Archive for November, 2017

Mengunjungi Pusat-pusat Peradaban Islam di Makkah Al Mukarromah : Gua Tsur yang Melegenda (Bagian 12)

Panas menyengat kulit. Gerah menggigit pori-pori.   Kami bersegera  meninggalkan Ma’la lokasi  peristirahatan terakhir  ummul mu’minin Siti Khadidjah Binti Khuwailid,  mendiang  istri pertama dan utama dari baginda Rasulullah SAW.

Singkat kata,  dengan kendaraan sewa,  akhirnya sampailah kami  di  sebuah bukit  yang terkenal sebagai lokasi  Goa Tsur.  Dahulu,  di tahun 1997 saya sudah berkunjung ke lokasi ini,  dan baru  di tahun 2017 ini saya  singgah kembali. Jika pada kunjungan pertama lokasi bukit Tsur masih berada di tengah padang pasir Gersang,  maka pada 20 tahun berikutnya telah terdapat banyak pemukiman telah mengelilinginya.  Jika jaman dahulu mobil  yang mengantarkan kami dapat lalu lalang dengan leluasa,  maka  pada saat ini untuk mencari lokasi parkir saja agak kesusahan.  Itulah perkembangan  yang hanya selisih dua dekade saja lamanya.

Di Goa Tsur inilah dahulu Rosulullah sempat  bersembunyi dari  kejaran pasukan kafir Quraisy yang hendak membunuhnya ketika nabi  melakukan perjalanan hijrah dari Mekkah hendak menuju Madinah.

Banyak cerita menarik terkait dengan kisah Tsur,  beberapa di antara adalah :

(1). Persembunyian Tsur memang sudah direncanakan secara matang oleh Nabi beserta keluarga Abu Bakar.  Selama bersembunyi,  Abdullah bin Abu Bakar ditugaskan untuk menggembala  ternak di lokasi ini,  sehingga putra Abu Bakar ini dapat memantau keamanan di sekelilingnya.  Bahkan,  salah seorang putri Abu Bakar yang konon sedang hamil besar,  dapat tugas pula untuk mengantar konsumsi sekaligus menjadi telik sandi seputar informasi apa saja  yang sedang berkembang di kota Makkah. Sungguh luar biasa peran Sayyidina  Abu Bakar beserta putra-putrinya dalam proses hijrah sembunyi-sembunyi sang nabi utusan Ilahi.

(2). Ketika bersembunyi dalam goa, sauatu hari  muncul kepala ular  dari sebuah lobang. Karena ular itu dianggap mengancam  keselamatan nabi, dan demi menjaga keselamatan rosulullah SAW,  Abu Bakar Assidiq –satu-satunya orang yang menyertai hijrahnya Nabi SAW—menyumbatkan jempol kakinya ke lobang  ular.  Abu Bakar menahan sakit yang luar biasa akibat digigit ular,  bahkan sampai meneteskan keringat dari keningnya.  Nabi  yang sedang istirahat  merebahkan badan dengan kepala persandar pada paha sahabatnya  itu, akhirnya terbangun akibat tetesan keringat dari Abu Bakar.  Walhasil,  demi mengetahui sahabatnya kesakitan akibat digigit ular,  nabi SAW konon segera mengobatinya dengan cukup mengulum jempol tangannya lantas ditempelkan pada luka,  sehingga Abu Bakar langsung sembuh seperti sedia kala.

(3). Ketika nabi dan Abu Bakar  telah di dalam goa,  seekor laba-laba segera merajut membuat rumah di mulut goa.  Berikutnya,  seekor  burung merpati pun segera membuat sarang sekaligus bertelur  di lokasi yang sama.  Syahdan para pemburu ahli yang hendak membunuh Nabi sudah sampai di depan mulut goa.  Abu Bakar  sempat gemetaran takut ketahuan,  sehingga nabi SAW sampai perlu menenangkan melalui sebuah ucapan: La tahzan innallaha ma’ana:  jangan kuatir sesungguhnya Allah menyertai kita. Singkat kata,  akibat keberadaan sarang laba-laba dan  sarang merpati di mulut goa inilah,  maka para pemburu yang dikirimkan kafir Quraisy  untuk mengejar nabi akhirnya terkecoh karena meyakini tidak mungkin di dalam goa ada penghuninya.

Mungkin akibat jasa luar biasa dari sang burung merpati dalam prosesi hijrah Nabi,  maka berbagai lokasi di  dua tanah suci  sang burung dara dibiarkan beranak pinak  sampai  banyak sekali.  Hal yang sama  terdapat pula di bukit Tsur ini.   Mereka hidup bebas tanpa gangguan. Mereka terbang ke sana kemari  tanpa merasa ada ancaman.  Bahkan, para jamaah umroh – haji yang beribadah ke tanah suci terbiasa memberi makanan  pada sang merpati,  yang eksistensinya telah melegenda sejak era Nabi.

”Burung dara di bukit Tsur ini konon dipercaya sebagai keturunan langsung merpati  yang dahulu berjasa pada Nabi”,  jelas mas Mubarak pada kami.

”Kalau yang berada di tengah kota Makkah dan Madinah,  apakah  mereka juga berasal dari satu trah?,  tanyaku penasaran.

”Bisa juga terjadi,  asal usul mereka juga diambilkan dari lokasi ini”,  jawab mas Mubarak tidak pasti.

Namun demikian penjelasan tak pasti ini membuat temanku Nostalgiawan Wahyudi terbelalak dalam imajinasi.  Maklum,  Wawan sedari kecil katanya memang hobi untuk  bermain dengan merpati,  sebuah hobi yang sampai kini katanya diwariskan pada anak-anaknya terutama yang lelaki. Bahkan,  karena hobi ini pula,  hampir setiap kali pulang dari  Masjidil Haram ia menyempatkan diri bercengkerama dengan para merpati. ”Hanya dengan makanan berada dalam genggaman, niscaya  merpati  akan  mendekati dalam jumlah puluhan.  Subhanallah…”,  ungkapnya girang,  setiap kali menceritakan dia punya pengalaman.

Khusus tentang merpati di sekitar bukit Tsur,  Wawan bahkan menumpahkan sejuta imajinasi. ”Seandainya saya bisa bawa pulang merpati dari lokasi ini,  niscaya turunannya akan   menjadi hewan istimewa yang harganya pasti melambung tinggi” katanya berimajinasi, ”sebab keberadaan mereka akan senantiasa dikaitkan dengan  sesuatu yang melegenda”.  Tentu saja imajinasi temanku yang satu ini  sangat sulit direalisasikan.  Artinya,  harapan ini untuk sementara  hanya sebatas bersarang sebagai hayalan.  Alasan yang paling rasional adalah:  izin”migrasi” hewan dari satu negara ke negara bukan sesuatu yang sederhana,  karena harus melalui  jalur imigrasi yang rumit khususnya terkait prosedur karantina dan lain sebagainya. ***

Iklan

Mengunjungi Pusat-pusat Peradaban Islam di Makkah Al Mukarromah : Perkampungan Purba (Bagian 11)

Rabo tanggal 4 April pagi,  kami  sudah berdandan rapi.  Kulihat  Mas Hamdan  ceria mukanya.  Demikian juga Wawan, menyungging  seberkas senyum  di sudut bibirnya.  Adapun Fakhry   matanya berbinar-binar  menunjukkan tanda  bahagia.  Saya sendiri sedang merasakan  selaksa bahagia  kini  sedang berkuasa  di hati dan pikiran  saya.

Rabo  ini jadwal kegiatan kami adalah melakukan kunjungan ke berbagai pusat Peradaban Islam. Dalam prosesi para jamaah haji,  acara semacam ini biasa disebut  ”City Tour”. Namun,  realitas yang kami jalankan secara substansi sangat berbeda sekali,  sebab kami berusaha menangkap esensi historis dari lokasi,  esensi kultural dari tempat-tempat yang kami kunjungi.  Apalagi,  berbeda dari jamaah haji dan umrah yang biasa ditambah dengan kunjungan ke laut merah  dan sentra perdangan Abadi di Jeddah,  maka  kunjungan ini sama sekali tak tercakup di dalamnya.

Kami hanya berputar di sekitar Makkah,  mulai dari pemakaman umum Ma’la,  lokasi Gua Tsur tempat bersembunyi nabi ketika berhijrah,  serta yang  pasti tak ketinggalan adalah  Armina (Arafah, Mudzalifah dan Mina) yang terkait ibadah haji. Lokasi ini memang agak umum dikunjungi,  namun alhamdulillah kami disertai seorang kandidat Doktor asal Indonesia  bernama mas Mubarak Ainul Yaqin Lc. MA.  Melalui belialuh berbagai informasi di luar mainstream berhasil kami dapatkan,  sehingga menambah banyak informasi terkait  catatan selama perjalanan – penelitian.

Mengawali  dari kawasan Misfalla,  yakni lokasi  hotel   Nawarat Al-Shams tempat kami menginap,  kami beranjak  menyusuri jalan Ibrahim Al Khalil,  yang jika terus berjalan niscaya akan sampai pada  wilayah yang disebut Ma’la. ”Tiga kawasan ini merupakan  cikal bakal dari kota Makkah”,  kata mas Mubarrok mengawali penjelasannya, ”Misfalla dan Ma’la merupakan kawasan yang telah terbentuk di jaman Ibrahim”.

Misfalla  sebagaimana akar katanya bermakna rendah-bawah. Dia berakar dari kata sufla artinya bawah, yang bisa dikembangkan menjadi kata asfal (paling bawah).  Dapat dipahami jika bahan pembuatan jalan raya biasa kita kenal dengan kata aspal,  karena untuk dibawah, untuk diinjak-injak manusia maupun mobil.  Misfalla memang  merupakan dataran rendah.  Dataran rendah inilah,  sejak jaman nabi Ibrahim  telah dijadikan sebagai  kawasan pemukiman.

Adapun Ma’la sebagaimana akar katanya berarti atas-tinggi.  Dia berasal dari kata ’ala artinya di atas, yang biasa dikembangkan menjadi kata ’ulya (tertinggi).   Ma’la memang berwujud dataran tinggi.  Dataran tinggi ini  sejak jaman Ibrahim sengaja dijadikan kawasan pekuburan,  karena ternyata di lokasi ini terdapat pasir dan atau tanah yang dapat mempercepat pembusukan,  sebagai proses awal untuk menjadi tanah.  Dengan demikian lokasi Ma’la yang dikenal sebagai lokasi pemakaman umum,  sebagai tempat yang  terkenal untuk pekuburan para jamaah haji selama di Makkah,  keberadaannya bukan baru,  melainkan telah bersifat purba.

Wilayah Misfalla dan Ma’la  dihubungkan oleh sebuah jalan raya  yang kini  dikenal sebagai  Syaari’  Ibrahim AlKhalil.  Eksistensi  jalan ini juga bersifat sangat lampau,  sama tuanya dengan kedua wilayah yang dihubungkannya.  Bahkan,  nama jalan itupun diambilkan  dari nama nabi Ibrahim   A.S.  Bapak  dari para nabi sebagai pelopor pendatang di  tanah  Makkah (Bakkata mubarokun) ini  bergelar  al Khalil,  sehingga jalannya pun lantas diberi nama Ibrahim Al Khalil.

Misfalla, Ma’la,  dan jalan Ibrahim AlKhalili adalah cikal bakal Makkah al Mukarromah,  yang eksistensinya  telah bersifat purba..***