Haji dan Umroh: Semarak Sama, Hampir Tak ada Beda (Bagian 4)

Malam merayab gulita  ketika kendaraan mengantarkan kami meninggalkan Jeddah untuk menuju Mekkah.  Sekitar satu dua kilometer dari parkiran bandara,   mobil berhenti.  Kupikir pasport kami akan diperiksa dilokasi ini,  seperti pernah kami alami ketika berhaji.  Dugaanku ternyata meleset,  sebab  sang sopir hanya nyamperi  mas Izdihar Ibrahim,  seorang mahasiswa S1  semester ke 9  yang akan menemani kami kemanapun kami pergi, tentu saja selama masih di Saudi.  Setelah pemuda asal Ngawi – Jawa Timur menyertai kami,   mobil segera melesat cepat ke arah Makkah kota suci.

Entah berapa menit waktu yang kami lalui,  dan entah berapa kilometer jarak yang telah kami tapaki.  Hal yang kurasakan adalah rasa penat mulai menjalar di seluruh badan,   di tengah laju mobil  yang ngebut bahkan perjam  mencapai angka 120 kilometeran.  Walhasil,  akhirnya kami sampai di hotel Nawarat Al-Shams Hotel,  berlokasi di daerah Misfallah, tepatnya di Jalan Ibrahim Al-Khalil. Sebagai ancar-ancar ia berdekatan dengan Dhiyafa Mubarak Hotel.

Dilihat dari tampang  para pegawainya,  apalagi ditambah dengan tamu-tamu yang menginap di dalamnya,  sepertinya hotel dikelola orang keturunan Asia Selatan. Hotel ini tergolong super sederhana,  bahkan lebih kumuh dibanding hotel yang kuinapi  ketika berhaji. (2015). Bahkan, tatkala berhaji,  satu kamar dihuni 4 orang saja,  kali ini kami  terpaksa berbagai untuk berlima,  termasuk mas Izdihar pendamping kami juga.  Meski kondisinya serba sederhana,  namun saya justru patut bersyukur,  karena : (1). Lokasi hotel hanya sekitar 300 meter  di belakang Hotel Hilton – Zamzam Tower.  Walhasil,  untuk pulang pergi hotel – masjidil haram,  hanya dibutuhkan beberapa menit waktunya.  Alhamdulillah. (2).  Di tengah keterbatasan waktu persiapan dan ketersediaan  anggaran yang pas-pasan,  maka didapatkannya hotel ini sudah merupakan anugerah luar biasa.  Sebab, kabarnya hotel dan atau penginapan di Mekkah dan Madinah konon sudah diblok oleh berbagai travel perjalanan,  sehingga prosedur individual tampaknya akan mengalami kesulitan untuk mendapat penginapan,  apalagi yang dekat dengan pusat peribadatan: masjidil haram.

Setelah penataaan barang beres,  mulailah kami bersiap menjalankan prosesi Umroh : thawaf ifadhah,  Sa’i,  dan tahalul di masjidil haram. ”Labbaik Allahumma labbaik”,  kembali bibirku bergetar melafalkan ucapan talbiah.   Menjelang masuk masjid barulah talbiah  kuakhiri  untuk diganti dengan do’a-doa lain mulai dari penutupan talbiah,  do’a  masuk masjidil haram,  serta doa ketika pertamakali melihat ka’bah.  ”Alhamdulillah ya Allah,  setelah  dua tahun berselang,  akhirnya kami bisa kembali bertandang”,  kata batinku lirih setengah merintih.  Mataku berkaca-kaca sebagai ekspresi rasa bahagia yang tak mampu terungkap dalam kata-kata.

Terdapat satu hal  yang sama sekali di luar dugaan saya, yakni: Towaf tengah malam,  dilakukan masih  pada bulan Rajab,  ternyata  kepadatan para muthawwif  tak ada beda dengan  padatnya  di musim haji (bulan Dzul Qaidah – Dzul Hijjah). Masya Allah.  Jika sedemikian keadaannya,  lantas kapan  Ka’bah dan kota Mekkah mengalami  keheningan dari lalu larang  para jamaah ?  ”Tidak pernah lowong”,  jelas Izdihar,  ”Kecuali hanya selama satu bulan tepat setelah selesainya bulan haji,  dan berangsur-angsur para jamaah beranjak untuk pulang lagi.  Pada saat itulah,  Mekah dan Ka’bah agak sela statusnya,  meskipun  tidak sampai lengang kondisinya”.

Kami manggut-manggut mendengar penjelasan ini. Rasa takjub memenuhi rongga dada bahkan menjalar  ke tulang belulang di seluruh raga.

”Bahkan,  pada Ramadan di bulan suci,  jamaah umrah melampaui jumlah jamaah haji”,  tandas Izdihar menambahi penjelasan. Kembali  Rasa takjub menjalar  di dalam dada,  dan terus mengalir  ke tulang belulang di seluruh raga.

Dalam situasi padat inilah,  maka di tengah badan yang sudah penat,  terpaksa kami  bertowaf dengan tidak masuk ke dalam  jarak yang amat dekat dari ka’bah. Selesai thowaf tujuh putaran di tengah gulita malam,  dengan disisipi minum zamzam dan shalat  sunnah tawaf tujuh putaran,   kami langsung Sa’i lari-lari kecil antara bukit Sofa dan Marwa juga sebanyak tujuh perjalanan. Pada saat itulah,  rasa pegal mulai menjalari kaki.  Oleh sebab itu,  setelah sa’i dan diikuti tahalul potong rambut beberapa helai,  kami langsung balik ke penginapan untuk segera istirahat meluruskan badan. Alhamdulillah,  kami telah menuntaskan prosesi Umrah,  mengawali pekerjaan lain yang akan menyongsong di esuk hari.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: