Belajar dari Sengkarut Postingan Tere Liye

Sobat,  sekedar tahu,  beberapa waktu lalu seorang  penulis terkenal bernama Tere Liye “konon”  memposting tulisan  yang isinya :  “Indonesia itu merdeka, karena jasa-jasa tiada tara para pahlawan–yang sebagian besar diantara mereka adalah ulama-ulama besar, juga tokoh2 agama lain. Orang-orang religius, beragama. Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang? Silahkan cari.

Kontan,  postingan ini memancing  reaksi negatif luar biasa  dari  sebagian kalangan,  yang secara substantif  memancarkan sebuah kemarahan yang seolah  telah sampai ke ubun-ubun.  Menyikapi  atas reaksi yg dipicu postingannya   Tere Liye,  memberikan Jawaban  berikut:

(*Akan saya copy paste penjelasan saya ke penerbit dan beberapa pihak. Saya serahkan ke kalian sepenuhnya mau bereaksi seperti apa setelah penjelasan ini)

Pertama-tama, saya minta maaf jika keriuhan media sosial hari ini membuat tidak nyaman semua orang. Yang kedua, akan saya jelaskan poin dari status yang membuat banyak pihak tidak terima. Statusnya sbb:

“Indonesia itu merdeka, karena jasa-jasa tiada tara para pahlawan–yang sebagian besar diantara mereka adalah ulama-ulama besar, juga tokoh2 agama lain. Orang-orang religius, beragama. Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang? Silahkan cari.

Anak muda, bacalah sejarah bangsa ini dengan baik. Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, seolah itu keren sekali; sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan.”

Postingan ini kalau dibaca dengan baik, poin paling pentingnya adalah jangan melupakan peran ulama, tokoh2 agama lain sebagai pahlawan perjuangan kemerdekaan. Redaksionalnya memang jadi seperti menyerang jika dianggap menyerang. Tapi kalau semua orang mau jujur, terutama yang sangat keberatan dengan status ini, bukankah saat mereka membuat tulisan Tan Malaka, Sutan Sjahrir, dll, di media sosial masing2, mereka juga menafikan peran ulama, tokoh agama lain? Saat mereka membahas paham komunis, paham sosialis, seolah besar sekali dampak pemikiran tokoh2 paham ini dalam membentuk negara, melupakan peran pihak lain. Kemudian mereka tutup diskusi dengan juga menyuruh siapapun membaca buku sejarah jika tidak percaya? Saya simply hanya melakukan pola yang sama.

Saya tidak menulis: tidak ada komunis, dstnya. Yang saya tulis di sana, “silahkan cari”, dengan demikian, semoga orang tergerak untuk membaca sejarahnya secara seimbang. Dari ratusan tahun perjuangan kemerdekaan di Indonesia, daftar ulama, tokoh2 agama lain, juga sangat-sangat banyak, dan kita bisa sama-sama melihat posisinya lebih baik. Baru dua hari lalu saya pulang dari tanah kelahiran Tan Malaka, Sutan Sjahrir. Berdiskusi dengan orang2 setempat, mencoba belajar banyak hal. Sy tdk sedang menghilangkan peranan kelompok tertentu, atau sedang antipati, saya hanya berusaha menyeimbangkan pemahaman. Itulah kenapa, status tersebut di tutup dengan: Jangan terlalu terpesona dengan paham-paham luar, seolah itu keren sekali; sementara sejarah dan kearifan bangsa sendiri dilupakan.

Kurang lebih demikian.

Terkait ancaman boikot, tidak mau menjual buku dll, sy mau bilang apa jika ada yang berniat memboikot buku2 Tere Liye. Semoga besok lusa orang2 bisa saling memahami, kita semua bercita2 membuat negeri ini jauh lebih baik.

**jika ada yg hendak copy paste, share, ke akun2, yang sangat keberatan atas status ini monggo. agar penjelasan ini juga sampai. tapi pastikan, kalian tidak perlu ikut memaki, menggoblokkan, membawa nama hewan, kotoran, dll.

Sobat,  terkait  sengkarut  seputar postingan tulisan Tere Liye dan  betapa gegap gempitanya  tanggapan terhadap tulisan itu ,  maupun  tanggapan balik  dari Tere Liye sendiri,  berikut saya kutipkan  tulisan   FAHD PAHDEPIE  berjudul  “Yang Tersisa dari Hiruk Pikuk Status Tere Liye” yang saya pikir menarik untuk direnungkan.

Satu hal yang sering mengecewakan saya dari hiruk pikuk percakapan media sosial adalah perilaku sebagian penggunanya—mungkin kita juga—yang tak bisa menghargai prestasi orang lain dan di saat bersamaan begitu senang menertawakan kesalahan mereka. Apa yang terjadi pada Tere Liye barangkali bisa kita jadikan pelajaran.
Status yang dituliskan Tere Liye tentang ‘Apakah ada orang komunis, pemikir sosialis, aktivis HAM, pendukung liberal, yang pernah bertarung hidup mati melawan serdadu Belanda, Inggris atau Jepang?’ buat saya memang bermasalah, tetapi mengapa komentar kepadanya begitu berlebihan? Dipenuhi cacian, kata-kata kotor, bahkan perisakan yang mati-matian berusaha mengatakan bahwa semua buah pikiran Tere Liye salah belaka, bahwa ia penulis yang tak pernah membaca, bahwa kapasitasnya dipertanyakan; dan seterusnya. ‘
Buat saya ini menggelikan. Seolah kesalahan dari seorang Tere Liye memang hal yang sedang ditunggu-tunggu… Dan ketika kesilapan itu terjadi—tentang lidah terpeleset, atau jemari yang gagal menahan diri untuk mengomentari segala sesuatu—ada sekelompok orang yang merayakan semuanya sambil memanfaatkan momen untuk menjatuhkan seorang Tere Liye sejatuh-jatuhnya. Apa yang sudah diperbuat Tere Liye? Apakah semua itu selama ini membuat beberapa orang merasa begitu terganggu?
Saya tidak ingin membahas substansi statusnya. Bahwa ia merupakan kekeliruan yang perlu diklarifikasi, mungkin iya. Tetapi bahwa kesalahan itu sesuatu yang mungkin dilakukan siapapun juga hal yang mesti dipahami, bukan?
Saya dibesarkan dalam kultur dialog dan diskusi. Sependek yang saya pahami, perbedaan cara pandang adalah sesuatu yang wajar. Perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan. Namun saya selalu diajarkan, jika ada kesalahan yang dilakukan oleh orang yang berbeda pendapat dengan kita, bahkan berbeda ‘kubu’ dengan kita: lawan argumennya, serang balik pendapatnya. Jangan sekalipun menyerang apalagi merendahkan pribadi orang yang mengatakannya. Bahkan salah seorang Guru saya pernah memberi nasihat, “Jika ada orang yang mengatakan ‘bodoh’ kepada orang lain karena ia merasa lebih berilmu dari orang yang diejeknya, sesungguhnya orang itu tak sanggup menyembunyikan kebodohannya sendiri.”
Dalam perkara ini, saya tidak sedang membela Tere Liye, tentu saja. Dalam status itu, ada yang memang ia lewatkan dari sejarah bangsa ini. Tetapi sikap sebagian orang yang membuli (saya lebih senang memakai kata ‘merisak’) habis-habisan, menghina secara berlebihan, menertawakan dengan penuh pelecehan, buat saya jauh lebih memuakkan. Apa yang membuat kita merasa pantas menertawakan kesalahan orang lain? Apa yang membuat kita merasa lebih pintar dari orang lain? Tidak ada. Tidak semestinya ada selama kita masih gagal menertawakan diri sendiri dan mengakui kebodohan serta keterbatasan-keterbatasan kita sendiri. Jika kita tahu bahwa kita juga mungkin salah dan lupa, mengapa kita tak punya ruang permakluman untuk orang lain dalam salah dan lupa mereka?
Tentu saja ini bukan semata tentang Tere Liye. Tetapi hal lainnya. Entah mengapa kita semakin mudah merisak orang lain. Entah apa yang tengah menjangkiti akal kepala kita sehingga kita mudah sekali menghina dan menertawakan kesalahan dan keterbatasan orang lain. Entah mengapa ‘suka’ atau ‘tidak suka’ selalu mengalahkan objektivitas kita tentang kenyataan.
Saya menuliskan semua ini pertama-tama untuk diri saya sendiri. Memang sulit sekali menahan diri untuk mengomentari segala sesuatu—termasuk yang tidak kita tahu. Suatu hari mungkin saya yang akan melakukan kesalahan ‘fatal’ dan boleh jadi ada orang-orang yang sedang menunggu semua itu terjadi—untuk ‘menghabisi’ dan menertawakan saya habis-habisan. Jika hal itu terjadi, mudah-mudahan saya bisa belajar lebih banyak lagi dan makin mawas diri. Saya tak akan membela diri mati-matian untuk mempermalukan diri saya sendiri lebih jauh lagi. Saya percaya Tere Liye juga begitu. Saya percaya Anda juga begitu. Mudah-mudahan.
Sobat,   saya berharap tulisan tersebut bisa direnungkan dengan kepala dingin  dan dengan hati yang bijak. semoga***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: