Maududi dan Politik Agama Ala Pakistan (Tulisan 3 dari 6)

Tak ada yang paling ditentang oleh ketua JI, Abul ‘Ala Maududi, kecuali anggapan: bahwa Islam hanyalah sebagai persoalan pribadi individu dengan Tuhan, atau hanya doktrin metafisik dan atau kelompok upacara saja.  Islam adalah jalan hidup yang utuh (kaffah).  Tak ada aspek hidup yang otonom dari Islam, dan semua yang otonom dari Islam berarti di luar Islam. Walhasil, Muslim tak hanya dituntut untuk menyerahkan diri kepada Tuhan hanya di tempat ibadah, melainkan disembarang waktu dan tempat. Ibadah hakekatnya bukan hanya mencakup ritualisme/upacara penyembahan semata, melainkan juga penerimaan Tuhan sebagai sasaran loyalitas tertinggi, pusat ketundukan.  Dengan demikian, secara sistemik Islam mencakup makna totalitas.  

            Dinamika kebudayaan Barat, menurut pandangan JI, memang patut dihargai.  Namun perlu dicatat bahwa kebudayaan Barat –yang berwujud dalam berbagai Isme– ternyata tidak mempunyai kesadaran arah yang benar, akibat palsunya prinsip-prinsip yang mendasarinya : yakni didasarkan pada kebebasan manusia dengan mengabaikan petunjuk Tuhan. Mereka berpikir tak perlu untuk mengikuti petunjuk Tuhan ataupun untuk bertanggung jawab pada Tuhan atas perbuatannya. Kalaupun ada yang sadar tentang perlunya mengikuti petunjuk Tuhan, maka yang diambil hanya sebagian kecil dari hidup, dan tetap berada pada ketamakan.  Walhasil, dunia modern hanya melihat dirinya sebagai binatang yang dapat berfikir, jauh dari ukuran moral ke-Tuhan-an. Kendati isme-isme dari Barat itu berbeda bentuk, tetapi hakekatnya timbul dari filsafat yang sama, yakni: Manusia dan bukan Tuhan yang sebenarnya justru paling berhak menentukan.

            Maududi menilai, sikap dunia Muslim terhadap budaya dan atau isme-isme Barat ini terdapat dua kelompok , Pertama, menyerah dengan mengadopsi seluruh budaya Barat.  Sikap demikian memang “sedikit” memberikan kebaikan berupa memperluas cakrawala pandang terhadap masalah-masalah yang dihadapi, namun pada saat bersamaan sebenarnya  telah pula menghilangkan identitas Islam.  Sikap ini terutama dirujukkan pada Ali Jinnah dan orang-orang yang sealiran dengannya, atau bahkan kelompok yang lebih ekstrim dari Ali jinnah. Kelompok Kedua bersikap statis untuk mempertahankan diri.  Mereka khawatir jika warisan nenek moyang mereka tak dipelihara, maka Islam menjadi kabur.  Mereka tak membedakan antara komponen warisan yang sehat dengan yang tak sehat, tak mau memahami penyebab keruntuhan Muslim dan atau berjayanya Barat.  Mereka yang biasa disebut tradisionalisini  bersikap taqlit terhadap warisan budaya secara membabi buta, sehingga secara konservatif menolak perubahan. Kelompok ini terutama mengarah pada kalangan Islam Populer yang dipimpin para Kyai pedesaan.

            JI tidak saja menentang sikap kelompok pertama, melainkan juga menentang keras sikap kelompok kedua. Menurut Maududi yang tak bisa diubah hanyalah apa yang tersurat dalam Al-Qur’an dan Sunnah, tak ada yang lain lagi.  Semua pendapat ulama masa lalu perlu bahkan harus dikaji ulang untuk diterapkan dalam dunia kontemporer.  Sikap kritis sedemikian harus pula diterapkan atas kebudayaan Barat, tinggalkan yang merusak tetapi mengambil manfaat dari kemajuan yang sehat, yang dapat diasimilasikan dalam kehidupan Islam.

             Dari uraian tersebut terlihat bahwa hakekat upaya JI adalah bagaimana mengupayakan terterapkannya kehidupan nilai-nilai Islam dengan mengeliminir (bahkan menghancurkan sama sekali) hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam yang disebutnya Jahiliah. Dalam perspektif politik Jahiliah adalah segala hal yang menolak kekuasaan dan otoritas petunjuk Tuhan, baik dalam bentuk jahiliah murni yang menolak total kehidupan supra-indrawi, maupun jahiliah campuran, yakni mengakui adanya Tuhan Pencipta tetapi dengan mencampur aduk  dengan kepercayaan palsu, antara elemen-elemen tertenu dari petunjuk Tuhan dengan elemen-elemen lain yang palsu.  Jahiliah campuran ini bisa berujud spiritualistas ekstrim dengan menafikkan dunia; mistik berlebih-lebihan dengan ide manusia suci ataupun manunggaling kawula-gusti, sehingga tak bisa dibedakan mana mahluq dan mana khaliq (Panteisme); atau bisa pula dengan mencampur prinsip Islam dengan isme-isme palsu lain.

            Jamaat Islami pimpinan Maududi secara jelas mengecam kaum modernis (nasionalis sekuler)  yang menyelundupkan isme-isme gagasan Barat yang anti Islam kedalam pikiran Muslim dengan berkedok pada pembaruan Islam.  Dosa kaum modernis sekuler adalah memutar balikkan Qur’an dan Sunnah  untuk disesuaikan dengan kepicikan pemikiran di luar Islam, termasuk khususnya sekulerisme dan liberalisme Barat.  Islam memang memerintahkan pemeluknya menggunakan akal sehat untuk memahami ayat Tuhan.  Namun bukan berarti lantas hanya mengikuti standar akal.  Dan ternyata kaum Modernis terlalu sibuk untuk mewujudkan Islam benar-benar masuk akal, dan bukan sebaliknya memulai dengan : akal budi yang benar adalah Islam. Karena mereka menempatkan akal manusia sebagai kekuatan penentu sebagai acuan referensi, maka mereka tak mau menerima Quran dan Sunnah secara sungguh-sungguh sebagai sumber menentukan.

            Dia pun mengecam dan menuduh kelompok tradisionalis telah menyelewengkan  Islam dengan menambah peraturan-peraturan dari pemikiran mereka pribadi.  Mereka telah dibingungkan oleh skolastik pemikiran mereka sendiri sehingga tak bisa membedakan dasar-dasar Islam dari detail-detail  ajaran Tuhan murni dengan ajaran-ajaran pada abad pertengahan.  Qur’an dan Sunnah memang harus diterima apa adanya, disamping juga perlu berijtihad –untuk kehidupan kontemporer– namun tak berlawanan dengan kedua sumber asli itu.

            Perubahan penting dalam politik dunia Islam dewasa ini adalah perubahan dari Khalifah kepaa monarkhi yang duniawi yang berimplikasi pada peranan agama dalam kehidupan sosial politik, yang sadar atau tak terjadi pemisahan agama dan politik, pemisahan pimpinan politik dan agama.  Begitu pula dalam hal pendidikan.  Akibatnya, kehidupan moral jadi kacau dan kesetiaan ikhlas jadi lemah yang mengarah pada kemunafikan.  Ujungnya Muslim takluq pada kolonial Barat dengan segala kebudayaannya.  Pemisahan agama dan politik (lewat pendidikan dan atau budaya) akhirnya berangsur-angsur menjadi pemikiran yang diterima umum.  Tatkala negara-negara merdeka dan –bahkan terus berlanjut– pemimpin-pemimpin negara Muslim pun umumnya jatuh ke tangan orang berpendidikan kolonial itu, yang sedikit sekali pengetahuanya tetang Islam.  Kendati mereka mungkin mencintai Islam, tetapi karena tak mengerti Islam mereka tak bersedia menyerahkan diri mereka secara penuh pada skema kehidupan Islam.  Hal ini menyebabkan masyarakat Muslim terkoyak antara dua sistem: sistem Islam dan sistem jahiliah modern, seperti yang dialami Pakistan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: