Archive for September, 2017

PEMUDA SAUDI, MAHASISWA YANG JADI SOPIR TAKSI (Bagian 8)

 

Selepas lohor pada Selasa,  4 April 2017 kami meninggalkan Rabithah Alam Islamy.  Matahari sedemikian menyengat,  menusuk  pori-pori.  Sementara  taksi yang kami butuhkan untuk membawa pulang sedemikian susah didapati.  Walhasil,  untuk beberapa saat kami terpapar di tengah mentari yang sedemikian menyengat kulit kami.  Panas berkuasa.  Terik sedemikian menyiksa.   Peluh bercucuran sehingga mempercepat proses tubuh menjadi penat. Masya Allah.  Laa haula walaa quwwata illaa billah.

Tapi di tengah ketersiksaan ini  kulihat satu dua orang arab berjalan hilir mudik  dengan santainya  di sikitar Rabithah.  Realitas ini sedikit menasehati kami  bahwa apa yang kami rasakan hanyalah dramatisasi perasaan saja.  Hal inilah yang menyebabkan kami merasa perlu untuk bersabar.

Alhamdulillah, beberapa saat berikutnya,  akhirnya kami bisa mendapatkan taksi on-line yang ternyata disetiri seorang pemuda asli Saudi.  Subhanallah,  lelaki belia berumur 23 tahun tersebut adalah seorang mahasiswa bidang ekonomi dari Universitas Ummul Quro. Dari cara bicara,  saya bisa membaca:  bahwa  pemuda Saudi ini  bersikap sangat terbuka, open minded,  dan optimis dalam menatap  hidup. Dia bukan tipe pemalas apatah lagi manja sebagaimana stereotipe terkait warga Saudi. Buktinya, selain aktif sebagai mahasiswa,  ternyata dia  menyibukkan diri mencari uang dengan memanfaatkan mobilnya sebagai kendaraan sewa online.

Pemuda bernama Abdur Rahim ini juga figur terbuka,  terbukti dari gaya bicaranya yang ceplas ceplos  menjawab apapun pertanyaan kami,  bahkan ketika kami  menyinggung soal-soal  politik. Realitas ini seolah mematahkan image yang kami dapatkan sebelumnya,  bahwa orang Saudi tabu bicara soal politik,  sebagaimana sempat  digambarkan KJRI Jeddah  maupun mas Izhar yang menjadi pemandu kami.

Image tentang ”tabu politik”  ini  memang telah diwanti-wanti ketika kami berkorespondensi  terkait persiapan kami ke Arab Saudi.  Proposal dan surat yang kami kirimkan pun  berusaha diubah sedemikian rupa,  untuk mengaburkan sisi politik dari data yang ingin kami dapatkan.  Meski demikian,  toh akhirnya KBRI dan KJRI tetap tak bisa memfasilitasi kedatangan kami,  apatah lagi menghubungkan dengan para akademisi.  Mereka memang super sibuk,  dan lebih-lebih lagi  mungkin alergi dengan nuansa politik dalam kajian kami.  Begitu ketemu mas Izdihar,  mahasiswa Madinah yang memandu kunjungan kami,  informasi serupa juga kami terima.  Menurutnya,  mahasiswa Indonesia tak akan pernah bicara politik, karena dimana-mana terdapat mata penguasa,  dan ketika ditangkap  akhirnya bisa diekstradisi tanpa menyelesaikan sekolahnya.  Berpijak pada realitas ini,  kami sempat  ”frustasi” jangan-jangan kami tak akan mendapatkan  informasi.

Namun,  pandangan ini  pelan namun pasti mulai terkikis.   Pertama sekali,  ketika  jumpa para kandidat  Doktor  di Makkah,  ternyata kami dapat menggali informasi sosial keagamaan yang bahkan menyerempet isu politik juga.  Pun ketika berjumpa dengan  mahasiswa asli Saudi ini,  ternyata soal isu politik tidaklah seseram  apa yang digambarkan.  Dengan ceplas-ceplos ia menggambarkan situasi kepolitikan yang ia rasakan.

Pada satu sisi ia memberi kritikan,  terkait dengan situasi perekonomian.  Mulai dari  hukuman lalu lintas yang mahal dan memberatkan sampai pada naiknya harga bensin untuk kendaraan.  Namun,  dia sama sekali tidak  kecewa pada pemerintahan yang ada,  melainkan justru bangga terhadapnya.  ” Raja-raja sebelumnya selalu ”takluk” pada Amerika,  sultan Salman menampilkan  sikap berbeda.  Ketika Barrack Obama berkunjung ke Saudi,  begitu Adzan dikumandangkan,  Raja Salman langsung meninggalkan sang presiden AS sendirian.  Dia sengaja menampakkan,  bahwa basa-basi diplomatik harus dikalahkan ketika panggilan Shalat telah dikumandangkan. Realitas lain terkait dengan profil politik luar negeri Saudi yang tampil dengan gaya high-profil  bukan saja dalam konteks kawasan (Bahrain dan Yaman) melainkan bahkan dalam konteks internasional.  Singkat kata,  Salman telah mengangkat harkat dan martabat masyarakat Saudi  di hadapan Amerika dan Dunia.

Pemuda Saudi ini bicara politik secara berapi-api,  sehingga memupus kekhawatiran kami  bahwa di Saudi bicara politik  sangat tabu sekali.  Bahkan akibat aura ini pula,  mas Izdihar yang semula berpandangan tabu bicara politik,  akhirnya ikut hanyut  tak tabu lagi sental-sentil soal politik.

Rasa penat yang sempat kami rasakan untuk sementara sirna mendengar  kicauan luar biasa dari pemuda Arab ini.  Barulah ketika sampai hotel,  kami langsung menghempaskan badan akibat penat kembali menjerat.  Terpapar mentari beberapa saat lamanya ketika menunggu taksi,  ternyata telah menguras tenaga sehingga telah menyisakan rasa penat dan letih. ***

Iklan

Di Rabithah ’Alam Islamy Kami Bertemu Ustadz Nasruddin Al Palembangy MA. (Bagian 7)

Senin 2 April 2017 pagi,  mentari telah menyapa kami dengan ramah sekali.  Sinar sang surya sedemikian ceria,  menandakan  pagi ini buana sedang bahagia. Saya, Wawan, mas Hamdan dan Fakhry  tentu saja menyambut suasana juga dengan suka cita.

Di pagi ceria ini kami telah membuat janji dengan   orang Arab Saudi,  untuk bertemu di   Rabitah  ‘Alam Islamy.  Singkat cerita,  setelah melalui proses pemeriksaan di pos penjagaan,  akhirnya sampai juga kami  di tempat tujuan:  ruang kerja si orang arab tadi.

Rabitah ’Alam Islamy adalah   sebuah nama besar  yang telah saya dengar sejak lebih dari seperempat abad lamanya.  Nama dan perbawanya sedemikian monumental  di telinga ”warga Islam” Indonesia,  terutama bagi mereka yang memiliki jaraingan dengan Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII).  Melalui jaringan  DDII – Rabitah Alam Islamy ini kudengar  banyak sekali  santri Indonesia yang berhasil dikirim sekolah di Timur Tengah terutama Arab Saudi. Jaringan intelektual dakwah ini terutama sangat menonjol pada era DDII masih dipimpin Mohammad Natsir.  Konon,  hanya berbekal tanda tangan tokoh Masyumi ini, seseorang langsung bisa berangkat untuk menuntut ilmu di Arab Saudi. Sayangnya,  setelah Natsir meninggal pelan namun pasti gaung ini mulai meredup   –setidaknya untuk telinga saya pribadi.  ”Orang arab memang lebih percaya pada ketokohan pribadi.  Dus,  ketika sang tokoh sudah tak ada,  maka kerjasama biasanya menjadi  tak sekuat era sebelumnya”,  demikian alasan yang sering kudengar terkait dengan fenomena ini.

Saat ini,  memang banyak tokoh Islam indonesia  yang menjembatani kerjasama Rabitah dengan intelektual Dakwah di Indonesia.  Khusus Nama  Hidayat Nur Wahid misalnya,  oleh 3 orang Rabitah yang berhasil kami temui,  memang sempat disebut beberapa kali.  Namun,  sekali lagi,  gaung kerjasama ini tidak lah sekokoh era jamannya M. Natsir lagi.

”Kami masih kuat kerjasama,  terutama untuk pelatihan para calon pendakwah di Indonensia,  terutama untuk  para da’i yang akan dikirim ke wilayah Indonesia bagian Timur”, jelas Syekh Muhammad Al Qathani.  Doktor yang bertanggung jawab pada urusan Da’wah dan pendidikan di Rabithah itu menambahkan,  ”kerjasama itu terutama  dalam .wujud  daurah tiga tahun  untuk mendalami bahasa Arab dan Islam.  Artinya,  pendidikan untuk level diploma,  bukan untuk level sarjana”.

Ketika Fakhry,  koordinator kami, bertanya  adakah kerjasama antara Rabitah Alam Islamy dengan Jamaah di Arab Saudi agar peserta daurah bisa melanjutkan ke level sarjana.   Ustadz Nasruddin Al Palembangy  MA yang menjadi kontak person di Rabithah menjawab: ”tak ada,  silahkan saja  berhubungan langsung dengan Jamiah untuk mencari peluang pendidikan lanjutan”.

Selama tiga jam di Rabithah (11.30 – 13.00) kami berjumpa dan atau  wawancara dengan tiga orang Arab, yakni:Dr.  Syekh Muhammad Al Qathani ,  Abdullah MA,  dan .Nasruddin Al Palembangy MA.  Lho,  kenapa orang terakhir memakai nama  al Palembangy ? usut punya usut ternyata dia memiliki darah Palembang – Indonesia,  dari garis kakeknya. Fenomena warga Saudi asal Indonesia ini sebenarnya tidak terlalu asing di telinga,  sebab gejala ini bahkan sudah ada jauh sebelum indonesia ada.  Mohammad Darwis (pendiri Muhammadiah)  dan Hasyim Asy’ari (pendiri NU) misalnya, ternyata dahulu sama-sama memiliki  guru bernama akhir :    Al Minangkabawy  (asal Minangkabau)  dan     Al Termashy (asal Termas),  disamping tokoh-tokoh lain salah satunya    Al Yamani (asal Yaman). Intinya,  asal-usul  orang asing yang menetap dan atau bahkan menjadi warga negara Saudi  sampai kapanpun tetap bisa ditelusuri,  terefleksi dari nama akhir yang menyertai.

Saat sekarang tentu saja tidak mudah untuk menjadi warga Saudi,  meskipun telah puluhan tahun tinggal di tanah suci. Hanya orang yang memiliki talenta mumpuni yang tampaknya bisa mendapat kewarganegaraan kehormatan.

”Bahkan  era sekarang,   tinggal di Arab Saudi bukan lagi  sebuah pilihan yang menggiurkan,  mengingat banyak sekali aturan dan pembiayaan yang harus dikeluarkan”,   kata Muhammad Isa  dan  Muhammad Ayub pada sebuah kesempatan lain  di Madinah.  Kakak beradik  yang telah menetab di Saudi sejak usia dini  menambah informasi, ”khusus mengenai tarif pembiayaan,  terutama diterapkan seiring dengan kondisi ekonomi Saudi yang mulai kesulitan .  Harga minyak yang selama ini menjadi andalan,  sekarang luluh lantak berantakan. Terpaksalah pemerintah Saudi berusaha mencari alternatif pendapatan,  membangun sektor wisata,  termasuk mengenakan biaya 2 ribu real untuk yang umroh lebih dari sekali  dalam setahun. Di dalam negeri subsidi minyak  dikurangi,  setiap pelanggaran termasuk pelanggaran  lalulintas dikenakan sangsi berbiaya tinggi, dan itu tadi,  para mukimin non Saudi dikenakan pajak yang juga tak kalah tinggi”,  tambah  dua bersaudara yang hampir mirip wajahnya,  ”kami pun,  meski telah puluhan tahun tinggal di sini,  kalau sudah selesai pendidikan,  akan pulang ke Indonesia lagi”.  Pungkas Ayub – Isa di tempat tinggalnya,  Asrama  mahasiswa Universitas Islam Madinah..

Mentari terus meninggi.  Sinar sang surya  makin panas menusuk bumi.  Udara  di sekitar makin  mendidih  gerah sekali.   Panas  menusuk.  Gerah menyiksa.   Untuk menetralisir  ”siksaan”  ini, wawancara  segera  diakhiri.  Kamipun sepakat  untuk  menyejukkan hati  dengan  sholat  jamaah  menghadap Ilahi.  Ya.. Rob,  terima kasih atas segala nikmat yang engkau beri,  sehingga kami bisa  berkunjung ke tanah suci ,  wilayah panas namun dapat menyejukkan pikiran dan  hati kami.***

Orang Sibuk atau Orang Produktif, Anda Termasuk Kategori Mana?

Orang Sibuk atau Orang Produktif, Anda Termasuk Kategori Mana?Sobat,   acapkali kita  mendengar  ungkapan bahwa antara orang sibuk dan orang produktif tentulah sangat berbeda,   sama persis dengan perbedaannya antara pekerja keras dan pekerja cerdas.  Sebenarnya apa dan bagaimana perbedaan antara keduanya ? Sobat,  untuk  sekedar tahu  berikut saya kutipkan  sebuah artikel  menarik tentang perbedaan antara orang sibuk dan orang produktif.
Image result for sibuk dan produktifSobat,  siapakah diri kita? Orang sibuk atau produktif. Di antara orang sibuk dan produktif ada perbedaan mendasar. Orang sibuk belum tentu produktif. Akan tetapi, orang yang produktif tentunya mempunyai kesibukan.Dari uraian tersebut, menjadi produktif adalah pilihan yang terbaik daripada menjadi sibuk juga belum tentu memberikan banyak manfaat. Apa perbedaan antara sibuk dan produktif? Di bawah ini beberapa hal yang dapat membedakan antara orang sibuk dan produktif.
1. Misi Terukur vs Misi yang Tidak Terukur.Orang sibuk cenderung tidak memiliki tujuan. Orang sibuk mengambil banyak langkah agar mendapatkan hal yang terbaik bagi dirinya.Sementara orang produktif berbeda. Ia akan mengambil langkah yang jelas dengan tujuan yang dicapainya nanti. Dengan begitu, semua keputusan dan langkahnya lebih terukur.Related image
2. Prioritas Orang Sibuk vs Prioritas Orang Produktif.Orang yang sibuk akan mempunyai banyak prioritas untuk dijalankan. Terkadang hal tersebut menjadikannya tidak fokus sehingga hasilnya kurang sempurna.Sementara orang yang produktif jelas memiliki prioritas dalam hidupnya yang tak sebanyak orang sibuk. Ia tahu mana yang akan dicapai dan akan jalankan sebagai prioritas utama.
Related image
3. Setuju Tanpa Pertimbangan vs Setuju dengan Penuh Pertimbangan.Setuju tanpa pertimbangan menjadi ciri yang dimiliki orang yang suka dengan banyak kesibukan. Ia cenderung menerima tawaran dengan mudah tanpa berpikir mampu atau tidak.Sementara orang yang produktif cenderung menerima tawaran dengan banyak pertimbangan. Karena itu, ia akan memperhitungkan terlebih dahulu kemudian menyesuaikan dengan kemampuan yang dimilikinya.
4. Bertidak Dulu Apa Pun Hasilnya vs Membayangkan Hasilnya Baru Bertindak.Orang yang selalu sibuk cenderung fokus pada apa yang dikerjakan dan jarang memikirkan kejelasan dari hasil kerjanya nanti.Sementara orang yang produktif cenderung memikirkan kejelasan dari apa yang dilakukannya. Orang produktif cenderung memikirkan dan mengevaluasi hasil kerja setelah melakukannya.Related image
5. Menonjolkan Kesibukan vs Menonjolkan Hasil Kerja.Sibuk dengan membicarakan tentang apa yang sudah dan sedang dilakukan adalah ciri-ciri orang sibuk. Sementara orang produktif cenderung berbicara tentang hasil dan pencapaian yang telah diraih.Karena itu, orang yang produktif cenderung mempunyai pengalaman dengan pencapaian yang baik dibandingkan dengan orang sibuk yang memliki banyak aktivitas.
Related image
6. Menyelesaikan Setengah-Setengah vs Menyelesaikan hingga Tuntas.Orang sibuk biasanya suka melakukan banyak hal, tapi menyelesaikannya setengah-setengah. Berbeda dengan orang produktif yang melakukan satu hal dan fokus pada hal tersebut hingga selesai.Contohnya, orang produktif akan mengikuti kelas menulis dengan target akan menerbitkan buku dalam kurun waktu ke depan. Sementara orang sibuk akan mengikuti banyak kelas semisal menulis, tari, seni dan banyak lagi tanpa ada tujuan yang jelas.
7. Sibuk dengan Banyak Hal vs Fokus pada Beberapa Hal.Menangani banyak hal atau multitasking adalah ciri dari orang yang sibuk. Berbeda dengan orang yang produktif yang hanya tertuju pada beberapa hal. Akan tetapi, mempunyai hasil yang memuasakan.
8. Responsif vs Efektif.Cepat merespon segala notifikasi pada media sosial dan cenderung aktif dalam merespon hal-hal yang terjadi di sekitarnya adalah ciri lain orang sibuk. Sementara orang yang produktif akan memanfaatkan waktu dengan baik dan memilih hal-hal yang lebih bermanfaat.
9. Suka Melihat Orang Sibuk vs Suka Melihat Orang Melakukan secara Efektif.Ciri yang satu ini biasanya dimiliki pimpinan (manager) di mana seorang manager yang sibuk akan suka melihat timnya menjadi sibuk. Sementara orang produktif cenderung mengarahkan timnya untuk melakukan pekerjaan dengan cara-cara yang efektif.
10. Berbicara Tentang Perubahan vs Melakukan Perubahan.Orang yang lebih cenderung melakukan perubahan pada dirinya dengan sedikit bicara adalah salah satu ciri orang produktif. Sementara orang sibuk masih sebatas berbicara tentang perubahan yang akan dilakukan.
 
Dengan menghitung dan memanfaatkan waktu yang dimiliki, mengatur tujuan serta melakukan penataan pada tujuan ke depan adalah cara orang produktif dalam berpikir. Karena itu, menjadi produktif adalah cara yang terbaik bagi kita untuk memanfaatkan waktu yang dimiliki. Sobat,  anda memilih mana,  antara menjadi orang sibuk dan orang produktif ?  kalau saya sih maunya menjadi orang produktif saja.  He..he…
Sumber: cermati.com/Editor: Zaenal A./antaranews.com/berita/270124
Ilustrasi. (iraqenergy.org)/Yuk bisnis.com