Mendebat Politik Agama ? (2 dari 4 tulisan)

Bagaimanakah pola keterkaitan antara politik dan Islam, sehingga politik dapat dikatakan sebagai konsekuensi logis dari ajaran Islam? Untuk menjawab pertanyaan tersebut kiranya kita harus memahami dulu apa dan bagaimana kedudukan, peran dan tugas manusia dalam kehidupan ini, terutama ditinjau dari sudut pandang Islam.

            Dalam konsep Islam tujuan utama dari penciptaan manusia adalah agar manusia (sebagai mahluq) mengabdi pada Tuhan Sang Pencipta (al-Khaliq), (Q.S:51:56). Pengertian “mengabdi” dalam konteks ini mengandung dua wujud, yakni Hablun minallah dengan cara menerapkan sikap mengakui keberadaan Allah baik dalam prinsip Uluhiyah (satu-satunya sesembahan), Rububiyyah (satu-satunya pemilik dan pemelihara alam semesta dan isinya), maupun Mulkiyah (satu-satunya sumber dan pemilik segala kekuasaan).  Wujud yang kedua adalah  Hablun minannas  yaitu menerapkan sikap menjaga keharmonisan hubungan antar sesama manusia,  termasuk pula memelihara lingkungan yang disediakan sebagai sarana untuk menunjang keharmonisan hubungan kemanusiaan tersebut.  Dalam wujud kedua inilah manusia berperan sebagai khalifatullah fil Ard (wakil Allah di bumi) untuk mengatur dan memakmurkan kehidupan dunia.  Kedua wujud pengabdian tersebut satu sama lain merupakan dua hal yang integral dan tak terpisahkan.  Artinya, wujud pengabdian pertama akan berperan sebagai ruh bagi terealisirnya wujud pengabdian kedua.  Dan sebaliknya, wujud pengabdian kedua adalah pula sebagai bagian penting bagi realisasi wujud yang pertama.  Dengan kata lain, kedua wujud pengabdian tersebut pada dasarnya merupakan dua muka dari satu mata uang. 

            Lantas muncul pertanyaan, bagaimanakah cara mengaktualisasikan kedua wujud pengabdian tersebut ? Terdapat banyak cara yang dapat ditempuh dalam upaya mewujudkan keduanya yang semuanya dapat dirangkum dalam satu kata kunci, yakni melaksakan syariat (hukum) Tuhan dalam bentuk amar ma’ruf nahi munkar, yakni menyeru pada perbuatan baik dan mencegah terjadinya kezaliman, keangkara murkaan dan berbagai perbuatan buruk lainnya.

            Upaya mewujudkan kondisi seperti itu tidak gampang, termasuk pula dikarenakan seringnya terjadi pertentangan dan penyimpangan akibat beda penafsiran atas berbagai syariat Tuhan.  Contoh paling gampang adalah apa yang barusan penulis singgung seputar beda persepsi tentang  kaitan antara politik dan Islam.

            Kenapa perbedaan bahkan pertentangan itu dapat terjadi ? Alasannya, karena hampir setiap manusia mempunyai perbedaan latar belakang budaya, pengalaman hidup, dan pendidikan, yang akhirnya berpengaruh besar dalam pola pikir dan perilaku sang manusia.  Namun, perbedaan pemikiran dapat pula terjadi akibat tendensi nafsu (itikad) tertentu yang dimiliki masing-masing orang. Dengan akal pikirannya, mereka melakukan penafsiran atas syariat dengan mengikuti pola tendensi yang dimilikinya.  Akibatnya, interpretasi dan penafsiran yang dihasilkan sudah barang tentu sengaja diarahkan agar sesuai dengan tendensi yang melatarbelakanginya.

            Bila faktor pertama yang melandasi penginterpretasian syariat,  maka bila terjadi salah tafsir kiranya masih dapat ditolerir. Sebab,  hasil penafsirannya yang keliru bukan diakibatkan oleh suatu kesengajaan akibat tendensi atau maksud tertentu. Keterbatasan informasi dan atau kesalahpahaman yang diperoleh selama proses pendidikan tampaknya lebih dominan sebagai penyebab dihasilkannya suatu penafsiran yang keliru.

            Namun, bila faktor kedua (baca: tendensi) yang dipakai landasan, maka sangat mungkin si penafsir justru sengaja melakukan rasionalisasi dalam menafsirkan syariat Tuhan.  Akibatnya hasilnya pun dapat dipastikan diarahkan sesuai dengan tendensi (tujuan) yang ingin dicapai.  Bila penafsirannya kebetulan sesuai dengan substansi dan ruh yang dikandung syariat yang ditafsirkan, tentu hasil penafsiran tersebut tidak menjadi persoalan.  Namun  sebaliknya, bila penafsiran yang dihasilkan ternyata bertentangan dengan esensi syariat, tentu akan menyesatkan umat  terutama bila si penafsir dianggap sebagai panutan dalam masyarakat.

            Berbeda dari malaekat, manusia memang dicipta sebagai mahluq bernafsu (berambisi) sehingga berkecenderungan memiliki tendensi dan keinginan. Nafsu dapat bersifat mahmudah yang menuntun pada kebaikan, namun ada pula yang bersifat madzmumah yang akan mengarahkan si manusia pada tindak kejahatan.  Fakta demikian berarti bahwa bersama dengan kecenderungan pada ketaatan, kebaikan dan kemuliaan, manusia juga punya kecenderungan ke arah pelanggaran dan kejahatan. Manusia adalah mahluq bidimensional, gabungan dari lumpur dan roh Allah.  Dimensi yang satu cenderung kepada lumpur, stagnasi dan immobilitas.  Sedangkan dimensi lainnya berasal dari Roh Allah yang cenderung untuk meningkatkan diri menuju ke puncak yang setinggi-tingginya (mulia) (Syari’ati, on the Sociology of Islam, (Berkeley: Mizan Press, 1979), hlm. 90. Juga ——, Islam untuk Disiplin Ilmu Hukum, Sosial, dan Politik (Jakarta: Departemen Agama, 1986).Walhasil, bertolak dari beda budaya, pendidikan, dan pengalaman, serta tendensi (nafsu) tersebut manusia yang diberi akal oleh Tuhan akhirnya membuat berbagai interpretasi terhadap syariat Tuhan, baik syariat yang tersirat (hukum alam) maupun yang tersurat (dalam kitab suci). 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: