Archive for November, 2015

Separatisme Laten di Negara Pakistan (Tulisan 4 dari 5)

Sebagaimana umumnya negara-negara di Asia  Selatan, masyarakat Pakistan pun punya tradisi kekerasan  politik (gewalt politic) dan politik kekerasan secara mendarah daging, yang pada gilirannya menjadi kendala besar bagi terwujudnya  kehidupan integratif. Apalagi sampai kini Pakistan belum punya lembaga politik-administratif yang dapat  dijadikan sarana pemersatu bangsa.  Propinsi Sind misalnya, partai politik yang ada masih cenderung komunalis.  Kaum Mohajir imigran India yang menguasai ekonomi dan berpendidikan tinggi umumnya mendukung MQM.  Sedangkan penduduk asli ethnis Sind  yang umumnya miskin namun mendominasi  pemerintahan dan polisi propinsi ternyata cenderung mendukung  PPP yang memang didirikan dan dipimpin oleh para tokoh Sindh.

            Pola pengelompokan dan atau dukungan semacam itu akhirnya justru memunculkan dan menyuburkan sentimen berdasar primordialisme  kesukuan.   Akibatnya,  tak aneh bila propinsi Sindh –dan Pakistan umumnya– tak henti-hentinya menjadi daerah rentan bagi pengelompokan politik bahkan pertentangan ethnis yang selalu mengancam stabilitas negara. Begitupula, akibat tradisi kekerasan serta dengan masih kentalnya isu primordialisme itu maka pendekatan yang semata-mata berdasar pada metode persuasif akhirnya tak pula berjalan efektif.

            Memang tidak manusiawi seandainya pemerintah terus-menerus menerapkan kekerasan dalam upaya menanamkan kepatuhan massa dan ketertiban.  Namun untuk masyarakat “bertradisi konflik” macam Pakistan nampaknya diperlukan seorang penguasa yang kuat dan tegas, yang mampu memerintah dengan mengkombinasikan  antara coersif (kekerasan) dengan persuasif (pendekatan).  Artinya, pemerintah di tuntut bukan saja mampu menjamin kehidupan demokratis,  tetapi juga mampu bersikap keras bila situasi sedang memaksa. Dengan kata lain, langkah yang diambil  bukan harus didasarkan kebijakan yang dianggap “benar” dan disetujui oleh seluruh anggota masyarakat, melainkan adalah kebijakan yang terbaik dan termungkin, terutama  dalam saat kemelut akibat pertentangan kepentingan.

            Ternyata mendiang Benazir justru jauh dari tipe pemimpin sedemikian, sehingga dapat dipahami jika dia “gagal” menangani konflik  ethnis. Bahkan akibat “ketiadaan sikap sedemikian” oleh lawan politiknya Benazir justru dianggap bersikap memihak dalam kemelut ethnis. Sikapmana tercermin dari keengganan Benazir untuk segera memberikan  ijin pada militer guna menangkap dan mengadili biangkerok kerusuhan yang diduga didominasi kaum Sindh, pendukung kuat PPP yang memang dipimpin Benazir. Padahal untuk mewujudkan integrasi nasional  kepala negara dan atau pemerintahan dituntut mengembangkan sikap mengidentikkan diri dengan bangsa secara  keseluruhan.  Begitupun pemimpin hanya akan menjadi pusat tumpuan kesetiaan dari setiap rakyatnya dan akan mampu menyerukan rasa persaudaraan hanya bila dia bersikap mempersonifikasikan diri dengan bangsa serta memperlihatkan perhatian dan rasa  hormatnya pada semua suku dan berbagai golongan berbeda. Sebagai pimpinan pemerintahan Benazir dipandang gagal mengembangkan sikap sedemikian, yang oleh oposisi  dianggap masih bersikap sebagai  pemimpin PPP, dan bukan sebagai pemimpin nasional Pakistan. Bahkan karena sikap sedemikian pula akibatnya MQM yang mitra koalisi PPP merasa dikhianati, sehingga MQM membelot serta bekerjasama dengan oposisi menentang pemerintahan Benazir.

Iklan

Enam Ciri Feses Ini Tunjukkan Adanya Penyakit Serius

Sobat,   sekedar tahu,  berikut saya kutipkan sebuah artikel  tentang seluk beluk warna  dan bentuk feses  terkait dengan kondisi kesehatan kita.   Semoga bermanfaat.Hasil gambar untuk macam macam feses

Sobat,  Ketika Buang air besar (BAB), pernahkah Anda memperhatikan feses yang keluar? Kebanyakan orang mengabaikan begitu saja, padahal dari feses yang keluar kita bisa mendeteksi penyakit dan juga masalah kesehatan lainnya. Hem, mungkin terdengar aneh ya? Tapi itulah kenyataannya, feses merupakan sisa dari isi perut yang bisa memberikan informasi tentang adanya masalah pada perut, usus atau bagian lain dari system pencernaan. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa ketika seseorang menderita penyakit, maka secara otomatis akan diikuti dengan perubahan pada fesesnya, baik bentuk, warna, tekstur dan juga aroma. Jadi, tidak hanya air kencing saja yang  bisa mendeteksi kesehatan, tapi dari feses, kita bisa mendeteksi dengan cepat berbagai masalah kesehatan  dalam tubuh.

Baca lebih lanjut

SAYA TAK BERDOA UNTUK PARIS!

Sobat,  sekedar tahu,   saya akan tampilkan tulisan/artikel  seorang anak manusia bernama FAHD PAHDEPIE yang menghapus kembali “deklarasi”  dukanya  terhadap tragedi kemanusiaan di Prancis.  Apa,  bagaimana,  dan mengapa dia melakukan “pencabutan” itu,  berikut  pernyataannya:

SAYA TAK BERDOA UNTUK PARIS!

Kemarin, beberapa saat setelah terror Paris, seperti kebanyakan orang, saya mengunggah gambar “Pray for Paris”. Seolah saya turut bersedih. Seolah saya turut berdoa. Padahal tidak!

Pagi ini saya memutuskan untuk menghapus gambar-gambar itu dari beberapa akun media sosial yang saya punya. Saya tidak berdoa untuk Paris. Tak. Dan mengapa saya harus melakukannya? Mengapa saya harus mengutuk sebuah kejadian di mana seekor anjing yang dilatih untuk menyerang orang lain menggigit teman dari tuannya sendiri?

Saya bosan dengan semua sentimen Islamofobik yang memojokkan Islam. Saya muak dengan semua permaianan politik tingkat tinggi yang dirancang sedemikian rupa untuk mencitrakan Islam sebagai agama teror. Saya jengah dengan semua pemberitaan yang menggiring kesadaran publik pada keyakinan bahwa Islam adalah biang kerok di balik semua petaka yang menimpa dunia.

Sementara kita sering mengabaikan betapa Amerika Serikatlah yang punya andil besar untuk membentuk dan mempersenjatai ISIS. Dan apakah ISIS adalah representasi Islam dan kaum Muslim? Tentu bukan!

Kita lupa bahwa negara-negara Barat juga punya andil penting dalam berbagai peperangan yang terjadi di belahan bumi lainnya. Siapa yang tak terlibat dalam genosida paling terstruktur di Palestina? Dan berapa banyak negara Barat yang tak turut mengirimkan pasukan bersenjata untuk menghancurkan Irak dan Afghanistan? Sedikit sekali!

Betapa naif jika kita hanya mengutuk ISIS sementara melupakan kejahatan perang yang dilakukan Amerika Serikat dan negara-ngara Barat lainnya di aneka belahan dunia? Jika memang mereka tak suka kejahatan terhadap kemanusiaan, jika mereka mengutuk semua aksi pembunuhan terhadap warga sipil yang tak bersalah, tak usah melihat apa agama si pelaku teror. Tak usah tebang pilih! Kutuk dan bencilah semuanya: Semua yang menbunuh, semua yang melakukan kejahatan kemanusiaan, adalah musuh kita semua!

Hentikan semua produksi senjata. Tarik semua pasukan dari daerah perang. Sungguh-sungguhlah dalam menciptakan perdamaian dunia–yang bukan cuma retorika. Berhentilah merasa menjadi pejuang kemanusiaan padahal di saat yang sama melakukan pembunuhan lainnya atas nama kemanusiaan.

Mengapa begitu mudah membuat aksi solidaritas untuk mendukung negara tertentu, sementara begitu sulit menyatakan dukungan untuk negara-negara Muslim yang jutaan warganya menjadi korban setiap tahunnya? Mengapa takut dan enggan untuk membela orang Islam? Mengapa harus selalu sama dengan sikap Amerika dan negara-negara sekutunya? Mengapa media begitu tak adil sekaligus hipokrit?

Saya tak berdoa untuk Paris. Meski saya bersedih atas kematian dan korban yang jatuh dalam tragedi 13 November lalu di sana. Saya mendoakan mereka sebagai sesama manusia. Saya berdoa untuk kemanusiaan kita, juga untuk kenaifan dan kebodohan kita melihat situasi yang sedang terjadi. Semoga kita semua sadar bahwa ini bukan tentang Paris saja. Saya berdoa untuk semua tragedi kemanusiaan di belahan dunia manapun. Saya mengutuk semua yang melakukan teror dan kejahatan terhadap kemanusiaan, apapun agamanya.

… Dan, ya, terorisme tak punya agama!

Sumber/Oleh :  FAHD PAHDEPIE/https://www.facebook.com/arman.asri.9?fref=nf

 

Baca lebih lanjut

Kemanusiaan Macam Apa yang Mereka Maksud, Sebenarnya?

Sobat,  setiap kali ada tragedi kemanusiaan,  dimanapun tempatnya,  niscaya memunculkan berbagai komentar.  Tentu saja berbagai komentar itu dilandasi dengan aji-aji “kemanusiaan”. Namun,  benarkah mereka secara tulus dari hati terdalam secara universal memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang di “jargon” kannya ? Terkait dengan soal  ini,  sekedar tahu,  ada sebuah artikel yang saya kutipkan ulang dalam blog ini.  Semoga artikel ini bisa menjadi renungan serius untuk sedikit membantu mewujudkan manusia yang berkeadaban. Semoga

Jika Anda menyimak betul, dalam setiap topik tentang kemanusiaan selalu muncul dua tipe gerombolan yang sikapnya begitu menggelikan. Saking menggelikannya, saya kira kedua gerombolan tersebut cocok diberi hadiah tamasya ke gurun Gobi sambil mengenakan baju zirah. Ngomong-ngomong siapa saja mereka? humanity_hands_by_luuqas

Tipe pertama, mereka yang meributkan–baik dengan sinis maupun menyindir manis–persoalan remeh macam pergantian foto profil Facebook terkait tragedi kemanusiaan. Biasanya gerombolan tipe ini akan dengan pongahnya menyerang orang lain sambil mengungkit tragedi lain yang lebih dekat secara geografis maupun psikologis. Baca lebih lanjut

Separatisme Laten di Negara Pakistan (Tulisan 3 dari 5)

Semangat ethnis parokial berlatar ethnis di Pakistan dalam politik kekinian masih kuat membalut sistem politik Pakistan.  Kekerasan politik dan politik kekerasan sering mewarnai spektrum politik, yang pada gilirannya sering pula menyebabkan instabilitas sistem politik dan atau pemerintahan Pakistan. Pada masa Pemerintahan Benazir dipenghujung era 1980 an (yang oleh Barat dianggap representasi demokrasi di Pakistan) misalnya, ternyata tak lepas pula dari situasi konflik primorialis ini. Bahkan,   hanya 3 bulan setelah pelantikannya sebagai perdana menteri periode pertama (1988-1990), pemerintahan Benazir telah dipaksa menghadapi konflik ethnis (9 Maret 1989) antara Mohajir (warga imigran India yang berbahasa Urdu) melawan  Pathan Punjabi (dari Karachi Utara), akibat Qoumi Mohajir  Movement (MQM) memboikot sebuah harian lokal berbahasa Urdu  yang sebelumnya menolak meliput kegiatan Mohajir.

            Kemelut ethnis ini telah memaksa pemerintah “demokiratis” Benazir Bhutto kala itu menerapkan larangan ke luar  rumah.  Para pemimpin ethnis yang bentrok pun sebenarnya segera mengadakan pertemuan, untuk membuat strategi bersama guna menghentikan  pertumpahan darah. Namun kerusuhan justru kian buruk, bahkan merembet melibatkan ethnis Sindh  dan melebar ke kota Hyderabad dan kota kecil Sindh.  Penjalaran terjadi terutama  setelah sejumlah anggota keluarga yang terlibat konflik mengungsi ke tempat-tempat lebih aman  di kedua kota itu.

            Kendati Angkatan Darat telah melihat kerusuhan ini sebagai persoalan serius, namun anehnya Benazir kala itu justru masih terlalu tenang serta melukiskan kerusuhan hanya sebagai “pemberontakan” kecil.   Walhasil, atas inisiatifnya  sendiri, Jend. Aslam Beg mengadakan pertemuan dengan beberapa  pejabat termasuk ketua Menteri propinsi Sindh, yang disusul pula  dengan pembicaraan Beg bersama sejumlah perwira di Markas Besar  AD di Karachi.  Dalam kesempatan itu Beg menyebut betapa kerusuhan sudah sedemikian parah, sehingga  bukan saja perlu menghukum para  pelaku kejahatan, melainkan harus pula segera diambil prakarsa politik untuk menyelesaikannya. Kala itu Benazir tetap mengabaikan usulan Beg, sehingga kerusuhan menjadi kian parah.  Bahkan pada 1 Mei  1989 pimpinan MQM, Altaf Hussein, menarik para menterinya dari pemerintah Benazir, menandai akhir dari koalisi pemerintahan MQM-PPP.

            Memang, pada ujung-ujungnya Benazir hilang kesabaran, serta bersegera menerapkan langkah “keras”. Kendati demikian, langkah keras yang diterapkan Benazir oleh banyak kalangan disebut sebagai kebijakan yang sangat terlambat. Kerusuhan sudah berjalan sedemikian parah dan meluas. Pembunuhan demi pembunuhan terus terjadi. Penculikan demi penculikan terus  berlangsung.  Kondisi demikian jelas dianggap sebagai cermin atas ketakmampuan Benazir mewujudkan kehidupan masyarakat yang integratif. Artinya, Benazir telah gagal menguasai seluruh  wilayah yang berada di bawah kekuasaan hukumnya, sehingga  sering terdapat daerah perselisihan yang tak dapat dicapai  oleh “tangan” pemerintah.  Juga berarti bahwa pemerintah tak  berhasil menguasai seperangkat sikap sebagian rakyatnya terhadap bangsa secara keseluruhan yang secara umum digambarkan sebagai loyalitas, kepatuhan, dan kesediaan untuk  menempatkan urusan nasional di atas kepentingan golongan. Kegagalan demikian  terjadi terutama akibat tiadanya ketegasan yang dimiliki Benazir. Dia kurang sadar betapa kadang-kadang pemerintah dibenarkan untuk  bersikap keras serta membatasi hak-hak asasi  selama waktu tertentu terutama dalam upaya menjaga kepentingan umum. Bahkan dalam kondisi kacau  seperti Pakistan ini sebenarnya masyarakat akan memaklumi bahwa tindakan  membatasi hak-hak asasinya hanyalah merupakan dosa kecil.  Karena jika pemerintah bersikap terlalu lembek justru kekacauan akan berlarut-larut.