Mendebat Politik Agama ? (1 dari 4 tulisan)

Islam bukan agama dan Muhammad bukan penemunya.  Pernyataan demikian seperti berasal dari golongan sesat dalam Islam, padahal sebenarnya tidak.  Karena Islam memang bukan sebuah agama dalam pengertian umum yang mengajarkan bahwa agama hanya menyangkut kehidupan pribadi manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya.  Islam adalah cara hidup total di mana ajarannya merupakan petunjuk hidup yang menyangkut seluruh sisi kehidupan, pribadi dan masyarakat, material maupun moral, ekonomi, sosial budaya, hukum dan politik, serta masalah lokal maupun internasinal (G.H. Jansen, Islam Militan, terj. Armahedi Mahzar (Bandung: Pustaka, 1980), hlm. 10). Inilah ciri khas Islam yang tak dimiliki oleh ajaran agama lain.

            Namun sampai kini masih terdapat beda pendapat tentang hal tersebut, terutama dalam soal kaitan antara politik dan Islam.  Sementara orang (termasuk sebagian Muslim) berpendapat adalah sebuah kekeliruan  besar untuk mencampuradukkan antara Islam dan politik.  Islam adalah Islam dan politik adalah politik. Islam bukanlah politik dan politik hendaknya jangan dipaksakan menjadi bagian dari Islam.  Islam dan politik menurut pandangan mereka adalah dua hal yang dikotomis, tak dapat dicampurbaurkan. Memasukkan Islam dalam kerangka politik kendatipun dengan maksud untuk mengagungkan Islam, menurut mereka, hakekatnya justru akan merendahkan Islam.

            Kerangka berpikir demikian muncul terutama karena mereka berpijak pada suatu asumsi bahwa politik itu berdiri pada dunia “kotor”, dan merupakan arena jegal-menjegal dalam upaya memperjuangkan dan atau mempertahankan kekuasaan.  Oleh karena itu, mencampur Islam yang fitrah (suci) ke dalam dunia politik yang kotor penuh tipu muslihat itu justru akan menyeret Islam ke dalam kenistaan dan bukan mengagungkan nama Islam. Bertolak dari pemikiran demikian inilah akhirnya mereka akan selalu berkata Islam “yes” dan politik “no”.

            Namun, pada sisi lain banyak pula kalangan yang berpendapat bahwa Islam tak dapat dipisahkan dari kehidupan politik.  Politik merupakan konsekuensi logis dari Islam,  untuk tak dikatakan sebagai dua sisi dari satu mata uang.   Bahkan, menurut kelompok ini, sejarah telah mencatat bahwa Muhammad S.A.W. sejak hijrah dan menetap di Madinah melakukan pada waktu berbarengan kewajibannya sebagai nabi dan kepala negara, yakni memimpin dan melaksanakan hokum (M. Boisard, Humanisme Dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 182.  Juga Bernard Lewis, Kebangkitan Islam Di Mata Seorang Sarjana Barat, (Bandung, 1983)).   Oleh sebab itu kebalikan dari pendapat kelompok pertama tadi, kelompok kedua ini justru berkata adalah sama sekali tidak Islami kalau seorang ulama Islam tidak tertarik dan bergerak dalam bidang politik.  Karena sikap seperti itu mengandung implikasi makna bahwa mereka masa bodoh terhadap nasib umat Muslimin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukankah kesejahteraan umat Islam dan pelaksanaan syariat Islam hanya dapat dijamin bila elit pemerintah punya komitmen positif atas Islam ?  Hal demikian tentu hanya dapat diwujudkan bila kalangan Islam dapat berkuasa, minimal dapat berperan mempengaruhi kelompok pembuat kebijakan.  Sedangkan, jalan untuk berkuasa atau mempengaruhi penguasa ini tidak lain adalah melalui jalur politik dalam arti seluas-luasnya (G.H. Jansen, op. cit. hlm. 205).

            Dua kelompok berbeda pendapat tersebut dari waktu ke waktu berupaya mempertahankan ide dengan melandaskan pada berbagai argumentasi.  Bahkan, tidak jarang mereka bersikap chaunivis, selalu memandang salah terhadap mereka yang berbeda pemikiran. Walhasil, sikap demikian akhirnya menumbuhkan perpecahan, sehingga prinsip Islam “ummatan wahidah” (umat bersatu) menjadi romantisme masa lalu.  Ajaran Islam yang menyeru umatnya menerapkan sikap wa’tasimu bihablillahi jami’an (bersama-sama berpegang pada tali Allah untuk mewujudkan persatuan dan persaudaraan) akhirnya menjadi sekedar semboyan, simbol, dan mitos belaka.  Dalam praktek Muslim mengembangkan sikap yang sebenarnya justru menjadi larangan, yakni wala tafarraqu (janganlah kamu bercerai-berai).  Islam yang satu akhirnya pecah menjadi kepingan sekte-sekte (firqoh) , bahkan seringkali menyebut kelompok lain yang tak seide sebagai tidak Islam, perusak Islam, dan oleh karena itu harus dimusuhi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: