Separatisme Laten di Negara Pakistan (Tulisan 3 dari 5)

Semangat ethnis parokial berlatar ethnis di Pakistan dalam politik kekinian masih kuat membalut sistem politik Pakistan.  Kekerasan politik dan politik kekerasan sering mewarnai spektrum politik, yang pada gilirannya sering pula menyebabkan instabilitas sistem politik dan atau pemerintahan Pakistan. Pada masa Pemerintahan Benazir dipenghujung era 1980 an (yang oleh Barat dianggap representasi demokrasi di Pakistan) misalnya, ternyata tak lepas pula dari situasi konflik primorialis ini. Bahkan,   hanya 3 bulan setelah pelantikannya sebagai perdana menteri periode pertama (1988-1990), pemerintahan Benazir telah dipaksa menghadapi konflik ethnis (9 Maret 1989) antara Mohajir (warga imigran India yang berbahasa Urdu) melawan  Pathan Punjabi (dari Karachi Utara), akibat Qoumi Mohajir  Movement (MQM) memboikot sebuah harian lokal berbahasa Urdu  yang sebelumnya menolak meliput kegiatan Mohajir.

            Kemelut ethnis ini telah memaksa pemerintah “demokiratis” Benazir Bhutto kala itu menerapkan larangan ke luar  rumah.  Para pemimpin ethnis yang bentrok pun sebenarnya segera mengadakan pertemuan, untuk membuat strategi bersama guna menghentikan  pertumpahan darah. Namun kerusuhan justru kian buruk, bahkan merembet melibatkan ethnis Sindh  dan melebar ke kota Hyderabad dan kota kecil Sindh.  Penjalaran terjadi terutama  setelah sejumlah anggota keluarga yang terlibat konflik mengungsi ke tempat-tempat lebih aman  di kedua kota itu.

            Kendati Angkatan Darat telah melihat kerusuhan ini sebagai persoalan serius, namun anehnya Benazir kala itu justru masih terlalu tenang serta melukiskan kerusuhan hanya sebagai “pemberontakan” kecil.   Walhasil, atas inisiatifnya  sendiri, Jend. Aslam Beg mengadakan pertemuan dengan beberapa  pejabat termasuk ketua Menteri propinsi Sindh, yang disusul pula  dengan pembicaraan Beg bersama sejumlah perwira di Markas Besar  AD di Karachi.  Dalam kesempatan itu Beg menyebut betapa kerusuhan sudah sedemikian parah, sehingga  bukan saja perlu menghukum para  pelaku kejahatan, melainkan harus pula segera diambil prakarsa politik untuk menyelesaikannya. Kala itu Benazir tetap mengabaikan usulan Beg, sehingga kerusuhan menjadi kian parah.  Bahkan pada 1 Mei  1989 pimpinan MQM, Altaf Hussein, menarik para menterinya dari pemerintah Benazir, menandai akhir dari koalisi pemerintahan MQM-PPP.

            Memang, pada ujung-ujungnya Benazir hilang kesabaran, serta bersegera menerapkan langkah “keras”. Kendati demikian, langkah keras yang diterapkan Benazir oleh banyak kalangan disebut sebagai kebijakan yang sangat terlambat. Kerusuhan sudah berjalan sedemikian parah dan meluas. Pembunuhan demi pembunuhan terus terjadi. Penculikan demi penculikan terus  berlangsung.  Kondisi demikian jelas dianggap sebagai cermin atas ketakmampuan Benazir mewujudkan kehidupan masyarakat yang integratif. Artinya, Benazir telah gagal menguasai seluruh  wilayah yang berada di bawah kekuasaan hukumnya, sehingga  sering terdapat daerah perselisihan yang tak dapat dicapai  oleh “tangan” pemerintah.  Juga berarti bahwa pemerintah tak  berhasil menguasai seperangkat sikap sebagian rakyatnya terhadap bangsa secara keseluruhan yang secara umum digambarkan sebagai loyalitas, kepatuhan, dan kesediaan untuk  menempatkan urusan nasional di atas kepentingan golongan. Kegagalan demikian  terjadi terutama akibat tiadanya ketegasan yang dimiliki Benazir. Dia kurang sadar betapa kadang-kadang pemerintah dibenarkan untuk  bersikap keras serta membatasi hak-hak asasi  selama waktu tertentu terutama dalam upaya menjaga kepentingan umum. Bahkan dalam kondisi kacau  seperti Pakistan ini sebenarnya masyarakat akan memaklumi bahwa tindakan  membatasi hak-hak asasinya hanyalah merupakan dosa kecil.  Karena jika pemerintah bersikap terlalu lembek justru kekacauan akan berlarut-larut.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: