Kemelut Karachi: Problema Ekonomi, Ethnis, dan Sekte di Pakistan (Tulisan 2 dari 3)

Kemelut etnis di Karachi kian parah,   akibat mekanisme politik Pakistan justru semakin tak kondusif bagi suatu persatuan nasional. Isu komunalisme, sektarianisme, dan atau primordialisme tampaknya sengaja diabadikan dalam kehidupan masyarakat.   Di propinsi Sindh misalnya, semua partai yang ada cenderung berbasiskan semangat primordialisme.  Mohajir yang berbahasa Urdu adalah tulang punggung partai MQM.  Sedangkan penduduk asli berbahasa Sindh, lebih tertarik untuk memperkuat barisan Pakistan People’s Party (PPP) yang didirikan tokoh Sindh terkemuka, Ali Bhutto.

            Begitupun, kantor surat kabar dan wartawannya telah terkotak-kotak berdasar terminologi bahasa, sekaligus budaya dan latar belakang ethnis, terutama antara Urdu dengan Sindhi.  Bahkan antar ethnis dan bahasa ini masih dipilah-pilah lagi berdasar sekte keagamaan, yang kendati sama-sama Muslim namun sering saling mengkafirkan.  Kemelut Ahmadiah pada periode 1950-1960 an –dengan segala korbannya– adalah contoh yang sangat tepat untuk dikemukakan.  Begitupun peristiwa kelabu konflik Syi’ah Vs. Sunni yang dari tahun ke tahun senantiasa terjadi (meski dalam skala berbeda-beda) kiranya dapat pula dijadikan bukti.  Ironisnya, perseteruan sedemikian sering teraktualisasi pada saat-saat ibadah, dimana secara keji satu sekte membantai sekte lain yang sedang melakukan sholat.  Terlihat, betapa nilai-nilai sakral Islam telah disisihkan atau bahkan sengaja “dipermalukan” oleh semangat sektarianisme sempit dari mereka yang mengaku “Muslim” itu.

            Semula migran asal India (baca: Mohajir) diterima “baik” oleh saudara Muslimnya di Pakistan, terutama mengingat bahwa tujuan dasar mereka adalah mendukung berdirinya negara Muslim Pakistan.  Namun seiring dengan kemapanan ekonomis yang dicapai Mohajir, akhirnya muncul dan terus tumbuh berkembang kecemburuan di kalangan penduduk asli, Sindhi, yang secara ekonomi dan pendidikan memang kurang berhasil.  Kecemburuan mengakumulasi terutama akibat Mohajir yang menguasai pendidikan, perdagangan, dan perindustrian dianggap eksklusif serta tak “membangun” Karachi untuk kepentingan semua orang.  Mohajir lebih cenderung membuat dan atau menghidupkan “institusi” primordialisme guna menjamin langgengnya prestise sosial dan ekonomi antar Mohajir sendiri. 

            Kecemburuan ethnis berlatar sosial ekonomi ini akhirnya secara gemilang dimanfaatkan  seorang tokoh asal Sindh, Ali Bhutto, sebagai komoditi utama untuk bertarung dalam arena politik. Sebagai orator ulung Bhutto berhasil mengeksploitir isu kemiskinan kaum Sindh –dan kaum miskin lain– vis a vis “kemewahan” kaum Mohajir guna memobilisir dukungan bagi partai yang baru dibentuknya, Pakistan People’s Party (PPP).  Alhasil, dengan dukungan dari mayoritas kaum tak berpunya Ali Bhutto pun berhasil merebut kursi kekuasaan.

            Sebagai upaya melanggengkan dukungan tersebut maka pada awal 1970 an mendiang Ali Bhutto sempat memperkenalkan suatu sistem kuota bagi lapangan kerja dan kursi perguruan tingi milik pemerintah.  Kebijakan ini terutama diterapkan di propinsi Sindh, tempat ia berasal sekaligus lokasi dimana mayoritas kaum Mohajir tinggal.  Upaya demikian terutama untuk mengangkat kaum tertinggal agar mampu  mencapai mobilitas sosial dan ekonomi.  Secara ethnis kebijakan ini bermaksud ingin menolong kaum Sindhi yang kalah bersaing melawan Mohajir yang berambisi menduduki kursi-kursi penting dalam pemerintahan. 

            Kebijakan berciri sektarianisme ini akhirnya menyulut api kekecewaan kaum Mohajir. Akibatnya, kebencian timbal balik berlatar ethnis pun menguat. Perasaan demikian mengakumulasi tatkala secara antusias Ali Bhutto yang berethnis Sindh ini memberlakukan bahasa Sindhi sebagai bahasa resmi propinsi Sindh.  Manuver Ali Bhutto ini mendapat tantangan sengit dari Mohajir berbahasa Urdu, karena dipandang sebagai upaya “penindasan” kultural, menyusul pendiskriminasian bidang sosial ekonomi.  Bahkan, kebijakan ini diduga sebagai persekongkolan kaum Sindh pimpinan Bhutto untuk mengeliminir atau bahkan dalam jangka panjang menghapus bahasa dan budaya Mohajir, yang sebagai minoritas seharusnya justru dilindungi.  Alhasil, kebencian timbal balik antar ethnis pun kian mengakumulasi, menjadi bara konflik terpendam.  Dus, hanya “diminyaki” oleh setetes isu saja bara konflik ini sewaktu-waktu dapat berkobar menjadi kemelut berdarah, dengan korban nyawa dan harta.

            Manuver-manuver politik yang dilancarkan mendiang Ali Bhutto pada periode 1970 an tampaknya telah mewariskan problema pelik pada pemerintahan berikutnya, termasuk dua periode pemerintahan putrinya sendiri, Benazir Bhutto.  Pada periode 1990 an misalnya, Mohajir yang tergabung dalam MQM dapat dikatakan mengganjal bahkan ikut menggulingkan pemerintahan Benazir.  MQM yang semula bersekutu dalam pemerintahan koalisi pimpinan Benazir, akhirnya berbalik menjadi seteru, terutama akibat kecewa atas ketidakadilan Benazir dalam berbagi kekuasaan.  Apalagi dalam menangani kemelut ethnis Sindh-Mohajir Benazir dianggap pula cenderung berpihak pada Sindh yang notabene satu ethnis dengan diri Benazir.  Akibatnya,  MQM kala itu menarik seluruh wakilnya dari pemerintahan PPP serta bersekutu dengan oposisi pimpinan Nawaz Sharif.  Pemerintahan Benazir akhirnya goyah, serta dipercepat  “kematiannya” oleh dekrit Presiden Ghulam Ishaq Khan, pada 17 Agustus 1990. MQM ternyata kembali menjadi “PR” yang rumit bagi periode kedua pemerintahan Benazir.  Problem Benazir tak lagi sekedar konflik Sindh-Mohajir, melainkan telah bergeser kearah gerakan “quasi-separatism” Mohajir guna mewujudkan cita-cita baru: propinsi tersendiri bagi Mohajir di wilayah Hyderabad dan Karachi, terpisah dari Sindh. Gerakan Mohajir ini oleh seteru politiknya kala itu dianggap sebagai langkah awal bagi separatisme penuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: