Islam Menyoal Kepemimpinan (1 dari 3 tulisan)

Negara dan kepemimpinan dalam kacamata Islam merupakan dua konsekuensi logis bersifat timbal balik. Negara merupakan operasionalisasi konkrit prinsip kepemimpinan Islam dalam rangka menjamin pelaksanaan syariat Tuhan, menjamin terwujudnya Hablun minallah dan Hablun minannas  sebagai realisasi dari pengabdian manusia kepada Tuhan.  Oleh karena itu, seorang pemimpin dalam prinsip Islam bukan saja dituntut harus seorang yang punya kemampuan organisatoris dan atau kepemimpinan yang handal, melainkan harus pula faham dan punya keterikatan moral terhadap pelaksanaan syariat Islam.

            Untuk mendapatkan tipe kepemimpinan demikian, maka tak terhindarkan pula bila dalam proses pemilihan pemimpin prinsip Islam perlu diterapkan, yakni prinsip musyawarah.  Dalam al-Qur’an S.3:59 misalnya disebutkan, “Bermusyawarahlah kamu dalam segala hal.  Jika kamu telah mencapai kesepakatan, maka berserahdirilah kepada Allah.”  Begitu pula dalam Q.S.48: 38 :”Urusan mereka dimusyawarahkan di antara mereka”.

            Dengan prinsip syuro/musyawarah ini berarti bahwa peran umat (rakyat) dalam sistem pemerintahan Islam sangat besar meskipun tetap terbatas.  Syuro dan umat adalah satu-satunya pemegang kedaulatan tertinggi di bawah Syariat. Oleh karena itu, tunduk kepada umat adalah kewajiban keagamaan.  Dari prinsip tersebut akhirnya muncul dua  konsep penting dalam pemerintahan Islam, yaitu: tidak ada tempat bagi raja di dalam Islam, dan tidak ada pewarisan kekuasaan dalam Islam, baik yang berdasarkan ikatan darah (keturunan) ataupun primordialisme dalam bentuk lainnya.  Kekuasaan tertinggi untuk memilih dan memecat pemimpin berada di tangan umat dengan berlandaskan syariat (G.H. Jansen, op. cit., hlm. 251-252).

            Dengan prinsip bahwa umat adalah satu-satunya kedaulatan tertinggi di bawah syariat, mengandung makna bahwa ajaran Islam tidaklah identik dengan sistem demokrasi dalam pengertian umum yaitu kedaulatan tertinggi di tangan rakyat, di mana rakyat punya kekuasaan dan kebebasan mutlak dalam mengartikulasikan aspirasinya.  Namun, dalam waktu yang sama Islam juga tidak bermakna teokrasi dalam pengertian yang selama ini kita pahami, yakni kekuasaan berada di tangan Tuhan yang didelegasikan kepada para pemimpin agama. Karena pemahaman sedemikian akhirnya melahirkan konsekuensi pemikiran bahwa para pemimpin agama adalah wakil Tuhan yang seluruh perintahnya harus ditaati, karena perkataan mereka adalah perkataan Tuhan, dan perbuatan mereka selalu sebagai realisasi dari kehendak Tuhan. 

            Memang benar bahwa Islam mengajarkan agar umatnya patuh pada pemimpin agama (Ulama-Umara).  Namun, kepatuhan dalam konsep Islam bukanlah tunduk secara buta.  Tidak ada kependetaan dalam Islam.  Manusia adalah tempat salah dan lupa, sehingga tiada seorangpun berhak mengklaim bahwa dirinya bersifat maksum yang bebas dari segala kesalahan dan dosa, termasuk pula kaum Ulama.   Ketaatan umat terhadap pemimpin agama bukan ketaatan kepada individunya melainkan ketaatan pada sesuai tidaknya ucapan dan perbuatan individu tersebut dengan syariah Allah (Tuhan).  Bila ucapan dan perbuatan mereka tidak sesuai dengan ketentuan Syariat, maka orang tersebut, kendatipun seorang ulama terkenal, tak layak untuk ditaati ucapan dan perintahnya.

            Dengan kata lain, dalam musyawarah Islam terdapat prinsip bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan Tuhan yang dimaktubkan dalam hukum-hukumnya berupa al-Qur’an, serta dijelaskan oleh Rasulnya dalam Hadits.  Kedua referensi ini lantas ditafsirkan ummatnya melalui Ijtihad (pembaruan) sesuai dengan tuntutan jaman. Dengan demikian pemerintahan dan politik Islam tidaklah menganut sistem demokrasi dan bukan pula teokrasi dalam pengertian umum, melainkan menganut sistem Teo-demokrasi, yakni kekuasaan tertinggi di tangan umat (Musyawarah) di bawah syariah (Al-Qur’an dan Hadits Nabi).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: