Berbusana Ihram dari Sepang, Kuala Lumpur (Bagian 2)

Lembayung senja mulai meremang di cakrawala.  Mentari  mulai beranjak  istirah  untuk  bersiap  menuju peraduan.  Sore yang indah,  semolek harapan  untuk memulai perjalanan menuju kota yang diridhoi Tuhan.  Memang,  kami masih harus transit dulu di Malaysia,  namun untuk sebuah perjalanan,  prosesi ini tetap tercatat satu rangkaian dari tapak-tapak yang mesti kami lakukan.

Perlahan pesawat yang kami tumpangi berderit,  bergerak mengangkasa,  meninggalkan tanah airku,  bumi Jakarta,  tanah Indonesia.  Selamat tinggal istriku,  selamat tinggal anak-anakku,  selamat tinggal  semua sahabat dan handai taulanku.  Untuk sementara waktu,  saya terpaksa meninggalkan kalian,   melanglang ke negeri jiran sebelum melanjutkan ke Saudi,   tanah gersang –  padang pasir  namun diberkahi tuhan: Bakkata Mubaarokan.

Sekitar satu jam pesawat mengangkasa,  dan  sekitar  pukul 19.00 waktu setempat  kepak  Garudaku  akhirnya terhenti di bandara Kuala Lumpur-Malaysia.  Anehnya, waktu Malaysia lebih cepat  satu jam dibanding Jakarta,  meski posisi Malaysia justru  ada di barat ibu kota Indonesia.  Artinya,  ketika jam di  Kuala Lumpur menunjuk angka 07 pm,  Jakarta baru menunjuk ke pukul 06 pm.  Namun karena matahari lebih dahulu menyinari Jakarta,  maka ketika pada saat yang sama,  Jakarta mulai memasuki waktu Maghrib,  sedangkan Kuala Lumpur  justru masih menunggu beberapa saat untuk  waktu yang sama: Maghrib.

Pada keremangan itulah seorang pria asli Malaysia bernama  Khairy Fatih telah menjemput kami di lorong kedatangan Bandara.  Dialah yang bertanggung jawab mengurusi seluruh kebutuhan  kami  selama transit  di Kuala Lumpur.  Mas Khairy adalah sohib karib  mas Ferly.  ”Sesama alumnus universitas al Azhar – Kairo”,  jelas mas Khairy singkat.     Karena pertemanan ini pula,  Ferly – Khairy  akhirnya membangun kerjasama bisnis travel Umrah – Haji dengan bendera Al Madina Al Munawaroh.  Mas Khairy inilah yang bertugas mencarikan tiket-tiket ”murah” via Malaysia,  lengkap dengan akomodasi hotel dan  konsumsi selama transit di Malaysia. Jaringan ini pula yang telah membantu kami  mengatur seluruh perjalanan dari  Indonensia,  Malaysia,  termasuk khususnya selama tinggal di Saudi Arabia,  tentu saja dengan berbagai modifikasi mengingat tujuan kami memang  bukan Umroh-Haji,  melainkan sebagai kunjungan kerja : untuk meneliti.  Jaringan ini bahkan telah mengatur biaya hidup selama 8 hari yang akhirnya bisa diperpanjang bahkan  sampai 13 hari,  itupun masih dilengkapi  dengan  transportasi ke berbagai lokasi dan  kampus  selama kunjungan kerja di Arab Saudi. Alhamdulillah.

Sekali lagi,  penerbangan di Malaysia menuju Saudi Arabia ternyata banyak yang menawarkan ongkos lebih murah dibanding Indonesia. Oleh karena itu,  kami terbang dari negeri jiran ini. Hal yang sama dilakukan oleh ratusan jamaah umrah asal Indonesia, sebagaimana kami jumpai di bandara internasional Kuala Lumpur ini.  Di Saudi Arabia, pun ketika saya berjumpa dengan jamaah umroh asal Indonesia,  mereka banyak yang menyatakan diatur  terbang dari Malaysia.  Walhasil,  di tengah ratusan ribu rombongan umroh Indonesia,  ternyata justru Malaysia yang mendapatkan manfaatnya. Inilah nilai lebih dan atau kecerdikan Malaysia dalam memanfaat kesempatan di sekitarnya. Namun sebaliknya,  ini pula yang justru menjadi ”kedunguan” Indonesia yang malah membuang kesempatan yang sudah ada di genggaman.  Sedih.  Memang,  sangat menyedihkan. Ndak aneh,  jika ada seorang WNI keturunan Cina tidak bangga dengan bangsanya sendiri,  bahkan secara kasar menghardik warga sebangsanya dengan ucapan:  Indon. Indonesia.  Pribumi Tiko.

Dari bandara kami dibawa mas Khairy meluncur ke hotel View City yang terletak di wilayah Sepang. Sepang,  adalah sebuah nama yang tak asing bagi Indonesia,  karena di tempat ini telah dibangun sirkuit berkelas internasional.  Ketika ada moment balaban (motor race)  lokasi ini langsung dibanjiri wisatawan mancanegara.  ”Sebagian besar justru datang dari Indonesia”,  kata mas Khairy menjelaskan.  ”Pada moment seperti itulah,  biasanya hotel-hotel di sini membengkakkan tarifnya,  namun tetap full-booking juga”,  tambahnya.

Sekitar lima belas menit dari bandara,  kami sudah  sampai  hotel di Sepang yang berlokasi di  pinggiran kota ini. ”Tanpa ada kegiatan balapan,  Sepang memang sangat sepi”,  kata mas Khairy.  Meski hotelnya sederhana,  namun pelayanan yang diberikan sama sekali tak membuat kecewa.

Segera setelah menata barang bawaan di penginapan,  berikutnya kami diajak makan malam di sebuah restoran.  Ternyata kami difasilitasi untuk  segala,  termasuk untuk makan sesukanya tanpa lagi dipungut biaya.  Restoran yang berlokasi menempel dengan hotel,  tampaknya  dikelola keturunan India  sehingga makanan yang disajikan bernuansa Asia Selatan juga.  Meski demikian,  kami bersantap dengan lahap,  sehingga dengan perut kenyang  dapat mengantarkan kami ke peraduan dengan lelap.

Tak terasa  pagi sudah  menjelang,  sehingga kami bersegera mandi, shalat,  dan   menuju restoran untuk sarapan.  ”Lebih baik mengenakan pakaian ihrom dari Malaysia,  sebab kebayakan warga Malaysia memang melakukan hal serupa”,  pesan mas Ferly ketika di Jakarta. ”Ulama Saudi memang sudah membangun semacam kesepakatan,  bahwa sebagai rukhsoh (keringanan) maka  ihrom dapat dilakukan di bandara Jeddah.  Namun,  banyak jamaah masih ragu,  mengingat miqot makani  yang ditetapkan Rasulullah   terletak tepat ketika masih mengangkasa di udara, langit Yalamlam.   Akibatnya,  banyak warga tetap niat ihrom di udara dekat miqat makani,  namun untuk persiapan mandi, pakaian, dan shalat sunnah ihromnya sudah dilakukan  ketika masih di Malaysia”,  tambah mas Ferly. Atas saran inilah,  kami akhirnya mandi dan berpakaian ihrom dari hotel Malaysia. Dengan demikian,  berarti selama 10 jam penerbangan  Kuala Lumpur – Jeddah  kami  menutup  tubuh hanya dengan dua helai  kain putih yang dibalutkan pada pinggang ke bawah  dan kami tangkupkan pada punggung dan dada. ”Labbaik Allahumma labbaik,  labbaika laasyarika laka labbaik”,  kembali bibirku berdesis melafalkan talbiah meski  belum secara formal-definitif melakukan niat ihram.

Mentari mulai meninggi.  Burung-burung beterbangan  meliuk ke sana ke mari,   seolah  bermaksud hendak mengantarkan kami  yang akan segera terbang mengangkasa  menuju tanah suci.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: