Archive for Oktober, 2017

Naibul Mudiir Yayasan Al Hai’ah Haramain pimpinan Syekh As-Sudais: Undangan Makam Syekh Ismail Al Harby (Bagian 10)

Di hari Selasa  penat telah menguasai raga.  Rasa ngilu  bahkan telah menyerang dua betisku yang nyaris tak kuasa menahannya. Maklum,  sejak era kedatangan,  kami telah memforsir diri, kurang memberi hak pada badan untuk  istirahat sesekali.  Apalagi setiap keluar hotel,  kami langsung terpapar  sang mentari.  Panas menusuk kulit.  Terik menyergap pori-pori.  Gerah menguasai seluruh tubuh dari kepala hingga ujung kaki.

Alhamdulillah,  pada 4 April ini  kami tak memiliki jadwal wawancara pagi,  tetapi baru terjadwal di malam hari,  dengan seorang alumnus Daurah Rabitah ’Alam Islamy.  Beliau adalah asli Indonesia,  yang saat ini berprofesi sebagai seorang tarjim (penerjemah) di Masjil Haram.  Di tengah jeda inilah,  saya rehat sesaat,  sekalian mengurangi rasa sakit dengan minum obat.  Semula kuminum Panadol untuk mengurangi rasa sakit.  Namun karena efeksnya belum begitu kurasa,  akhirnya Kataflam kutenggak berikutnya. Alhamdulillah,  rasa ngilu di sekujur badan mulai menghilang,  dan rasa nyeri di kedua betis kaki  terasa agak berkurang. Tidur dan tidur,  itulah kegiatan di hari itu yang sengaja kulakukan.  Hanya makan dan sholat yang menjadi jeda waktu tidur seharian.

Menjelang Isya’,  kami kembali datang ke masjidil haram,  tentu saja untuk sholat dan tak lupa untuk bertemu dengan pak Ayumy  salah satu nara sumber kami,  persis sesuai dengan janji.  Singkat kata, ba’da sholat Isya’ kami mencari pak Ayumy sesuai dengan informasi lokasi.  Pak Ayumi ternyata masih sibuk  membagi-bagi buku kepada para jamaah shalat.  Di Arab Saudi,  memang terdapat beberapa lokasi pembagian buku gratis  dalam berbagai bahasa,   sebagai ladang penyebaran da’wah.  Selain di lokasi pada Ayumi ini,  di maktabah sebagai tempat bekas kelahiran nabi,  biasanya juga dilakukan pembagian buku-buku da’wah.  Pak Ayumi konon memiliki posisi sebagai seorang tarjim,  seorang penerjemah,  sehingga sangat mungkin buku-buku dalam versi Indonesia (dan Malaysia)  merupakan salah satu karya dari pak Ayumi.

Beberapa saat kami kembali duduk menunggu pak Ayumi bertugas di masjidil Haram ini.  Tak berapa lama,  pak Ayumi mempersilahkan kami untuk masuk ke sebuah lokasi.  Posisi tetap di dalam masjid, hanya saja lokasi diberi batasan,  sehingga tidak semua orang bisa masuk ke dalam ”ruangan”.  Namun,  setelah masuk ruangan,  dan setelah kami dipersilah duduk pada kursi yang telah disediakan,  ternyata pak Ayumi justru tak ikut duduk bersama kami.  Beliau malah sibuk ”menjamu” kami dengan minuman  dan biskuit makanan ringan. Pak Ayumi hanya menyerahkan kami kepada seorang pria Saudi, yang dari segi umur berkisar antara akhir 30 an dan awal 40 an. Lha,  kenapa pak Ayumi tak mau ”melayani” kami dan justru menyerahkan kepada seorang pria Saudi ?.

Ternyata,  pria ini bukan figur sembarangan,  karena dialah salah seorang ulama Saudi,  bernama Syekh Ismail. Bahkan,  pria ini adalah seorang Naibul Mudir (wakil direktur) haramain,  Naibul Mudir lembaga amar ma’ruf nahi munkar di Arab Saudi  yang dipimpin Syekh Shudais,  salah seorang imam paling terkenal di Indonensia.  Oh…ternyata orang ini bukan figur sembarangan,  dan oleh sebab itu,  pak Ayumy ”sengaja tidak berani ikut campur, dan justru diserahkan kepada tokoh yang semestinya”.  Subhanallah.  Inilah karunia Allah yang tiba-tiba,  sebab tidak sembarang waktu dan tempat bisa kita dapatkan.  Bahkan,  kandidat Doktor sekalipun sulit sekali bisa bertemu dengannya,  akibat posisi dan mungkin pekerjaan yang super sibuk mengelilingi. Walhasil,  ketika hal ini kita ceritakan kepada seorang kandidat Doktor asal Indonensia,  hanya satu komentar yang keluar dari bibirnya. ”bagaimana anda bisa berjumpa ?.

Tentu saja kami tak bisa menjawabnya.  Bahkan,  saya sendiri juga bertanya-tanya,  apakah pertemuan ini sengaja dirancang oleh pak Ayumy ataukah secara kebetulan beliau sedang inspeksi ke lokasi, sehingga pak Ayumi kami langsung diserahkan untuk dijumpai ? Pertanyaan saya ini sangat masuk akal,  sebab di hari berikutnya,  ketika kami datang ke lokasi yang sama,  bertanya pada petugas di sana,  ternyata mereka tak tahu menahu di mana Syekh Ismail ”berada”.

Dalam pertemuan itu,  tampaknya Syekh Ismail merasa nyaman dengan kami,  di tengah kepahaman bahasa Arab yang terbatas sekali. Pertanyaanku pun yang jumlahnya lumayan banyak,  semua ku katakan melalui perantaraan Fakhry.  Tapi,  sekali lagi Syekh Ismail tampaknya ”menikmati”  pertemuan ini.  Pertemuan berlangsung agak lama, 21.30-23.00.  Bahkan,  pak Ayumi saja misalnya,  sampai minta ijin pulang duluan,  karena capek telah bekerja seharian.  Bahkan,  sempat kulihat seorang”asisten Arab” berulangkali interupsi,  tampaknya mengingatkan ”soal  waktu” kepada Syekh Ismail.  Sepertinya,  beliau memiliki jadwal lain.  Namun berulangkali sang Syekh memberi sinyal  bahwa beliau ”masih nyaman” untuk berdakwah kepada kami.

Bahkan,  mungkin karena belum merasa cukup dengan pertemuan itu.  Maka di akhir perjumpaan,  Syekh Ismail masih menyatakan mengundang kami untuk makan malam di rumahnya.  Kami senang sekali mendapat undangan ini.  Hanya saja,  undangan definitif  baru datang pada Kamis pagi  untuk  makan bersama di malam hari. Walhasil,  mengingat Kamis pagi kami sudah harus meninggalkan Mekah untuk menuju Madinah,  maka undangan dari Ulama Saudi ini terpaksa tidak bisa kami sanggupi. Afwan ya Syekh.***

Iklan

Museum Haromain : Membangun Ekonomi dari Sektor Wisata ? (Bagian 9)

Harga minyak  di pasar internasional memang sedang runtuh,  sebuah realitas yang tentu saja sangat berpengaruh luar biasa terhadap negara-negara yang mengandalkan ekonominya di sektor minyak.  Arab Saudi tampaknya gelapan terhadap realitas ekonomi kekinian.  Jika negara-negara teluk di sekitarnya seperti  Uni Emirat Arab, Qatar,  dan Bahrain telah menginvestasikan  hasil minyak  untuk sektor lain termasuk pariwisata – belanja,  namun khusus Saudi selama ini tampaknya agak terlena.  Walhasil,  di tengah rontoknya harga minyak dunia,  Saudi yang selama ini terlena,  kini baru terbangun tersadar untuk menata.

Raja Salman  kini telah membangun Visi 2030, termasuk salah satunya dengan mengandalkan sektor pariwisata.  Kesadaran ini sebenarnya sangat terlambat,  mengingat telah banyak sekali situs-situs penting justru telah telanjur digusur akibat visi agama wahabiah yang sejak dahulu didakwa sebagai ”penghancur situs-situs peradaban Islam”.  Tujuannya  memang mulai,  mencegah  terjadinya TBC (Tahayul – Bid’ah- Churafat),  namun  caranya terlalu ekstrim.  Bahkan,  karena konteks ini pula,  tokoh-tokoh Islam di tahun 1900an awal sempat membuat Majelis Hijaz dalam kerangka protes,  memberi masukan terhadap penghancuran situt-situs peradaban Islam.

Kini,  pemerintah Saudi mulai menyadari betapa penting membangun sektor wisata sebagai alternatif untuk mecari sumber dana penghidupan.  Sektor wisata tampaknya juga digalakkan.  Mungkin salah satunya  karena kesadaran ini pula,  Saudi kini telah membuat berbagai rumah  ma’arid (pameran)  dan museum peradaban.  Di kota Makkah misalnya telah dibangun Museum Haramain,   sedangkan di Madinah (sejak 2015) lampau telah diresmikan-dibuka Pameran Al Qur’an dan Pameran Asmaul Husna. Khusus mengenai Pameran masjid Nabawi meskipun namanya telah terpampang sejak 2015 lampau ketika saya ziarah ke tempat ini,  namun sampai kunjunganku di tahun 2017 ini masih juga belum dibuka.

Senin sore – malam (17.00 – 19.00) ini,  kami menyempatkan diri berkunjung ke  Museum Haromain.  Kenapa kami datang malam hari ? Ada alasan terkait ini, pertama,  Siang hari tadi kami kelelahan luar biasa,  akibat terpapar panas menunggu taksi di depan Rabitah ’Alam Islamy. Kami pulang dari lokasi setelah shalat Dzuhur dan mampir sejenak ke maktabah untuk mendapatkan hadiah buku.  Sambil menenteng belasan buku-buku tebal ini,  kami terpapar mentari akibat menunggu transportasi dalam waktu lama sekali.  Peluh terkuras,   Energi pun ikut terkuas.  Walhasil,  akhirnya kami pulang,  untuk mengumpulkan energi tambahan.  Kedua,  datang ke museum pada siang hari biasanya dilakukan berombongan,  sehingga perlu menyertakan ”surat keterangan”.  Karena kami hanya berempat,  maka untuk menghindari aturan,  mas Izdihar sengaja mengajak kami datang di malam hari. Walhasil,  setelah shalat Maghrib kami langsung meluncur ke lokasi.

Berbagai foto  dan  barang peninggalan era lama di pajang di lokasi.  Terkait ka’bah misalnya,  dipamerkan : balok kayu bekas tiang ka’bah,  bekas pintu ka’bah,  bekas talang emas di hijir ismail,  besi pembungkus hajar aswad,  termasuk bekas tangga yang biasa dipakai untuk masuk ke dalam ka’bah.  Sebab,  pintu ka’bah posisinya memang tidak menempel di tanah,  namun berlokasi  agak di atas,  sehingga untuk memasukinya diperlukan sebuah tangga.  Di museum juga dipamerkan  foto-foto sejarah keberadaan sumur Zam-zam dari masa ke masa. Hal yang menarik adalah peninggalan bekas “rumah penutup” ka’bah yang terbuat dari kuningan.  Bahkan,  dalam museum di tampilkan berbagai mata uang kuno  asal berbagai negara   yang sempat  tercemplung atau sengaja dicemplungkan dalam  sumur zamzam.  Ketika sumur dikuras,  koin-koin ini lantas dikumpulkan,  dan ia menjadi bagian dari  pameran.

Singkat kata,  banyak sekali berbagai benda berharga  dipamerkan di museum ini..  Sayangnya, manajemen perawatan dan keselamatan benda-benda ”purbakala” ini  kurang profesional,  sehingga pengunjung dapat menyentuh bakan mungkin mengorek-ngoreknya.  Idealnya,  segala benda berharga ini dimasukkan dalam lemari kaca,  sehingga pengunjung cukup melihat dengan tanpa menyentuhnya.***