Archive for Juni, 2016

Penerbang Pertama Ternyata Muslim Andalusia

Sobat,  sekedar tahu,  berikut  saya kutipkan artikel  tentang Abbas Ibn Firnas,  yang konon  sebagai pelopor  penerbangan yang dilakukan oleh manusia.

Sobat,  National Geographic baru baru ini menerbitkan tulisan yang mengagetkan. Ternyata cikal bakal pesawat terbang pertama dibuat oleh seorang Muslim. Jauh sebelum Orville dan Wilbur Wright bersaudara berhasil menerbangkan pesawat pada tahun 1903, ilmuwan Muslim telah mengembangkan prinsip-prinsip penerbangan.Abbas Ibn Firnas, seorang matematikawan, astronom, fisikawan, dan ahli penerbangan Muslim dari abad ke-9, tercatat sebagai manusia pertama yang mengembangkan alat penerbangan dan sukses terbang.

Pengertian manusia pertama di sini berlaku umum, mencakup siapa pun yang berhasil terbang menggunakan alat apa pun, tidak harus berupa pesawat terbang seperti yang ada saat ini.Ibn Firnas berhasil terbang menggunakan glider, alat terbang sederhana yang dilengkapi sayap. Sementara itu, tak diragukan, Wright merupakan penemu dan penerbang pesawat terbang pertama.Alat terbang Ibn Firnas memang masih sederhana. Namun, keberhasilan Ibn Firnas menguji dan menerbangkan alat buatannya pada tahun 852 memberi inspirasi kepada ilmuwan-ilmuwan Barat untuk mengembangkan pesawat. Baca lebih lanjut

Manfaat Mengejutkan dari Pasta Gigi

Sobat,  sekedar tahu,  berikut saya kutipkan artikel  tentang manfaat lain pasta gigi alias  odol  yang sedikit banyak  bisa membantu mempermudah  mengatasi beberapa  “masalah”   dalam keseharian kehidupan  kita. Image result for pasta gigi

Sobat,  pasta gigi memang digunakan untuk membersihkan gigi. Fluoride-nya mampu melindungi gigi dari bakteri yang menempel selepas makan. Namun, siapa sangka jika pasta gigi juga memiliki manfaat lain yang menakjubkan. Berikut ulasannya, seperti dikutip Onlymyhealth, Selasa (21/6/2016):

1. Membersihkan noda kopi dan teh di atas meja.  Menyingkirkan noda kopi dan teh bukan urusan mudah. Tapi coba gunakan pasta gigi seukuran kacang dan gosokkan ke noda tersebut. Kotoran yang menempel, akan mudah terangkat. Baca lebih lanjut

Enam Alasan Penting jangan Buang Kulit Semangka

Sobat,  tahukah anda  bahwa kulit semangka yang selama ini kita buang sebagai sampah  ternyata memiliki  segudang  manfaat untuk  kita ? Sekedar tahu,  berikut saya kutipkan artikel yang mengupas tentang manfaat luar biasa yang dikandung dalam kulit semangka.https://dhurorudin.files.wordpress.com/2016/06/93946-kulit2bsemangka.jpg?w=408&h=235

Sobat,  Semangka merupakan salah satu buah yang cukup menyegarkan, apalagi dikonsumsi di saat cuaca panas atau haus. Buah yang satu ini mengandung banyak sekali air di dalamnya, yang membuatnya sangat segar. Selain itu, buah yang biasa berwarna merah ini mengandung nutrisi penting, antioksidan, vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh, dan dapat menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Biasanya ada beberapa bagian semangka yang kita buang, seperti biji dan juga kulitnya. Namun siapa sangka, jika kulit semangka yang cukup keras memiliki banyak manfaat penting bagi kesehatan. Kita umumnya membuang bagian ini, karena tidak tahu manfaatnya. Padahal kulit semangka kaya akan vitamin A, C dan B6, magnesium, potassium dan seng. Selain itu, penelitian telah membuktikan bahwa 95 persen nilai gizi semangka sebenarnya ditemukan dalam kulit. Lantas apa saja itu? Berikut enam manfaat kulit semangka yang kami kutip dari Healthy Food Team: Baca lebih lanjut

Politik Islam Pakistan (1 dari 4 tulisan)

Bicara tentang Politik Agama tentu menjadi kemestian untuk selalu menunjuk pada suatu partikularistik kajian politik dalam kerangka  nilai-nilai agama.  Oleh karena itu,  dalam diskursus tentang politik agama di Negara Pakistan pun  akan tidak lepas dari logika itu.  Dan karena secara tekstual Pakistan menyatakan diri sebagai “Negara Islam Pakistan”,  akhirnya menjadi jelas pula arah dan makna dari politik agama yang secara linier langsung merujuk pada pengertian politik Islam.  Dus,  akhirnya menjadi penting untuk memformulasi tentang apa dan bagaimana politik agama dalam makna politik Islam tadi.  Dan untuk mengarah pada hal itu,  tentu harus pula dipahami dahulu tentang apa sebenarnya makna substantive dari politik dan apa pula makna esensial dari Islam. Baca lebih lanjut

Cara Bijak Mohammad Ali Menasehati sang Putri

Dunia olah raga dikejutkan dengan kabar wafatnya Muhammad Ali pada 3 Juni 2016 waktu AS atau Jumat (4/6/2016).  Untuk mengenang dan menghormati kehebatan Mohammad Ali,  maka pada kesempatan ini  artikel lama yang pernah saya kutip  dan tampilkan  dalam  blok ini sengaja   saya munculkan lagi.  Semoga  teladan dari Mohammad Ali ini bisa kembali  menjadi amal kebajikan untuk almarhum.  Amin…

Sobat,  hikmah kehidupan dapat diperoleh dari manapun sumbernya.  Hikmah bisa kita dapatkan dari  peristiwa yang kita alami sehari-hari,  dari pengalaman hidup orang lain,  atau bahkan dapat pula kita petik dari kehidupan hewan ataupun bahkan tetumbuhan.   Berikut saya nukilkan sebuah hikmah tentang betapa bijak dan halusnya  cara seorang Mohammad Ali  mendidik/menasehati  sang putri.

SIAPA yang tak kenal Muhammad Ali? Petinju legendaris, dengan julukan “the Greatest” dengan gaya bertinju “kupu-kupu”-nya ini? Di balik kepiawaiannya dalam mengolah jab dan jotosan, ternyata pemahaman keislaman Muhammad Ali patut diteladani. Paling tidak, itulah yang tergambar dari buku karya salah seorang putrinya, Hana Yasmin Ali, yang berjudul: “More than a Hero” (Lebih dari sekedar Pahlawan). Berikut adalah salah satu cuplikan dari buku tersebut, di mana Muhammad Ali memberikan nasihat kepada putrinya tentang wanita yang shalihah, yang paling berharga dan hikmah mengenakan jilbab, menutup aurat, perhiasan wanita. Baca lebih lanjut

Politik Agama: Tolok Ukur Pemerintahan Pakistan (Tulisan 5, Terakhir)

Sekalipun tindakan-tindakan untuk memberlakukan Nizamul Islam secara resmi baru diumumkan Zia ul Haq pada Desember 1978, namun langkah untuk menuju ke arah itu sudah diterapkan sebelumnya.  Misalnya, Dewan Penasehat Ideologi Islam diorganisir dan dilembagakan kembali; pribadi-pribadi yang telah lama dikenal karena komitmennya kepada tatanan Islam dan hubungan mereka dengan partai-partai politik agama ditunjuk untuk menempati posisi-posisi pemerintahan yang penting.Mereka itu umpamanya: A.K.  Broni (Menteri Kehakiman dan Agama), Khursid Ahmad (Wakil Ketua Komisi Perencanaan), Mahmud Azam Faruqi (Menteri Penerangan), Ghafoor Ahmad (Menteri Perdagangan).  Tiga orang yang disebut terakhir adalah anggota terkemuka Partai JI-nya Maulana Maududi.  Sejak 10 Februari 1979 diterapkan hukum Islam secara bertahap.  Hal ini dikritik oleh beberapa partai, seperti JUI (Maulana Ahmad Noorani) dan JI (Maududi) yang menghendaki diterapkan sekaligus……Untuk menjalankan Islamisasi, pada Oktober 1978 penasehat khusus Raja Khalid dari Arab Saudi, DR. Ma’ruf Dawalibi, diundang Pakistan untuk membantu dan menasehati Dewan Ideologi Islam……Islamisasi ini didukung oleh banyak pihak, kecuali oleh beberapa partai sekuler seperti PPP dan NDP (National Demokratic Party) yang berbasis rakyat Pustho dan Baluchi (Kedubes Indonesia untuk Pakistan, Laporan Tahun 1978/1979, (Islamad, 1979), hlm. V, 6, 8, 13-19.  Lihat pula Laporan  Tahunan 1980/1981, (Islamabad, 1981), hlm.  11-16).

            Akhirnya, sebagai langkah kongkrit yang diambil untuk menunjukkan permulaan suatu pemerintahan Islam, Zia ul-Haq mengumumkan pengenalan undang-undang Islam pada saat memperingati Maulid Nabi, Februari 1979, yang merupakan pengembangan dan revisi dari pidato kepresidenan pada Desember 1978 yang berjudul “Tindakan-tindakan Untuk Memberlakukan Nizamul Islam”.

            Dalam Undang-undang Islam tersebut ditetapkan beberapa hal, antara lain: pembaharuan undang-undang, yakni pemberlakuan tindakan penghukuman secara Islam; mempromosikan Islam dan cara hidup Islami dimuka umum. Misalnya, departemen harus menyediakan jam sholat dan kepala kantornya sebagai imam, libur hari Jum’at, pemisahan tegas antara wanita dan pria pada jamuan-jamuan makan resmi dan sebagainya; pembaharuan berkenaan dengan tindakan-tindakan ekonomi Islam yang mampu mempertebal ide persaudaraan Islam.  Umpamanya, pengenalan bentuk-bentuk perpajakan Islam (Zakat dan Ushr) dan penghapusan bunga bank (riba) secara bertahap (Edward Mortimer, op.  cit, hlm.  208-210).   Islam memang mencakup personal maupun masyarakat, individual ataupun kelompok umat (masyarakat muslim) haruslah merealisasikan prinsip-prinsip dari hukum-hukum Tuhan (John L. Esposito, Islam and Politics, (Syracuse University Press, 1984), hlm.  2, 26, 28, 29). 

            Berpijak pada komitmen dan kesungguhan Zia ul-Haq dalam menegakkan ide Islamisasi –yang dipercaya menjadi alasan pengabsah bagi berdirinya Pakistan– ini, akhirnya telah menempatkan oposisi pada situasi sulit untuk memakai isu Islam dalam upaya menggoyahkan posisi Zia ul-Haq. Oleh karena itu, oposisi merubah strategi untuk tak lagi menentang ide Islamisasinya Zia, melainkan lebih mempersoalkan metode yang ditempuh Zia dengan tanpa melakukan konsultasi. Berbagai langkah yang diayunkan Zia oleh oposisi disebutnya tak lebih hanya sebagai manuver politik untuk memperkokoh kedudukan penguasa militer ini. Sejak melakukan kudeta Juli 1977, Zia mengambil sendiri kebijakan-kebijakan politiknya.  Baru setelah dibentuknya Majelis-i-Shoora (tahun 1981) menggantikan Majelis Nasional yang dibubarkan, Zia mengadakan konsultasi dan tukar pendapat dalam mengambil kebijakan, walaupun keputusan akhir tetap berada di tangannya (J.  Henry Korson and Michelle Maskiell, “Islamization and Sosial Policy in Pakistan”, dalam Asian Survey, Vol.  XXV No.  6, hlm.  589).

            Memang, penerapkan Islamisasi ini didukung kalangan fundamentalis, namun demikian dukungan masyarakat secara luas masih sangat diperlukan.   Atas dasar pemikiran itulah, maka pada tanggal 19 Desember 1984 Zia ul-Haq mengadakan referendum, menanyakan pada rakyat tentang proses Islamisasi politik di Pakistan, apakah rakyat mendukung Islamisasi atau justru sebaliknya. Untuk mendapatkan mandat guna melegitimasinya sebagai penguasa militer menjadi sipil, Zia tak langsung menanyakan persetujuan rakyat atas posisinya sebagai presiden, melainkan dengan lebih diarahkan pada setuju tidaknya rakyat terhadap Islamisasi.  Bila tanggapan positif, hal ini diinterpretasikan sebagai pemberian mandat kepada Zia untuk menjadi presiden, tahun 1985-1990 (Hasan – Askari Risvi, “The Civilianization of Military Rule in Pakistan”, dalam Asian Survey, vol XXVI, No.  10, Oktober 1986, hlm.  1986).  Memang, referendum tersebut diboikot oleh Movement For Restoration of Democracy (MRD) yaitu Aliansi Gerakan untuk memulihkan Demokrasi. Namun demikian, suara resmi yang masuk dapat mencapai 62 %, dan dari jumlah tersebut 98 %  diantaranya menyetujui Islamisasi (Tempo, 27 Agustus 1988, hlm.  39).

            Berdasar dari hasil referendum itulah, maka pada tanggal 16 Juni 1988 Zia menetapkan Syariat Islam menjadi hukum tertinggi di Pakistan (Panji Masyarakat, 10 Juli 1988, hlm.  20).  Artinya, semua hukum di Pakistan baik di tingkat pusat maupun propinsi harus ditentukan melalui Syariat Islam.  Selanjutnya hukum tersebut harus pula dijadikan panutan bagi setiap kebijakan pemerintah.  Untuk merealisir kebijakan itu Zia memberi wewenang kepada Mahkamah Agung untuk menghapus hukum sekuler yang sedang berlaku.

Esensi Wibawa Di Hadapan Manusia

Sobat,  berikut saya kutipkan –dari Santrionlie– sebuah kisah tentang Jalaluddin Rumi,  yang intinya soal  “Wibawa Kita Di Hadapan Manusia”. Semoga kisah ini  bisa diambil hikmahnya untuk kehidupan kita.

Sobat,  Suatu malam, Jalaluddin Rumi mengundang Syams Tabrizi ke rumahnya. Sang Mursyid Syamsuddin pun menerima undangan itu dan datang ke kediaman Rumi. Setelah semua hidangan makan malam siap, Syams berkata pada Rumi;

“Apakah kau bisa menyediakan minuman untukku?”. (yang dimaksud : arak / khamr)

Rumi kaget mendengarnya, “memangnya anda juga minum?’.

“Iya”, jawab Syams.

Rumi masih terkejut,”maaf, saya tidak mengetahui hal ini”.

“Sekarang kau sudah tahu. Maka sediakanlah”.

“Di waktu malam seperti ini, dari mana aku bisa mendapatkan arak?”.

“Perintahkan salah satu pembantumu untuk membelinya”.

“Kehormatanku di hadapan para pembantuku akan hilang”.

“Kalau begitu, kau sendiri pergilah keluar untuk membeli minuman”.

“Seluruh kota mengenalku. Bagaimana bisa aku keluar membeli minuman?”.

“Kalau kau memang muridku, kau harus menyediakan apa yang aku inginkan. Tanpa minum, malam ini aku tidak akan makan, tidak akan berbincang, dan tidak bisa tidur”.

Karena kecintaan pada Syams, akhirnya Rumi memakai jubahnya, menyembunyikan botol di balik jubah itu dan berjalan ke arah pemukiman kaum Nasrani.

Sampai sebelum ia masuk ke pemukiman tersebut, tidak ada yang berpikir macam-macam terhadapnya, namun begitu ia masuk ke pemukiman kaum Nasrani, beberapa orang terkejut dan akhirnya menguntitnya dari belakang.

Mereka melihat Rumi masuk ke sebuah kedai arak. Ia terlihat mengisikan botol minuman kemudian ia sembunyikan lagi di balik jubah lalu keluar.

Setelah itu ia diikuti terus oleh orang-orang yang jumlahnya bertambah banyak. Hingga sampailah Rumi di depan masjid tempat ia menjadi imam bagi masyarakat kota.

Tiba-tiba salah seorang yang mengikutinya tadi berteriak; “Ya ayyuhan naas, Syeikh Jalaluddin yang setiap hari jadi imam shalat kalian baru saja pergi ke perkampungan Nasrani dan membeli minuman!!!”.

Orang itu berkata begitu sambil menyingkap jubah Rumi. Khalayak melihat botol yang dipegang Rumi. “Orang yang mengaku ahli zuhud dan kalian menjadi pengikutnya ini membeli arak dan akan dibawa pulang!!!”, orang itu menambahi siarannya.

Orang-orang bergantian meludahi muka Rumi dan memukulinya hingga serban yang ada di kepalanya lengser ke leher.

Melihat Rumi yang hanya diam saja tanpa melakukan pembelaan, orang-orang semakin yakin bahwa selama ini mereka ditipu oleh kebohongan Rumi tentang zuhud dan takwa yang diajarkannya. Mereka tidak kasihan lagi untuk terus menghajar Rumi hingga ada juga yang berniat membunuhnya.

Tiba-tiba terdengarlah suara Syams Tabrizi; “Wahai orang-orang tak tahu malu. Kalian telah menuduh seorang alim dan faqih dengan tuduhan minum khamr, ketahuilah bahwa yang ada di botol itu adalah cuka untuk bahan masakan. Seseorang dari mereka masih mengelak.

“Ini bukan cuka, ini arak”. Syams mengambil botol dan membuka tutupnya. Dia meneteskan isi botol di tangan orang-orang agar menciumnya. Mereka terkejut karena yang ada di botol itu memang cuka. Mereka memukuli kepala mereka sendiri dan bersimpuh di kaki Rumi. Mereka berdesakan untuk meminta maaf dan menciumi tangan Rumi hingga pelan-pelan mereka pergi satu demi satu.

Rumi berkata pada Syams, “Malam ini kau membuatku terjerumus dalam masalah besar sampai aku harus menodai kehormatan dan nama baikku sendiri. Apa maksud semua ini?”.

“Agar kau mengerti bahwa wibawa yang kau banggakan ini hanya khayalan semata. Kau pikir penghormatan orang-orang awam seperti mereka ini sesuatu yang abadi? Padahal kau lihat sendiri, hanya karena dugaan satu botol minuman saja semua penghormatan itu sirna dan mereka jadi meludahimu, memukuli kepalamu dan hampir saja membunuhmu. Inilah kebanggaan yang selama ini kau perjuangkan dan akhirnya lenyap dalam sesaat. Maka bersandarlah pada yang tidak tergoyahkan oleh waktu dan tidak terpatahkan oleh perubahan zaman.   Bersandarlah hanya kepada Allah SWT”.

Sobat,  semoga bermanfaat.

Sumber:Santrionline/ Dikutip dari kumpulan kisah Jalaluddin Rumi/https://www.facebook.com/