Archive for Juni, 2015

“Muslim Bali” di Tengah Masyarakat Bali yang Berubah

https://i0.wp.com/www.publicapos.com/images/stories/allimages/Muslim_Bali_book_cover.jpgTentu kita bertanya, apakah ada yang disebut Muslim Bali, bukankah selama ini, yang hidup di Bali, adalah kaum Hindu. Dhurorudin Mashad, peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) berupaya menggali eksistensi komunitas ini secara cermat melalui penelitian yang dilakukan cukup lama. Mashad, memulai penelitiannya itu sejak 2005, 2009, 2010, dan 2011. Selama berbulan-bulan, ia tidak hanya berupaya mendeskripsikan kehidupan keagamaan,  ekonomi, interaksi sosial, dan kultur komunitas muslim ini, tetapi juga menelisik awal mula Islam masuk di Bali.  Karena itu, dalam buku ini, Mashad juga menunjukkan komunitas muslim kuno di Bali. Penelusuran Muslim Bali secara historis, mengantarkan Mashad ke Kabupaten Klungkung, Badung, Kota Denpasar, Kabupaten Buleleng, Jembrana, Tabanan, Karangasem, Gianyar, dan Bangli. Baca lebih lanjut

Kontroversi Kebangkitan Nasional

image

Sobat,  sekedar tahu,  terkait dengan kontroversi dari Peringatan Hari Kebangkitan Nasional,  apakah merujuk pada eksistensi Sarekat Islam ataukah Budi Utomo,  berikut saya kutipkan sebuah resensi buku tentang Sarekat Islam tulisan Safrizal Rambe.  Semoga bermanfaat.

Judul: Sarekat Islam, Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia, 1905-1942

Penulis:Safrizal Rambe

Penerbit:Kebangkitan Insan Cendekia

Cetakan: Pertama, Januari 2008

Tebal: xxii+316

Peresensi:Rukardi/35

KITAB sejarah Indonesia masih menyimpan lembar-lembar deviasi, mulai dari ikhwal kebangkitan nasional, Peristiwa 30 September 1965, Supersemar, Serangan Umum 1 Maret, hingga Peristiwa Malari. Ironis, hingga satu dasawarsa pascareformasi, penyimpangan itu masih dipelihara, terutama oleh negara. Ya, alih-alih melakukan pelurusan, negara justru secara sadar melembagakan.

Satu dari proses pelembagaan itu adalah penetapan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei. Seperti kita tahu, momentum tersebut diambil dari tanggal kelahiran Boedi Oetomo (BO) pada 1908. Organisasi yang di-pandhegani oleh beberapa mahasiswa STOVIA itu, selama ini dianggap sebagai pelopor Kebangkitan Nasional di Indonesia.

Soekarno, Hatta, dan Ki Hajar Dewantoro adalah tokoh-tokoh yang mencetuskan pandangan itu. Dalam amanat-amanatnya mengenai sejarah kebangkitan nasional, mereka senantiasa mengunjukkan nama BO. Dari waktu ke waktu, kepeloporan BO terus disuarakan, terlebih-lebih pada masa Orde Baru. Buku serial Sejarah Nasional Indonesia (SNI), yang dipakai sebagai bahan ajar di sekolah, menyebut BO sebagai pemicu kebangkitan kesadaran nasionalisme kaum bumiputera.

Reformasi membuka celah bagi kemunculan versi-versi baru penulisan sejarah Indonesia. Maka terbit tulisan-tulisan yang merevisi sejarah versi buku putih. Terkait Kebangkitan Nasional, pengultusan BO pun mulai kikis. Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam, misalnya, menyebut, penetapan Hari Kebangkitan Nasional oleh Pemerintah tidak didukung data historis lengkap.

BO yang selama ini dimitoskan sebagai lokomotif kebangkitan nasional, sejatinya tak berperan menyeluruh, baik bagi kaum proletar maupun priyayi. Secara spasial, lingkup perhatian organisasi itu hanya meliputi Pulau Jawa dan Madura. Karena itu BO dikatakan sebagai organisasi yang berorientasi kedaerahan.

Menurut Asvi, pemantik nasionalisme Indonesia yang sejati adalah Sarekat Islam (SI). Selain lebih tua, organisasi yang lahir pada 1905 itu memiliki spektrum gerakan yang jauh lebih luas.

Pelopor Gerakan Radikal

Safrizal Rambe dalam buku ini menegaskan pendapat Asvi. Menurutnya, SI memberi kontribusi besar bagi pertumbuhan nasionalisme Indonesia. Organisasi itu menjadi pelopor gerakan radikal, yang semenjak lahir telah memperjuangkan emansipasi sosial politik masyarakat Indonesia.

Tujuan SI sebagaimana dikemukakan Tjokroaminoto— yakni berikhtiar mengangkat derajat rakyat agar menimbulkan kemakmuran, kesejahteraan, dan kebesaran negeri— belakangan dirumuskan oleh tokoh-tokoh pergerakan sebagai tuntutan Indonesia merdeka.

Berbeda dari BO yang cenderung primordial dan segmentatif, keanggotaan SI relatif terbuka. Tak ada diskriminasi suku, ras, dan antargolongan. Benar, agama Islam dijadikan sebagai syarat keanggotaan, namun secara faktual SI tak menampik mereka yang berlatar ideologi abangan.

Alhasil SI mendapat simpati besar dari rakyat. Perkembangannya demikian pesat, bahkan bisa dibilang mencengangkan. Medio 1912 jumlah anggota SI 35.000 orang. Pada 1919 membengkak menjadi 2 juta orang. Sementara cabang-cabangnya telah menyebar di hampir seluruh wilayah Hindia Belanda. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa SI merupakan organisasi politik nasional pertama di Indonesia (halaman 44).

Meski demikian, hingga kini masih terjadi polemik di seputar kelahiran SI. Ada yang menyatakan organ itu lahir dari gua garba Sarekat Dagang Islamiah (SDI) bentukan RM Tirtoadisoerjo di Bogor pada 5 April 1909. Ada pula yang menyebut cikal-bakal SI adalah Sarekat Dagang Islam (SDI) H Samanhoedi di Surakarta. Pendapat yang kedua pun terbelah pada waktu pendirian. Sebagian berpendapat 16 Oktober 1905, sebagian lain pada 1909 dan 1911.

Buku ini membahas sepak terjang SI sejak awal berdiri hingga dipaksa bubar oleh rezim fasis Jepang pada 1942. Banyak aspek yang ditelisik Rambe. Selain kepeloporan, ia juga memapar tekanan dari luar, serta dinamika internal SI di tengah atmosfer pergerakan.

Di bawah kepemimpinan HOS Tjokroaminoto, SI menjadi organisasi moderen dan terbuka. Mereka punya kelengkapan organisasi, jajaran pengurus di tingkat cabang sampai pusat, mekanisme pemilihan pemimpin yang diadakan baik di tingkat provinsial, kongres, kongres nasional, sampai konstitusi partai.

Masuknya anasir komunis membuat SI terbelah. SI Cabang Semarang di bawah Semaoen yang radikal, kian oleng ke kiri. Hingga pada konggres ke-6 SI di Surabaya pada 1921, mereka disingkirkan. Semaoen dan kawan-kawan akhirnya resmi bergabung dengan Persyarekatan Komunis Indonesia (PKI) (halaman 144).

Tak Ada yang Baru

Buku Safrizal Rambe merupakan karya kesekian yang membahas peranan SI dalam medan pergerakan nasional. Menurut hemat saya, dosen FISIP Universitas Nasional itu tak menyajikan sesuatu yang baru. Dia sekadar mengkonstruksi fakta-fakta historis yang sudah diungkap di banyak buku.

Sarekat Islam 1912-1916 karya APE Korver, misalnya, mengaji SI pada periode yang paling bersemangat. Pembahasan Korver sampai pada kesimpulan bahwa SI di bawah Tjokroaminoto mampu membangkitkan semangat rakyat yang nyaris padam di bawah atmosfer kolonial. Sebagian dari mereka, menganggap Tjokroaminoto sebagai ratu adil.

Karya Soe Hok Gie: Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang

membabar perihal infiltrasi komunis di tubuh SI, khususnya Cabang Semarang. Selain itu masih ada Syarikat Islam Obor Kebangkitan Nasional (1905-1942) karya M Masyur Amin, The Sarekat Islam Movement: Its Contribution to Indonesian Nationalism karya Anton Timur Djailani, dan Sarekat Islam Bukan Boedi Oetomo, Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa karya Firdaus AN.

Meski demikian, tak dimungkiri buku ini menjadi salah satu kajian tentang SI yang relatif lengkap.

Sumber: Rukardi/35/http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2008/05/18/804/Kontroversi-Kebangkitan-Nasional#sthash.9aL2g2H1.dpuf

Kebangkitan Nasional: Budi Utomo atau Sarekat Islam?

|Sobat,  sekedar tahu,  berikut saya kutipkan  artikel yang secara substantif mempertanyakan bahwa :  apakah peringatan hari kebangkitan nasional kita tepat tanggalnya ?  dan apakah eksistensi  Budi Utomo layak diperingati sebagai moment  dari kebangkitan nasional Indonesia ?  Semoga dapat dijadikan renungan bersama.

20 Mei menjadi Hari Kebangkitan Nasional bagi Republik Indonesia. Hari tersebut bukan hanya sekedar hari-hari belaka, tetapi menghujam ke dalam benak masyarakat Indonesia, bahwa pada hari kelahiran Budi Utomo-lah Indonesia memiliki kesadaran untuk bangkit secara menyeluruh. Penetapan seperti ini tak semestinya dianggap enteng. Penetapan hari penting bagi negara, penetapan pahlawan-pahlawan nasional, tugu-tugu peringatan memiliki makna yang mendalam sebagai simbol-simbol negara yang memiliki makna.[1] Baca lebih lanjut

Maududi dan Politik Agama Ala Pakistan (Tulisan 5 dari 6)

Revolusi Islam menolak sama sekali sistem jahiliah, melalui suatu penelitian secara hati-hati untuk menemukan yang salah guna diubah, dan apa yang baik bisa dipertahankan.  Seperti dokter bedah, ia hanya membedah dan menghilangkan penyakitnya, dan tak perlu membunuh si pasien. Singkatnya, tujuan dan cara dari revolusi Islam harus jelas dan baik, tidak machiavelist.  Karena hanya dengan cara itu perubahan yang sehat akan terjadi. Manusia hanya berkewajiban mengupayakan, dan hanya Tuhan yang menentukan hasilnya.

            Berpijak dari pola pikirnya itulah arah dan tujuan dari JI adalah untuk mewarnai pemikiran-pemikiran manusia Pakistan, mendidik kader-kader yang diharapkan para kader itu pada akhirnya akan menduduki jajaran kursi kekuasaan di Pakistan.  Dalam kerangka itu pula, dapat dimengerti jika pada Januari – Maret 1948 tokoh utama JI, Maududi, menyampaikan pidato bersambung di radio Pakistan tentang prinsip-prinsip Islam.  Menurutnya Islam harus dilaksanakan di Pakistan, dan untuk itu orang-orang yang benar haruslah menempati pos-pos pemerintahan. Dia percaya orang-orang dari JI adalah alat revolusi Islam yang tepat, dan oleh sebab itu tepat pula menempatkan mereka  pada posisi pemerintahan.  Seperti kaum Fasis di Italia dan Jerman, serta kaum komunis di Soviet misalnya, kendati mereka minoritas terbukti mereka mampu mengontrol secara efektif. 

            Oleh karena itu program utama JI dalam spektrum pemerintahan Pakistan adalah mengembangkan JI untuk menyerap negara hingga tercapai tujuan akhirnya yakni menjadikannya sebagai negara Islam.  Pendekatan totaliter oleh Komunis dan Fasis memang harus dipertanyakan, tetapi untuk Islam tidaklah perlu.  Karena yang berlaku dalam Islam bukanlah ambisi penguasa, melainkan kehendak Tuhan. Islam menganut faham Theo-Demokrasi.

            Kepala negara yang ditangannya terletak kekuasaan Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif perlu dibantu majelis penasehat yang intelek serta mampu menafsirkan prinsip AlQur’an, yang dibentuk berdasar hasil pemilihan rakyat.  Bila terjadi perbedaan mendasar dalam penafsiran prinsip dasar antara Kepala Negara dan Majelis Penasehat, maka keputusan akhir berada pada referendum.  Bagi yang kalah dalam referendum hendaknya mengundurkan diri.

            Begitupula orang-orang yang akan diajukan dalam  majelis hanyalah mereka yang semata-mata mengorientasikan kesetiaan pada negara dan konstitusi.  Hal ini untuk mencegah terjadinya pembentukan kelompok-kelompok (friksi-friksi) dalam majelis. Kaum minoritas Muslim dapat menempati segala jabatan, kecuali jabatan kunci.  Non-Muslim tak berhak dalam pemilihan kepala negara, tetapi berhak memilih  wakil mereka bagi parlemen lewat pemilihan terpisah.  Alasannya mereka tak boleh mempengaruhi wakil-wakil Muslim.  Wanita tak boleh menjadi kepala negara dan pembuat UU, tetapi berhak memilih dengan majelis yang terdiri dari wanita juga, yang kepada mereka para legislator harus berkonsultasi khususnya  dalam masalah-masalah kesejahteraan wanita dan umumnya masalah-masalah umum kenegaraan (Maududi, Abul ‘Ala, Teori Politik Islam, terj. Adnan Syamni, (Jakarta : Media Da’wah, 1985).

            Akibat berbagai pidato yang mengritik pemerintah, pada 4 Oktober 1948 Maududi ditangkap,  terutama akibat mengkritik kebijakan pemerintah yang dianggap mendua terhadap Kashmir, yakni : disatu sisi menyatakan pembelaan atas Kashmir adalah jihad, namun pada saat bersamaan mencegah keterlibatan langsung tentara dan atau mujahiddin Pakistan membantu perjuangan rakyat Kashmir.  Kendati ia dihukum sampai 28 Mei 1950, tetapi usaha-usahanya untuk memperoleh dasar konstitusi Islam membuahkan hasil ketika pada 7 Maret 1949 Majelis Nasional menyetujui Resolusi Obyektif menjadi bagian awal bagi konstitusi Pakistan (Margaret Marcus, op. cit., hlm. 16-25).

            Kendati Lia Quat Ali Khan (PM Pakistan) dan Menteri Luar negerinya (Moh. Zafarullah Khan) menyatakan dukungannya atas resolusi tersebut, namun oleh Maududi dan atau JI dipandang hanya “lipe-service”, terbukti kepada pemerintah India Lia Quat menyatakan: semua minoritas punya hak yang sama untuk memegang jabatan-jabatan politik dan militer.  Oleh karenanya Maududi pun tetap menyebut : Pimpinan Pakistan dapat mendirikan negara “Islam” tetapi tak dapat melaksanakan Islam.  Dan Maududi pun tetap gencar melancarkan kritik pada pemerintah.

            Tahun 1952-53, tatkala Pakistan menuntut agar aliran Qadian/Ahmadiah dinyatakan sebagai minoritas non Islam dalam konstitusi, dan menuntut agar para pejabat penganut aliran tersebut dipecat dari jabatan.  Ternyata tuntutan demikian disambut dengan penerapan hukum darurat oleh pemerintah.  Maududi yang secara prinsipil mendukung tuntutan tersebut lantas menulis panflet : The Qadian Problem, –bahwa  Qadian menganggap Mirza Ghulam Ahmad (1839-1908) sebagai nabi dan menyebut kafir bagi orang yang menolak fatwanya itu– adalah bertentangan dengan ajaran dasar Islam tentang Muhammad sebagai nabi pamungkas (Khotamin nabiyyin).  Ternyata sikap demikian menyebabkan kemarahan pemerintah, yang berujung pada hampir “dieksekusinya” Maududi.  Namun upaya tersebut ternyata membuahkan hasil, dimana pada konstitusi 1956 kaum Qadian memang dimasukkan pemerintah ke dalam kelompok minoritas.

 

 

Cara Mudah Menurunkan Kolesterol Yang tinggi

Sobat,  berikut saya kutipkan artikel  tentang cara mudah menurunkan kolesterol tinggi.
SobatKolesterol adalah senyawa yang bertekstur lembek yang terdapat diantara lemak dan pembuluh darah dan disemua sel tubuh. Kolesterol sendiri terbagi menjadi 2 kategori yaitu kolesterol baik (HDL) yang sangat penting peranannya di dalam tubuh, terutama untuk membatu penyerapan asam lemak esensial dan memproduksi hormon-hormon seksual. Yang kedua yaitu kolesterol jahat (LDL) yaitu kolesterol yang wajib dihindari karena kolesterol ini menyebabkan penimbunan lemak dalam pembuluh darah yang bisa memicu timbulnya penyakit jantung.https://dhurorudin.files.wordpress.com/2015/06/0cb8b-72bcara2bmudah2bmenurunkan2bkolesterol2byang2btinggi.jpg?w=570
Selain 2 jenis lemak di atas ada juga Trigliserida yaitu sejenis lemak. Tingginya kadar Trigliseridasering diikuti pula dengan tingginya kadar kolesterol total (HDL dan LDL). Kolesterol bisa di hasilkan dari dalam tubuh dan dari luar tubuh. Berbicara tentang kolesterol, banyak orang yang bertanya-tanya bagaimana cara menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh. Nahhh sebelum kita membahas cara menurunkan kolesterol, kita cari tahu dulu apasih sebenarnya yang menyebabkan kadar kolesterol dalah tumbuh menjadi tinggi.

Baca lebih lanjut

Manfaat Daun Seledri Untuk Ginjal Kita

Sobat,  sekedar tahu,  berikut saya kutipkan artikel tentang manfaat luar biasa dari daun seledri.  Ini Cara Bersihkan Ginjal Pakai Seledri, Tak Perlu Bayar Jutaan di RS

Sobat,  Daun sop atau bisa juga disebut seledri merupakan, campuran bahan makanan yang biasa digunakan untuk masakan, yang memberikan aroma harum dari masakan.  Seledri hanyalah tumbuhan kecil yang bisa ditanam di teras rumah namun ternyata memiliki manfaat yang tak terbayangkan, apa saja manfaat yang terkandung dalam seledri ini?  Berikut penjelasannya:

1. Mencegah Kanker

Coumarin fitokimia yang dianggap sebagai salah satu senyawa yang hidup dalam seledri, yang sangat efektif mencegah perkembangan kanker serta efisien untuk meningkatkan sel darah putih khusus yang membantu melawan kanker. Selain itu senyawa ini juga membantu dalam mencegah radikal bebas dari menghancurkan sel-sel yang sehat. Seledri diakui terdiri dari minimal 8 kategori senyawa anti – kanker. Diantaranya adalah acetylenics yang telah terbukti untuk mencegah perkembangan sel tumor yang berkelanjutan. Asam fenolat yang mencegah tindakan prostaglandin yang mendorong perkembangan sel-sel tumor.Kumarin yang membantu menghindari radikal bebas dari menghancurkan sel-sel.

2. Kolesterol

Selama awal 1990-an , seledri sebagai salah satu obat untuk tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi . Dr William Elliott bersama dengan ilmuwan lain di University Of Chicago Medical Center memberikan ekstrak seledri ke tikus yang dikenal sebagai 3 – n – butil phthalide .Tikus-tikus dalam penelitian ini melihat 12 persen sampai 14 persen penurunan tingkat tekanan darah serta pengurangan 7 persen kadar kolesterol, sesuai dengan artikel pendek dalam The New York Times. Makanan tinggi serat bermanfaat dalam menurunkan kadar kolesterol serta membantu Anda menurunkan berat badan.Makanan tinggi serat cenderung membuat Anda merasa cepat kenyang dibanding makanan rendah serat.Empat batang seledri sedang memasok 24 kalori dan 2,4 gram serat makanan dan jelas bahwa seledri makanan berserat yang dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah.

3. Tekanan darah dan Penggunaan Diuretik

Manfaat seledri (daun sop) pada estrak biji seledri biasanya digunakan seperti diuretik, serta bergunan untuk menurunkan tekanan darah tinggi.Biji seledri yang digunakan sebagai deuretik dapat digunakan untuk berbagai kondisi, termasuk hipertensi, nyeri encok, serta lainnya.Sebuah diuretik dapat menangani tekanan darah tinggi terutama karena dapat menghilangkan urin yang berlebihan serta natrium dari tubuhsehingga dapat membantu menurunkan tekanan darah.

4. Insomnia

Mineral serta minyak esensial dalam jus seledri memiliki dampak yang sangat menenangkan pada sistem saraf pusat, yang menjadikannya sebagai pengobatan bagi mereka yang memiliki masalah tidur.Hal ini dikarenakan jumlah magnesium yang tinggi dalam seledri membantu seseorang untuk beristirahat dengan tenang serta tidur dengan nyaman.

5. Batu Ginjal

Dampak diuretik jus seledri membantu memecahkan dan menghilangkan batu pada saluran perkemihan. Biji seledri telah terbukti meningkatkan jumlah dan keunggulan air kencing dan oleh karena itu seledri merupakan diuretik yang efektif untuk mengatasi infeksi kandung kemih.

6. Meningkatkan Fungsi Ginjal

Seledri juga sangat baik untuk kesehatan ginjal, membantu untuk menjaga kesehatan ginjal serta membantu tubuh membuang zat limbah hasil metabolisme melalui sistem perkemihan.Seledri mendorong kinerja ginjal menjadi lebih baik dengan membantu pembuangan racun melalui seluruh tubuh.Selain berfungsi menghilangkan racun berbahaya dari tubuh, hal ini juga dapat mencegah pembentukan batu ginjal.

7. Bersihkan Ginjal

Sahabat Muslimah, ternyata kita bisa membersihkan ginjal kita dengan biaya kurang dari Rp. 10.000,- saja loh.Ginjal sendiri berfungsi menyaring darah dengan membuang: garam dan racun yang tidak diinginkan agar tidak masuk ke tubuh kita.Namun tanpa kita sadari seiring berjalannya waktu terjadi penumpukan garam dan kita perlu melakukan perawatan dan pembersihan.Lalu bagaimana cara kita akan melakukan cuci ginjal ini? Caranya mudah sekali:

• Pertama-tama sediakan seikat seledri.
• Cuci seledri sampai bersih, lalu dipotong kecil-kecil dan masukkan ke dalam panci.
• Kemudian tuangkan air bersih dan didihkan selama sepuluh menit lalu biarkan dingin.
• Kemudian saring dan tuangkan dalam botol yang bersih lalu simpan di dalam kulkas sampai dingin.
• Minumlah satu gelas setiap hari dan Anda akan melihat semua akumulasi garam dan racun lain yang keluar dari ginjal Anda sewaktu buang air kecil.

Jika anda melakukan ini, maka anda akan melihat perbedaan yang belum pernah anda rasakan sebelumnya.Daun seledri sendiri dikenal sebagai pengobatan terbaik untuk membersihkan ginjal dan itu alami!

8. Bau Mulut

Seledri efektif untuk mengurangi bau napas yang busuk hanya karena kaya akan serat makanan.Makanan berserat seperti seledri, wortel serta apel dapat meningkatkan produksi air liur, yang berfungsi untuk membersihkan mulut Anda dan membuatnya tetap lembab.Mengunyah seledri juga dapat membantu untuk membersihkan lidah Anda, yang merupakan tempat persembuanyian bakteri.Selain itu, makanan tinggi serat dapat membersihkan usus Anda dan juga membantu untuk menghindari terjadinya penumpukan racun, yang mungkin menjadi sumber bau busuk.

Sumber:  zonakesehatan.info/hotmagz.com/Tribun-Timur.com/Sabtu, 20 Juni 2015

Maududi dan Politik Agama Ala Pakistan (Tulisan 4 dari 6)

Guna melawan peracunan budaya Barat pada dunia Muslim menurut Maududi kiranya perlu dilakukan revolusi Islam yang dimulai dengan memberikan manusia serangkaian pandangan hidup guna memungkinkan pengembangan masyarakat imani, kedalam bentuk ideal sebagai Khalifah ‘ala Minhaj Al-Nubuwwah (kekhalifahan atas pola kenabian) yang sesuai dengan kehidupan kontemporer. Untuk mencapai itu tentu diperlukan suatu binaan konseptual yang penting melalui Tajdid, yakni gerakan-gerakan murni ke arah kebangkitan Islam kembali, dan bukanlah suatu Tajaddud, yakni usaha-usaha yang dilakukan kompromi dengan jahiliah atas nama Islam (Mukti Ali, hlm. 255) seperti Modernisme Islam yang dipelopori Ayub Khan ataupun Sosialisme Islam gagasan dari Ali Bhutto.

            Baik Tajdid maupun Tajaddud memang sama-sama dinamis, tetapi untuk revolusi Islam yang tepat untuk diterapkan adalah Tajdid, yang menunjukkan kesinambungan misi nabi dalam melaksanakan Islam, secara kukuh untuk melaksanakan kemauan Tuhan. Mengingat untuk Tajdid kaum intelektual tak terhindarkan peran pentingnya, maka Muslim yang beriman, berintegritas Islam, berintelekstual tinggi berada pada barisan terdepan untuk menjadikan Islam kembali sebagai realitas operasional terutama bila memegang tampung kepemimpinan.  Kaum intelektual dan atau pemimpin ini ibarat loko bagi gerbong.  Pentingnya kelas penguasa  (pemimpin) ini semakin terlihat karena negara dewasa ini memang berperan lebih besar dibanding masa-masa sebelumnya, dengan memegang kontrol terhadap sistem pendidikan, pers, ekonomi dan lain-lain.

            Satu hal yang harus dicamkan adalah: kendati pengaruh pribadi orang yang berinisiatif tentang kebangkitan Islam adalah besar, namun gerakan revolusi menurut Maududi hendaknya tidak tepusat pada pribadi.  Karena dalam ajaran Islam yang punya otoritas hanyalah nabi dan atau rasul, sementara pribadi-pribadi diluar itu tidak.  Memang, dahulu gerakan-gerakan sosial sering berkisar pada figur kharismatis, sehingga bila figur itu meninggal “tamatlah” riwayat gerakan itu.  Untuk masa modern ini organisasi yang baik bisa melakukan peran yang sama dengan tokoh kharismatik macam dahulu. Oleh karena itu, dengan sistem organisasi program akan jalan terus tanpa memandang siapapun pemimpinnya. Dalam kerangka pikir itulah maka Maududi bukan saja mendidik intelektual Muslim secara individu, melainkan juga mengikatnya dalam organisasi Jama’at Islami (Ibid., hlm. 260-262).

            Revolusi sosial bagi JI bukanlah gerakan revolusioner yang cenderung ke arah ekstremitas, melainkan lebih menunjukkan perubahan radikal dalam pengertian bukan saja bentuk seperti berdirinya negara Muslim Pakistan melainkan juga perubahan isi, yakni negara Muslim yang sekaligus mengimplementasikan hukum-hukum Islam bagi kehidupan berbangsa dan bernegara (Ibid., hlm. 256-257).

            Jadi yang dirubah bukan sistem formalnya saja (baca: formalisme Islam), melainkan jiwa perubahannya (pada segi berfikir individu manusia): baik di bidang sosial-ekonomi politik, maupun pola kehidupan manusia dari segi material dan sosial (baca: substansialisme Islam), sehingga prubahan radikal untuk kebaikan dapat dicapai.  Jika revolusi ala Barat mengabaikan perubahan si manusia –yakni pandangan hidupnya, tujuan hidupnya, dorongan pribadi– dan bersifat materialistis, maka pada revolusi Islam adalah mencari perubahan lebih radikal dan tuntas, meliputi bentuk dan isi, dimana individu-individu yang sudah dipersiapkan menjadi dasar yang kukuh bagi perubahan itu.  Untuk perubahan yang menyeluruh (revolusi) itu haruslah dilaksanakan secara berangsur (evolusi) dan diperhitungkan secara matang.