Archive for November, 2016

SHALAT JUM’AT DI TENGAH JALAN KATANYA TIDAK BOLEH…

Image result for demo anti ahokSobat, sekedar diketahui, aksi bela islam jilid III rencananya dilakukan pada 2 Desember 2016 yang meminta agar Ahok segera ditahan pasca-ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama. Demo tersebut diinisiasi oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) akan berpusat di Bundaran HI dengan menggelar doa –dan shalat jum’at– bersama. Ada yang menuduh bahwa demo sudah mengarah pada Makar,  namun ketika ditanya sumber informasinya dijawab silahkan lihat ke Google,  merefleksikan sebuah tuduhan yang sangat tidak profesional,  bahkan justru sangat profokatif bahkan kontra produktif bagi keamanan nasional.  Sebab,  demo super damai ini yang menuntut ditegakkan rasa keadilan,  justru dimobilisir menjadi sebuah isu yang disebutnya sebagai anti kebhinekaan,  anti NKRI,  sebagai sebuah “gerakan makar”. Padahal oleh para  peserta demo,  apa yang mereka lakukan justru sebagai wujud kecintaan mereka terhadap NKRI dan oleh sebab itu,  menuntut agar hukum di NKRI ini ditegakkan sebagaimana mestinya tidak tumpul ke atas tajam ke bawah,  agar hukum di NKRI ini dilaksanakan sesuai dengan rasa keadilan masyarakat.  Padahal pula para peserta demo ini,  justru menuntut ditegakkan hukum kepada orang yang disebutnya telah menista agama yang pada ujungnya justru mencederai sendi-sendi kebhinekaan.

Tapi,  entah kenapa sesuatu hal yang sebenarnya gampang  diberlakukan sebagai sesuatu yang rumit oleh pemerintah (baca: bukan negara).  Tapi,  entah kenapa pula sebuah kasus kecil yang dilakukan seorang anak manusia bernama Ahok,  oleh pemerintah seolah menjadi sesuatu yang sangat besar  bahkan disebutnya sebagai telah mengancam NKRI dan Kebhinnekaan,  sehingga pimpinan pemerintahan ini harus melakukan safari ke berbagai pihak untuk meredamnya.  Padahal  cara meredam unjuk rasa ini sangat mudah,  yakni:  orang yang sudah disangka menista agama itu cukup ditangkap-ditahan,  maka  hingar bingar politik nasional tidak akan sepanas sekarang,  persis sebagaimana telah diberlakukan pada para tersangka lain  yang telah melakukan perbuatan serupa.  Image result for demo anti ahok

Sobat,  sekali lagi,  sesuatu yang sebenarnya kecil  ini,  sekali lagi seolah diperlakukan sedemikian istimewa oleh pemerintah,  sehingga menimbulkan kebisingan sosial politik bahkan hukum di tanah air tercinta ini.  Tak tanggung-tanggung,  bahkan isu pun seolah dipelencengkan dari substansinya, yakni tuntutan agar sang peleceh agama agar ditangkap.  Pelencengan itu misalnya: tertuju pada ulasan tentang hukum shalat Jum’at di tengah jalan, sesuatu ekspresi yang akan dilakukan pada aksi Islam jilid III.

Shobat,  terkait dengan eksploitasi  isu sholat Jum’at di jalan raya,  berikut saya kutipkan sebuah artikel yang ditulis Sam Waskita tentang “bolehnya”   pelaksanaan Shalat Jum’at di jalan raya,  yang membantah pendapat sebaliknya dengan mengatakan sebagai sebuah bid’ah besar.  Berikut artikel tersebut:
.
Bismillah, walhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah al Musthafa.
.
Gus Mus menyebut Shalat Jum’at di tengah jalan sebagai bid’ah besar. Ada juga yang menyebut hadits, bahwah shalat di Qari’atut Thariq (tengah jalan) termasuk salah satu dari TUJUH tempat yang dilarang oleh Nabi Saw melakukan shalat padanya.
.
BEGINI YA… Andaikan saja Shalat Jum’at “di tengah jalan raya” itu benar-benar dilarang, benar-benar haram secara tegas, tanpa perselisihan lagi. Atau, andaikan hukumnya cuma satu: HARAM!
.
Dalam kondisi tertentu, larangan itu bisa DIPERBOLEHKAN, jika ada urusan STRATEGIS UMMAT yang patut didahulukan. Terutama berkaitan dengan maksud PERJUANGAN.
.
Ada beberapa momen amalan Salaf yang bisa menjadi rujukan. Demi kemaslahatan Ummat & kemuliaannya, sesuatu yang dilarang bisa diperbolehkan.
.
1. Mencegat kafilah dagang adalah haram; tapi Nabi Saw dan para Shahabat Ra telah mencegat kafilah Abu Sufyan Cs, yang nantinya memicu perang Badar. Karena kaum musyrikin telah memaklumkan hukum perang atas kaum Muslimin, lewat pembunuhan, penyiksaan, pengejaran, pelarangan hijrah, perampasan harta Muslim, dll.
2. Menebangi pohon/tanaman dalam perang adalah haram; tapi Nabi Saw melakukan itu ketika mengepung kaum Yahudi di Khaibar. Karena Yahudi sulit ditundukkan, kecuali dengan cara itu.
3. Memerangi Yahudi bagi Nabi Saw adalah TIDAK BOLEH, sesuai perjanjian PIAGAM MADINAH. Tapi setelah Yahudi berkhianat terus-menerus akhirnya mereka diusir, diperangi, direbut harta bendanya.
4. Nabi Saw diwajibkan mengembalikan ORANG MAKKAH yang datang ke Madinah, setelah berlaku Perjanjian HUDAIBIYAH. Tapi ketika ada kaum Mukminah hijrah ke Madinah, beliau menolak mengembalikan mereka. Allah juga melarang itu (Al Mumtahanah 10). Nabi memilih menebus mahar mereka ke para suaminya (kaum musyrikin).
5. Menyerang musuh saat malam hari adalah dilarang. Tapi pada kaum tertentu yang TIDAK MENGENAL ETIKA perang, Nabi Saw pernah melakukan itu. Seperti pasukan Muhammad bin Maslamah Ra ketika menyerang kampung Bani Tsa’labah di malam hari, saat mereka tidur nyenyak. Serangan serupa juga dilakukan Abu Ubaidah Ra ke sasaran sama.
6. Pasukan Abu Ubaidah Ra pernah menemukan ikan paus besar tergeletak di pantai. Mereka sedang amat sangat kelaparan. Sempat terjadi debat di antara mereka, tentang status “bangkai”. Abu Ubaidah berpendapat, bhw mereka dalam kondisi FI SABILILLAH, kehabisan bekal makan, jadi makan saja ikan itu. Ternyata, Nabi Saw tidak menyalahkan pendapat mereka.
7. Melakukan tipu daya adalah haram. Tetapi Shahabat Ra pernah melakukan tipu daya kepada pemimpin Yahudi, Ka’ab bin Al Asyraf, yang telah menghina Nabi Saw.
8. Membukukan Al Qur’an dalam Mushaf adalah perbuatan yang TIDAK PERNAH dilakukan Nabi Saw alias bid’ah. Tapi Khalifah Abu Bakar Ra melakukan itu, atas saran Umar Ra, demi menjaga OTENTISITAS TEKS AL QUR’AN. Dan lain-lain.
.
DALIL QUR’ANI:
(a). “Dan janganlah kalian memerangi mereka di area Masjidil Haram, sampai mereka memerangi kalian di dalamnya; jika mereka memerangi kalian (di sana), maka balas perangi mereka. Demikianlah balasan kepada orang-orang kafir.” (Al Baqarah: 191).
(b). “Katakanlah, berperang di bulan Haram adalah dosa besar. Tapi menghalangi manusia dari jalan Allah, kufur kepada-Nya, mengusir manusia dari Masjidil Haram, adalah LEBIH BESAR DOSANYA di sisi Allah. Dan FITNAH itu lebih kejam daripada pembunuhan.” (Al Baqarah: 217).
.
KESIMPULAN: “Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Kekafiran, menista Al Qur’an, menghina ulama, memecah belah Ummat; itu semua lebih kejam, parah, sadis daripada soal MENUTUP JALAN RAYA.”
.
Demikian, semoga bermanfaat. Amin ya Malikuna ya Maulana.

Shobat,  semoga diambil hikmatnya.

Sumber: https://www.facebook.com/joko.waskito.988/posts/10207698834097101

Foto : Dari berbagai sumber

Memaknai Ucapan Ahok Terkait Al Maidah 51: Kesengajaan ataukah Keseleo Lidah ?

Sobat,  “Ahok” beberapa bulan terakhir telah menyita perhatian bangsa Indonesia.  Ahok dengan segala kontroversi  ucapan-ucapannya  telah menjadi  polemik dalam masyarakat bangsa kita.  Bagi para  pendukungnya,  ucapan-ucapan Ahok disebut sebagai wujud ketegasan dalam memimpin.  Namun,  bagi  yang kritis terhadap Ahok,  kata-kata yang keluar dari mulut Ahok bukanlah ketegasan tetapi refleksi dari sikap kasar dan arogan, yang sangat tidak patut diucapkan –apalagi oleh pemimpin,  pejabat publik– dalam masyarakat berkeadaban. 

Ucapanmu adalah harimaumu,  itulah  adagium yang populer,  dan adagium itu pula yang akhirnya telah sedikit menjerat langkah Ahok dalam memimpin ibukota.  Ahok terperangkap pada sebuah ucapannya sendiri,   yang oleh pihak lain  dianggap telah menyinggung sebuah komunitas umat beragama,  yakni umat Islam.

Surat Al Maidah ayat 51 kini memang menjadi viral sejak beredar berita Ahok menggelar blusukan dan berdialog dengan masyarakat Kepulauan Seribu. Saat memberikan sambutan, Ahok sempat menyinggung mengenai Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, salah satunya terkait isu pemimpin non Muslim. Kalimat itu diucapkan Ahok dan terekam dalam sebuah video di menit 23. Dia meminta warga Kepulauan Seribu tetap memilih dengan hati nurani, meski ada yang pihak yang membawa-bawa surat Al Maidah ayat 51.  Di video itu, Ahok secara implisit tampak mengarahkan warga untuk memilihnya dengan membantah penafsiran surat Al Maidah.  “Bapak ibu ga bisa pilih saya….Dibohongin dengan surat Al Maidah 51…macem-macem itu…itu hak bapak ibu, kalau bapak ibu merasa ga milih neh karena saya takut neraka, dibodohin gitu ya..gapapa…” .

Belakangan, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, atau akrab disapa Ahok, diprotes bahkan dilaporkan ke kepolisian dengan tuduhan  telah melakukan pelecehan terhadap ayat suci Alquran. Ahok dilaporkan untuk  pasal 156 KUHP jo pasal 27-28 ITE tentang Penistaan Agama dan Pencemaran Nama Baik Agama pasal 310-311 KUHP Menurut pelapor,  “Mestinya, dia (Ahok) tidak perlu menyinggung soal Alquran. Dia tidak paham dan tidak mengimani. Itu kan hak umat Muslim. Kalau dia mengajak agamanya sendiri, ya tidak apa-apa, dan tidak ada masalah”.

Pihak ahok dan pendukungnya tentu membantah tuduhan ini dan menyatakan sama sekali tidak bermaksud menista agama.  Bahkan,  dalam gelar perkara kasus Ahok yang dilaksanakan pada hari Selasa  (15/11/2016), ahli bahasa dari kubu Ahok menyatakan bahwa Ahok tidak menistakan agama maupun Al Qur’an.

Namun ahli bahasa dari pihak pelapor yang diwakili oleh Neno Warisman membantah argumen tersebut dengan pernyataan yang cerdas.  Disebutkan oleh Neno bahwa seseorang yang berucap sama dengan sebuah tindakan. Salah satu yang menjadi analoginya adalah ketika seseorang melakukan akad nikah. “Berbicara itu sama dengan bertindak. Misalnya akad nikah. Akad nikah itu tindakan berbicara saya terima nikahnya makanya dengan tindakan berbicara itu yang haram menjadi halal,” ucap Neno di Mabes Polri,  sebagaimana dikutip dari Republika, Rabu (16/11/2016).

Lebih lanjut dijelaskan bahwa apa yang disampaikannya merupakan bagian  dari teori linguistik generatif.

Hal kedua dalam paparannya, Neno Warisman mengungkapkan bahwa jika seseorang berbicara tanpa ada niat, berarti orang tersebut tidak sadarkan diri, gila atau mengigau. Sementara Ahok secara sadar mengungkapkan ucapannya terkait surat Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu. “Orang berbicara itu tidak mungkin enggak pakai niat kecuali dia gila atau ngigau. Dan dia tidak mungkin berbicara tanpa tujuan,” lanjut Neno.

Setelah itu Neno mengemukakan tiga hal mendasar terkait ucapan Ahok.Yang pertama adalah apa yang diucapkan oleh seseorang merupakan kesesuaian
hati dan pikirannya. Jika tidak, maka ia telah berdusta. Hal kedua adalah ucapan Ahok tentang Surat Al Maidah 51 sudah diniatkan atau ada niat sebelumnya. Dan yang terakhir adalah adanya keinginan dari orang  yang berucap untuk mempengaruhi orang lain.

Sobat,  apa dan bagaimana kelanjutannya,  tentu diserahkan pada  proses hukum. Namun,  hikmah yang bisa diambil dari  kasus Ahok adalah pentingnya menjaga lisan agar tak melukai perasaaan.  Ada sebuah ajaran agama yang menyatakan:  Salaamatul insaan fii hifdzil lissaan: kesalamatan manusia itu terletak pada kemampuan menjaga lisannya.  Oleh karena itu hidup yang terbaik adalah bagaimana kita menjaga dengan baik lisan kita,  sebab sebagaimana pepatah Arab  acapkali ucapan itu bahkan lebih tajam daripada mata pedang: Rubba qoulin asyaddu min shoulin.  Kata Nabi SAW  jika kita  tidak bisa berkata baik  lebih baik diam saja,  fal yaqul khoiron au liyasmut.

Sumber: “Patahkan Argumen Kubu Ahok Saat Gelar Perkara, Begini Pernyataan Cerdas Neno Warisman”,  KabarMakkah. Com  dengan beberapa tambahan di pengantar dan penutup

Gambar : https://www.facebook.com/BahasaArabBahasaAlQuran/photos

Mendebat Politik Agama ? (3 dari 4 tulisan)

Penggunaan akal pikiran yang dilandasi oleh salah satu dan atau kedua faktor yang melatar belakanginya seperti diulas pada tulisan 2, akhirnya muncullah perbedaan, pertentangan, bahkan penyimpangan atas persepsi dan penafsiran syariat Tuhan (Osman Raliby, Akal dan Wahyu, (Jakarta: Media Dakwah, 1981).. hkan, atas pemakaian akal pula tak jarang terjadi polarisasi pemikiran di antara manusia, kendatipun mereka punya pengalaman dan pendidikan yang sama, serta punya posisi itikad keilmuwan yang sama, yakni bebas nilai tanpa tendensi. 

            Beda penafsiran ini –baik yang dilatarbelakangi beda pendidikan, pengalaman, atau akibat tendensi tertentu serta penerapan akal pikiran secara bebas– telah menghasilkan polarisasi pemikiran.  Dan polarisasi pemikiran tersebut tidak jarang pula telah mengarahkan manusia pada kesalahpahaman dan pertentangan, bahkan sampai ke pertumpahan darah. Dengan demikian berarti bahwa pengabdian manusia terhadap Tuhan, baik dalam wujud Hablun minallah maupun Hablun minannas menjadi terabaikan. Fungsi manusia sebagai khalifah bukan saja tak terlaksana, melainkan justru manusia menjadi perusak bumi sebagaimana pernah dikhawatirkan para malaikat pada awal penciptaan manusia pertama, ADAM A.S. (Q.S. 2 : 30)

            Karena kecenderungan polarisasi yang dampaknya sangat mengerikan itu,  maka sebagai tindakan preventif Islam telah melontarkan suatu alternatif pemecahan dalam wujud konsep kepemimpinan. Dengan kepemimpinan manusia akan terarahkan pada pemikiran bebas namun tetap merujuk pada sinkronisasi dan kesepakatan bersama terhadadap penafsiran syariat, termasuk pula dalam pelaksanaannya.  Minimal dengan kepemimpinan maka perbedaan pemikiran dapat dijembatani sedemikian rupa, sehingga mis-understanding dan rasa saling curiga dapat diminimalisir. 

            Islam memang telah menekankan betapa pentingnya prinsip kepemimpinan ini, baik secara eksplisit maupun implisit.  Prinsip tersebut terlihat misalnya dari ajaran sholat yang menekankan pentingnya berjamaah melalui sistem makmum – imam, pemimpin dan yang dipimpin. Penerapan prinsip “kepemimpinan” dalam sholat ini malah kedudukannya diutamakan 27 derajad dibanding sholat sendirian. Sistem jamaah ini bahkan dimasukkan dalam hukum sunnah muakad yang berarti mendekati wajib.  Artinya, bisa tidak dilaksanakan hanya dalam kondisi sangat terpaksa.

            Prinsip sholat berjamaah secara filosofis memberi ajaran tentang pentingnya kebersamaan, persatuan, serta pentingnya kepemimpinan.  Dalam kehidupannya Umat hendaknya menerapkan tingkah laku integral dalam ukhuwah: tidak bertindak sendiri-sendiri dan atas dasar kepentingan serta kamauan pribadi, melainkan bersatu di bawah satu kepemimpinan yang berorintasi pada satu tujuan, yakni pengabdian.

            Dalam sholat berjamaah terdapat pula filsafat mekanisme teguran oleh makmum (bawahan, rakyat) terhadap imam (pemimpin), bila sang pemimpin melakukan kesalahan. Caranya tidak bebas menurut sekehendak si makmum, melainkan berdasar pada mekanisme tertentu yang telah ditetapkan hukum, yakni: menegurnya dengan mengucap Subhanallah.  Ajaran demikian bila dirujukkan pada sistem kepemimpinan berarti bahwa bila pemimpin melakukan kesalahan, rakyat dan atau bawahan berhak bahkan berkewajiban melakukan koreksi, peringatan, oposan pada sang pemimpin, yang tentu saja melalui cara-cara yang telah ditetapkan hukum. 

            Sholat secara implisit telah pula mengajarkan mekanisme pergantian kepemimpian.  Jika sang pemimpin  batal wudlu –sebagai syarat sahnya sholat–  maka pemimpin (Imam) dengan kesadaran diri dan  tanpa diminta untuk mundur dari posisi kepemimpinannya, bahkan dari sholatnya.  Artinya, akibat persyaratan awal untuk melakukan sholat batal (gugur) maka gugur pula posisinya sebagai imam, dan oleh karena itu ia harus mundur dari jabatannya, mundur dari jamaahnya. 

            Setelah imam mundur, apakah para makmum (rakyat) lantas sholat sendiri tanpa seorang pemimpin ?  Jawabnya tidak. Sistem keimaman (berjamaah) harus tetap dilanjutkan.  Bahkan dalam situasi kritis sekalipun di mana sang pemimpin (imam) tidak mampu melaksanakan kepemimpinannya bukan lantaran batal wudlu, melainkan mati mendadak misalnya, sistem berjamaah tetap harus dilanjutkan.  Sebagai contoh, tatkala Umar bin Khottob (Khulafa ‘urrosyidin kedua) memimpin sholat berjamaah ia ditikam oleh seorang munafik bernama Abu Lu’lu’.  Akibatnya ia pun tersungkur.  Namun, apakah sholat lantas bubar atau minimal berubah menjadi sholat munfarid, yakni sholat sendiri-sendiri ? Ternyata tidak. Sholat berjamaah tetap berlanjut, di mana Abdurrahman bin Auf yang berdiri di belakang Umar segera maju ke depan menggantikan posisi imam yang lowong itu.

            Kejadian tersebut telah menjelaskan bahwa bila sang imam berhalangan, baik berhalangan sementara (batal wudlu) maupun berhalangan tetap (mati) maka makmum di belakang imam yang berhak dan harus menggantikan imam.  Dan oleh karena itu, dalam prinsip berjamaah, diajarkan pula bahwa  makmum  yang berdiri tepat dibelakang imam harus mempunyai kapabilitas tertentu yang diperlukan untuk menjadi seorang imam, sebagai ancang-ancang pengganti bila sang imam berhalangan.

            Filsafat Sholat telah memperlihatkan betapa pentingnya prinsip kepemimpinan dalam tatanan Islam. Sebenarnya masih terdapat banyak nilai-nilai filsafati seputar kepemimpinan-kerakyatan seputar sholat ini yang dapat digali lebih lanjut, seperti mekanisme pengangkatan dan atau pemilihan, sikap “aspiratif” imam, larangan bagi imam yang tak disukai makmum, dan lain sebagainya.

Mendebat Politik Agama ? (2 dari 4 tulisan)

Bagaimanakah pola keterkaitan antara politik dan Islam, sehingga politik dapat dikatakan sebagai konsekuensi logis dari ajaran Islam? Untuk menjawab pertanyaan tersebut kiranya kita harus memahami dulu apa dan bagaimana kedudukan, peran dan tugas manusia dalam kehidupan ini, terutama ditinjau dari sudut pandang Islam.

            Dalam konsep Islam tujuan utama dari penciptaan manusia adalah agar manusia (sebagai mahluq) mengabdi pada Tuhan Sang Pencipta (al-Khaliq), (Q.S:51:56). Pengertian “mengabdi” dalam konteks ini mengandung dua wujud, yakni Hablun minallah dengan cara menerapkan sikap mengakui keberadaan Allah baik dalam prinsip Uluhiyah (satu-satunya sesembahan), Rububiyyah (satu-satunya pemilik dan pemelihara alam semesta dan isinya), maupun Mulkiyah (satu-satunya sumber dan pemilik segala kekuasaan).  Wujud yang kedua adalah  Hablun minannas  yaitu menerapkan sikap menjaga keharmonisan hubungan antar sesama manusia,  termasuk pula memelihara lingkungan yang disediakan sebagai sarana untuk menunjang keharmonisan hubungan kemanusiaan tersebut.  Dalam wujud kedua inilah manusia berperan sebagai khalifatullah fil Ard (wakil Allah di bumi) untuk mengatur dan memakmurkan kehidupan dunia.  Kedua wujud pengabdian tersebut satu sama lain merupakan dua hal yang integral dan tak terpisahkan.  Artinya, wujud pengabdian pertama akan berperan sebagai ruh bagi terealisirnya wujud pengabdian kedua.  Dan sebaliknya, wujud pengabdian kedua adalah pula sebagai bagian penting bagi realisasi wujud yang pertama.  Dengan kata lain, kedua wujud pengabdian tersebut pada dasarnya merupakan dua muka dari satu mata uang. 

Baca lebih lanjut