Archive for Agustus, 2016

Hanya Karena…

Iklan

Memahami Nizamul Islam Ala Pakistan (Tulisan 1 dari 4)

Dalam sejarah keagamaan di kalangan Muslim Pakistan, Khanqah –yakni organisasi dari para penganut mistitisme yang di dalamnya para santri mendapat bimbingan keagaman dari seorang guru– menjadi lembaga yang penting.  Dalam masyarakat Muslim ini, organisasi Khanqah menekankan suatu cita-cita Islam tentang persamaan dan persaudaraan, untuk menghapus kehidupan kasta dalam tradisi Hindu maupun sistem kelas yang sering diterapkan oleh para penguasa, termasuk penguasa Muslim.

            Namun, dalam perkembangannya Khanqah ini mengalami pergeseran secara ideologis dari proses yang dipelajari menjadi proses yang turun temurun.  Artinya, kharisma pemimpin Khanqah (baca: Kyai) akhirnya dirutinisasi dengan diterimanya praktek kepemimpinan Cult Association (persekutuan pemujaan) yang didasarkan pada keturunan dan bukan pada jasa atau kepandaian.  Prinsip demikian akhirnya membangkitkan kelas baru, terdiri dari orang-orang yang disebabkan oleh keturunan pendiri Khanqah (baca: Kyai) dan para Murid (baca: Santri), dengan suatu paradigma : Kyai adalah pemimpin dan Santri adalah penganut yang wajib menyerahkan diri pada Kyai.  Dalam paradigma Kyai-Santri ini, semua santri diharuskan ikut upacara inisiasi resmi dimana santri mengucapkan baiat yang berarti bersumpah setia akan patuh pada Kyai.

            Pengaruh Kyai terhadap para santri yang jumlahnya sangat besar ini akhirnya dimanfaatkan oleh penguasa pemerintahan. Para Kyai diberi tanah luas dan makam leluhur mereka ikut dipelihara oleh pemerintah.  Sebagai imbalannya, melalui Kyai ini pemerintah dapat secara efisien memberi perintah kepada rakyatnya. Kerja sama Kyai-Pemerintah ini akhirnya menempatkan Kyai pada posisi dominan dalam masyarakat, baik dalam dunia spiritualisme, maupun dalam urusan ekonomi dan politik.

            Namun, dalam perkembangannya peran dominan Kyai ini akhirnya mendapatkan perlawanan.  Sejak menjelang kemerdekaan Pakistan, khususnya dalam kehidupan masyarakat kota sudah muncul kekuatan tandingan.  Peran Kyai yang disebut sebagai pemimpin Islam Populer, yang masih mencampuradukkan antara tradiri dan tahayul dalam kehidupan agama serta masih berorientasi kepada interpretasi Islam abad pertengahan, akhirnya telah berhadapan dengan peran Ulama sebagai pemimpin Islam Sentralis, yang ingin memurnikan ajaran Islam agar sesuai dengan sumber asli.  Kaum Ulama, termasuk khususnya Abul A’la Maududi pimpinan Jamaat Islami (JI), ini mengadakan gerakan pembaruan Islam yang anti Kyai dan anti pemujaan terhadap orang-orang keramat yang nota bene adalah leluhur para kyai tersebut.

            Islam Populer memang merupakan tradisi keagamaan yang dominan  dan telah meresap dalam kehidupan masyarakat Pakistan. Tetapi, seiring dengan kian banyaknya masyarakat Pakistan yang melek huruf, akhirnya semakin mendorong terwujudnya suasana kondusif bagi mobilisasi massa untuk mendukung tradisi Islam Sentralis.  Maklum, dengan kian melek huruf maka rakyat tidak lagi bersikap taqlid (mengekor secara buta) pada Kyai, namun mereka sudah kian mampu membaca berbagai ajaran Islam secara lebih benar, hasil penjelasan secara jernih dan rasional dari kaum Ulama.

            Alhasil, gerakan kaum Ulama ini pun akhirnya dilihat mengancam status Quo para Kyai, dan oleh karena itu merekapun memberikan reaksi yang secara paradoksal membawa mereka ke arah konflik tajam antara Kyai (Islam Populer) yang bersemboyankan “mari kembali kepada Islam” melawan Ulama (Islam Sentralis) yang punya semangat “mari maju bersama Islam”. Dengan kata lain, Islamisasi yang digalakkan di Pakistan hakekatnya adalah merupakan proses tarik-menarik antara Islam Populer dengan Islam Sentralis.     

Kepentingan : Antara Musuh dan Teman

Sobat,  ada pepatah yang menyatakan bahwa:  tidak ada musuh atau pun teman yang abadi,  sebab yang abadi adalah kepentingan.  Hari ini seseorang mungkin menjadi teman kita,  karena kebetulan punya kepentingan (yang sama)  dengan kita.  Namun,  ketika kepentingannya berseberangan dengan kita,  sang  teman bisa saja berubah haluan menjadi musuh bagi kita.  Hal  semacam ini terutama terjadi  dalam dunia politik,  meskipun dalam “dunia lain”  juga bisa terjadi.  Dalam konteks ini terdapat  dua hal yang perlu diperhatikan : (1). Jangan sekali-kali percaya pada  seorang pengkhianat,  meskipun  sang pengkhianat  kala itu menguntungkan posisimu.  Apa sebab ? Karena sang pengkhianat itu suatu saat bisa juga mengkhianati dirimu.  (2).  Dalam Islam diajarkan,  janganlah kamu  mencintai seseorang/sesuatu secara berlebihan,  karena bisa jadi apa yang sekarang kamu cintai itu  suatu saat justru berubah  menjadi yang kamu benci.  Sebaliknya,  jangan pula kamu membenci seseorang/sesuatu secara berlebihan,  sebab bisa saja apa yang sekarang sangat kamu benci,  suatu saat justru berbalik kamu cintai.

Sobat,  semoga ungkapan  bisa menjadi renungan untuk hikmah kehidupan kita.

6 Titik Pijat untuk Redakan Tangis Anak dalam Tempo Semenit

Apakah di rumah anda ada bayi ? Jika ada tentu anda sesekali dihadapkan pada momenttertentu yakni ketika bayi menangis dan agak sulit  diredakan.  Sobat,  sekedar tahu,  berikut saya kutipkan artikel  tentang cara meredekan tangisan bayi  hanya dengan melakukan pemijatan pada beberapa titik tertentu.

Sobat,  Memiliki bayi memang tidak mudah. Mereka memiliki “bahasa” sendiri berupa tangisan. Sebagai orangtua, bukanlah tugas gampang untuk menerjemahkan arti tangisan itu. Namun demikian, jika tangisan itu berkaitan dengan kesehatan, maka tips dari wittyfeed.com berikut sangatlah berguna. Panduan ini menunjukkan enam titik pijatan agar bayi Anda berhenti menangis hanya dalam tempo semenit. Di mana sajakah titik itu?

1. Ujung jempol kaki. Bayi yang memiliki masalah kepala dan gigi akan reda jika dipijat di bagian ujung jempol kakinya. Apalagi ketika ia tengah tumbuh gigi. Cobalah pijat bagian ujung itu dengan perlahan. Baca lebih lanjut

Tipologi Agama dalam Spektrum Politik Pakistan (Tulisan 4, Terakhir)

Perubahan sosial berupa  kenaikan jumlah orang yang melek huruf di Pakistan sejak tiga dasa warsa  terakhir abad 20 telah menciptakan keadaan sosio-ekonomi yang kian menumbuhkan mobilisasi massa untuk mendukung tradisi Islam murni  di bawah pimpinan Ulama, yang biasa disebut Islamisasi.  Jumlah penduduk yang ‘melek huruf’ di Pakistan dari tahun ke tahun memang kian meningkat.  Jika tahun 1947 penduduk yang dapat membaca hanya kira-kira 29 persen, maka pada tahun 1972 telah mencapai 42 persen khusus untuk penduduk  perkotaan dan 14 persen untuk penduduk pedesaan.  Realitas ini terus meningkat kea rah positif di tahun 2000 an.  Dan sekitar 22 persen dari penduduk berusia 10 tahun ke atas telah mampu membaca, dengan perbandingan 3 : 1 antara pria dan wanita.   Peningkatan ini jelas membawa akibat sosiologis bagi kehidupan sosial.  Karena dalam masyarakat buta huruf –seperti awal kelahiran Pakistan, bahkan juga kondisi sekarang sepanjang menyangkut rakyat pedesaan Pakistan– tradisi kebudayaan disalurkan  melalui rangkaian pembicaraan tatap muka. Dalam masyarakat  seperti ini, kendati muncul ketakpercayaan dan atau kekecewaan dalam masyarakat namun sifatnya tetap non-komunikatif.  Oleh sebab itu, kritikan dan kecaman yang muncul tak berdampak begitu besar, serta lebih  mudah dilupakan.  Akibatnya, status quo  pun relatif dapat  bertahan.  

            Sedangkan dalam masyarakat melek huruf, kearah  mana masyarakat perkotaan Pakistan mengarah dengan cepat,  walaupun komunikasi tatap muka tetap berjalan, tetapi tulisan dan bacaan memberi sumber alternatif bagi penyebaran  orientasi kebudayaan baru, karena orang-orang yang melek  huruf tak lagi bersifat taqlit. Artinya, mereka menjadi lebih sadar terhadap inkonsistensi antara apa yang dijanjikan dengan apa yang diberikan atau apa yang betul-betul  dikerjakan. Mereka juga sadar terhadap ajaran ideal dari Islam, dengan praktek interpretasi Islam yang dilakukan oleh para pemimpin agama.

            Pada masyarakat Pakistan, kelompok “melek huruf”  menjadi semakin kritis terhadap elit nasionalis yang cenderung berorientasi Barat.  Mereka semakin sadar terhadap warisan “kebudayaan” mereka sendiri (baca: Islam) dan tata sosial yang  didasarkan padanya.  Karena secara dogmatis mereka tetap  merupakan orang Islam, maka  tata sosial yang didasarkan  pada al Qur’an-Hadits mendapatkan dukungan kian besar (Riaz Hasan, op. cit., hlm. 33). Kondisi demikian semakin dipacu oleh realitas bahwa  rezim nasionalis telah menjadi  sangat korup dan represif.  Pada tingkat yang  lebih tinggi, hal ini merupakan gejala kegagalan rezim dalam  memecahkan persoalan kemiskinan, pengangguran dan  ketimpangan ekonomi.

            Alhasil, akhirnya untuk pertama kali lingkungan perkotaan telah memungkinkan gerakan pembaharuan yang dipimpin Ulama, memobilisir massa untuk mendukung posisi ideologis  mereka bagi negara dan masyarakat Islam Pakistan.  Kaum Islamis menyerukan bahwa negara harus dibentuk berdasarkan pola-pola Islam.  Oleh karena itu, negara harus diambil alih dan  diperbaharui.  Begitu juga menurut Moh. Iqbal, yang benar adalah bahwa Islam tidaklah sama dengan gereja.  Islam adalah negara, menggambarkan organisme yang diberi semangat nilai ideal (Zainal Abidin Akhmad, 1977: 35). Mereka berpatokan pada  Hadits (teladan)  Nabi bahwa melalui kekuasaan negara, Tuhan mengakhiri apa  yang tidak dihapuskannya melalui Al-Qur’an.  Hal ini berarti, pembaharuan yang ingin dilaksanakan oleh Islam tak bisa dilaksanakan hanya dengan khotbah saja. Kekuatan politik juga penting untuk mencapai perubahan- perubahan tersebut. Bahkan Abdur Rahman Abd al-Khaliq berpendapat bahwa masalah politik dalam Islam adalah juga  masalah agama (Abdur Rahman Abd al-Khaliq, Islam  dan Politik, (Jakarta: Pustaka al-Hidayah, 1987), hlm. 13). Untuk mencapai tujuan tersebut kaum Islam Sentralis  lantas menerapkan suatu mekanisme infiltrasi bertahap ke dalam alat-alat pemerintahan, serta melalui barisan  kader mereka untuk membangkitkan kesadaran rakyat agar  mendukung menegakkan negara ideal tersebut. Oleh sebab itu, dapat dipahami bila disamping memobilisir kaum pekerja dan kelas menengah perkotaan, Islam Sentralis yang dipelopori Jamaat Islami juga telah  masuk dalam bagian utama kehidupan negara dan masyarakat melalui keanggotaan kader yang direkrut dengan  hati-hati dan diorganisasir secara ketat.  Hal ini telah  memberi kekuatan pada Jamaat Islami untuk melancarkan aksi  politik guna memperkuat dan menggabungkan kedudukan politis  dengan kedudukan keagamaannya.  Walhasil, pada akhir 1970-an Jamaat Islami telah membangun diri dengan kuat, sehingga  setelah kudeta militer tahun 1977 yang menempatkan tokoh fundamentalis, Zia  ul-Haq, pada puncak kekuasaan Jamaat Islami pun berhasil mempengaruhi kebijakan negara.  Bahkan, program Islamisasi yang dicanangkan  Zia ul-Haq pada intinya berlandaskan kerangka dasar yang dibuat tokoh ideologi Jamaat  Islami,  Abul ‘Ala Maududi.