Tipologi Agama dalam Spektrum Politik Pakistan (Tulisan 3 dari 4)

Evolusi negara  Pakistan telah dipengaruhi secara mendalam oleh kedudukan  dominan Islam Populer.  Bahkan sejarah telah mencatat,  pemerintah pusat yang lemah telah bisa memperluas yurisdiksinya terhadap daerah pedesaan yang luas dengan bantuan pemimpin tradisi Islam Populer dan Zamidar tradisional.   Dengan kata lain, Islam Populer telah menjadi bagian integral bagi negara secara terpisahkan.  Sedangkan tradisi Islam Sentraisl sekedar berada di batas luarnya saja.

            Walhasil, dapat dipahami bila munculnya gerakan yang ingin menggantikan persekutuan historis Negara – Islam Populer dengan Negara – Islam Murni  (Sentralis) secara paradoksal menimbulkan  gerakan penentangan, khususnya dari para Kyai.  Apa yang dilakukan kaum sentralis oleh mereka disebut sebagai  kekuatan yang ingin merusak stabilitas sosial- politik.

            Tetapi, kondisi masyarakat Pakistan ternyata kian kondusif menunjang gerakan kaum Ulama (Islam Sentralis), dan sebaliknya mempersempit ruang gerak para Kyai (Islam Populer) untuk mempertahankan status quo.  Perubahan sosial berupa urbanisasi,  kenaikan jumlah orang yang melek huruf, serta industrialisasi di Pakistan sejak tiga dasa warsa  terakhir abad 20 telah menciptakan keadaan sosio-ekonomi yang kian menumbuhkan mobilisasi massa untuk mendukung tradisi Islam murni  di bawah pimpinan Ulama, yang biasa disebut Islamisasi. Islamisasi adalah usaha bertahap dan terorganisir yang akan mewujudkan masyarakat yang seluruhnya comitted pada ajaran Islam dalam totalitasnya serta berusaha bernaung dibawah ajaran-ajaran itu dalam pemerintahan, politik, ekonomi, organisasi sosial, hubungan-hubungan dengan negara lain, sistim pendidikan dan nilai-nilai moral serta semua aspek lainnya dari aspek hidup ( Ja’far Syaikh Idris ,1988 : 143).

            Jika tahun 1951, rakyat Pakistan yang tinggal di kota hanya 18 persen, maka tahun 1977 telah  mencapai 28 persen, dan mencapai 50 persen pada tahun 2000. Meningkatnya jumlah penduduk kota (urbanisasi) ini membawa dampak sosial politik yang penting, terutama akibat timbulnya dimensi baru dalam pembagian kerja secara sosial. Sektor perkotaan didominasi oleh ekonomi pasar, dan sejumlah  besar dari penduduk yang pindah ke kota mengarah pada  kehidupan sulit serta menjadi sasaran semua jenis pengekspolitasian, terutama akibat persaingan dan sulit mencari kerja. 

            Frustasi dan eksploitasi ini telah membangkitkan sejumlah  besar ketidakpuasan.  Namun, karena percobaan kaum buruh perkotaan untuk menganut pendirian radikal komunisme telah dihadapi secara keras oleh rezim nasionalis, maka alternatif  yang paling mungkin adalah tumbuh suburnya gerakan bernafas Islam di kalangan rakyat. Apalagi dengan semakin rumitnya pembagian kerja, maka peranan  pemerintah dalam mengatur urusan kemanusiaan telah meningkat secara berarti.  Peningkatan dalam peraturan rasional-birokratis demikian akhirnya melemahkan hubungan patron-client feodalistis yang sebelumnya telah berperan penting dalam masyarakat.  Artinya, dengan kian besarnya keterlibatan pemerintah mengatur kehidupan masyarakat akhirnya mengakibatkan proses pengikisan basis tradisional hubungan rakyat dengan para patronnya.  Dalam pengikisan dan atau pengosongan ini ternyata gerakan Islam mendapatkan arti strategis dalam urusan sosial sebagai lambang orde baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: