Archive for September, 2016

Memahami Nizamul Islam Ala Pakistan (Tulisan 3 dari 4)

Meskipun Ideologi dan simbol-simbol  keagamaan  dipakai untuk memobilisir dan menyatukan Muslim  selama  pergerakan kemerdekaan di Pakistan, tetapi sampai sejauh ini belum terdapat pemahaman dan konsensus secara jelas tentang isi positif ideologi terhadap tantangan-tantangan modernitas dan aplikasinya dalam struktur serta penyusunan sebuah negara dan masyarakat modern yang memasukkan dan mendapatkan sentimen, cita-cita, dan nilai-nilai Islam.

            Hal demikian terjadi, terutama karena masyarakat Pakistan meskipun sama-sama mempunyai ikatan emosional terhadap Islam –terutama bila dikaitkan dengan latar belakang sejarah berdirinya Pakistan yang dilandaskan pada komitmen keagamaan umum yang ingin membentuk negara bagi Muslim India– namun dalam pemahaman terjadi variasi-variasi yang seringkalai bertentangan, baik dikarenakan oleh perbedaan sekte keagamaan maupun perbedaan tingkat pendidikan. Secara sederhana masyarakat Pakistan dalam hal pemahaman agama yang dikaitkan dengan tantangan modernitas dalam upaya mewujudkan suatu negara nasional sampai kini relatif masih terbagi ke dalam dua kelompok besar. 

            Golongan pertama adalah para pimpinan agama, yang merupakan produk pendidikan dan wawasan agama. Meskipun mereka mungkin terdidik dengan baik menurut standard “Islam”, tetapi mereka dianggap memiliki sedikit apresiasi dan disiplin yang diperlukan untuk melakukan pembaharuan secara efektif. Dalam aliran agama Islam juga terdapat keanekaragaman sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan pendapat tentang pelaksanaan cita-cita Islam, yakni antara Sunni, Syiah, dan Ahmadiah.

     Bahkan, dari golongan pertama ini masih juga terbagi lagi ke dalam kalangan Islam Sentralis yang ingin menuju pada ajaran Islam secara murni, terhindar dari campuran tradisi yang bersifat menyesatkan, dengan kalangan Islam Populer yang menginginkan tetap dipertahankannya tradisi, berdiri sejajar dengan ajaran Islam.

            Sedang golongan kedua adalah para pimpinan politik berpendidikan dan berpemikiran Barat, namun kurang pendidikan dan pemahaman terhadap Islam, terutama dalam hubungannya dengan kepentingan mendifinisikan Pakistan sebagai sebuah negara Islam.

            Kondisi pertentangan ini terus berjalan sampai kini dan sulit menemukan titik temu.  Kalupun ada, bentuk akhirnya tetap saja menegaskan kurangnya ide dan konsensus yang jelas yang sesuai dengan ideologi Islam dan bagaimana menerjemahkan ke dalam program-program dan kebijakan-kebijakan. Konsensus hanya mencerminkan suatu kompromi yang menjelmakan aspek-aspek negara sekuler sambil menginjeksikan beberapa ketentuan Islam.  Namun suatu hal yang agak pasti ialah, Islam menjadi faktor yang amat menetukan perkembangan politik di negara Pakistan.  Pihak manapun yang akan memerintah Pakistan, sipil atau militer, dan apapun corak politiknya (otoriter dan diktatoris atau demokratis), semuanya tak dapat mengabaikan peranan Islam.

Iklan

Memahami Nizamul Islam Ala Pakistan (Tulisan 2 dari 4)

Dengan menyimak tipe keagamaan masyarakat Pakistan, kiranya dapat dipahami betapa proses Nizamul Islam (Islamisasi) yang dijalankan Zia ul-Haq berada pada posisi yang dilematis, karena harus berhadapan dengan proses tarik-menarik tersebut.  Bahkan, kendati pada awal pemerintahan Zia ul-Haq penganjur tradisi Islam Sentralis muncul untuk memperoleh hegemoni ideologis di dalam negara dengan mengesampingkan tradisi Islam Populer, namun secara berangsur-angsur kenyataan dalam masyarakat Pakistan telah memaksa pemimpin rejim militer tersebut untuk mempertimbangkan sikapnya itu.   Zia menyadari bahwa mengabaikan peran Islam Populer (pimpinan Kyai) yang dominan dalam masyarakat pedesaan, yang dominan dalam seluruh kehidupan rakyat Pakistan, tentu akan menyebabkan kekuasaannya kurang lengkap atau bahkan menghadapi ancaman. 

            Berdasar kesadaran itu, meski Zia ul-Haq merupakan prototip pendukung Islam Sentralis yang menghendaki dilaksanakannya Islamisasi secara komplit, namun akhirnya terpaksa pula untuk berupaya menarik simpati rakyat pedesaan melalui patron-patronnya, yakni Kyai.  Oleh karena itu, walaupun berbeda dari para pendahulunya, Ayub Khan dan Ali Bhutto yang menghidupkan kembali ide tempat suci sebagai pusat kesejahteraan dan memberi dukungan penuh bagi pengelolaan tempat-tempat suci, akan tetapi Zia tidak mengabaikan tempat-temat suci itu. Malah dukungan pemerintahan Zia terhadap sanak keluarga orang suci sufi juga tetap dipertahankan. Baca lebih lanjut