Archive for Juli, 2016

Penemu Angka Nol: Muhammad bin Musa al-Khawarizmi

Sobat,  bagaimanakah  menurut anda seandainya konsep angka nol itu  tidak  kita miliki ?  Jika  tak ada angka nol,  maka bagaimana cara kita menulis  angka satu juta,  satu milyar,  satu trilyun dan sebagainya ? Bagaimana pula  ketika kita mau menulis angka  satujuta limaratus dua (1.000.502)   jika tak memiliki konsep angka nol ?  Tentu semuanya menjadi sangat repot bukan. Nah,  sekedar tahu,  berikut saya kutipkan  sebuah artikel yang menjelaskan siapa dan bagaimana sang penemu konsep angka nol.

Sobat,  Dunia Eropa atau “Dunia Barat” dari dulu hingga kini, sepertinya mengklaim bahwa Gudang Ilmu Pengetahuan berasal dari kawasan Eropa atau ‘dunia barat’.Tapi tahukah anda, sejatinya asal Gudang Ilmu Pengetahuan berasal dari kawasan Timur Tengah yaitu Mesopotamia yang menjadi peradaban tertua di dunia?

Masyarakat dunia sangat mengenal Leonardo Fibonacci sebagai ahli matematika aljabar. Namun, dibalik kedigdayaan Leonardo Fibonacci sebagai ahli matematika aljabar ternyata hasil pemikirannya sangat dipengaruhi oleh ilmuwan Muslim bernama Muhammad bin Musa Al Khawarizmi. Dia adalah seorang tokoh yang dilahirkan di Khiva (Iraq) pada tahun 780. Selama ini banyak kaum terpelajar lebih mengenal para ahli matematika Eropa / Barat padahal sejatinya banyak ilmuwan Muslim yang menjadi rujukan para ahli matematika dari barat.

Namun pada masa kejayaan Islam, mereka tak memperlakukan suatu penemuan atau suatu keilmuan baru, menjadi ajang pengeruk keuntungan. Artinya, pada masa itu tak ada yang dinamakan “HAK PATENT” yang bertujuan untuk mambayar sejumlah uang jika penemuannya digunakan oleh pihak lain.

Hak patent  adalah “produk Barat”, dimana pada masa lalu banyak sekali penemu dari dunia Islam. Kemudian buku dan literatur penemu-penemu di dunia Islam ini kembali dibaca dan dipelajari, lalu para penemu barat mempetenkannya! Itulah sebabnya hanya dikenal ilmuwan dari dunia Barat yg sebenarnya ilmu-ilmu tersebut dari masa kejayaan Islam.

Selain ahli dalam matematika al-Khawarizmi, yang kemudian menetap di Qutrubulli (sebalah barat Bagdad), juga seorang ahli geografi, sejarah dan juga seniman. Karya-karyanya dalam bidang matematika dimaktub dalam Kitabul Jama wat Tafriq dan Hisab al-Jabar wal Muqabla. Inilah yang menjadi rujukan para ilmuwan Eropa termasuk Leonardo Fibonacce serta Jacob Florence.

Muhammad bin Musa Al Khawarizmi inilah yang menemukan angka 0 (nol) yang hingga kini dipergunakan. Apa jadinya jika angka 0 (nol) tidak ditemukan? Tak akan ada rumus Einstein dan rumus lainnya, bahkan tak akan ada ilumu matematika semaju sekarang.  Selain itu, dia juga berjasa dalam ilmu ukur sudut melalui fungsi sinus dan tanget, persamaan linear dan kuadrat serta kalkulasi integrasi (kalkulus integral). Tabel ukur sudutnya (Tabel Sinus dan Tangent) adalah yang menjadi rujukan tabel ukur sudut saat ini. al-Khawarizmi juga seorang ahli ilmu bumi. Karyanya Kitab Surat Al Ard menggambarkan secara detail bagian-bagian bumi. CA Nallino, penterjemah karya al-Khawarizmi ke dalam bahasa Latin, menegaskan bahwa tak ada seorang Eropa pun yang dapat menghasilkan karya seperti al-Khawarizmi ini.

Sobat,  semoga informasi ini bermanfaat.

Sumber: islamislogic.wordpress.com/http://islamidia.com/penemu-angka-nol-muhammad-bin-musa-al-khawarizmi

Iklan

Politik Islam Pakistan (3 dari 4 tulisan)

Dalam wacana politik kontemporer memang ada sementara kalangan yang berpendapat bahwa tidak patut agama dikait-kaitkan dengan soal pemerintahan.  Mereka, yang dalam terminologi politik biasa disebut kaum sekuleris in, berpendapat ajaran agama merupakan prinsip-prinsip yang statis, yang tidak dapat mengikuti perkembangan dan perubahan.  Padahal agama telah berjalan ratusan bahkan ribuan tahun lamanya.  Oleh sebab itu, bagaimana mungkin agama dapat sesuai dengan abad ke 20 apalagi abad 21, bagaimana mungkin prinsip zaman onta, padang pasir dan badui diterapkan untuk mengatur negara abad sputnik dan zaman atom. Apalagi, sejarah telah mencatat bahwa ilmu pengetahuan selalu bertentangan dengan agama, padahal di pihak lain negara harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

            Bahkan, kaum sekuleris menandaskan bahwa setiap agama akan memberikan hak lebih kepada pemeluknya, melebihi orang-orang yang tak sehaluan.  Hal ini jelas bertentangan dengan prinsip negara modern bahwa negara adalah milik bersama.  Oleh karena iitu, apabila agama dicampur adukkan dengan politik, pasti akan memunculkan kehidupan yang bertentangan dengan prinsip demokrasi, suatu prinsip yang menjadi dasar bagi negara-negara di abad modern ini.  Alasannya jelas, karena dalam agama cenderung memberikan kekuasaan penuh pada pemuka-pemuka agama sebagai kunci surga, yang akan menentukan corak politik negara dan bagi yang menentang akan diisolir. Baca lebih lanjut

Al Jahiz, Penggagas Evolusi Sebelum Charles Darwin

Ratusan tahun sebelum Charles Darwin, seorang ilmuwan yang hidup pada masa kejayaan peradaban Islam bernama Al Jahiz telah menuangkan gagasan evolusi.  Sobat,  sekedar tahu,  berikut  saya kutipkan artikel  tentang hal  terkait.

Sobat,   Charles Darwin yang terkenal lewat karyanya The Origin of Species bukan orang pertama yang menggagas evolusi. Ratusan tahun sebelumnya, seorang ilmuwan yang hidup pada masa kejayaan peradaban Islam bernama Al Jahiz telah menuangkan gagasan evolusi dalam karya tulis setebal 350 halaman. Abu Uthman Amr Ibn Bahr Al Qinanih Al Fuqaymih Al Basrih, demikian nama lengkap Al Jahiz, lahir di Basra, Irak, pada tahun 776. Namanya berarti “mata bundar seperti ikan”. Al Jahiz memang dilahirkan dari keluarga yang sederhana sehingga ia harus ikut berjualan ikan bersama ibunya di Kanal Basra.

Keterbatasan tak memupus semangat Al Jahiz. Ia tumbuh menjadi seorang humoris dan penuh rasa ingin tahu. Sebagai Muslim, dia gemar melewatkan waktu di Masjid Besar Basra. Di sana, dia belajar dari para ulama, membahas beragam pertanyaan dan tak jarang berdebat. Dia pun tak sungkan untuk bertemu dan belajar dari penyair-penyair terkenal masa lalu, seperti Al- Asma’i, Abu Zayd, dan Abu Ubuyda. Hasilnya, kemampuan bahasanya meningkat pesat. Dalam waktu singkat, Al Jahiz mahir berbahasa Arab. Kemampuan itu mendukungnya belajar lebih banyak. Haus akan ilmu pengetahuan, Al Jahiz berkelana ke berbagai daerah, seperti Damaskus, Beirut, Samara, dan Baghdad. Ia lalu memutuskan untuk menetap dan belajar. Ia hidup dari menulis. Diperkirakan, ia telah menulis 200 karya meski kini tersisa 30 saja.

Esai mengenai kekhalifahan yang ia tulis menjadi tiket emas masuk ke lingkungan kalangan atas. Esai itu juga menyita perhatian Khalifah Al-Ma’mun, khalifah ke-7 Dinasti Abbasiyah. Ia banyak berhubungan dengan tokoh politik terkemuka, termasuk menjadi orang kepercayaan Hakim Agung Ahmad bin Abi Du’ad.  Meski banyak membaca Ariestoteles dan banyak karya klasik Yunani Kuno, Al Jahiz punya gaya sendiri dalam menulis. Ia gemar menyematkan humor. Al Jahiz menganggap humor bukan hanya sebagai alat untuk menghibur, melainkan juga sarana untuk menyebarkan gagasan seluas mungkin.

Kitab Al Hayawan

Karya Al Jahiz yang paling berpengaruh adalah Kitab Al Hayawan (Kitab Hewan-hewan). Kitab itu ibarat sebuah ensiklopedia, memuat sekitar 350 spesies hewan yang terbagi dalam tujuh volume, serta dilengkapi dengan gambar-gambar dan penjelasan yang detail. Kitab ini merupakan buku pertama yang mengungkap berbagai aspek biologi dan zoologi hewan, seperti klasifikasi binatang, rantai makanan, seleksi alam, dan evolusi. Al Jahiz setidaknya sudah menulis dengan jelas bagaimana hewan yang lebih besar bisa menakuti hewan yang lebih kecil ukurannya.

“Hyena bisa menakuti rubah atau binatang yang lebih kecil ukurannya. Semua hewan kecil akan memakan hewan yang lebih kecil darinya dan hewan yang lebih besar tidak bisa memakan yang lebih besar. Ini adalah hukum eksistensi,” tulisnya dalam kitab tersebut.

Karya itu bahkan mendeskripsikan mimikri, cara komunikasi, serta tingkat kecerdasan serangga, dan hewan lainnya. Al Jahiz menjelaskan dengan detail perilaku semut dalam bekerja sama, bagaimana mereka menyimpan gandum di sarang dan menjaga agar tak busuk saat hujan. Al Hayawan memuat tiga hal penting dalam evolusi yang juga dituliskan oleh Charles Darwin dalam Thye Origin of Species. Menurut Al Jahiz, hewan-hewan berjuang untuk tetap bertahan hidup, bertransformasi menjadi spesies, dan mengatasi faktor-faktor lingkungan.  Al Jahiz percaya bahwa satu spesies bisa mengalami transformasi secara jangka panjang sehingga memunculkan spesies baru. “Orang berkata beragam tentang eksistensi hewan berkaki empat. Beberapa menerima perubahan dan melahirkan eksistensi anjing, serigala, rubah, dan kerabatnya. Keluarga itu berasal dari orang makhluk yang sama,” demikian ditulisnya.

Kitab Al-Hayawan yang berpengaruh menjadi acuan bagi para pakar hewan dan pemikir evolusi di Eropa. Miguel Asín Palacios, seorang ilmuwan dan pendeta Katolik, mengatakan, karya Al Jahiz sangat berarti bagi perkembangan sains, terutama zoologi.

Menjelang akhir hidupnya, Al Jahiz menderita kelumpuhan total pada satu sisi tubuhnya (hemiplegia). Ia memutuskan pensiun dan kembali ke tempat kelahirannya, Basra. Pada bulan Desember 868 saat usianya 93 tahun, ia meninggal dunia. Diduga, ia meninggal dunia karena cedera akibat tertindih rak bukunya.  Al Jahiz memberi gambaran tentang kejayaan peradaban Islam pada abad ke-9 sampai abad ke-11. Saat itu, Baghdad dan sekitarnya menjadi jantung dunia. Masyarakat Muslim dikenal punya semangat belajar tinggi dan terbuka. Selain Al Jahiz, ilmuwan lain macam Ibn Sina juga berkontribusi besar.

Sumber:  Monika Novena / Kompas.com/http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/06/al-jahiz-penggagas-evolusi-sebelum-charles-darwin

Gambar: fhandypandey.com

 

 

 

Politik Islam Pakistan ( 2 dari 4 tulisan)

Untuk bicara Politik Islam  adalah menjadi semestinya  untuk selalu menunjuk pada suatu partikularistik kajian politik dalam kerangka  nilai-nilai Islam normatif. Bicara politik dalam konteks ideal adalah dalam upaya mewujudkan karakter moral tertinggi dalam bernegara (kebijakan umum untuk kebajikan bersama). Dalam konteks ini Alfred Stepan misalnya menekankan bahwa kebijakan umum dengan keharusan moral yang dibebankan pada negara untuk menyelenggarakan kesejahteraan  masyarakat (oleh Aristoteles dinamakan karakter moral tertinggi) membuka kesempatan bagi negara untuk merumuskan dan dengan inisiatif sendiri memaksa perubahan-perubahan besar kepada sebuah masyarakat yang sudah mapan supaya dapat diciptakan  sebuah masyarakat yang lebih baik (Alfred Stepan, the State and Society: Peru in Comparative, (New Jersey: Princeton University Press, 1978), hlm. 33). Dalam kerangka itu politik dimanapun dan dalam konteks apapun membutuhkan nilai-nilai normatif, karena  –meminjam pendapat Virgin Virgin, Etika Moral, Pembenaran Tindakan Sosial, (Jakarta: Erlangga, 1987) — pembenaran politik hakekatnya memang bersifat teologis (konsekuensilitas). Baca lebih lanjut