Naibul Mudiir Yayasan Al Hai’ah Haramain pimpinan Syekh As-Sudais: Undangan Makam Syekh Ismail Al Harby (Bagian 10)

Di hari Selasa  penat telah menguasai raga.  Rasa ngilu  bahkan telah menyerang dua betisku yang nyaris tak kuasa menahannya. Maklum,  sejak era kedatangan,  kami telah memforsir diri, kurang memberi hak pada badan untuk  istirahat sesekali.  Apalagi setiap keluar hotel,  kami langsung terpapar  sang mentari.  Panas menusuk kulit.  Terik menyergap pori-pori.  Gerah menguasai seluruh tubuh dari kepala hingga ujung kaki.

Alhamdulillah,  pada 4 April ini  kami tak memiliki jadwal wawancara pagi,  tetapi baru terjadwal di malam hari,  dengan seorang alumnus Daurah Rabitah ’Alam Islamy.  Beliau adalah asli Indonesia,  yang saat ini berprofesi sebagai seorang tarjim (penerjemah) di Masjil Haram.  Di tengah jeda inilah,  saya rehat sesaat,  sekalian mengurangi rasa sakit dengan minum obat.  Semula kuminum Panadol untuk mengurangi rasa sakit.  Namun karena efeksnya belum begitu kurasa,  akhirnya Kataflam kutenggak berikutnya. Alhamdulillah,  rasa ngilu di sekujur badan mulai menghilang,  dan rasa nyeri di kedua betis kaki  terasa agak berkurang. Tidur dan tidur,  itulah kegiatan di hari itu yang sengaja kulakukan.  Hanya makan dan sholat yang menjadi jeda waktu tidur seharian.

Menjelang Isya’,  kami kembali datang ke masjidil haram,  tentu saja untuk sholat dan tak lupa untuk bertemu dengan pak Ayumy  salah satu nara sumber kami,  persis sesuai dengan janji.  Singkat kata, ba’da sholat Isya’ kami mencari pak Ayumy sesuai dengan informasi lokasi.  Pak Ayumi ternyata masih sibuk  membagi-bagi buku kepada para jamaah shalat.  Di Arab Saudi,  memang terdapat beberapa lokasi pembagian buku gratis  dalam berbagai bahasa,   sebagai ladang penyebaran da’wah.  Selain di lokasi pada Ayumi ini,  di maktabah sebagai tempat bekas kelahiran nabi,  biasanya juga dilakukan pembagian buku-buku da’wah.  Pak Ayumi konon memiliki posisi sebagai seorang tarjim,  seorang penerjemah,  sehingga sangat mungkin buku-buku dalam versi Indonesia (dan Malaysia)  merupakan salah satu karya dari pak Ayumi.

Beberapa saat kami kembali duduk menunggu pak Ayumi bertugas di masjidil Haram ini.  Tak berapa lama,  pak Ayumi mempersilahkan kami untuk masuk ke sebuah lokasi.  Posisi tetap di dalam masjid, hanya saja lokasi diberi batasan,  sehingga tidak semua orang bisa masuk ke dalam ”ruangan”.  Namun,  setelah masuk ruangan,  dan setelah kami dipersilah duduk pada kursi yang telah disediakan,  ternyata pak Ayumi justru tak ikut duduk bersama kami.  Beliau malah sibuk ”menjamu” kami dengan minuman  dan biskuit makanan ringan. Pak Ayumi hanya menyerahkan kami kepada seorang pria Saudi, yang dari segi umur berkisar antara akhir 30 an dan awal 40 an. Lha,  kenapa pak Ayumi tak mau ”melayani” kami dan justru menyerahkan kepada seorang pria Saudi ?.

Ternyata,  pria ini bukan figur sembarangan,  karena dialah salah seorang ulama Saudi,  bernama Syekh Ismail. Bahkan,  pria ini adalah seorang Naibul Mudir (wakil direktur) haramain,  Naibul Mudir lembaga amar ma’ruf nahi munkar di Arab Saudi  yang dipimpin Syekh Shudais,  salah seorang imam paling terkenal di Indonensia.  Oh…ternyata orang ini bukan figur sembarangan,  dan oleh sebab itu,  pak Ayumy ”sengaja tidak berani ikut campur, dan justru diserahkan kepada tokoh yang semestinya”.  Subhanallah.  Inilah karunia Allah yang tiba-tiba,  sebab tidak sembarang waktu dan tempat bisa kita dapatkan.  Bahkan,  kandidat Doktor sekalipun sulit sekali bisa bertemu dengannya,  akibat posisi dan mungkin pekerjaan yang super sibuk mengelilingi. Walhasil,  ketika hal ini kita ceritakan kepada seorang kandidat Doktor asal Indonensia,  hanya satu komentar yang keluar dari bibirnya. ”bagaimana anda bisa berjumpa ?.

Tentu saja kami tak bisa menjawabnya.  Bahkan,  saya sendiri juga bertanya-tanya,  apakah pertemuan ini sengaja dirancang oleh pak Ayumy ataukah secara kebetulan beliau sedang inspeksi ke lokasi, sehingga pak Ayumi kami langsung diserahkan untuk dijumpai ? Pertanyaan saya ini sangat masuk akal,  sebab di hari berikutnya,  ketika kami datang ke lokasi yang sama,  bertanya pada petugas di sana,  ternyata mereka tak tahu menahu di mana Syekh Ismail ”berada”.

Dalam pertemuan itu,  tampaknya Syekh Ismail merasa nyaman dengan kami,  di tengah kepahaman bahasa Arab yang terbatas sekali. Pertanyaanku pun yang jumlahnya lumayan banyak,  semua ku katakan melalui perantaraan Fakhry.  Tapi,  sekali lagi Syekh Ismail tampaknya ”menikmati”  pertemuan ini.  Pertemuan berlangsung agak lama, 21.30-23.00.  Bahkan,  pak Ayumi saja misalnya,  sampai minta ijin pulang duluan,  karena capek telah bekerja seharian.  Bahkan,  sempat kulihat seorang”asisten Arab” berulangkali interupsi,  tampaknya mengingatkan ”soal  waktu” kepada Syekh Ismail.  Sepertinya,  beliau memiliki jadwal lain.  Namun berulangkali sang Syekh memberi sinyal  bahwa beliau ”masih nyaman” untuk berdakwah kepada kami.

Bahkan,  mungkin karena belum merasa cukup dengan pertemuan itu.  Maka di akhir perjumpaan,  Syekh Ismail masih menyatakan mengundang kami untuk makan malam di rumahnya.  Kami senang sekali mendapat undangan ini.  Hanya saja,  undangan definitif  baru datang pada Kamis pagi  untuk  makan bersama di malam hari. Walhasil,  mengingat Kamis pagi kami sudah harus meninggalkan Mekah untuk menuju Madinah,  maka undangan dari Ulama Saudi ini terpaksa tidak bisa kami sanggupi. Afwan ya Syekh.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: