Archive for Agustus, 2017

Ibu Elly Waty Maliki : Wanita Indonesia yang Luar Biasa (Bagian 6)

Selesai urusan di ”Kedutaan”,  dengan diiringi sinar panas menyengat dari sang mentari,  kami nekad  meluncur ke lokasi ibu Elly. Konjen – Darul Uluum sebenarnya tidak jauh jaraknya,  namun hanya karena lokasinya tak ada plang nama,  akhirnya kami tersesat putar-putar tak jelas arahnya. Usut punya usut,  ternyata di Arab Saudi ini memasang plang nama untuk kepentingan lembaga tidaklah mudah dilakukan, apatah lagi  lembaga yang belum resmi mendapat persetujuan.  Nah,  Darul Ulum memang baru saja memperoleh persetujuan,  setelah 18 tahun berjuang untuk mendapatkan. Papan nama baru saja selesai dibuatkan, namun memang  belum sempat dipasang di pintu gerbang.

Bu Elly  adalah intelektual wanita  asal  Indonesia.  Wanita ini keturunan Padang asli,  namun telah  puluhan tahun tinggal di Arab Saudi.  Bersuamikan seorang pria asal  Indonesia kini telah meninggal dunia,  memiliki dua putra yang sekarang telah dewasa,  wanita ini memiliki energy luar biasa untuk berkarya.  Tatapan mata yang tajam  dan gaya bicara yang jelas – lugas merefleksikan betapa wanita ini memiliki cadangan samangat –  energi yang luar biasa.  Meskipun  tetap  berkewarganegaraan Indonesia,  namun  wanita ini telah sering tampil  atas nama Arab Saudi  dalam pertemuan-pertemuan internasonal  baik di dalam negeri maupun luar negeri..  Sekali lagi,  wanita ini memang bukan figur sembarangan,  karena dia seorang Doktor lulusan Al Azhar University – Cairo – Mesir.  Mulai S1, S2,  sampai S3 semua didapatkannnya dari universitas tua berkaliber internasional ini.  Disertasinya bahkan telah diterbitkan di Arab Saudi  dengan judul  Fiqih Jender.

Intelektualitas  wanita ini  memang di atas rata-rata.  Pandangan-pandangan intelektualnya biasa  diekspresikannya dalam berbagai pertemuan internasional, termasuk bahkan atas nama pemerintah Arab Saudi. Meskipun seorang intelektual, namun wanita ini tak lantas  menempatkan diri  laksana menara gading.  Sebagian besar waktunya,  justru dihabiskannya untuk  kegiatan sosial – amal,  terutama untuk memfasilitasi  putra – putri keluarga  TKI agar  mendapatkan pendidikan yang semestinya. Sekolah internasional  memang tersedia,  tetapi biayanya sangat mahal sehingga sulit terjangkau  keuangan mereka.  Apalagi bagi TKI-TKI bermasalah,   niscaya adalah sebuah kemewahan  anak-anaknya untuk bisa mendapatkan fasilitas pendidikan.

Dalam kerangka misi inilah,  bu Elly menyibukkan diri dengan membangun lembaga pendidikan Daarul Ulum yang telah dirintis sejak 1992 lampau. Problem tentu saja menghadang,  mengingat ijin pendirian semacam lembaga pendidikan  tidak mudah  didapatkan.  Perjuangan panjang dan melelahkan senantiasa  diayunkan.  Kesabaran yang luar biasa harus senantiasa digaungkan.  Justru berbekal kegigihan dan kesabaran,  serta kapasitas intelektual dan jaringan,  akhirnya idealisme dan cita-cita yang telah diperjuangkan  selama belasan tahun berhasil direalisir:  pemerintah Arab Saudi mengeluarkan ijin pendirikan lembaga pendidikan Daarul Ulum. Inilah satu-satunya lembaga pendidikan swasta yang didirikan orang asing  yang diijinkan oleh pemerintah Arab Saudi. Subhanallah…

Bu Elly anda memang wanita Indonesia yang luar biasa.  Beruntung sekali kami  bisa bertemu-berkenalan dengan anda,  melalui nomor telepon yang diberikan Mas Ferly  sehingga menjadi wasilah pertemuan kita.

Meskipun hari telah menjelang sore,  namun  mentari masih tetap  garang menatap kami.   Sang surya  masih melontarkan panas secara arogan,  sehingga peluh kami senantiasa bercucuran.  Sebenarnya fisik  kami  mulai agak  loyo. Namun,  berkaca pada  semangat bu Elly berjuang belasan tahun dalam membangun lembaga pendidikan,  maka  energi itu akhirnya tertularkan kepada kami.

Semula kami sudah mulai gontai,  mengingat  malam sebelumnya hanya istirahat dalam waktu sedikit sekali.  Namun  energi bu Elly dalam pertemuan 2,5 jam (13.30-16.00) telah memotivasi  sehingga kami bersemangat meluncur ke tempat lain.  Tujuannya adalah:  asrama (sakan)  mahasiswa Universitas Ummul Quro (UUQ).

Universitas Umm Al-Qura (Jāmiʿah ʾUmm Al-Qurā) adalah perguruan tinggi negeri di Arab Saudi di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi Arab Saudi yang didirikan pada 1981. UUQ  dianggap sebagai salah satu universitas paling bergengsi di dunia Islam karena lokasinya di Mekkah.  UUQ  semula didirikan sebagai Sekolah Tinggi Syari`ah (tahun 1949)  sebelum menjadi perguruan tinggi dan berganti nama menjadi Ummul Qura sesuai dengan dekret kerajaan pada tahun 1981.

Selain studi ilmu Syari`ah dan studi Bahasa Arab, di Universitas Umm Al Qura juga terdapat berbagai studi ilmu antara lain Manajemen Teknologi, Manajemen Bisnis, Pemasaran, Teknik, Kedokteran, Pendidikan dan berbagai Ilmu Terapan,  yang mencakup berbagai fakultas,  antara lain: Fakultas Dakwah dan UshuluddinFakultas Bahasa Arab, Fakultas Bisnis, Fakultas Pendidikan di Mekkah), Fakultas Sains terapan, Fakultas Sosial terapan, Fakultas Teknik dan Arsitektur Islam, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kedokteran, Fakultas Pelayanan Masyarakat dan Pendidikan Lanjutan, Institut Riset Ilmiah dan Kebangkitan Kebudayaan Islam, Institut Bahasa Arab bagi Pemula, Fakultas Komputer, Fakultas Farmasi, Fakultas Ilmu Medika Terapan, Fakultas Syari`ah dan Studi Islam, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan di Al-Qunfudah, Fakultas Pendidikan Guru di Al-Qunfudah, Fakultas Pendidikan Guru di Mekkah, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan di Al Leith, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan – Bagian Sastra, Fakultas Pendidikan untuk Perempuan – Ekonomi Domestik, Fakultas Pendidikan untuk Pendidikan Guru Perempuan.  UUQ telah melahirkan banyak alumni yang menjadi  tokoh di negara masing-masing,  seperti:  Abdurrahman As-Sudais  (Imam Besar Masjidil Haram), Said Agil Husin Al Munawar (Mantan Menteri Agama Republik Indonesia), Said Aqil Siradj (Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama)

 

 

Di sakan (asrama) mahasiswa UUQ ini,  kami  kembali bertemu  putra Indonesia yang luar biasa,  mas Herika Mohammad Taqy.    Dia adalah ketua PPMI Jeddah,  seorang  kandidat Doktor pada Universitas King Abdul Aziz, Jeddah.  Mas Herika telah belasan tahun tinggal di Saudi Arabia.  Berbeda dengan banyak mahasiswa Indonensia lain yang mengambil ilmu agama,  mas Herika ternyata kandidat doktor di bidang Tata Kota.

Dari beliau inilah informasi tentang bermacam sisi kehidupan sosial budaya bahkan agama Arab Saudi berhasil kami dapatkan.  Pengalamannya selama belasan tahun di Saudi dia tuangkan tanpa ada saringan kepada kami.  Pengalaman berteman dengan warga Saudi,  pengalaman bergaul dengan realitas sosial Saudi,  diterangkan secara terstruktur,  runtut,  lugas dan jelas kepada kami.

Hal yang tak kalah penting,  di lokasi mas Herika inilah kami sempat bersua dengan beberapa mahasiswa di luar Arab Saudi yang akan  menjadi peserta simposium PPMI se Timur Tengah di Madinah.  Alhamdulillah,  meskipun  tak sempat hadir dalam simposium,  namun kami berkesempatan untuk bertatap muka  dengan para peserta simposium.  Ada yang  dari  Global University di Libanon,  ada yang dari  Universitas Sudan,  ditambah beberapa mahasiswa lain dari beberapa kampus di Arab Saudi. Bahkan,  melalui jaringan ini pula beberapa hari berikutnya,  akhirnya kami berkesempatan berjumpa dengan seorang mahasiswa UEA university bernama  Oebaidillah yang juga ikut dalam simposium PPI se Timur Tengah.  Khusus dengan mas Oebaidillah kami  berdiskusi intensif di sebuah rumah makan di Zamzam Tower, pada  Kamis, 6 April pagi,  tepatnya beberapa saat sebelum kepergian kami ke Madinah Al Munawaroh.  Pemuda asal Sidoardjo  ini telah telah tinggal di UEA  sejak pendidikan SMP,  sehingga dapat melengkapi informasi tentang apa dan bagaiman realitas sosial politik UEA yang juga menjadi bagian dari kami punya  kajian.    Walhasil,  jika semula kami sempat pesimis untuk mendapat narasumber di tengah masa libur sekolah,  ternyata akhirnya  bisa kami dapatakan dengan relatif mudah.   Alhamdulillah Ya Robbil Izzah.

Setelah shalat Maghrib berjamaah di masjid  asrama universitas Ummul Quro yang dihuni oleh mahasiswa dari berbagai negara,  kami  segera pamit untuk kembali ke hotel. Malam telah menyembunyikan sang surya.  Hari sudah mulai gulita. Di tengah gelap hari Ahad inilah kami melangkah ke jalanan,  mencegat taksi  untuk mengantarkan kami pulang.  Malam itu taksi memang sangat sulit kami dapatkan,  sehingga kami naik mobil dua kali secara ketengan.  Namun demikian,   kami tetap bersyukur karena sehari penuh telah lancar  melakukan kunjungan – wawancara penelitian. Alhamdulillah ya Robb.***

Iklan

Sowan ke KJRI (Bagian 5)

Ahad  ternyata bukan hari libur bagi Saudi Arabia. Negeri ini menerapkan hari Jum’at dan Sabtu sebagai liburnya,  sedangkan hari Ahad (sesuai artinya)  justru  sebagai hari perdana sekolah dan kerja.  Oleh karena itu,  meskipun kami baru sampai di hari Sabtu malam,  namun esuk harinya kami sudah langsung tancap gas menjalankan tugas.  Pada pagi itu kami meluncur dari Mekkah menuju Jeddah.

Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI)  di Jeddah menjadi tujuan awal,  guna melaporkan diri  bahwa kami telah sampai di Arab Saudi,  sehingga  apapun yang terjadi  pada kami  akan mendapat ”perhatian”  dari  perwakilan Indonesia  di negara ini.  Sayang sekali,  sampai di Jeddah kami  tak dapat bertemu ”siapapun”  yang sebelumnya  telah menjalin kontak  dengan sejak  di tanah air.  Semua kontak person di Konjen tak berada di tempat,   sedang sibuk  dalam acara Simposium Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonensia (PPMI) se Timur Tengah yang diselenggarakan di Madinah.

Astaghfirullah,  kenapa informasi sepenting ini tak sempat kami dapatkan  ketika masih di tanah air ?  Seandainya informasi berharga ini  telah kami peroleh sebelumnya,  niscaya penjadwalan kegiatan akan kami ubah,  dimulai dari Madinah, dan bukan dari Mekah. Informasi lain yang lebih mengejutkan adalah:  justru pada hari-hari kedatangan kami,  di Saudi sedang melaksanakan libur nisfu sannah (tengah tahun).  Artinya,  seluruh perkantoran dan kampus sedang libur tanpa kegiatan,  sehingga menjadi sangat sulit untuk wawancara penelitian .  Terus terang kami sempat pesimis bahwa penelitian akan mampu mendapatkan narasumber sebagaimana  direncanakan. Namun, karena sudah terlanjur di lokasi,  kami hanya tawakal sambil berkata : hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wa ni’mannashiir:

Karena kontak person di KJRI tak ada semua,  maka  ketika hendak bertamu pun kami terpaksa harus menunggu agak lama.  Memang,  seorang ”pejabat KJRI”  yang hari itu  sedang bertugas di Madinah memberi kontak person bernama pak Agus untuk bisa dihubungi. Namun,  anehnya,  ketika kami menyodorkan nama Agus untuk ditemui,  pihak  KJRI masih bertanya Agus siapa dan Agus  bagian apa ?  Kami sempat bertanya-tanya,  kira-kira ada berapa Agus di KJRI  ini atau jangan-jangan tak satupun Agus ada di dalam kantor ini.  Dalam hati,  saya beristighfar berkali-kali,    dan mungkin karena wasilah  istighfar ini akhirnya pintu KJRI terbuka untuk kami. Alhamdulillah.

Singkat kata,  pada Ahad,  2 April 2017 ini kami akhirnya berhasil  melakukan pengurusan surat menyurat lantas disusul  wawancara secukupnya  mengingat  personil KJRI konon sedang super  sibuk mengurusi pemanfaatan program amnesti dari pemerintah Arab Saudi  terhadap para TKI bermasalah.  Setidaknya beberapa orang sempat kami jumpai di KJRI,  seperti Kepala Konsuler KJRI Jeddah bernama Dr. Rahmat Aming Lasem.  Beliaulah yang akhirnya bersedia diganggu  untuk ”mengurusi” kami.  Salah satu diantara  orang KBRI  yang masih kuingat lekat adalah :  Mas Daday,  alumnus  LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta yang berhasil menjadi local staff untuk  bagian penerjemah.  Selain ahli bahasa,  ternyata pria asal  Banten ini  mengikuti secara serius dinamika  realitas sosial kemasyarakatan di Arab Saudi, sehingga informasi-informasi yang beliau sampaikan dari jam 10.00 – 13. 00 waktu Jeddah) bisa menjadi pijakan awal  untuk menggali secara lebih luas dan dalam  pada wawancara berikutnya.  Syukron mas Daday.

Sebelum pamit,  kami menyempatkan numpang shalat Dzuhur,  bahkan  Alhamdulillah  kami  sempat pula  nimbrung makan di lokasi bersama-sama  para  staff KJRI.  Menunya,  makanan khas Indonesia : Soto dan krupuk.   Tak ada kata yang patut kami ajukan untuk budi baik mereka kecuali : Jazakallah khorul jaza’,  semoga Allah membalas anda dengan balasan kebaikan.  Amin….***