Archive for Desember, 2015

Pakistan: Konflik Propinsi Menyoal Otonomi (Tulisan 1 dari 4)

Masalah otonomi dari waktu ke waktu tetap menjadi wacana politik yang cukup menarik untuk di perbincangkan.  Perdebatan tentang untung rugi bagi diterapkannya suatu otonomi sebagai suatu metode politis bagi hubungan pemerintah pusat dan daerah terus bergulir. Satu hal cukup menarik adalah ternyata wacana, perdebatan dan atau diskusi tentang otonomi tersebut sering dikaitkan dengan isu tuntutan tentang demokrasi.  Banyak pendapat mengaitkan bahwa semakin demokratis suatu sistem politik dan pemerintahan, niscaya bersama itu pula dalam pola hubungan politis antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah akan mengarah pada suatu sistem desentralisasi yakni otonomi.

            Semakin demokratis suatu sistem kenegaraan, maka dalam mekanisme pemerintahannya pemerintah pusat akan lebih cenderung melimpahkan kekuasaannya kepada pemerintah daerah.  Artinya, dalam pola yang demokratis sedemikian pemerintah Pusat memberikan dalam porsi yang sangat besar pada partisipasi pemerintah daerah untuk mengatur pemerintahannya berdasar pada suatu partisipasi rakyat dan potensi daerah.  Dengan kata lain,  pemerintahan yang demokratis adalah yang berlandaskan pada pola kebijakan yang bersifat bottom up, dan oleh karena itu pola hubungan pusat – daerah haruslah bersifat otonomi. Sedangkan, suatu pemerintahan yang tak demokratis (baca: otoriter) niscaya akan cenderung mengembangkan pola hubungan pusat derah dalam bentuk up-down, dengan memperlakukan pemerintah daerah hanya sebagai perpanjangan tangan dari pusat untuk melaksanakan seluruh kebijakan yang dibuat oleh pusat.  Dan oleh sebab itu pemerintah daerah hanyalah sebagai pekerja dari –dan diawasi secara ketat oleh– pusat.

            Walhasil, karena sistem demokratis dewasa ini umumnya dianggap sebagai yang paling ideal, konsekuensinya sistem otonomi pun akhirnya terbawa pula ke dalam suatu image yang ideal. Berdasar pemikiran sedemikian akhirnya terpola suatu pemikiran bahwa mekanisme hubungan antara pemerintah pusat dengan daerah yang desentralisasi dengan memberi otonomi pada daerah adalah merupakan sistem terbaik. Bila mekanisme sedemikian diterapkan niscaya hasilnya akan “selalu” baik pula. Sedangkan diluar sistem demokrasi dan  atau  otonomi adalah buruk yang “selalu” akan berimplikasi buruk pula  bagi mekanisme kerja keseluruhan sistem, bahkan termasuk hasilnya.

            Kalau direnungkan secara bijaksana, sebenarnya persoalannya tidaklah sesederhana itu. Masalah otonomi (desentralisasi) dan sentralisasi sebenarnya tak dapat dilihat sebagai sesuatu yang hitam-putih, baik dan buruk.  Karena, baik desentralisasi (baca: otonomi) maupun sentralisasi ini bagaimanapun penerapannya tidak akan terlepas dari pola dan tipe budaya masyarakatnya.  Juga tidak terlepas pula dari situasi dan kondisi tertentu dimana sistem tersebut akan diterapkan.  Bukan tak mungkin penerapan otonomi –yang sangat ideal itu– justru akan berimplikasi negatif, terutama pada masyarakat yang mempunyai derajat konsensus rendah serta mempunyai budaya kekerasan politik dan politik kekerasan yang cukup kental.  

            Singkatnya, kendati betapa idealnya suatu sistem otonomi dan betapa “tak baiknya” suatu sistem sentralisasi –sekali lagi– keduanya tak dapat dilihat sebagai hitam dan putih.  Melainkan akan lebih bijak dilihat sebagai suatu spektrum antara hitam dan putih.  Dengan dasar pemikiran sedemikian, maka ide penerapan yang terbaik atas pola dikotomis tersebut perlu dilandaskan pada pendekatan derajad spektrum otonomi-sentralisasi tadi, sesuai dengan situasi dan kondisi budaya masyarakatnya.

.. KISAH NYATA, .. SURAT ANEH KEPADA DOMPET DHUAFA …

Sobat,   saat ini saya ingin sekali  menampilkan sebuah artikel yang sarat dengan hikmah kehidupan.  Tulisan ini sebenarnya sudah pernah  saya baca  lama sekali.  Kebetulan  saya “bertemu” kembali  dengan tulisan yang sama,  dan kebetulanpula  saya sudah membuat blog ini,  sehingga  tidak ada salahnya peristiwa yang benar-benar terjadi ini  bisa menambah  hasanah tentang  arti penting menjaga harga diri,  membangun kemandirian,  dan  menjauhkan diri dari menghiba pada orang dengan cara mengeksploitasi kekurangan yang dimiliki.    Hasil gambar untuk hidup mandiri

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Beberapa tahun silam, ada sebuah surat yang cukup unik datang ke kantor Dompet Dhuafa (DD). Biasanya setiap hari lebih dari 20 surat permohonan bantuan singgah ke kantor DD. Baca lebih lanjut

JANGAN PERNAH MENYAMAKAN LABA DENGAN RIBA

Sobat,  berikut  saya kutipkan artikel tentang perbedaan antara riba dan laba.
“… Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS.Al-baqarah:275)
Sebenarnya apa sih tujuan islam melarang riba? Seharusnya khan asal saling sepakat, saling rela, tidak kena dosa? Hukum islam itu dibuat untuk mengatur agar manusia mendapatkan kemaslahatan sebesar-besarnya tanpa manusia merugikan siapapun sekecil-kecilnya. Mari kita bahas contoh LABA dan RIBA agar anda mudah untuk memahami dengan bahasa yang umum:

Baca lebih lanjut

Separatisme Laten di Negara Pakistan (Tulisan 5, terakhir)

Di era kepemimpinan Bezazir   di tahun 1989,   oposisi cukup jeli memanfaatkan situasi konflik etnik berkepanjangan.  Kelompok Ittehadi Jumhuri Islami (IJI) yang sering disebut Islamic Democratic Alliance (IDA) (kala itu dipimpin Nawaz Sharif), yang menguasai pemerintahan Punjab memanfaatkan kesempatan ini  untuk memojokkan pemerintahan Benazir.  Bahkan secara terang-terangan Punjab telah pula menentang Islamabad, seperti menahan dua orang agen Badan Penyelidik Federal (FIA: Federal Inteligent  Agency) dengan dituduh melakukan huru-hara serta  menimbulkan gangguan di Punjab. Ketua  Menteri Punjab  menuduh FIA sebagai dimanfaatkan oleh pemerintah pusat untuk mengganggu para pemimpin IJI, dengan berpura-pura menyelidi kemungkinan  kasus pengelakan pajak oleh M/S Bias Beverages, perusahaan  pembotolan Pepsicola.

            Punjab  juga dituduh melancarkan kampanye anti Islamabad seperti melakukan penghasutan di propinsi Baluchistan dan Sind  bagian selatan. Akibatnya hubungan kedua propinsi itu dengan  Islamabad menjadi terganggu.  Ketua Menteri  Baluchistan kala itu , Nawaz Akbar Bugti misalnya, mempertanyakan kekuasaan  Islamabad dalam hal menarik pendapatan dari cadangan gas  alam di Baluchistan (Far Eastern Economic Review, 15/6/1989 & 27/4/1989).  Bahkan, di Sindh  sampai terjadi kerusuhan yang intinya melawan pemerintah pusat.  Pada 2 Oktober 1989, di Sukkur para anggota Jeye Sindh membakar bendera Pakistan serta mengibarkan bendera milik gerakaan itu. Ghulam Mohammad Syed –tokoh  tua pemimpin Jeye Sind berusia 85 tahun yang sedianya akan pidato di tempat itu– pun akhirnya ditangkap, sehingga menimbulkan reaksi lebih keras dari para pengikutnya.

            Lebih jauh lagi, Punjab melontarkan suatu tuntutan akan suatu otonomi penuh. Pimpinan  IJI sekaligus Menteri Besar propinsi Punjab kala itu mengambil langkah-langkah konfrontatif guna melepaskan Punjab –yang dihuni oleh 30 persen penduduk Pakistan– dari kontrol Islamabad. Pada Januari 1990 misalnya, Menteri Besar Punjab menghalang-halangi  aparat dari Islambad meresmikan Bank Propinsi Punjab. Pemerintah Punjab kala itu telah pula memboikot Televisi, radio dan kantor berita pemerintah Islamabad, serta berkeinginan mendirikan jaringan Televisi swasta di Punjab. Alasannya, bukan saja karena Punjab merasa diabaikan oleh liputan Televisi pusat, melainkan karena TV pusat  telah dimanfaatkan pemerintah pusat untuk “membunuh” kredibilitas para pemimpin oposisi. Apalagi, mendirikan pemancar TV di Punjab memang dibenarkan konstitusi.  Artikel 159  konstitusi 1973 yang dibuat mendiang Ali Bhutto misalnya, secara jelas menyatakan: “Pemerintah pusat tidak punya cukup alasan menolak keinginan suatu pemerintah propinsi untuk mendirikan pemancar radio dan TV bilamana diperlukan untuk pembangunan dan alat komunikasi dalam wilayah propinsi, untuk mengatur dan mengelola keuangan dalam rangka pembangunan dan komunikasi serta penerimaan aparatur dalam wilayah propinsi”.

            Namun “manuver” dari Punjab ini ditentang Islambad , bahkan  disebutnya sebagai upaya menciptakan perpecahan dan anti  nasional (persatuan), sebagai  upaya untuk mengulangi sejarah “hitam” terbentuknya negara Bangladesh, tatkala tahun 1971 memisahkan diri dari Pakistan.  Oleh karena itu Islamabad  tak akan pernah kompromi dengan kelompok yang ingin menciptakan perpecahan melalui dalih otonomi. Karena cara otonomi justru akan menghasilkan suatu federasi lemah.  

            Berbagai peristiwa serupa   dalam dalam konteks kekinian ternyata acapkali masih mewarnai spectrum politik Pakistan, meski dengan skala berbeda-beda.  Terkadang  konflik primordial bersifat sporadis dan kecil-kecilan sehingga dengan cepat dapat diredam,  namun kala lain   konflik seolah terjadi secara terorganisir dan dalam skala agak massif, seolah tragedi sparatisme Bangladesh   di tahun 1970 masih membayang-bayangi, mengancam eksistensi dan atau keutuhan Negara Islam Pakistan. Realitas ini memperlihatkan bahwa primordialisme  etnik dan kewilayahan di Pakistan acapkali berada di atas universalisme Islam yang dijadikan “icon” pemersatu bagi eksistensi Negara Pakistan.

10 Manfaat Kulit Kentang Yang Menakjubkan

Sobat,  sekedar tahu, berikut saya kutipkan artikel yang mengupas tentang segudang manfaat  kulit  kentang.  Semoga bermanfaat.
https://dhurorudin.files.wordpress.com/2015/12/06ee7-manfaat2bkulit2bkentang.jpg?w=387&h=223
Sobat, Tentu saja akan bisa memberikan keuntungan yang luar biasa bagi tubuh, jika anda berminat untuk mengonsumsi kulit kentang ini. Sayangnya banyak juga orang yang masih belum mengetahui akan berbagai macam kandungan penting yang terdapat di dalamnya. Sehingga mereka akan membuang kulit kentang tersebut, dan hanya memanfaatkan pada daging kentangnya saja.
Padahal bila dilihat dari segi manfaat kulit kentang itu sendiri, banyak sekali kandungan nutrisi penting di dalamnya yang diklaim mampu mencegah tubuh dari berbagai penyakit. Diantaranya Kalium, Niacin yang berupa Vitamin B6, Serat, Zat besi, Vitamin C, yang semuanya itu pastinya tidak kalah hebat dengan khasiat yang terdapat pada daging kentangnya.

Baca lebih lanjut

6 Penyebab Kanker yang Anda Gunakan Sehari-hari

Sobat,  sekedar tahu,  berikut saya kutipkan  artikel tentang “Penyebab sekaligus alternatif pengobatan”  penyakit kanker.  Semoga bermanfaat.
Sobat,  Kanker menjadi salah satu penyakit mematikan yang ditakuti semua orang. Tak heran, banyak orang berusaha mencegahnya dengan menghindari segala sesuatu yang dapat menimbulkan kanker. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penyakit ini, salah satunya dengan menerapkan pola hidup sehat. Tapi tak cukup itu saja, Anda juga harus memerhatikan produk-produk yang Anda gunakan sehari-hari. Pasalnya, produk-produk yang Anda gunakan sehari-hari turut andil menjadi penyebab kanker. Dilansir dari Healthy Life Vision, berikut enam penyebab kanker yang Anda gunakan sehari-hari.

Baca lebih lanjut

Darurat Kecerdasan Literasi Bagi Kader PKS

Sobat,   berikut saya kutipkan artikel yang ditulis oleh Zico Alviandri  tentang darurat kecerdasan literasi di tengah melimpahnya informasi di sekeliling kita, baik dari media massa, termasuk media sosial khususnya.  Artikel ini memang diberi judul  “diperuntukkan”  bagi kader PKS,  namun secara substantif sebenarnya dan seharusnya berlaku untuk kita semua.  Selamat membaca.

Tanggal 10 Agustus lalu M Sohibul Iman resmi dilantik menjadi Presiden PKS. Bila ia mengemban tugas pembenahan secara holistik atas kondisi internal partai, maka salah satu hal yang harus dibenahi itu mirip sekali dengan cuitannya di media sosial twitter, dua hari sebelum ia dilantik.

Pada tanggal 8 Agustus, melalui akun twitternya @msi_sohibuliman ia mengeluhkan ekses melimpahnya informasi yang membuat “kita” (ia gunakan kata kita sebagai ajakan introspeksi) mudah menyebarkan informasi sampah yang disertai cacian. Baca lebih lanjut