada Kyai-Zamidar, namun persekutuan itu ternyata mendapat perlawanan juga. Bahkan sejak menjelang kemerdekaan Pakistan, sebenarnya  telah muncul kekuatan tandingan terhadap Kyai-Zamidar –terutama di perkotaan– yang dipimpin para Ulama. Para Ulama dengan salah satu aktor  utamanya adalah Jamaat Islami (selanjutnya baca: JI) pimpinan Abul ‘Ala Maududi melancarkan gerakan pembaruan Islam yang pada  prinsipnya bersikap anti Kyai dan atau anti pemujaan terhadap orang keramat.  Mereka berpendapat, setiap orang punya  tanggung jawab perseorangan yang didasarkan pada norma-norma  kitab suci. Pendapat ini dirujukkan pada Al-Qur’an Surat Al- Baqarah ayat 37 ( Al- Qur’an Terjemah, Juli 1952 : 7).

            Mereka mencoba membangun kembali masyarakat  Muslim dengan menegaskan pentingnya nilai-nilai persamaan, disiplin pribadi secara ketat, tanggung jawab perseorangan, pendidikan serta perubahan ekonomi. Mereka juga  menentang praktek-praktek kebiasaan yang tak menunjukkan  ciri-ciri Islam.  Kaum Ulama yang mewakili Islam “Murni” (kelompok Islam  Sentralis) memandang Islam Populer yang berdasar paradigma  Kyai-Santri sebagai menyesatkan dan penuh tahayul.  Oleh  karena itu, pemahaman tersebut harus digantian dengan ajaran  Islam yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, di  mana mereka merasa menjadi juru bicaranya.

            Namun, upaya demikian tidak gampang mengingat Islam  Populer merupakan tradisi keagamaan yang dominan dan telah  meresap dalam kehidupan sosial-budaya. 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: