“Muslim Bali” di Tengah Masyarakat Bali yang Berubah

https://i0.wp.com/www.publicapos.com/images/stories/allimages/Muslim_Bali_book_cover.jpgTentu kita bertanya, apakah ada yang disebut Muslim Bali, bukankah selama ini, yang hidup di Bali, adalah kaum Hindu. Dhurorudin Mashad, peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahun Indonesia (LIPI) berupaya menggali eksistensi komunitas ini secara cermat melalui penelitian yang dilakukan cukup lama. Mashad, memulai penelitiannya itu sejak 2005, 2009, 2010, dan 2011. Selama berbulan-bulan, ia tidak hanya berupaya mendeskripsikan kehidupan keagamaan,  ekonomi, interaksi sosial, dan kultur komunitas muslim ini, tetapi juga menelisik awal mula Islam masuk di Bali.  Karena itu, dalam buku ini, Mashad juga menunjukkan komunitas muslim kuno di Bali. Penelusuran Muslim Bali secara historis, mengantarkan Mashad ke Kabupaten Klungkung, Badung, Kota Denpasar, Kabupaten Buleleng, Jembrana, Tabanan, Karangasem, Gianyar, dan Bangli.

“Muslim Bali”, menurut Mashad, merupakan sebutan yang dipilih secara sengaja untuk menunjuk komunitas islam yang sudah sejak lama hidup secara turun temurun di Bali. Muslim Bali menurut Mashad memiliki makna bahwa hakikatnya secara historis-kultural merupakan bagian integral dari Bali. Akan tetapi, berdasarkan agama yang mereka peluk berbeda dengan kaum mayoritas yang memeluk Hindu.

Mashad enggan menggunakan istilah muslim di Bali, karena istilah itu pada umumnya diidentikkan dengan kaum pendatang.  Muslim sebagai pendatang, eksistensinya juga tidak bisa ditampik, karena sejak tahun 1970-an, saat Bali mulai menjadi destinasi wisata, banyak kaum muslim datang kemudian bermukim di Bali. Sementara Muslim Bali, merupakan penduduk muslim asli dan eksistensinya bersifat kelampauan. Komunitas ini, dalam pandangan Mashad, keberadaannya telah menyatu dengan daerah lokal akibat perkawinan yang mereka lakukan dengan kaum Hindu. Sehingga komunitas muslim ini memiliki ikatan genologis kekerabatan yang tak kalah kental dengan kaum Hindu sendiri.

Bali, menurut Mashad, memiliki taksu, yakni kekuatan magis yang mampu memikat orang. Bali juga unik, salah satu keunikannya, adalah praktik kehinduannya yang khas. Untuk mendukung pandangan ini, Mashad mengutip pendapat Poerbatjarakan dan Hildred Geertz. Bagi Poerbatjarakan, Bali menyimpan warisan budaya agung yang berasal dari Majapahit. Sementara Hildred melihat apa yang di era lampau masih sebatas- konsep-konsep filosofis di tanah Jawa, pada akhirnya kini menjadi praktik kultural di tanah Bali.

Keunikan Bali itu, akhirnya memikat banyak orang untuk bertandang ke Bali, baik sekadar untuk melihat dan menikmati telatah Bali yang eksotis, maupun untuk mengadu peruntungan. Akhirnya Bali menjadi tempat bertemunya segala macam suku bangsa, bahasa, dan ras.

Berdasarkan perjalanan sejarahnya, masyarakat Bali memiliki ciri multikulturalisme, terdapat nilai-nilai yang mengakui adanya perbedaan atau pluralitas. Perbedaan budaya Bali sangat diakui karena adanya faktor desa (tempat), kala (waktu), dan patra (keadaan kondisi). Konsep inilah yang dijadikan pembenar mengenai perbedaan antar kota bahkan antar desa/pakraman. Selain itu, buadaya Bali juga mengandung nilai toleransi dan persamaan berdasar konsep Tat twam asi (dia adalah kamu), yang secara substantif mengandung logika toleransi karena: orang lain juga sama dengan dirinya. Prinsip ini diperkuat oleh ajaran Tri Kaya Parisuda (berpikir, berkata, dan berbuat baik dan benar) dan ajaran Tri Hita Karana, tiga faktor penyebab kesejahteraan, yakni hubungan harmonis seimbang dengan Tuhan (parahyangan), dengan sesama manusia (pawongan), dan dengan alam (palemahan).

Pawongan menurut Mashad, diimplementasikan dalam tradisi nyama braya. Nyama adalah kerabat dekat, sementara braya adalah kerabat jauh. Prinsip-prinsip itulah yang dijadikan landasan masyarakat Hindu Bali dalam menjalin hubungan dengan komunitas yang terdapat dalam kantong-kantong Islam. Tidak berlebihan jika kaum muslim punya sejarah yang erat dengan para penguasa dan masyarakat Bali era lama, para penguasa dan masyarakat Bali era lama itu bahkan menyebut komunitas muslim sebagai “nyama selam” atau saudara Islam.

Masuk ke dalam era kekinian, semangat itu,  dalam pandangan penulis buku ini, mengalami pergeseran. Masyarakat Bali tak mampu menghindar dari globalisasi. Di tengah proses itulah orang Bali kini tengah mengalami paradok, yakni cenderung mengadopsi kebudayaan kosmopolitan, namun pada saat yang sama mengalami parokialisme di mana fokus wacana bergeser pada lokalitas, khususnya pada desa adat. Orang Bali berusaha menerima budaya moden sebagai implikasi dari interaksi mereka dengan para wisatawan, namun pada saat yang sama masih tetap berpegang pada tradisi lama.

Dengan proses itu akhirnya yang terjadi adalah orang Bali telah mengalami perubahan watak secara mendasar, tak lagi identik dengan kultur lugu, sabar, ramah, dan jujur. Orang luar menurut Mashad, melihat orang Bali sebagai temperanmental, egositik, sensitif dan cenderung menjadi human ekonomikus, mengukur segala sesuatu dengan pendekatan ekonomi.

Apa yang menyebakan perubahan itu? ada dua faktor kata Mashad, yakni faktor eksternal dan internal. Kedua faktor ini mengubah secara mendasar watak dan perilaku orang Bali. Secara internal, pergeseran budaya agraris menjadi budaya jasa telah mengubah visi orang Bali. Sementara secara eksternal kegiatan pariwisata telah menyebabkan terjadinya materialisme, individualisme, komersialisme, komodifikasi, dan gejala profanisasi dalam kebudayaan Bali. Inilah realitas perubahan mendasar, yang menjadikan orang Bali tidak lagi ajeg dengan karakternya.

Banyak tokoh, dalam retorika menggelorakan wacana ajeg Bali, tetapi secara substantif apa yang mereka gelorakan justru bertentangan dengan logika ajeb Bali itu sendiri. Karena pada kenyataannya yang mereka gelorakan justru membangun logika serba anti: anti-pendatang, anti-muslim, anti apa saja yang mereka anggap asing dalam arti bukan Hindu Bali, sebuah sikap yang kerap dibangun di balik dalih bertentangan dengan adat. Padahal, nilai-nilai Bali secara natural menghargai multikulturalisme, dan itu telah terpraktikkan secara ratusan tahun dan bergenerasi.

Ajeg Bali yang belakangan digelokan oleh sementara kalangan cenderung ekspresi dari sebuah kekecewaan dan kemarahan. Kemarahan kepada siapa saja bahkan termasuk kepada nak Jawa dan nyama slam secara pukul rata. Meski sebagian dari mereka secara historis telah hidup berdampingan sejak ratusan tahun silam, serta banyak yang memiliki hubungan genealogis dengan mereka.

Akhirnya buku ini penting untuk dibaca oleh siapa saja yang tertarik dengan keunikan Bali, lebih dari itu, buku ini penting diketahui oleh para pegiat praktik dan wacana pluralisme agama. Selamat membaca.

Judul Buku: Muslim Bali: mencari Kembali Harmoni yang Hilang
Penulis: Dhurorudin Mashad
Penerbit: Pustaka al-Kautsar
Tahun Terbit: 2014
ISBN: 9789795926665
Jumlah Halaman: xii + 340 halaman
Peresensi: A.Muchaddam Fahham

Sumber: PUBLICAPos.com/Minggu, 25 Januari 2015

One response to this post.

  1. Assalamualaikum ww. Saya ingin membeli buku :Muslim Bali” bagaimana cara pemesanan & pembayarannya?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: