Dari Jatiluhur Kami Membahas “Masyarakat Bangsa”

Kantor ku tahun ini kembali mengadakan Rapat Kerja di Cibodas – Cianjur. Namun, sayang sekali kali ini aku tak bisa ikut karena badan merasa kurang Fresh. Duh…, sedih sekali. Sebab, dari hati yang paling dalam, sebenarnya aku ingin sekali kumpul-kumpul bersama keluarga besar kantor ku dalam acara di luar kota. Moment semacam ini memang hanya terjadi setahun hanya sekali. Di tengah kesedihan ini, aku kembali membaca catatan harian terkait pelaksanaan Raker tahun sebelumnya, yang kebetulan dilaksanakan di sekitar Waduk Jatiluhur. Beginilah catatan yang sempat ku tulis setahun lalu. Fajar baru saja menyingsing. Azan Subuh berkumandang bersaut-sautan di berbagai penjuru masjid-musholla. Aku bersegera menyambut panggilan itu, sholat sunah fajar dan disusul sholat subuh masing-masing dua rekaat jumlahnya. Ah..segar…, itulah perasaan yang segera menyelusup dalam benak. Segar.. karena pagi-pagi telah bersentuhan dengan air sejuk-segar untuk berwudlu. Segar… karena barusan menyelesaikan kewajiban-kebutuhan sholat plus memohon ampunan pada Tuhan atas segala kealphaan. Selepas subuh, aku bersegera ke stasiun untuk menuju kantor di Jakarta. Namun, pagi ini ke kantor bukan untuk bekerja, melainkan hanya untuk berkumpul untuk bersama-sama menuju Purwakarta. Maklum, hari ini sampai dua hari ke depan, kami akan mengadakan acara Rapat Kerja alias Raker yang oleh sebagian orang dipelesetkan menjadi ungkapan : Rakerjo, yang artinya tidak bekerja. Di banyak kasus, Raker dalam prakteknya berubah menjadi ajang piknik bersama, dengan disisipkan sedikit pertemuan yang tak jelas juntrungan isinya. Kalaunpun pertemuan itu serius, tetapi isi yang dibahas diperdebatkan hanya pengulangan dari isu-isu tahun sebelumnya, yang substansinya tidak pernah dikerjakan pasca Raker dilaksanakan. Walhasil, apa yang menjadi problem sekaligus menjadi isu pembahasan dari tahun ke tahun akhirnya ya tetap itu-itu saja. Ups…jangan salah sangka dulu. Sebab, hal-hal seperti itu tentu tidak terjadi di kantor tempat ku kerja, tetapi terjadi di kantor antah-berantah lainnya. Sebab, jika terjadi di instansiku, niscaya aku tak akan tertarik untuk mengikuti acara itu. He….he… Meski demikian, dalam tulisan ini aku sama sekali tak bermaksud bicara tentang apa, mengapa, dan bagaimana acara Raker yang kami jalani. Sebab, bagi anda persoalan yang kami bicarakan tentu tak akan menarik untuk disimak apalagi untuk direnungkan. Melalui naskah ini aku hanya akan mengungkapkan lokasi kami ber – Raker -ria: Waduk Jati Luhur yang sungguh luar biasa indahnya, yang sungguh luar biasa potensinya bila dikembangkan sebagai tempat wisata dengan pengelolaan secara profesional. Singkat kata, setelah dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di lokasi tujuan: Waduk Jati Luhur di wilayah Purwakarta. Lokasi Waduk Jatiluhur memang tak terlalu jauh dari Jakarta. Bendungan ini hanya berjarak sekitar 100 km arah Tenggara Jakarta, yang ditempuh lewat jalan tol Jakarta Cikampek dan jalan tol Cipularang (ruas Cikampek – Jatiluhur). Jika kita dari arah Bandung, maka untuk menuju lokasi ini Cuma berjarak sekitar 60 km arah Barat Laut Bandung, yang dapat dicapai melalui jalan tol Cipularang (ruas bandung – Jatiluhur). Bendungan ini bernuansa pedesaan, meskipun dari Kota Purwakarta sekitar 7 km arah barat saja. Ketika bendungan dibangun sejak 1967 ini, konon dengan cara menenggelamkan 14 Desa dengan “mengusir” penduduk berjumlah 5.002 orang. Mereka ini sebagian dipindahkan ke daerah sekitar bendungan namun sebagian lain pindah ke Kabupaten Karawang. Nah, jika proses pembangunannya terpaksa harus dengan “mengorbankan” sedemikian rupa, belum lagi ditambah jumlah rupiah untuk proses pembangunannya, maka idealnya manfaat yang dipetik dari keberadaan Waduk ini harus jauh melampaui nilai pengorbanan tadi. Bendungan Jatiluhur pada kenyataannya memang merupakan waduk yang memiliki aneka fungsi alias kegunaan. Dia berfungsi sebagai pembangkit listrik dengan kapasitas terpasang 187,5 MW. PLTA unit VI baru dipasang oleh PT. PLN Pikitdro Jabar antara tahun 1979 – 1981 dengan kapasitas 32 MW. Jatiluhur juga berfungsi sebagai pengendalian banjir di wilayah Karawang dan Bekasi terutama ketika musim hujan. Artinya, air yang mengalir dari Bandung, Cianjur, Purwakarta, dapat dikendalikan dengan bendungan ini. Di musim kemarau, aliran air dari bendungan juga bisa untuk irigasi bagi 242.000 ha. Hal yang tak kalah penting adalah air dari bendungan juga bisa dijadikan cadangan dan atau pasok air untuk rumah tangga, industri dan penggelontoran kota. Ia juga menjadi pasok air untuk budidaya perikanan air payau sepanjang pantai utara Jawa Barat seluas 20.000 ha. The last but not least, Bendungan Jatiluhur dengan segala kawasan di sekitarnya bisa dijadikan obyek pariwisata. Subhanallah itulah seabreg dari manfaat yang dapat dipetik dari bendungan Jatiluhur. Dan ini merupakan satu wujud perilaku manusia dalam menjalankan fungsinya sebagai khalifah di bumi, yakni memakmurkan bumi. Allah berfirman: Innii jaa’ilun fil ardli kholiifah. Sebagai khalifah manusia dituntut untuk manfaatkan seoptimal mungkin potensi alam untuk kemaslahatan hidup, dengan tanpa merusak lingkungan di sekitarnya. Efek negative di awal pembangunan waduk tentu saja ada, namun selama hasil positif jauh melampaui berbagai efek tadi, maka sang manusia tetap disebut sebagai khalifah. Persoalan menjadi berbeda sama sekali jika eksploitasi alam hanya diarahkan untuk memuaskan nafsu, dengan mengabaikan kerusakan yang terjadi. Jika ini yang dilakukan maka manusia berubah fungsi dari khalifah menjadi perusak. Bendungan Jatiluhur yang konon menjadi waduk terbesar di Indonesia ini, membendung aliran Sungai Citarum di Kecamatan Jatiluhur –Purwakarta –Jawa Barat, sehingga dapat membentuk genangan air dengan luas sekitar 83 km2. Nah, apa dan bagaimana sungai Citarum yang disebut-sebut sebagai sumber air bagi Waduk Jatiluhur ? Citarum merupakan sungai terpanjang plus terbesar di Jawa Barat. Air sungai ini mengalir dari mata air di Gunung Wayang Kabupaten Bandung, sampai bermuara di Laut Jawa sepanjang lebih kurang 270 km. Aliran Citarum melalui Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Purwakarta. Sungai Citarum punya volume aliran tahunan rata-rata 5,5 milyar m3, dengan memiliki luas Daerah Aliran Sungai (DAS) sekitar 6.600 km2. Hulu Citarum bermula dari Mata Air Pangsiraman, yakni salah satu dari tujuh mata air Sungai Citarum yang berada di Gunung Wayang – Ciwidey. Nama keenam mata air Sungai Citarum lainnya adalah Cikahuripan, Cikawedukan, Cisanti, Cikaloberes, Cisadane/Cihaliwung dan Cikadugalan/Cipaedah. Ketujuh mata air ini berada pada area Situ Cisanti yang memiliki ketinggian +2.180 m dpl. Nah, dari sumber air itulah akhirnya terbentuk citarum, dan dari aliran itu pula lantas dibuat bendungan sehingga membentuk genangan air dengan luas sekitar 83 km2. Pada tahun 1984 dan 1987 beroperasi 2 buah bendungan besar di hulu Bendungan Ir. H. Djuanda, yakni Bendungan Saguling dan Bendungan Cirata. Dengan dibangunnya kedua bendungan tersebut, kapasitas tampungan keseluruhan menjadi sama dengan aliran tahunan Keliling waduk ini konon sepanjang 150 km dengan elevasi muka air normal mencapai 107 m di atas permukaan laut (dpl). Daerah tangkapan Bendungan Jatiluhur (upper Citarum) luasnya 4.500 km2 meliputi wilayah Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Purwakarta. Namun, daerah tangkapan yang langsung ke waduk setelah dibangun Bendungan Saguling dan Cirata di hulunya luasnya tinggal 380 km2 atau sekitar 8% dari total daerah tangkapan. Semula Jatiluhur dirancang berkapasitas tampungan sebesar 3 milyar m3. Namun belakangan daya tampungnya tinggal 2,44 milyar m3 (pengukuran batimetri 2000) akibat sedimentasi. Alhamdulillah, setelah dibangun Bendungan Saguling dan Cirata di atasnya, laju sedimentasi menjadi kian menurun. Nah, di lokasi di sekitar Citarum inilah, aku dan sekian puluh teman selama tiga hari dua malam bermukim, untuk membahas segala persoalan kantor, yang mungkin ujung-ujungnya terkait pula dengan isu-isu strategis yang konon katanya bisa berpengaruh pada masyarakat bangsa. Siapa percaya ? Wallahu a’lam. Mentari berdiri tegak di petala langit. Tatapannya garang, seolah hendak membakar mayapada. Panas terpancar luar biasa dari netra sang surya. Sesekali angin memang berhembus pelan, membelai pepohonan. Daun-daun menggelinjang terkena sentuhan lembut angin yang berhembus pelan. Namun, sayangnya hembusan itu sama sekali tak mampu menetralisir rasa panas yang menderaku. Panas sedang menampar pipiku, panas telah menempeleng mukaku. Duh, gusti kenapa di siang bolong ini udara di sekeliling Jatiluhur terasa terik bagiku ?. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: