Tipologi Agama dalam Spektrum Politik Pakistan (Tulisan 4, Terakhir)

Perubahan sosial berupa  kenaikan jumlah orang yang melek huruf di Pakistan sejak tiga dasa warsa  terakhir abad 20 telah menciptakan keadaan sosio-ekonomi yang kian menumbuhkan mobilisasi massa untuk mendukung tradisi Islam murni  di bawah pimpinan Ulama, yang biasa disebut Islamisasi.  Jumlah penduduk yang ‘melek huruf’ di Pakistan dari tahun ke tahun memang kian meningkat.  Jika tahun 1947 penduduk yang dapat membaca hanya kira-kira 29 persen, maka pada tahun 1972 telah mencapai 42 persen khusus untuk penduduk  perkotaan dan 14 persen untuk penduduk pedesaan.  Realitas ini terus meningkat kea rah positif di tahun 2000 an.  Dan sekitar 22 persen dari penduduk berusia 10 tahun ke atas telah mampu membaca, dengan perbandingan 3 : 1 antara pria dan wanita.   Peningkatan ini jelas membawa akibat sosiologis bagi kehidupan sosial.  Karena dalam masyarakat buta huruf –seperti awal kelahiran Pakistan, bahkan juga kondisi sekarang sepanjang menyangkut rakyat pedesaan Pakistan– tradisi kebudayaan disalurkan  melalui rangkaian pembicaraan tatap muka. Dalam masyarakat  seperti ini, kendati muncul ketakpercayaan dan atau kekecewaan dalam masyarakat namun sifatnya tetap non-komunikatif.  Oleh sebab itu, kritikan dan kecaman yang muncul tak berdampak begitu besar, serta lebih  mudah dilupakan.  Akibatnya, status quo  pun relatif dapat  bertahan.  

            Sedangkan dalam masyarakat melek huruf, kearah  mana masyarakat perkotaan Pakistan mengarah dengan cepat,  walaupun komunikasi tatap muka tetap berjalan, tetapi tulisan dan bacaan memberi sumber alternatif bagi penyebaran  orientasi kebudayaan baru, karena orang-orang yang melek  huruf tak lagi bersifat taqlit. Artinya, mereka menjadi lebih sadar terhadap inkonsistensi antara apa yang dijanjikan dengan apa yang diberikan atau apa yang betul-betul  dikerjakan. Mereka juga sadar terhadap ajaran ideal dari Islam, dengan praktek interpretasi Islam yang dilakukan oleh para pemimpin agama.

            Pada masyarakat Pakistan, kelompok “melek huruf”  menjadi semakin kritis terhadap elit nasionalis yang cenderung berorientasi Barat.  Mereka semakin sadar terhadap warisan “kebudayaan” mereka sendiri (baca: Islam) dan tata sosial yang  didasarkan padanya.  Karena secara dogmatis mereka tetap  merupakan orang Islam, maka  tata sosial yang didasarkan  pada al Qur’an-Hadits mendapatkan dukungan kian besar (Riaz Hasan, op. cit., hlm. 33). Kondisi demikian semakin dipacu oleh realitas bahwa  rezim nasionalis telah menjadi  sangat korup dan represif.  Pada tingkat yang  lebih tinggi, hal ini merupakan gejala kegagalan rezim dalam  memecahkan persoalan kemiskinan, pengangguran dan  ketimpangan ekonomi.

            Alhasil, akhirnya untuk pertama kali lingkungan perkotaan telah memungkinkan gerakan pembaharuan yang dipimpin Ulama, memobilisir massa untuk mendukung posisi ideologis  mereka bagi negara dan masyarakat Islam Pakistan.  Kaum Islamis menyerukan bahwa negara harus dibentuk berdasarkan pola-pola Islam.  Oleh karena itu, negara harus diambil alih dan  diperbaharui.  Begitu juga menurut Moh. Iqbal, yang benar adalah bahwa Islam tidaklah sama dengan gereja.  Islam adalah negara, menggambarkan organisme yang diberi semangat nilai ideal (Zainal Abidin Akhmad, 1977: 35). Mereka berpatokan pada  Hadits (teladan)  Nabi bahwa melalui kekuasaan negara, Tuhan mengakhiri apa  yang tidak dihapuskannya melalui Al-Qur’an.  Hal ini berarti, pembaharuan yang ingin dilaksanakan oleh Islam tak bisa dilaksanakan hanya dengan khotbah saja. Kekuatan politik juga penting untuk mencapai perubahan- perubahan tersebut. Bahkan Abdur Rahman Abd al-Khaliq berpendapat bahwa masalah politik dalam Islam adalah juga  masalah agama (Abdur Rahman Abd al-Khaliq, Islam  dan Politik, (Jakarta: Pustaka al-Hidayah, 1987), hlm. 13). Untuk mencapai tujuan tersebut kaum Islam Sentralis  lantas menerapkan suatu mekanisme infiltrasi bertahap ke dalam alat-alat pemerintahan, serta melalui barisan  kader mereka untuk membangkitkan kesadaran rakyat agar  mendukung menegakkan negara ideal tersebut. Oleh sebab itu, dapat dipahami bila disamping memobilisir kaum pekerja dan kelas menengah perkotaan, Islam Sentralis yang dipelopori Jamaat Islami juga telah  masuk dalam bagian utama kehidupan negara dan masyarakat melalui keanggotaan kader yang direkrut dengan  hati-hati dan diorganisasir secara ketat.  Hal ini telah  memberi kekuatan pada Jamaat Islami untuk melancarkan aksi  politik guna memperkuat dan menggabungkan kedudukan politis  dengan kedudukan keagamaannya.  Walhasil, pada akhir 1970-an Jamaat Islami telah membangun diri dengan kuat, sehingga  setelah kudeta militer tahun 1977 yang menempatkan tokoh fundamentalis, Zia  ul-Haq, pada puncak kekuasaan Jamaat Islami pun berhasil mempengaruhi kebijakan negara.  Bahkan, program Islamisasi yang dicanangkan  Zia ul-Haq pada intinya berlandaskan kerangka dasar yang dibuat tokoh ideologi Jamaat  Islami,  Abul ‘Ala Maududi. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: