Kemanusiaan Macam Apa yang Mereka Maksud, Sebenarnya?

Sobat,  setiap kali ada tragedi kemanusiaan,  dimanapun tempatnya,  niscaya memunculkan berbagai komentar.  Tentu saja berbagai komentar itu dilandasi dengan aji-aji “kemanusiaan”. Namun,  benarkah mereka secara tulus dari hati terdalam secara universal memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan yang di “jargon” kannya ? Terkait dengan soal  ini,  sekedar tahu,  ada sebuah artikel yang saya kutipkan ulang dalam blog ini.  Semoga artikel ini bisa menjadi renungan serius untuk sedikit membantu mewujudkan manusia yang berkeadaban. Semoga

Jika Anda menyimak betul, dalam setiap topik tentang kemanusiaan selalu muncul dua tipe gerombolan yang sikapnya begitu menggelikan. Saking menggelikannya, saya kira kedua gerombolan tersebut cocok diberi hadiah tamasya ke gurun Gobi sambil mengenakan baju zirah. Ngomong-ngomong siapa saja mereka? humanity_hands_by_luuqas

Tipe pertama, mereka yang meributkan–baik dengan sinis maupun menyindir manis–persoalan remeh macam pergantian foto profil Facebook terkait tragedi kemanusiaan. Biasanya gerombolan tipe ini akan dengan pongahnya menyerang orang lain sambil mengungkit tragedi lain yang lebih dekat secara geografis maupun psikologis.

Contoh: Ketika banyak orang di Facebook mengganti foto profilnya dengan bendera Prancis seperti hari-hari belakangan ini, maka gerombolan tersebut akan menggonggong seperti, misalnya, “Di Papua tiap hari ada tragedi, kalian kemana?!” atau–ini pertanyaan favoritnya para kaum Jonruisma–“Palestina dibom oleh Zionis tiap jam, kenapa kalian tak pernah mengganti foto profil?!”.

Bagi gerombolan macam itu, Anda adalah terdakwa yang memiliki standar ganda mengenai kemanusiaan. Anda akan diserang, disindir, ditertawakan, dipojokkan dengan beragam pernyataan maupun pertanyaan klise yang membuat Anda berada dalam posisi serba salah. Seolah-olah Anda hanya mempedulikan tragedi yang lebih populer ketimbang tragedi lainnya. Padahal, kita semua tahu, tuduhan tersebut benar. Eh, maaf, maksudnya salah.

Berdasarkan pengalaman pribadi, saya (dan mungkin Anda juga) kerap menerima serangan dari kelompok ini di media sosial. Mulanya saya menghadapi argumen mereka melalui sederet teori tentang humanisme bla bla bla yang lumayan saya dalami. Tetapi, makin kesini, ketika mulai paham betapa bebalnya gerombolan ini, saya pun jadi lebih enteng menanggapinya.

Misalnya mereka menyindir, “Kemana kamu saat Beirut ditimpa bom?”, maka saya akan menjawab, “Di rumah lagi ngangkat jemuran” atau “Oh, waktu itu lagi sibuk gebukin sapi biar jadi abon”.

Terlepas dari itu, cobalah Anda perhatikan, memangnya mereka sendiri kemana ketika Beirut diserang, Kenya ditimpa musibah, atau saat Dolly ditutup paksa? Bikin sumur? Beli gorengan? Panjat pinang? Sibuk duel otak? Kebanyakan dari mereka, para bebal itu, sejatinya juga baru muncul dan protes ketika Tragedi Paris heboh. Lalu dengan amat yakin mereka merasa “kemanusiaan” versinya jauh lebih suci dari yang lain.

Oh, kakak Jerinx, jatuhkanlah bom atom cinta di atas mereka!

Tipe kedua, mereka yang tampak begitu luar biasa sucinya seperti para utusan langit. Tiap ada tragedi kemanusiaan, gerombolan ini dengan segera berkhutbah soal moral, tentang pentingnya menghargai sesama, atau tentang betapa indahnya suatu keberagaman. Begitu bijaksananya khutbah mereka, hingga tiap orang yang membaca atau mendengarnya, juga akan mencium bau semerbak bunga Kasturi seperti di makam Saad bin Muaz.

Biasanya, ini biasanya lho, ya, tipe gerombolan macam ini berada dalam lingkaran para intelektual maupun budayawan, ups, menara gading. Mereka yang bersekolah tinggi, khatam membaca buku-buku babon, dan dalam setiap topik pembicaraan kerap mengaitkannya dengan Hak Azasi Manusia. Tapi, sekali lagi, ini biasanya yang hanya berdasarkan pengamatan belaka, jadi peluang “tidak biasanya” juga ada. Enggak usah ngamuk gitu dulu, deh.

Contoh: Misalnya Anda sedang berbincang tentang langkanya pertumbuhan pohon tauge di Burkina Faso, entah bagaimana caranya, gerombolan ini akan membuat benang merah antara topik tersebut dengan pentingnya hadiah Nobel bagi warga bantaran Kali Sunter. Pokoknya, apapun yang dibahas, yang diserempet tak jauh dari hal-hal semacam perdamaian dunia, seperti sudah menjadi template. Sungguh kaum yang bijak bestari lagi Tut Wuri Handayani. Dunia pasti menjadi surga jika mereka yang berkuasa.

Kita tahu, pertikaian kedua gerombolan ini berlangsung begitu marak tiap muncul tragedi kemanusiaan. Yang menyebalkan, karena saking seringnya mereka bertikai, pandangan moral maupun ekspresi politik kita–yang merasa enggan untuk ikut gerombolan tersebut–perlahan ikut terbatasi. Seolah-olah tak ada opsi lain dan kita hanya bisa memilih salah satu dari apa yang mereka sajikan setiap harinya. Hal ini, bagi saya, persis seperti momen pemilihan Presiden pada tahun lalu.

Jika Anda mendukung Jokowi, misalnya, sampai mampus Anda akan dianggap sebagai musuh pendukung Prabowo, dan begitu pula sebaliknya. Sementara Anda yang memilih untuk tidak memilih atau golput–terlepas dari apakah Anda memang ignoran atau memang memiliki analisis tersendiri–akan dianggap tak memiliki hak secuil pun untuk menjadi partisipan politik di negeri ini. Haibat betul bukan bagaimana cara kedua gerombolan ini menyempitkan dunia?

Repotnya, peradaban yang kita tinggali saat ini, peradaban yang penuh teror ini, dikuasai oleh dua gerombolan tersebut. Dan untuk itu, suka atau tidak, Anda harus menentukan sikap, harus memilih. Jika Anda bersikap netral, neraka terdalam akan siap menanti Anda, seperti perkataan Voltaire yang mendadak sering dikutip saat pilpres itu.

Pertanyaannya, benarkah demikian? Benarkah tak ada lagi peluang bagi Anda dan saya untuk memunculkan opsi lain yang terbebas dari omong kosong kedua gerombolan tersebut? Saya pribadi, sih, tidak percaya. Akan selalu ada peluang untuk membebaskan atau memerdekakan diri dari kepungan otoritas moral yang dipaksakan, meski jangkauannya masih sebatas per individu.

Lagi pula, apa yang mereka maksud dengan “kemanusiaan”, sebenarnya, ketika tanpa sadar mereka terus mereproduksi kekerasan lewat saling serang argumen, justru pada saat menyerukan perdamaian? “Kemanusiaan” macam apa yang diharapkan dari pengkotak-kotakkan dan labelisasi seperti itu? Atau jangan-jangan “kemanusiaan” memang merupakan persoalan yang sedemikian teknis, hingga perlu semacam panduan seperti, misalnya, cara makan yang beradab?

Bagi saya, kedua gerombolan tersebut hanyalah sibuk memenangkan pertarungan tafsir atas “kemanusiaan” tanpa pernah benar-benar menyentuh esensi “kemanusiaan” itu sendiri. Hal ini mengingatkan saya seperti salah satu dialog di Watchmen antara Comedian dan Dr. Manhattan.

Syahdan, (anjir, Goenawan Mohamad banget neeehhh) ketika di sebuah bar Comedian menembak mati seorang perempuan Vietnam yang telah dihamilinya, Dr. Manhattan, yang berada di samping rekannya tersebut, langsung muntab dan berkata, “Dia hamil, dan kau menembaknya sampai mati!”. Comedian menjawab enteng:

“Betul, dan kau tahu itu, kau melihatku. Kau bisa saja mengubah pistolku menjadi uap atau peluruku menjadi zat kimia, tetapi kau tidak melakukannya, bukan? Kau tidak pernah peduli dengan kemanusiaan, Doc. Kau justru berpaling darinya.”

Sumber/ Oleh Eddward S. Kennedy /http://mojok.co/2015/11/kemanusiaan-macam-apa-yang-mereka-maksud-sebenarnya/ 17 November 2015

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: