Politik Islam Pakistan (Terakhir dari 4 tulisan)

Kaum sekuler berpendapat bila agama dikaitkan dengan politik, niscaya negara akan statis karena ajaran agama memang sifatnya statis, jumud dan menentang pembaruan.  Pendapat ini tentu saja ditangkis politisi Islamis. Bagi mereka, Islam justru menyerukan suatu pembaruan terus menerus dalam kaitannya dengan  kehidupan dunia (bernegara) untuk disesuaikan dengan tuntutan zaman. Dalam kaitan ini, kedudukan ilmu pengetauan berada pada posisi yang sangat penting. Pendapat ini bukannya tanpa bukti.  Banyak ayat al-Quran  dan Sunnah Rasul yang menekankan tentang pentingnya ilmu pengetahuan, seperti terefleksi dari ayat Alquran yang turun pertama berbunyi Iqra” (bacalah), suatu perintah agar Muslim rajin membaca (belajar).  Padahal, cikal bakal segala ilmu pengetahuan adalah bacaan yang dapat diserab lewat membaca, baik membaca buku maupun fenomena alam semesta.

            Dalil-dalil diatas tentu memperlihatkan betapa penting perkembangan ilmu pengetahuan dalam pandangan Islam.  Soal pembaruan dalam muamalah (keduniaan) Islam malah berprinsip bahwa semua dibolehkan kecuali yang dilarang, pada saat bersamaan pembaruan dalam ibadah (hubungan dengan tuhan) semua dilarang kecuali yang dibolehkan.  Paradigma ajaran tersebut telah memperlihatkan betapa kehidupan kemasyarakatan dalam ajaran Islam diberi peluang untuk melakukan berbagai pembaruan secara luas, yang dalam terminologi Islam disebut Ijtihad.

            Kaum sekuler memang berpendapat bila agama berperan dalam negara, hal ini bertentangan dengan prinsip negara milik bersama, karena agama memberi hak lebih kepada pemeluknya melebihi pemeluk-pemeluk agama lain.  Politisi Islamis tentu punya pendapat lain. Menurut mereka, hal  itu hanya benar bila dikaitkan dengan soal ibadah dan kehidupan akherat, namun akan salah total bila dikaitkan dengan sisi muamalah, kehidupan kemasyarakatan (sosial) berbangsa dan bernegara. 

            Dari sisi peribadatan  (akherat) Islam memang telah membuat aturan baku bahwa selain orang Islam mereka termasuk kafir (tertutup, ingkar) karena musyrik (menyekutukan Tuhan), dan oleh karenanya kelak di akherat akan masuk ke dalam neraka selamanya. Hal ini ternukil dalam Al Qur’an, S: at-Taubah:80, “Kamu pintakan mereka itu ampunan ataupun tidak, bahkan kalaupun mereka itu engkau pintakan ampun sampai 70 kali, namun Allah tidak akan memberikan ampunan Nya. Pun, “Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang paling bertaqwa”, yang tentu saja hanya akan merujuk pada pemeluk Islam saja. Dari sudut klasifikasi ini maka adalah benar bahwa agama Islam memang memberi hak lebih kepada pemeluknya saja.

            Namun, jika ditinjau dari konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara (muamalah) ternyata tidak demikian.   Bahkan, Islam  secara nyata dan tegas melantunkan larangan terhadap penguasa Islam untuk bersikap tak adil terhadap kaum non-Muslim, termasuk di bidang hukum.  Maklum, di bidang muamalah Islam memang memakai prinsip “rahmatan lil ‘alamin”, memberi rahkat (kasih sayang) kepada alam semesta, yaitu dunia dan semua isinya.  Oleh karena itu, ajaran agama ini telah mewanti-wanti bahwa, “Ingatlah, barang siapa berbuat Zalim terhadap kafir dzimmi (0rang-orang non-Islam yang tidak memusuhi Islam), atau memberikan beban kepadanya di luar kemampuannya atau mengurangi hak-haknya dan atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya tanpa seizin dia, maka Allah pembelanya (pembela bagi orang kafir tersebut untuk menuntut orang Islam atas kesalahan yang dilakukan terhadap kafir) nanti di hari kiamat (HR. Abu Yusuf). Pun, Islam dengan tegas menandaskan, “Dan janganlah sampai kejengkelanmu terhadap suatu kaum (orang-orang non Islam) menyebabkan kamu tidak berbuat adil.  Berlaku adillah kamu, karena adil itu jalan yang terdekat untuk bertaqwa kepada Allah (Q.S. al Maidah: 8). Dalam kerangka keadilan duniawi itu pula, Allah –Tuhannya ummat Islam– melalui sifat Rahman Nya telah melimpahkan karunia dan rizqi Nya kepada seluruh umat manusia tanpa memandang agama, apakah sang manusia bertaqwa kepadaNya, ataupun malah bersikap ingkar (kafir) kepadaNya.

            Kaum sekuleris dan kaum Islamis memang punya argumentasi sendiri-sendiri. Dapat dimengerti jika dari waktu ke waktu isu seputar hubungan agama dan politik ini terus menjadi bahan kajian yang menarik untuk diperbedatkan. Tarik menarik antara kaum sekuleris dan Islamis ini, ternyata juga menggejala dalam spektrum politik Pakistan, bahkan telah muncul sejak awal lahirnya negara Muslim itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: