Islam Menyoal Kepemimpinan (ke 2 dari 3 tulisan )

Al-Qur’an dan Hadits merupakan referensi utama umat Islam dalam menata kehidupannya,  termasuk dalam konteks politik berdemokrasi.  Sedangkan operasionalisasinya diserahkan kepada umat (masyarakat) untuk ditafsirkan dengan situasi dan kondisi masing-masing masyarakat melalui Ijtihad (pembaruan), baik dalam bentuk Ijma’ maupun Qiyas.  Hal demikian berarti mode politik Islam sangatlah mengarah pada fitrah bahwa semua perundang-undangan Islam wataknya sangat luwes dan memungkinkan terus dikembangkan lewat interpretasi umat.                  

            Begitu pula, Ijtihad dalam Islam tidaklah terikat oleh level kepangkatan dalam pemerintahan secara kaku.  Seorang presiden dapat saja meminta nasehat gubernur bila sang gubernur itu memang dianggap ahli dalam masalah/persoalan yang dipersoalkan tadi. Hal seperti ini sering dilakukan Khalifah Umar Ibnu Khottob, yang sering menulis surat permintaan nasehat hukum tentang suatu kebijakan pemerintahan kepada Gubernur Basra, Abu Musa Al-Ash’ari.            Bagaimanakah pola pengangkatan pemimpin (Khalifah) pertama dalam Islam pasca-Muhammad? Merupakan fakta sejarah bahwa Rasulullah Muhammad tidak pernah menunjuk seorangpun sebagai penggantinya untuk memimpin pemerintahan Islam setelah dia wafat.  Kendati demikian bagi setiap Muslim masalahnya tetap jelas, terdapat beberapa prinsip umum yang harus mereka  penuhi dalam mengaplikasikan pemilihan pemimpin, yakni Musyawarah dalam kerangka syariah. 

            Sikap Muhammad untuk tak memberikan satu bentuk kongkrit dan baku dalam sistem pemilihan dan pengangkatan pemimpin sangatlah rasional.  Karena, di hampir setiap perbedaan tempat dan waktu hampir dapat dipastikan akan terdapat pula perbedaan karakteristik, terutama akibat perbedaan kondisi sosial-ekonomi dan budaya-politik  yang ikut berpengaruh  pada struktur dan pola politik yang dianutnya.  Oleh sebab itu dapat dipahami bila sistem pemerintahan Islam tidak pernah ada dekrit yang mengikat kecuali tatanan umum dalam hukum Islam, yaitu konsultasi, adil dan sederajad berlandaskan syariah.  Dengan sistem demikian maka umat Islam dimungkinkan untuk ikut menentukan bentuk-bentuk sistem pemerintahan Islam sesuai dengan keinginan dan tuntutan waktu, tempat, dan kondisi yang selalu berubah. Sistem Islam tidaklah membiarkan terwujudnya suasana pemerintahan yang anarkis, yakni siapa yang kuat dialah yang memegang tampuk kepemimpinan.  Rasulullah telah mewariskan sistem konsultasi (musyawarah) di antara Muslim.  Itulah cara untuk mengikat pendapat di kalangan Muslim sepanjang jaman. Dengan cara tersebut maka sistem pemerintahan Islam dapat lestari untuk diterapkan di negara manapun tempat Islam berkembang.

            Hal ini berarti pula bahwa kendatipun Islam bersifat universal dan tidak terikat oleh tempat dan waktu, namun Islam bukanlah ideologi yang harus diterapkan apa adanya untuk wilayah manapun, untuk waktu kapanpun, serta dengan tantangan apapun.  Islam bukanlah ideologi, tetapi hendaknya dipakai sebagai sumber untuk membentuk ideologi bagi umat Islam.

            Sebagai ilustrasi menarik dari sistem Islam pasca kenabian misalnya, adalah kasus pengangkatan Khalifah pertama Abu Bakar. Pendekatan pemikiran yang dipakai kaum Muslimin dalam memilih Abu Bakar menjadi Khalifah kala itu adalah Musyawarah yang dilandaskan pada qiyas (analalogi) antara Imam Sholat dengan kepala negara yang mengatur urusan politik pemerintahan.  Dengan cara itu pula watak kewajiban khalifah sekaligus mereka tetapkan.  Terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah didasarkan pada pertimbangan  bahwa tatkala Nabi sedang berhalangan memimpin Shalat, ternyata Abu Bakar dipercaya menggantikan posisi Imam. Kepercayaan demikian oleh Muslimin dianalogikan sebagai isyarat bahwa figur Abu Bakar pun sangat layak menggantikan kepemimpinan umat dan meneruskan mensiarkan Islam pasca-Rasulullah.

            Cara yang agak sama –namun lebih eksplisit– tercermin juga dalam pengangkatan Utsman bin Affan menggantikan Umar bin Khattab sebagai khalifah. Menjelang ajal Umar menolak permintaan sementara kalangan Muslimin yang meminta agar ia menunjuk penggantinya. Ia hanya bersedia memberikan alternatif pemikiran dan pandangan tentang figur-figur yang layak memimpin umat sepeninggal dirinya. Saat itu Umar mengemukakan tujuh alternatif figur yang dianggap layak menggantikannya, termasuk di dalamnya Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Abdur Rahman bin Auf.  Berdasar “saran” alternarif itulah Muslimin bermusyawarah, menentukan khalifah pengganti sepeninggal Umar, dialah Utsman bin Affan. Dari kedua peristiwa sejarah itu akhirnya dipetik ajaran penting bahwa inti dasar pemilihan seorang pemimpin adalah berdasar pada mekanisme musyawarah, kendati saran pertimbangan dari pemimpin sebelumnya, baik secara implisit (dalam kasus Abu Bakar) maupun eksplisit (dalam kasus Utsman bin Affan) tetap dimungkinkan. Tetapi keputusan final tetap berada di tangan ummat.

            Dari sejarah tadi terlihat bahwa pada periode awal sepeninggal Rasul (masa Khulafa ur-Rasyidin: Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib) prinsip pemerintahan Islam terefleksi secara kuat dalam pemilihan pemimpin, yakni lewat musyawarah dengan tanpa meninggalkan kriteria ketaqwaan dari calon pemimpinnya. Namun pasca periode itu, kekuatan-kekuatan sejarah telah mengubah ke arah berbeda. Di dalam masyarakat Muslim selanjutnya yang ada hanyalah nafsu berkuasa.  Mereka meninggalkan prinsip Syuro dengan menerapkan sistem Empirium (kekaisaran) yang menetapkan kepemimpinan pada faktor keturunan dan bukan pada kapabilitas (kemampuan) dan ketaqwaan.  Hal ini terjadi karena hampir seluruh anggota komunitas Islam telah kehilangan pengetahuan tentang kebenaran agamanya.  Mereka melepaskan “api” Islam dengan hanya mengambil “asap” Islam.  Akibatnya, kendatipun secara formal mereka menyebut sebagai pemerintahan Islam, namun pada esensinya sebenarnya justru bertentangan dengan Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: