Archive for Februari, 2017

Memahami Makna Zuhud

Image result for zuhud ibnu qayyimZuhud adalah dasar sufisme, sehingga untuk menjadi sufi, harus menjalani zuhud yakni melepaskan kesenangannya pada benda yang memberi kenikmatan duniawi, yang diyakini sebagai pangkal segala bencana. Adapun bencana terbesar bagi setiap sufi adalah ketika mereka tak dapat mendekati dan bersatu dengan Tuhan. Umumnya Zuhud dipahami sebagai sikap hidup meninggalkan duniawi, membekali diri hanya untuk mengejar kebahagiaan akhirat. Jangankan peduli pada urusan duniawi orang lain, untuk kebutuhan hidupnya sendiri terkadang tak terlalu peduli.

Bagi Al Junaid Al Baghdadi, pemahaman tersebut tidak tepat, sebab sikap zuhud demikian justru hanya menyebabkan si sufi dan orang lain (keluarganya) pada kondisi tak menggembirakan. Bagi Al-Junayd, “Seorang sufi tak seharusnya hanya berdiam diri di masjid dan berzikir tanpa bekerja, sehingga kehidupannya menggantungkan diri hanya pada pemberian orang lain. Sifat-sifat seperti itu sangat tercela. Seorang sufi harus tetap bekerja keras untuk menopang kehidupannya sehari-hari, dan jika sudah mendapat nafkah, diharapkan mau membelanjakannya di jalan Allah SWT.” Konsep Zuhud dimaknai tetap berharta, namun tak terlalu mencintainya. Implementasi zuhud bukan meninggalkan kehidupan dunia, tetapi tak terlalu mementingkan duniawi. Sufi tetap wajib mencari nafkah untuk penghidupan diri dan keluarganya, adapun posisi zuhudnya terletak pada sikap tak merasa berat bersedekah pada kaum yang membutuhkan. Sufi seharusnya mengikuti Nabi saw, menjalani kehidupan seperti manusia biasa (menikah, berdagang) tetapi juga dermawan.  Semoga bermanfaat.***

Iklan

KEDERMAWAN YANG LUAS

Sobat berikut  saya kutipkan tulisan Sam Waskito  tentang kedermawanan,  yang semoga saja bisa diambil hikmahnya untuk kehidupan kita.Image result for kedermawanan

1. Seorang budak makan roti, di pinggir pagar sebuah kebun milik orang shalih di Madinah. Di hadapannya ada anjing memperhatikan dia makan.
2. Setiap budak itu makan, tak lupa dia melemparkan potongan roti ke anjing, sehingga dia ikut makan. Dia berbuat itu karena “rasa malu kepada Allah” kalau sampai makan sendirian.
3. Orang shalih pemilik kebun kagum melihat sikap budak itu. Lalu dia mendatangi pemilik budak, membelinya, lalu membebaskannya.
4. Sang budak sangat bersyukur kepada Allah atas nikmat kebebasan itu, lalu berterima kasih tulus kepada orang shalih tersebut.
5. Melihat sikapnya yang sopan dan bertauhid, orang shalih itu berkata: “Kebun ini aku serahkan padamu, wahai pemuda.”
6. Pemuda yang semula budak itu sangat bahagia, lalu dia berkata: “Engkau jadi saksinya Tuan, kebun ini sekarang aku waqafkan untuk kaum miskin di Madinah.”
7. Orang shalih tersebut kaget, baru diberi kebun kok sudah diwaqafkan. Dia bertanya, kenapa? “Aku malu kepada Allah, aku diberi nikmat banyak, tapi hatiku masih pelit.”
ITULAH sepenggal teladan tentang KEDERMAWANAN kaum Mukminin. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Gambar: Geophy palace.blogspot.com