Archive for Oktober, 2016

Mendebat Politik Agama ? (1 dari 4 tulisan)

Islam bukan agama dan Muhammad bukan penemunya.  Pernyataan demikian seperti berasal dari golongan sesat dalam Islam, padahal sebenarnya tidak.  Karena Islam memang bukan sebuah agama dalam pengertian umum yang mengajarkan bahwa agama hanya menyangkut kehidupan pribadi manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya.  Islam adalah cara hidup total di mana ajarannya merupakan petunjuk hidup yang menyangkut seluruh sisi kehidupan, pribadi dan masyarakat, material maupun moral, ekonomi, sosial budaya, hukum dan politik, serta masalah lokal maupun internasinal (G.H. Jansen, Islam Militan, terj. Armahedi Mahzar (Bandung: Pustaka, 1980), hlm. 10). Inilah ciri khas Islam yang tak dimiliki oleh ajaran agama lain. Baca lebih lanjut

Memahami Nizamul Islam Ala Pakistan (Tulisan 4, terakhir)

Dasar pemikiran didirikannya Pakistan adalah untuk mewujudkan “bangsa” Muslim dengan merealisasikan hukum-hukum Islam dalam  kehidupan bernegara.  Oleh sebab itu, tak aneh kalau isu-isu yang  tumbuh di Pakistan pada masa-masa perkembangannya lebih  didasarkan pada sudut pandang Islam, yang merupakan agama  dan pandangan hidup masyarakatnya.  Dengan demikian, tegak  dan tumbangnya suatu rezim akhirnya juga tak terlepas dari akibat isu tentang kebijakan dan perhatiannya terhadap  Islam.

            Namun, karena adanya berbagai problem, di mana masalah  identitas nasional dikalahkan oleh isu-isu dasar keselamatan  nasional, menyebabkan bangsa Pakistan pada tahun-tahun  permulaan kemerdekaannya tidak mencurahkan perhatian pada  realisasi identitas Islam, melainkan lebih banyak terfokus  pada masalah politis yang menjamin kelangsungan hidup negara. Kondisi ini terjadi terutama disebabkan oleh (minimal)  empat faktor, antara lain: Pertama, terlalu cepat meninggalnya arsitek pendiri dan pemersatu Pakistan, Muhammad Ali Jinnah pada 11-9-1948; Kedua, terbunuhnya Perdana Menteri  pertama Liaquat Ali Khan, tanggal 30 Oktober 1951; Ketiga, tidak terdapatnya konsensus yang jelas antara golongan konservatif (baca: Islam Sentralis dan Islam Populer) dengan golongan modernis sekuler mengenai  isi positif ideologi negara.  Golongan konservatif menginginkan suatu hubungan antara agama dan negara dengan diberikan pedoman syariah, yaitu hukum Islam terpadu yang mengatur seluruh aspek kehidupan.  Sedangkan golongan  modernis sekuler menginginkan negara bangsa yang didasarkan pada  perundang-undangan Barat dengan perhitungan-perhitungan sekulernya. Bahkan diantara golongan konservatif sendiri juga terjadi beda pandang dalam mengimplementasikan Islam dalam kehidupan bernegara dan berbangsa; Keempat, para pemimpin Pakistan tidak memenuhi persyaratan pendidikan yang memadai dalam orientasinya  terhadap suatu negara Islam modern.  Pada satu sisi, para  pimpinan politik yang berpendidikan dan berorientasi Barat  kurang pemahamannya terhadap Islam, terutama dengan kepentingan mendefinisikan dalam suatu negara.  Sementara pada sisi lain pimpinan agama yang merupakan produk pendidikan  dengan wawasan agama, kebanyakan hanya memiliki “sedikit” apresiasi terhadap tantangan-tantangan pembaharuan dan  modernitas negara bangsa.

            Jadi, kesulitan utama yang dihadapi Pakistan adalah dalam menerima tanggung jawab yang bukan sekedar meniru atau mengikuti  suatu cita-cita Islam masa lalu atau realitas sekuler dewasa  ini, melainkan suatu perombakan dasar baru, suatu penyusunan  kerangka dasar bagi sebuah negara dan masyarakat modern yang memasukkan dan mendapatkan sentimen-sentimen, cita-cita  dan nilai-nilai Islam, di atas mana didasarkan pada dukungan  rakyat bagi kemerdekaan Pakistan. Dengan kata lain, karena Islam bukan Ideologi, tetapi harus dipakai sebagai sumber untuk membentuk Ideologi bagi umat Islam, maka mereka harus  mampu menyelaraskan antara Islam dengan realitas tantangan  masyarakat modern.

            Dalam usaha mewujudkan sebuah negara dan masyarakat  modern yang memasukkan spirit dan nilai-nilai Islam ini, sejak awal berdirinya tahun 1947 sampai sekarang setidaknya sudah ada tiga corak ke-Islam-an yang  mempengaruhi perkembangan politik Pakistan yakni: Modernisme Islam yang dilancarkan Ayub  Khan;  Sosialisme  Islam yang diintrodusir Zulfikar Ali Bhutto; dan  Nizamul  Islam (Islamisasi), yang digalakkan Zia ul-Haq. Singkat kata, jika dicermati, maka terlihat bahwa apapun perkembangan yang terjadi, dan siapapun yang berkuasa  di Pakistan, rezim militer maupun sipil, yang pasti nampaknya Islam tetap menjadi faktor yang tak terhindarkan bagi perpolitikan di negara Pakistan ini.  Dalam kerangka pikir itulah partai politik Islam bernama  Jamaat Islami menjadi sangat sifnifikan untuk dibahas.

Sekali lagi, Menanggapi Ahok Soal Al Maidah 51

Sobat,  kita patut “berterima kasih” kepada Ahok,  karena Ahok lah sebagian kaum muslim baru mengenal apa yang disebut Surat Al Maidah Ayat 51.  Nyatanya   tidak sedikit orang yang mengaku Islam  memang tidak pernah (atau jarang sekali) menyentuh Al Qur’an apatah lagi membaca atau bahkan mempelajarinya.  Barulah ketika ada orang lain yang menyinggung  Al Qur’an dengan segala kontroversinya,   mereka seolah tergagap menyadarinya.  Lebih problematik kegagapan itu diekspresikan dalam wujud mendukung pendapat yang nota bene justru ditengarai telah menista Al Qur’an yang secara formal diakui sebagai kitab sucinya.  Sobat,  berikut saya kutipkan sebuah tulisan dari Ippho Santoso yang menarik untuk direnungkan. Semoga bermanfaat.Image result for mulut berteriak
Bayangkan Kepala Daerah Berjilbab Mengatakan: “Jangan mau dibodohin pake Injil”

Oleh: Ippho Santoso

Bayangkan seorang kepala daerah berjilbab tahu-tahu berpidato, “Jangan mau dibodohin pake Injil.” Kira-kira gimana respons publik? Saya yakin, hampir semua kelompok akan berang dan meradang, termasuk Muslim.

Umat beragama mana pun merasa itu BUKAN kalimat yang pas dan pantas diucapkan seorang pejabat, berseragam dinas, di depan umum pula. Dan untunglah, kisah di atas cuma fiktif, sekadar komparasi terhadap statement Pak Basuki tentang Surah Al-Maidah 51.

Beliau merasa berhak menafsirkan karena mengaku 9 tahun belajar di sekolah Islam (padahal itu sekolah negeri biasa, bukan sekolah Islam). Terlepas dari itu, selama 9 tahun saya belajar di sekolah Katholik, yang saya pahami, umat Kristiani yang taat dilarang menghina kitab suci agama orang lain.

Demikian pula Islam. Muslim yang taat dilarang menghina sesembahan orang lain (baca QS 6: 108). Saling menghormati. Menahan diri. Sekiranya ini semua diterapkan, betapa damainya dunia ini. Lebih damai daripada Bumi Serpong Damai, hehe.

Terkait Al-Maidah 51 ini, saya sempat bertanya kepada guru saya. Dan inilah jawabannya, “Bukan Al-Maidah 51 saja. Ada juga ayat-ayat serupa, seperti Ali Imran 28, Ali Imran 149 dan 150, An-Nisa 144, Al-Maidah 57, At-Taubah 23, dan Al-Mujadilah 22.”

Lalu guru saya melanjutkan, “Sayangnya, segelintir Muslim mencari kisah-kisah darurat untuk membantah ayat-ayat itu. Misalnya, ketika para sahabat meminta perlindungan ke raja non muslim di Afrika. Atau, ketika pengungsi Suriah hijrah ke Jerman dan Belgia, yang artinya siap dipimpin oleh non muslim. Padahal itu semua darurat.”

Repotnya, kalau Muslim mengutip Al-Quran dianggap sentimen SARA. Lha, giliran yang lain mengutip Al-Quran dan bebas menafsirkan, dianggap ‘inilah demokrasi’. Hehe, kurang-lebih seperti itulah.

Kita sama-sama tahu, Al-Quran adalah sumber hukum tertinggi bagi Muslim. Sangat dimuliakan. Kalau diolok-olok? Wajar saja kalau Muslim jadi berang dan meradang, termasuk saya. Apakah selama ini saya sentimen terhadap Pak Basuki? Hehe, insya Allah nggak.

Lihat saja status FB saya selama 5 tahun terakhir. Adakah menjelekkan beliau? Nggak ada. Yang ada malah status saya memuji keharmonisan beliau bersama sang istri. Ada fotonya pula.

Apakah saya SARA? Begini. Saudara-saudara dari ayah saya banyak yang Khatolik. Ada pula yang Hindu. Kami hidup rukun sejak kecil. Tak mungkin saya sentimen terhadap pemeluk agama lain. Islam pun tidak mengajarkan saya bersikap seperti itu.

Salah satu tante saya, seorang aktivis gereja. Dia sayang sama saya. Dan saya pun sayang sama dia. Setiap kali bertemu, saya selalu mencium tangannya, meminta doanya, dan juga mendoakannya. Perbedaan iman tidak menghalangi kami untuk saling menghormati dan menyayangi.

Sekali lagi, apakah saya SARA? Mungkin malah sebaliknya. Sejak 2010, saya sering menulis tentang ‘dekatnya’ Islam dan China dulunya, baik di nusantara maupun di dunia. Gegara tulisan-tulisan ini, sampai-sampai saya dituduh macam-macam. Hehe, ada-ada saja.Adapun artikel tentang Pak Basuki kali ini TERPAKSA saya tulis, karena ini soal prinsip. P-r-i-n-s-i-p. Saya tahu, sebagian follower saya akan kecewa dengan artikel saya ini. Bahkan unfollow. Yah, mau gimana lagi? Saya harap teman-teman semua bisa mengerti dan berempati. Kalau boleh, paragraf pertama dibaca lagi.

Dan saya tidak mau berdebat dengan teman-teman Muslim yang mengabaikan ayat-ayat tertera di atas dan tetap memilih Pak Basuki. Itu hak politik Anda. Sekali lagi, itu hak politik Anda. Saya cuma ingin menyampaikan satu hal. Boleh?

Saya mungkin sama seperti Anda. Mengaku Muslim, tapi jarang sholat on time dan jarang buka Al-Quran. Namun saat Al-Quran diolok-olok bahkan ulama yang mengutipnya dianggap melakukan pembodohan, mestinya hati kita terusik. Ini soal prinsip.

Contoh lain. Anda subuhan tanpa qunut, yang lain berqunut. Tetap saja Anda TIDAK BOLEH berseru ‘pembodohan’ terhadap mereka yang berqunut. Padahal ini soal khilafiyah. Untuk hal-hal khilafiyah saja, kita sesama Muslim dilarang berseru ‘bodoh’ apalagi untuk hal-hal prinsip seperti Al-Maidah 51.

Saya pun sedikit lega. Setelah sekian hari bersikeras bahwa dirinya tak bersalah, akhirnya Pak Basuki mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Karena video versi ringkas dan lengkapnya, isinya sama-sama merendahkan Al-Maidah 51 dan merendahkan ulama-ulama yang mengutipnya.

Yah memang perlu penyesalan dan permintaan maaf. Semoga insiden seperti ini tidak terjadi lagi. Adapun MUI melalui surat resminya telah menganggap Pak Basuki telah menghina Al-Quran.

Lantas, bagaimana dengan proses hukum terhadap Pak Basuki? Perlukah diteruskan demi mencegah kejadian-kejadian serupa? Seingat saya, Ibu Rusgiani sempat dipenjara 14 bulan karena menghina agama Hindu di Bali.

Kejadiannya tepat 3 tahun yang lalu, Oktober 2013. Mas Arswendo, ingat? Sama, sempat dibui. Tapi, terus-terang saja, saya ini bukan orang hukum dan setahu saya sudah banyak pihak yang mengurusi itu. Adapun concern saya cuma satu, kemuliaan Al-Quran.

Terakhir, himbauan saya buat seluruh Muslim. Secara hakikat, mungkin kejadian ini teguran buat kita. Lha, kita saja jarang membuka Al-Quran. Itu kan artinya kita kurang menghormati Al-Quran. Kalau kita saja kurang menghormati, gimana mungkin orang lain mau menghormati?

Sekian dari saya, Ippho Santosa. Anda yang Muslim mestinya turut menulis artikel seperti ini. Soal prinsip nih. Sekiranya belum bisa menulis, setidaknya share tulisan ini. Biar dunia tahu, masih ada Muslim Indonesia yang peduli dengan kitab sucinya.***

Gambar: Pixabay.com

Tanggapan Shamsi Ali Terhadap Nusron Wahid yang Membela Ahok di ILC

Image result for mulut berteriakShobat,  menjelang Pilkada DKI tahun 2017 cukup beragam pandangan pro kontra tentang  perlunya seorang pemimpin yang seiman.  Ada yang menyatakan : “Saya muslim,  tetapi saya memilih pemimpin kafir.”  Pada sisi lain ada yang menanggapi ucapan itu dengan menyatakan:  “Saya muslim,  saya pilih pemimpin kafir.  Saya muslim,  saya memakan babi.  Saya muslim,  saya meminum khomr,  ya silahkan  saja, sebab kalian sendiri yang bertanggung jawab kepada Allah apa yang kalian lakukan.  Perintah Allah saja yang mengharamkan hal-hal  tersebut kalian lawan,  apatah lagi  pendapat saya”.    Terkait dengan sengkarut pilkada DKI itu,  terdapat peristiwa “terpanas”  ketika Ahok  yang notabene non muslim  menyinggung soal Al Maidah 51  secara kontroversial,  yang oleh banyak kalangan muslim disebut telah melecehkan Al Qur’an dan Ulama. Namun,  beberapa pendukung Ahok, seperti Nusron secara luar biasa bersemangat  melakukan pembelaan,  seperti dalam momen ILC. Apa dan bagaimana pernyataan pendukung Ahok itu,  tidak akan diulang lagi. Namun,  justru tanggapan terhadap  pernyataan itu,  yang justru menarik untuk diungkapkan,  salah satu nya dari Shamsi Ali,  seorang tokoh muslim di Amerika  yang berasal dari Indonesia.  Berikut pernyataannya.  Semoga bermanfaat.

Wahid antithesis NU
Imam Shamsi Ali*

Saya cukup terkejut dan sangat terusik dengan sikap Nusron di acara ILC TVOne semalam. Baik pada sikap pikirannya maupun sikap bahasa lisan dan tubuh (body language) menunjukkan kerendahan yang sangat. Ketidak mampuan seseorang menyampaikan pemikiran secara elok, walaupun seandainya benar, menunjukkan adanya sesuatu yang salah. Apalagi ketika pemikiran atau pemahaman itu memang, selain ignorant, arrogant, juga memang “blunder”.

Saya banyak tidak setuju dengan pola pikir kaum liberal. Karena liberalisme berbeda dengan logika dalam pemikiran. Logika itu sehat dan perlu. Tapi liberal bisa berarti ketidak inginan terikat dengan batas-batas keagamaan, bahkan yang disetujui sebagai batas fundamental sekalipun.

Saya sangat logis. Bahkan menganggap bahwa agama dan iman sekalipun itu memiliki basis logika yang kuat. Tapi tidak berarti batas-batas atau dalam bahasa agama “huduud” harus diinjak-injak atas nama logika. Karena selogis apapun pemikiran manusia, niscaya memiliki keterbatasan, bahkan cenderung menjadi perangkap kekeliruan. Oleh karenanya memang pada akhirnya, logika tetap harus dipergunakan pada batas-batas yang telah ditetap oleh ketetapan langit (wahyu).

Yusron tidak saja liberal. Tapi karakter yang mengekpresikan liberalisme dia dibangun di atas karakter yang tidak berakhlak. Kata-kata kasar, mimik wajah, mata terbelalak, dan jelas menampakkan emosi yang tidak terkontrol, semuanya menunjukkan siapa Yusron sesungguhnya.

Sejujurnya saya tidak terlalu kenal Yusron. Dan saya juga tidak terlalu ingin membuang energi, waktu dan pemikiran untuk membicarakannya. Karena sesungguhnya tidak terlalu bermutu untuk dibahas. Tapi dalam acara ILC itu terdapat beberapa hal yang sangat menggelitik, bahkan mengusik intelektualitas, bahkan sensitifitas iman saya.

Pertama, pernyataan bahwa yang berhak memahami Al-Quran adalah hanya Allah dan RasulNya. Pernyataan ini sangat paradoks dengan posisi keagamaan Nusron yang selau mengatakan bahwa teks-teks agama itu harus dengan logika. Bahkan yang menentukan kebenaran adalah logika manusia, seperti pada posisi dasar liberalisme.

Kedua, pernyataan di atas sejatinya bertentangan dengan tujuan dasar Al-Quran untuk dipahami oleh manusia: “inna anzalnaahu Qur’aanan Arabiyan la’allakuk ta’qiluun”. Intinya Al-Quran diturunkan untuk dipahami. Dan kalau hanya Allah dan RasulNya yang paham makna Al-Quran, untuk apa diturunkan kepada manusia? Apalagi jika memang Al-Qur’an itu ditujukan sebagai petunjuk (hudan linnas). Bisakah manusia menjadikannya sebagai manual hidup jika tidak memahaminya?

Ketiga, pernyataannya tentang pernyataan Ahok bahwa hanya Ahoklah yang paham. Nusron secara tidak langsung mengatakan semua orang harus menutup telinga dan mata dari sikap dan kata Ahok. Ada dua kemungkinan dalam hal ini. 1. Boleh jadi karena kebutaan dan ketulian Nusron menghendaki semua manusia buta dan tuli. Sehingga tidak perlu lagi atau berpura-pura tidak tahu lagi apa yang diucapkan oleh Ahok. 2. Boleh juga karena Yusron sudah menempatkan Ahok pada posisi Tuhan yang firmanNya absolut dan hanya dia yang paham.

Keempat, penampilan Yusron dengan mimik wajah yang emosional, kata-kata yang tidak terkontrol, nampaknya memang satu karakter dengan orang yang ingin dimenangkannya. Tampil dalam setting diskusi, apalagi disiarkan secara langsung le seluruh pelosok tanah air melalui televisi nasional, sangatlah tidak pantas dengan emosi yang tidak terkontrol. Biasanya sikap seperti itu sekaligus menjadi ukuran kedalaman ilmu dan kematangan kejiwaan seseorang.

Kelima, mungkin yang paling mengusik adalah sebagai kader NU (semoga benar) sikap Yusron adalah antithesis dari karakater NU yang tradisinya menghormati para ulama. Ketika Yusron berteriak-teriak menunjuk-nunjuk ulama, langsung atau tidak, maka dalam bahasa jalanan itu namanya “kurang ajar”.

Oleh karenanya semua pihak harus mencari cara agar Yusron ini tidak lagi mengulangi. Perbedaan pendapat okelah. Saya mendukung adanya perbedaan pendapat, termasuk dalam penafsiran teks-teks agama. Tapi hendaknya dilakukan pada batas-batas syar’i, dan yang lebih penting dibangun di atas dasar “khuluqi”.

Wallahu al-Muwaffiq ilaa aqwamit thoriq (penutup ala NU).

New York, 12 Oktober 2016

* Presiden Nusantara Foundation & Muslim Foundation of America, Inc.

 

Gambar: Pixabay.com