SHALAT JUM’AT DI TENGAH JALAN KATANYA TIDAK BOLEH…

Image result for demo anti ahokSobat, sekedar diketahui, aksi bela islam jilid III rencananya dilakukan pada 2 Desember 2016 yang meminta agar Ahok segera ditahan pasca-ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama. Demo tersebut diinisiasi oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPF MUI) akan berpusat di Bundaran HI dengan menggelar doa –dan shalat jum’at– bersama. Ada yang menuduh bahwa demo sudah mengarah pada Makar,  namun ketika ditanya sumber informasinya dijawab silahkan lihat ke Google,  merefleksikan sebuah tuduhan yang sangat tidak profesional,  bahkan justru sangat profokatif bahkan kontra produktif bagi keamanan nasional.  Sebab,  demo super damai ini yang menuntut ditegakkan rasa keadilan,  justru dimobilisir menjadi sebuah isu yang disebutnya sebagai anti kebhinekaan,  anti NKRI,  sebagai sebuah “gerakan makar”. Padahal oleh para  peserta demo,  apa yang mereka lakukan justru sebagai wujud kecintaan mereka terhadap NKRI dan oleh sebab itu,  menuntut agar hukum di NKRI ini ditegakkan sebagaimana mestinya tidak tumpul ke atas tajam ke bawah,  agar hukum di NKRI ini dilaksanakan sesuai dengan rasa keadilan masyarakat.  Padahal pula para peserta demo ini,  justru menuntut ditegakkan hukum kepada orang yang disebutnya telah menista agama yang pada ujungnya justru mencederai sendi-sendi kebhinekaan.

Tapi,  entah kenapa sesuatu hal yang sebenarnya gampang  diberlakukan sebagai sesuatu yang rumit oleh pemerintah (baca: bukan negara).  Tapi,  entah kenapa pula sebuah kasus kecil yang dilakukan seorang anak manusia bernama Ahok,  oleh pemerintah seolah menjadi sesuatu yang sangat besar  bahkan disebutnya sebagai telah mengancam NKRI dan Kebhinnekaan,  sehingga pimpinan pemerintahan ini harus melakukan safari ke berbagai pihak untuk meredamnya.  Padahal  cara meredam unjuk rasa ini sangat mudah,  yakni:  orang yang sudah disangka menista agama itu cukup ditangkap-ditahan,  maka  hingar bingar politik nasional tidak akan sepanas sekarang,  persis sebagaimana telah diberlakukan pada para tersangka lain  yang telah melakukan perbuatan serupa.  Image result for demo anti ahok

Sobat,  sekali lagi,  sesuatu yang sebenarnya kecil  ini,  sekali lagi seolah diperlakukan sedemikian istimewa oleh pemerintah,  sehingga menimbulkan kebisingan sosial politik bahkan hukum di tanah air tercinta ini.  Tak tanggung-tanggung,  bahkan isu pun seolah dipelencengkan dari substansinya, yakni tuntutan agar sang peleceh agama agar ditangkap.  Pelencengan itu misalnya: tertuju pada ulasan tentang hukum shalat Jum’at di tengah jalan, sesuatu ekspresi yang akan dilakukan pada aksi Islam jilid III.

Shobat,  terkait dengan eksploitasi  isu sholat Jum’at di jalan raya,  berikut saya kutipkan sebuah artikel yang ditulis Sam Waskita tentang “bolehnya”   pelaksanaan Shalat Jum’at di jalan raya,  yang membantah pendapat sebaliknya dengan mengatakan sebagai sebuah bid’ah besar.  Berikut artikel tersebut:
.
Bismillah, walhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah al Musthafa.
.
Gus Mus menyebut Shalat Jum’at di tengah jalan sebagai bid’ah besar. Ada juga yang menyebut hadits, bahwah shalat di Qari’atut Thariq (tengah jalan) termasuk salah satu dari TUJUH tempat yang dilarang oleh Nabi Saw melakukan shalat padanya.
.
BEGINI YA… Andaikan saja Shalat Jum’at “di tengah jalan raya” itu benar-benar dilarang, benar-benar haram secara tegas, tanpa perselisihan lagi. Atau, andaikan hukumnya cuma satu: HARAM!
.
Dalam kondisi tertentu, larangan itu bisa DIPERBOLEHKAN, jika ada urusan STRATEGIS UMMAT yang patut didahulukan. Terutama berkaitan dengan maksud PERJUANGAN.
.
Ada beberapa momen amalan Salaf yang bisa menjadi rujukan. Demi kemaslahatan Ummat & kemuliaannya, sesuatu yang dilarang bisa diperbolehkan.
.
1. Mencegat kafilah dagang adalah haram; tapi Nabi Saw dan para Shahabat Ra telah mencegat kafilah Abu Sufyan Cs, yang nantinya memicu perang Badar. Karena kaum musyrikin telah memaklumkan hukum perang atas kaum Muslimin, lewat pembunuhan, penyiksaan, pengejaran, pelarangan hijrah, perampasan harta Muslim, dll.
2. Menebangi pohon/tanaman dalam perang adalah haram; tapi Nabi Saw melakukan itu ketika mengepung kaum Yahudi di Khaibar. Karena Yahudi sulit ditundukkan, kecuali dengan cara itu.
3. Memerangi Yahudi bagi Nabi Saw adalah TIDAK BOLEH, sesuai perjanjian PIAGAM MADINAH. Tapi setelah Yahudi berkhianat terus-menerus akhirnya mereka diusir, diperangi, direbut harta bendanya.
4. Nabi Saw diwajibkan mengembalikan ORANG MAKKAH yang datang ke Madinah, setelah berlaku Perjanjian HUDAIBIYAH. Tapi ketika ada kaum Mukminah hijrah ke Madinah, beliau menolak mengembalikan mereka. Allah juga melarang itu (Al Mumtahanah 10). Nabi memilih menebus mahar mereka ke para suaminya (kaum musyrikin).
5. Menyerang musuh saat malam hari adalah dilarang. Tapi pada kaum tertentu yang TIDAK MENGENAL ETIKA perang, Nabi Saw pernah melakukan itu. Seperti pasukan Muhammad bin Maslamah Ra ketika menyerang kampung Bani Tsa’labah di malam hari, saat mereka tidur nyenyak. Serangan serupa juga dilakukan Abu Ubaidah Ra ke sasaran sama.
6. Pasukan Abu Ubaidah Ra pernah menemukan ikan paus besar tergeletak di pantai. Mereka sedang amat sangat kelaparan. Sempat terjadi debat di antara mereka, tentang status “bangkai”. Abu Ubaidah berpendapat, bhw mereka dalam kondisi FI SABILILLAH, kehabisan bekal makan, jadi makan saja ikan itu. Ternyata, Nabi Saw tidak menyalahkan pendapat mereka.
7. Melakukan tipu daya adalah haram. Tetapi Shahabat Ra pernah melakukan tipu daya kepada pemimpin Yahudi, Ka’ab bin Al Asyraf, yang telah menghina Nabi Saw.
8. Membukukan Al Qur’an dalam Mushaf adalah perbuatan yang TIDAK PERNAH dilakukan Nabi Saw alias bid’ah. Tapi Khalifah Abu Bakar Ra melakukan itu, atas saran Umar Ra, demi menjaga OTENTISITAS TEKS AL QUR’AN. Dan lain-lain.
.
DALIL QUR’ANI:
(a). “Dan janganlah kalian memerangi mereka di area Masjidil Haram, sampai mereka memerangi kalian di dalamnya; jika mereka memerangi kalian (di sana), maka balas perangi mereka. Demikianlah balasan kepada orang-orang kafir.” (Al Baqarah: 191).
(b). “Katakanlah, berperang di bulan Haram adalah dosa besar. Tapi menghalangi manusia dari jalan Allah, kufur kepada-Nya, mengusir manusia dari Masjidil Haram, adalah LEBIH BESAR DOSANYA di sisi Allah. Dan FITNAH itu lebih kejam daripada pembunuhan.” (Al Baqarah: 217).
.
KESIMPULAN: “Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Kekafiran, menista Al Qur’an, menghina ulama, memecah belah Ummat; itu semua lebih kejam, parah, sadis daripada soal MENUTUP JALAN RAYA.”
.
Demikian, semoga bermanfaat. Amin ya Malikuna ya Maulana.

Shobat,  semoga diambil hikmatnya.

Sumber: https://www.facebook.com/joko.waskito.988/posts/10207698834097101

Foto : Dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: