Kontroversi Kebangkitan Nasional

image

Sobat,  sekedar tahu,  terkait dengan kontroversi dari Peringatan Hari Kebangkitan Nasional,  apakah merujuk pada eksistensi Sarekat Islam ataukah Budi Utomo,  berikut saya kutipkan sebuah resensi buku tentang Sarekat Islam tulisan Safrizal Rambe.  Semoga bermanfaat.

Judul: Sarekat Islam, Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia, 1905-1942

Penulis:Safrizal Rambe

Penerbit:Kebangkitan Insan Cendekia

Cetakan: Pertama, Januari 2008

Tebal: xxii+316

Peresensi:Rukardi/35

KITAB sejarah Indonesia masih menyimpan lembar-lembar deviasi, mulai dari ikhwal kebangkitan nasional, Peristiwa 30 September 1965, Supersemar, Serangan Umum 1 Maret, hingga Peristiwa Malari. Ironis, hingga satu dasawarsa pascareformasi, penyimpangan itu masih dipelihara, terutama oleh negara. Ya, alih-alih melakukan pelurusan, negara justru secara sadar melembagakan.

Satu dari proses pelembagaan itu adalah penetapan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei. Seperti kita tahu, momentum tersebut diambil dari tanggal kelahiran Boedi Oetomo (BO) pada 1908. Organisasi yang di-pandhegani oleh beberapa mahasiswa STOVIA itu, selama ini dianggap sebagai pelopor Kebangkitan Nasional di Indonesia.

Soekarno, Hatta, dan Ki Hajar Dewantoro adalah tokoh-tokoh yang mencetuskan pandangan itu. Dalam amanat-amanatnya mengenai sejarah kebangkitan nasional, mereka senantiasa mengunjukkan nama BO. Dari waktu ke waktu, kepeloporan BO terus disuarakan, terlebih-lebih pada masa Orde Baru. Buku serial Sejarah Nasional Indonesia (SNI), yang dipakai sebagai bahan ajar di sekolah, menyebut BO sebagai pemicu kebangkitan kesadaran nasionalisme kaum bumiputera.

Reformasi membuka celah bagi kemunculan versi-versi baru penulisan sejarah Indonesia. Maka terbit tulisan-tulisan yang merevisi sejarah versi buku putih. Terkait Kebangkitan Nasional, pengultusan BO pun mulai kikis. Sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam, misalnya, menyebut, penetapan Hari Kebangkitan Nasional oleh Pemerintah tidak didukung data historis lengkap.

BO yang selama ini dimitoskan sebagai lokomotif kebangkitan nasional, sejatinya tak berperan menyeluruh, baik bagi kaum proletar maupun priyayi. Secara spasial, lingkup perhatian organisasi itu hanya meliputi Pulau Jawa dan Madura. Karena itu BO dikatakan sebagai organisasi yang berorientasi kedaerahan.

Menurut Asvi, pemantik nasionalisme Indonesia yang sejati adalah Sarekat Islam (SI). Selain lebih tua, organisasi yang lahir pada 1905 itu memiliki spektrum gerakan yang jauh lebih luas.

Pelopor Gerakan Radikal

Safrizal Rambe dalam buku ini menegaskan pendapat Asvi. Menurutnya, SI memberi kontribusi besar bagi pertumbuhan nasionalisme Indonesia. Organisasi itu menjadi pelopor gerakan radikal, yang semenjak lahir telah memperjuangkan emansipasi sosial politik masyarakat Indonesia.

Tujuan SI sebagaimana dikemukakan Tjokroaminoto— yakni berikhtiar mengangkat derajat rakyat agar menimbulkan kemakmuran, kesejahteraan, dan kebesaran negeri— belakangan dirumuskan oleh tokoh-tokoh pergerakan sebagai tuntutan Indonesia merdeka.

Berbeda dari BO yang cenderung primordial dan segmentatif, keanggotaan SI relatif terbuka. Tak ada diskriminasi suku, ras, dan antargolongan. Benar, agama Islam dijadikan sebagai syarat keanggotaan, namun secara faktual SI tak menampik mereka yang berlatar ideologi abangan.

Alhasil SI mendapat simpati besar dari rakyat. Perkembangannya demikian pesat, bahkan bisa dibilang mencengangkan. Medio 1912 jumlah anggota SI 35.000 orang. Pada 1919 membengkak menjadi 2 juta orang. Sementara cabang-cabangnya telah menyebar di hampir seluruh wilayah Hindia Belanda. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa SI merupakan organisasi politik nasional pertama di Indonesia (halaman 44).

Meski demikian, hingga kini masih terjadi polemik di seputar kelahiran SI. Ada yang menyatakan organ itu lahir dari gua garba Sarekat Dagang Islamiah (SDI) bentukan RM Tirtoadisoerjo di Bogor pada 5 April 1909. Ada pula yang menyebut cikal-bakal SI adalah Sarekat Dagang Islam (SDI) H Samanhoedi di Surakarta. Pendapat yang kedua pun terbelah pada waktu pendirian. Sebagian berpendapat 16 Oktober 1905, sebagian lain pada 1909 dan 1911.

Buku ini membahas sepak terjang SI sejak awal berdiri hingga dipaksa bubar oleh rezim fasis Jepang pada 1942. Banyak aspek yang ditelisik Rambe. Selain kepeloporan, ia juga memapar tekanan dari luar, serta dinamika internal SI di tengah atmosfer pergerakan.

Di bawah kepemimpinan HOS Tjokroaminoto, SI menjadi organisasi moderen dan terbuka. Mereka punya kelengkapan organisasi, jajaran pengurus di tingkat cabang sampai pusat, mekanisme pemilihan pemimpin yang diadakan baik di tingkat provinsial, kongres, kongres nasional, sampai konstitusi partai.

Masuknya anasir komunis membuat SI terbelah. SI Cabang Semarang di bawah Semaoen yang radikal, kian oleng ke kiri. Hingga pada konggres ke-6 SI di Surabaya pada 1921, mereka disingkirkan. Semaoen dan kawan-kawan akhirnya resmi bergabung dengan Persyarekatan Komunis Indonesia (PKI) (halaman 144).

Tak Ada yang Baru

Buku Safrizal Rambe merupakan karya kesekian yang membahas peranan SI dalam medan pergerakan nasional. Menurut hemat saya, dosen FISIP Universitas Nasional itu tak menyajikan sesuatu yang baru. Dia sekadar mengkonstruksi fakta-fakta historis yang sudah diungkap di banyak buku.

Sarekat Islam 1912-1916 karya APE Korver, misalnya, mengaji SI pada periode yang paling bersemangat. Pembahasan Korver sampai pada kesimpulan bahwa SI di bawah Tjokroaminoto mampu membangkitkan semangat rakyat yang nyaris padam di bawah atmosfer kolonial. Sebagian dari mereka, menganggap Tjokroaminoto sebagai ratu adil.

Karya Soe Hok Gie: Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang

membabar perihal infiltrasi komunis di tubuh SI, khususnya Cabang Semarang. Selain itu masih ada Syarikat Islam Obor Kebangkitan Nasional (1905-1942) karya M Masyur Amin, The Sarekat Islam Movement: Its Contribution to Indonesian Nationalism karya Anton Timur Djailani, dan Sarekat Islam Bukan Boedi Oetomo, Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa karya Firdaus AN.

Meski demikian, tak dimungkiri buku ini menjadi salah satu kajian tentang SI yang relatif lengkap.

Sumber: Rukardi/35/http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2008/05/18/804/Kontroversi-Kebangkitan-Nasional#sthash.9aL2g2H1.dpuf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: