Separatisme Laten di Negara Pakistan (Tulisan 1 dari 5)

Seiring dengan lepasnya Assam dan Bengali menjadi negara Bangladesh di tahun 1971, bukan berarti problema integrasi negara Pakistan yang dibangun sejak 1947 telah terselesaikan.  Ancaman separatisme ternyata tetap menjadi problema akut. Hubungan antara pemerintah pusat dan daerah seringkali tetap memperlihatkan pola perseteruan, terutama bila antara “penguasa” di pusat (federal) dan daerah (propinsi)  berasal dari kubu yang berbeda.

            Pasca lepasnya Bengali dan Assam dari Pakistan,  Negara Pakistan tinggal didukung oleh suku Pathan, Punjabi, Sindh, Baluchistan, dan Mohajir, dengan lokasi terpisah dalam 4 propinsi berbeda,  yakni di propinsi Sindh, Punjab, Baluchistan, dan NWFP.  Sindh–kecuali wilayah Karachi–, Baluchistan, dan NWFP jauh tertinggal dibanding Punjab.  Antara empat propinsi ini masing-masing juga mempunyai bahasa berbeda, kendati Urdu dan Inggris dapat menjadi jembatan bagi komunikasi antara mereka.  Begitupun masing-masing memperlihatkan tradisi terpisah, dengan masing-masing secara historis memperlihatkan friksi.  Walaupun kenyataan memperlihatkan bahwa banyak kaum Baluchistan yang tinggal diluar Baluchistan, dan lebih dari sejuta orang Pathan tinggal di Sindh, serta kaum Punjabi tersebar di seluruh propinsi di Pakistan, namun antar propinsi secara politis tetap memperlihatkan persaingan (Lawrence Ziring, “Pakistan”, dalam World Encyclopedia of Political System & Parties)  serta memperlihatkan gejala tak sehat bagi keutuhan Pakistan.  Kaum Pathan menuntut suatu Pakhtunistan, kaum Baluchis “memaksa” bagi diwujudkannya suatu otonomi.   Bila kaum Sindh dan Punjabi yang didominir oleh tuan tanah dengan pengaruh yang luas, maka Baluchis masih “menghormati” pemimpin suku.  Sedangkan kaum Pathan lebih loyal kepada pemimpin agama (biasa disebut Pir) dan pemimpin lokal. Singkatnya, atomisasi dan bukan persatuan nasional menandai ciri khusus bagi “ethos” masyarakat Pakistan.  Kondisi mana ternyata berpengaruh pula dalam kehidupan politik, termasuk didalamnya dalam semangat afiliasi kepartaiannya.

            Pathan yang dominan kedua dalam militer dan birokrasi dianggap lebih egaliber dibanding Punjabi dan Sindh.  Mereka mempunyai kesadaran ethnis yang besar, dengan menyebut budaya mereka sebagai Pakhtun Wali.  Bahkan karena kesadaran ethnis sedemikian sempat memunculkan suatu keinginan mendirikan negara tersendiri, Pakhtunistan, meliputi wilayah NWFP dan sebagian Baluchistan yang berbatasan dengan wilayah Afganistan.  Wilayah ini merupakan basis utama dari national Awami Party (NAP) dibentuk oleh Khan Abdul Ghafar Khan (1957) yang selanjutnya dipimpin oleh Khan Abdul Wali Khan. Etnis Pastun ini memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan etnis Pastun di Afghanistan,  sehingga dalam berbagai isu politik punya solidaritas yang kental terhadapnya.

            Kaum Sindhi yang merasa “secara tradisional” mempunyai wilayah tersendiri di Sindh merasa dipandang “sebelah mata” oleh pemerintah Pakistan. Rasa keterpojokan kian terasa ketika ibukota negara itu dipindahkan dari Karachi ke Islamabad. Perasaan dimarginalkan sedemikian akhirnya menimbulkan benih separatisme pula dalam wujud gerakan Sindhu Desh, artinya Sindhi Homeland, seperti tercermin dari gerakan yang dilancarkan Jeye Sindh.  Kalangan yang tak menggelorakan semangat separatisme pun,  dalam politik tetap saja terkristalisasi dalam wujud dukungan bernuansa  parokialisme etnis dan primordialisme wilayah. Masyarakat Sindh cenderung menjadi pendukung Pakistan People’s Party (PPP) pimpinan Ali Bhutto, seorang pemimpin asal Sindh.

            Sementara itu di Baluchistan, propinsi (yakni sekitar 40 % dari total wilayah Pakistan pasca Bangladesh) pun dengan identitas kewilayahan dan atau kesukuannya punya aliansi politik berbeda.  Propinsi terluas,namun hanya dihuni 5 % dari total penduduk Pakistan ini cenderung pro-NAP.  Namun perlu dicatat bahwa sebagian besar penduduk Baluchistan bukanlah ethnis Baluch, mengingat suku ini justru sebagian besar tinggal di Karachi, propinsi Sind.  Kaum Baluch yang tinggal di Baluchistan hanya terkonsentrasi terutama di distrik Kallat dan di perbatasan Baluchistan – Iran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: