Kemelut Karachi: Problema Ekonomi, Ethnis, dan Sekte di Pakistan (Tulisan 3, Terakhir)

Bila dicermati, sebenarnya pergolakan etnis Mohajir di Pakistan lebih sebagai upaya protektif bagi kepentingan sosial ekonomi mereka yang dari tahun ke tahun cenderung menjadi korban diskriminasi pemerintah dan atau sasaran kekerasan masyarakat Sindh. Dus, selama Karachi dan Hyderabad tetap berada di bawah payung  pemerintahan Sindh niscaya ketakadilan akan tetap menimpa kaum Mohajir. Kala Benazir memerintah,  tampaknya sebagaimana ketika mendiang ayahnya, Ali Bhutto memerintah, kedua-duanya kurang akurat mencermati akar dari problem ini. Akibatnya, semangat komunalisme justru cenderung diatasi dengan pendekatan yang berbau komunalisme pula.  Padahal cara ini sebenarnya hanyalah sebagai penundaan suatu konflik untuk menuju konflik lain pada masa berikutnya, yang kadangkala justru skalanya lebih besar.  Apa yang dilakukan mendiang Ali Bhutto periode 1970 an telah memperkuat argumentasi tersebut. Ibaratnya, sebagai pemimpin nasional, Bhutto berusaha mengobati “luka” kaum Sind dengan cara membuat “luka baru” pada kaum Mohajir.   Akibatnya, sementara “luka” kaum Sindh sampai kini tak kunjung sembuh bahkan telah membusuk, “luka baru” kaum Mohajir pun justru kian parah. Alhasil, “tubuh” Pakistan akhirnya digerogoti dan atau disiksa oleh luka-luka serius yang disadari atau tidak sengaja ditorehkan pendahulunya.

            Ketika Benazir menjadi pewaris tahta mendiang Ali Bhutto, tak semestinya Benazir mewarisi pula kebijakan primordialis ala Bhutto.  Primordialisme tak semestinya diatasi dengan kebijakan primordialisme. Primordialisme hanya mungkin dapat dieliminir dengan menumbuhkan semangat nasionalisme. Namun, kebijakan mendiang Benazir dalam mengatasi problem ethnis kala itu ternyata lebih merefleksikan reinkarnasi dari kebijakan sang ayah, Ali Bhutto, yakni tatkala berusaha menyelesaikan kemelut Sindh-Mohajir dan separatisme Bengali. 

            Benazir kala itu lebih suka mengambil langkah konfrontatif dibanding konsultatif, antara lain: pertama, Benazir menangkapi tokoh-tokoh  MQM, suatu kebijakan yang memaksa pemimpin MQM, Altaf Hussein hidup di pengasingan. Bahkan, untuk mencegah kembalinya para “pemberontak” Benazir melalui pengadilan menjatuhkan vonis hukuman belasan tahun lengkap dengan berbagai dakwaan versi pemerintah.  Kedua, Benazir telah menutup kemungkinan politis bagi diselesaikannya kemelut secara dialogis, serta melontarkan suatu pernyataan “kaku” dengan menyebut Altaf Hussein dan koleganya sebagai kriminal yang tak layak untuk menjadi mitra perundingan.  Ketiga, agen-agen intelijen pemerintah sengaja memecah belah MQM dengan cara mendukung MQM sempalan, yakni MQM Haqiqi.  Memang, cara adu domba ini mungkin memperlemah gerakan MQM.  Namun cara ini akhirnya justru memperumit pola perseteruan yang terjadi, dengan konsekuensi kian memperumit penyelesaiannya.  Keempat, Benazir kala itu secara sengaja atau tidak justru membantu mengobarkan semangat anti Mohajir di kalangan raknyatnya sendiri.  Dia bahkan sempat menyebut kaum Mohajir sebagai tak patriotis, teroris, agen India, dan tikus-tikus yang selalu berupaya merusak persatuan Pakistan.  Alhasil, pemikiran “rasialis” yang langsung dialamatkan pada ethnis Mohajir secara “gebyah uyah” (pukul rata) ini jelas membuat marah seluruh kaum Mohajir.  Bahkan Mohajir pro-pemerintah pun ikut tersinggung akibat pernyataan gegabah dari Benazir ini. Pernyataan Benazir ini jelas menimbulkan dendam yang tak terobati.

            Alhasil, berpijak dari berbagai fakta kebijakan “negatif” dari pemerintah mendiang Benazir kala itu,   telah menyebabkan kemelut Karachi menjadi kian rumit.  Korban-korban tak berdosa akhirnya terus berjatuhan.  Dan kota industri terbesar di Pakistan itupun kala itu akhirnya menjadi cermin mini dari kemelut Lebanon. Sebab, apapun argumentasinya, kendati pimpinan MQM  Altaf Hussen (sejak 1992) telah berhasil dipisahkan dari pendukungnya, namun pengaruhnya di kalangan Mohajir kala itu masih cukup kuat.  Dari pengasingannya di London, berbagai “fatwa” pemimpin Mohajir itu masih mampu memobilisir pengikutnya untuk melancarkan demonstrasi. 

            Mantan pemimpin All-Pakistan Mohajir Student Organization itu oleh kaumnya memang dipandang sebagai mesiah (tokoh pembebas) bagi perjuangan Mohajir guna melepas belenggu ketakadilan tokoh-tokoh Sindh yang dipelopori mendiang Ali Bhutto. Dialah  pendiri sekaligus pemimpin pertama (1984) MQM, satu-satunya organisasi politik pertama dan utama yang memperjuangkan kepentingan dan aspirasi Mohajir.  Alhasil, dapat dipahami bila kharisma Hussen yang terkenal dengan sebutan “Boss of the Azizabad Nine-Zero” ini sangat mengakar di kalangan masyarakatnya. 

            Oleh karena itu langkah politis apapun untuk menyelesaikan kemelut Karachi akibat agitasi masyarakat Mohajir ini “faktor” Altaf Hussen harus senantiasa diperhitungkan. Tanpa dia nampaknya apapun upaya Islambad akan menjadi tak terlalu berarti.  Memang, pemimpin MQM Altaf Hussein  sempat melontarkan isu bagi dibentuknya suatu pemerintahan propinsi tersendiri bagi Karachi dan Hyderabad, dua kota dimana Mohajir cukup dominan.  Namun sekali lagi, bila dicermati niscaya akan tampak jelas bahwa, sebenarnya aspirasi ini muncul terutama sebagai upaya protektif bagi kepentingan sosial ekonomi kaum Mohajir yang dari tahun ke tahun cenderung menjadi korban diskriminasi pemerintah dan atau sasaran kekerasan masyarakat Sindh. Dapat dimengerti jika Mohajir lantas berpendapat bahwa selama Karachi dan Hyderabad tetap berada di bawah payung  pemerintahan Sindh niscaya ketakadilan akan tetap menimpa kaum Mohajir.  Dus, dapat dipahami jika isu yang dilontarkan Altaf Hussein oleh kaum Mohajir dipandang sebagai pemikiran brillian dan patut didukung.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: