Kemelut Karachi: Problema Ekonomi, Ethnis, dan Sekte di Pakistan (Tulisan 1 dari 3)

Karachi, kota  Industri  terbesar di Pakistan bagian selatan,  dengan penduduk sekitar 10 juta jiwa dari waktu ke waktu tak pernah absen dari konflik berdarah, terutama akibat bergolaknya para pendukung Mohajir Qoumi Movement (MQM).  Pembunuhan berencana,  kerusuhan berlatar sektarianisme, dan pembantaian berdasar persaingan politik telah mewarnai spektrum kehidupan masyarakat. 

            Karachi dalam banyak kasus sering diibaratkan sebagai daerah tak bertuan, tanpa penguasa, dan tanpa aturan yang dapat menata kehidupan masyarakatnya. Alhasil, di bekas ibukota pertama Pakistan itu akhirnya cukup sering pula berlaku hukum homo homini lupus, manusia satu menjadi serigala bagi manusia lain, sehingga tidak dapat memberi  ketenangan pada warga kota penghuninya. Kalau kembali membuka file politik Pakistan menjelang penghujung millennium ke dua,  niscaya akan ditemukan data-data yang mendukung logika itu.  Selama tahun 1995 misalnya, lebih dari 1800 orang tewas menjadi korban dalam kemelut berdarah di Karachi.  Jumlah tersebut mengindikasikan betapa kerusuhan tersebut skalanya jauh lebih luas dibanding tahun sebelumnya (1994) yang “hanya” menelan korban 1000 orang. Memang,  di awal millennium ketiga gejala serupa tidak begitu kuat, namun demikian Pakistan kini dihadapkan pada problem lain berupa perseteruan antara pemerintah federal vs.  kaum muslim “radikal” yang tampaknya memiliki pengaruh sangat kuat di wilayah-wilayah pinggir.

            Konflik etnik di Pakistan memang sangat kuat gejalanya di era menjelang akhir Milenium kedua, terutama di era pemerintahan Benazir Bhutto.  Kala itu pemerintah –pimpinan Perdana Menteri Benazir Bhutto– menuding bahwa berbagai kekerasan yang melanda Karachi  tidak lain adalah akibat didalangi sekaligus dilakukan “pemberontak” MQM, partai terbesar ketiga di  Pakistan.  Partai ini terutama didukung oleh masyarakat Mohajir berbahasa Urdu.  Mohajir artinya imigran.  Mohajir adalah kaum migran asal India yang masuk Pakistan –terutama Karachi– tahun 1947 dan 1948, menyusul pecahnya anak benua India menjadi dua negara : Pakistan dengan mayoritas Muslim dan India yang didominir kaum Hindu.  Karachi mulanya hanyalah sebuah kota “mati” yang dihuni oleh sekitar 25.000 orang, terutama berethnis Sindhi, Hindu, dan sedikit ethnis Baluch.  Kedatangan kaum Mohajir dengan “tangan dinginnya” telah mengubah status Karachi dari sekedar kota pelabuhan yang “mati” menjadi sebuah pusat perdagangan dengan penduduk mencapai satu juta jiwa.

            Bahkan, seiring dengan pertumbuhan industri di Karachi pada dekade 1950 – 1960 an, telah merangsang munculnya migran gelombang kedua, terdiri atas Punjabi dan Pathan. Ethnis Pathan adalah migran internal terbesar yang datang dari wilayah perbatasan Afghanistan.  Mereka umumnya adalah para tenaga kerja kasar, serta menjadi tulang punggung dunia buruh di Karachi.  Alhasil, pada 1960 penduduk Karachi tercatat hampir dua juta jiwa.  Jumlah tersebut terus membengkak pada tahun 1970-an terutama menyusul datangnya gelombang pengungsi kaum Bihar asal Bengali akibat separatisme wilayah Bengali (Pakistan Timur) menjadi negara terpisah, Bangladesh. Pada tahun 1970 jumlah penduduk Karachi telah mencapai lebih dari 3 juta jiwa. Dengan pertumbuhan rata-rata 5 – 6 % pertahun, angka tersebut berubah menjadi 6 juta pada tahun 1981, dan mencapai 10 juta pada dekade 1990 an.

            Alhasil, seiring dengan kian berjubelnya penduduk Karachi, bersama itu pula persaingan hidup menjadi kian rumit dan keras. Jika kaum Muhajir berhasil mendominir dunia perdagangan dan pendidikan, maka kaum Pathan menguasai sektor transportasi.  Sedangkan mayoritas ethnis asli (Sindh) dan  Baluch sebagai pemilik “historis” kota tersebut justru kian hari semakin menempati posisi marginal dalam sektor ekonomi. Kondisi ini akhirnya merangsang tumbuhnya benih kecemburuan sosial. Mohajir oleh Sindhi dan  Baluch lebih dianggap sebagai “penjajah” yang hanya mengeksploitasi wilayah mereka. Bahkan Mohajir dicurigai pula akan menempatkan ethnis Sindh dengan segala atribut budayanya pada posisi marginal, dan sebaliknya menempatkan Mohajir pada posisi kian sentral. Pemikiran demikian secara inherent telah membentuk bara permusuhan antar ethnis, yang sewaktu-waktu dapat tersulut menjadi api kerusuhan. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: