Archive for Desember, 2017

Maasya Allah – Baarokallah : Sepatu Sandal Hilang (Bagian 14)

Kamis,  4 April 2017 sang surya sudah bertengger di tengah mega.  Sinarnya memancar perkasa,  menghunjam seolah hendak mencengkeram sang buana.    Terik.  Panas.  Menyengat.  Itulah aura yang berpendar kurasa.  Kami telah bersiap meninggalkan Makkah.

Pagi  setelah sholat subuh.  kami langsung bertawaf Wada’ alias mengitari  Ka’bah sebagai tanda perpisahan,  lengkap  dengan doa – harapan  semoga dapat berkunjung kembali ke Baitullah – rumah tuhan.  Amin…

Tak ada jadwal khusus di hari terakhir di Makkah, kecuali hanya menemui seorang mahasiswa UEA yang kebetulan menjadi peserta simposium Persatuan Pelajar Mahasiswa (PPMI) se Timur Tengah,  yang beberapa hari sebelumnya dilaksanakan  di Madinah.  Kebetulan pada Kamis ini dia yang bernama Oebaidillah  sudah tinggal di Mekkah untuk menjalankan ibadah umrah.  Dengan didampingi seorang temannya asal Palestina bernama  Mahmud,  kami ajak  pria muda itu  sarapan bersama di Zamzam Tower, sembari  diskusi serius tentang  berbagai su sosiokultural dan ekonomi politik UEA,  tempat dia tinggal sejak SMP.

Suatu hal istimewa,  lelaki belia yang telah ”terpisah dari orang tua”   dan merantau di UEA  sejak lama,  ternyata tampilan dan gayanya tetap khas  merefleksikan sebagai pria Jawa.  Prilakunya tetap kalem dengan unggah-ungguh  berkarakter  sangat Jawa. Keistimewaan lain dari anak ini adalah : tutur kata dan  perilakunya tampak  sangat dewasa,  sebuah tampilan yang jauh lebih matang dibanding anak seusia termasuk mahasiswa-mahasiswa di Indonesia.

Sekali lagi,  Kamis ini  merupakan hari terakhir kami berada di Mekkah untuk segera menuju Madinah.  Satu kenangan tak terlupakan terkait Makkah adalah kisah dari mas Mubarak  terkait  alasan  dibalik   tulisan-tulisan yang banyak  tertera pada mobil-mobil di Mekkah:  Maasya Allah dan atau Baarokallah.  Konon,   ada sebuah kepercayaan di kalangan masyarakat sekitar tanah suci :  adalah  pantangan  dalam menyikapi  ketakjuban terhadap (kehebatan seseorang,  kecanggihan alat perlengkapan,  keindahan pemandangan)  dilakukan dengan cara nuansa takabur-ujub penuh kesombongan.  Ketakjuban pada sesuatu tak sepantasnya  diekspresikan  dalam wujud decak kagum atau bahkan ucapan wow,  sebuah perilaku yang diyakini dapat mendatangkan bencana,  baik pada diri yang melihat dan mengaguminya apatah lagi  pada obyek yang dikaguminya.  Hal terpantas untuk  dilakukan adalah dan hanyalah berucap:   Maasya Allah Baarakallah.  Perilaku ini bila  dilanggar,  dipercaya  secara kontan akan mendapatkan balasan:  barang yang dikaguminya  hilang, rusak ,  atau bahkan karenanya bisa mendapat celaka.

Mendengar dua kosa kata, ”pamer” dan ”kehilangan” kontan kami terpana, bahkan akhirnya  tertawa. Yah…tertawa bersama,  mentertawakan peristiwa yang kami alami sebelumnya . Kontan  pikiran kami melayang pada hilangnya sepatu sandal  ketika Umroh  di hari pertama,  ketika  masuk Masjidil Haram di waktu perdana. Wawan kehilangan sandal jepit yang dibeli di bandara Soekarno Hatta. Saya kehilangan sepatu sandal yang dibeli di Ramayana khusus untuk  persiapan ke Saudi Arabia.  Sepatu sandal sempat kupakai dan kupamerkan pada tim satu hari sebelum berangkat ke Saudi.  Fakhry  sang koordinator bahkan terprofokasi akibat pamer vulgar ini, sehingga dia  akhirnya ikut beli. Walhasil,  hilangnya sepatu sandal yang kumiliki, akhirnya dikaitkan-kaitkan dengan peristiwa ”pamer”  tadi..

Wallahu a’lam,  entah ada kaitan atau tidak,  tetapi yang pasti,  peristiwa itu terjadi akibat kami  karena kurang antisipasi , kurang hati-hati.  Kami terlalu percaya pada  sang pemandu ”yang ternyata kurang berpengalaman”  pada medan Makkah,  sebab mas Izdihar memang mahasiswa di unibersitas  Madinah. He..he…,  maaf Izdihar,  sang  pemandu…

Ketika hendak  berangkat ke masjidil haram  sebenarnya saya bermaksud  –bahkan menganjurkan teman lain—untuk membawa tas guna mengantongi sandal-sepatu kami.  Kala itulah mas Izdihar berkata dengan penuh keyakinan, ”tak perlu bawa tas untuk sandal,  sebab di masjid telah disediakan plastik untuk buntal”.

Saya sebenarnya agak ragu di hati,  sebab  pengalaman dua kali  berkunjung ke tanah suci,  masjid  di Makkah tak pernah menyediakan plastik untuk jamaah haji.  Mekah memang  berbeda dibanding Madinah,  ketika saya berkunjung pertama kali di  tahun 1997 untuk berhaji,  kantong plastik memang senantiasa disediakan gratis  di sekitar pintu masuk masjid Nabawi. ”Mungkin saat ini kebijakannya  sudah sama, bukan hanya Madinah,  di Makkah juga disediakan kantong plastik gratis untuk jamaah”,  gumam hatiku setengah yakin.

Lhadalah,  begitu sampai masjidil haram ternyata plastik tetap tak ada,  sehingga Iztihar  sang pemandu setengah bingung mencarinya. Singkat kata,  dugaanku ternyata lebih tepat,  dan sang pemandu ternyata  tak tahu kebijakan masjid setempat. He..he.. maaf mas Istihar. Tapi.. apa boleh buat,   kita terpaksa pasrah bulat-bulat.  Walhasil, kepasrahan ini ternyata mengantarkan sandal-sandal kami terselip tak bisa dicari.

Dus,  peristiwa ini telah menjadi kesalahan kedua saya,   akibat tpta;  percaya pada sang pemandu kita.  Pertama,   kami terlalu percaya pada informasi mas Ferly  –yang mengatur mengurusi seluruh  proses perjalanan kami– bahwa sebagian besar jamaah umrah telah berbusana Ihram dari Malaysia.  Akibat mengikuti saran ini,  kami dibuat serba keki sebab  ternyata hanya kami (dan beberapa gelintir orang lainnya lagi)  yang terlanjur berkain ihram dari negeri jiran ini.  He..he…apa kabar mas Ferly ?.

Kedua, terkait soal  plastik dan sandal tadi.  Ketika  berhaji di  tahun 1997,  saya juga sempat  “kehilangan” sandal jepit di hari pertama.  Pengalaman ini menjadi guru berharga,  sehingga di hari-hari berikutnya selalu bawa tas untuk menyimpan  sandal dan berbagai keperluan lain di dalamnya.  Melalui ikhtiar inilah,  maka  selama puluhan hari di tanah suci,  baik di tahun 1997 maupun 2015,   saya tak pernah kehilangan sandal lagi,  kecuali kedatangan di  tahun 2017 akibat terlalu percaya pada  sang pemandu tadi..

Hilang sandal di tanah suci ?  Sebenarnya bukan hilang, tetapi ketlisut  dalam lautan  jutaan orang. Nah, untuk mencegah ketlingsutan ini,  kita tak boleh tawakal berserah diri namun  tanpa usaha mencegah  menghindari.  Ketika Nabi SAW mendapati sahabatnya membiarkan onta dilepas begitu saja,  beliau langsung menegurnya, “kenapa tak diikat  anda punya onta ?.  Sahabat itu menjawab, “saya berserah diri pada Allah”.  Kontan  nabi menimpali, “Ikatlah dulu onta yang kau miliki,  setelah itu baru bertawakal pada Ilahi”.

Singkat kata,  pertama,  pada pemandu kita memang harus percaya, namun sifatnya tidak  bulat-bulat apalagi sampai  bertentangan dengan logika,  Kedua,  jadikan pengalaman pribadi  sebagai guru berharga bagi diri sendiri.  Ketiga,  perilaku tawakal hendaknya didului  dengan usaha pada awal. ***

Iklan

Mengunjungi Pusat-pusat Peradaban Islam di Makkah Al Mukarromah : Masjid Ar Raj’i (Bagian 13)

Mentari masih menggantang di tengah-tengah tanah suci.  Panas menyengat  menjebak kami pada lingkaran  penat.  Gerah membuncah  menggiring kami  pada  kondisi serba  lelah.  Meski demikian  perjalanan terus dilanjutkan,  kali ini wilayah Armina : Arofah – Mudzalifah – Mina sebagai tujuan.  Tak ada sesuatu istimewa dari Armina yang  patut diungkapkan dalam sebuah tulisan,  sebab  lokasi  ini bagi  jamaah  Umrah – Haji  memang lazim dijadikan  fokus kunjungan.  Bagi  kaum berhaji  lokasi ini bahkan menjadi bagian  utama dalam prosesi peribadatan.  Hanya satu keistimewaan yang kudapat dari kunjungan di hari ini, yakni:  saya bisa melihat berbagai lokasi dalam situasi sepi.  Saya bisa memandang  semua tempat  dari berbagai sudut ketinggian selama masih dalam jangkau kemampuan.

Namun,  ada satu obyek kunjungan yang patut saya sampikan, yakni: kami juga diajak mengunjungi masjid terbesar kedua di Makkah pasca Masjidil Haram, yakni masjid Ar Raj’i.  Nah,  di lokasi  wakaf dari seorang bankir super kaya  Saudi inilah saya sempat berhenti,  menikmati  keindahan dan keanggunan arsitektur masjid  yang luar biasa untuk ukuran bangunan yang dibiayai oleh kantong pribadi.

Sesuai dengan namanya,  masjid ini memang dibangun seorang banker terbesar di Arab Saudi,  Sulaiman Ar Raj’i.. SIAPA  SULAYMAN AR RAJ’I  ? Nama aslinya adalah Skehikh sulaiman bin Abdul Aziz Al Rajhi,  seorang  milyader  Arab Saudi  dengan kekayaan 7,7 milyar dollar AS yang menjadikannya sebagai orang terkaya ke 36 di dunia Arab,  menjadi orang terkaya ke 120 di dunia versi majalah Forbes di tahun 2011. Lelaki yang tinggal di Jeddah ini hanyalah seorang lulusan SD.  Namun  ia barhasil menjadi Chairman pada national Agricultural Development Company (NADEC).

Sulaiman al Rajhi lahir di al Bukairiyah di provinsi Al Qassim,  dan tumbuh besar di wilayah padang pasir Nejd.  Dia bersama  saudaranya Saleh memulai bisnis dengan “menyewakan”  karavan onta untuk  perjalanan menerobos padang pasir untuk  menuju  Mekah dan Madinah  bagi jamaah haji. Sejak tahun 1957 dua bersaudara ini mendirikan perusahaan Tadawul.  Bersama Saleh pula ia mendirikan perusahaan jasa keuangan bernama  Al Rajhi . Perusahaan ini berkembang pesat seiring dengan membanjirnya para pekerja migran seiring dengan oil boom di Arab Saudi sejak 1970an.   Al Rajhi inilah yang membantu menyimpan dan mengirimkan  uang para pekerja ke berbagai negara asalnya.  Sejak tahun 1983,  Bank Al Rajhi diberi ijin sebagai bank Islam pertama di Arab Saudi.  Al Rajhi saat ini menjadi bank terbesar di Arab Saudi,  bahkan menjadi bank Islam dengan modal  terbesar di tahun 2015.  Bank  yang berpusat di Riyadh dengan total jumlah pegawai mencapai 9.600 orang ini,  total asetnya mencapai 316 milyar real (2015). Bank dengan jumlah cabang mencapai 600 buah,  termasuk di Kuwait, Yordania,  dan konon  ada sebuah cabang pembantu di Malaysia (sejak 2006) bahkan kini konon telah mencapai 25 caban..

Selain  berbisnis di sektor keuangan,  Sulaiman Ar Rajhi juga masuk ke sektor peternakan dan pertanian. Ar Rajhi  menggelontorkan 250 juta US dollar untuk berusaha di bidang pertanian organik,  yang menjamin masyarakat Saudi dan para Jamaah haji  memamakan makanan yang bebas dari kimia berbahaya.  Perusahaan pertanian yang diluncurkan sejak 1982 ini telah menjadi salah satu perusahaan  pertanian terkemuka di Arab Saudi.   Perusahaan ini memiliki ladang pertanian di  berbagai wilayah di utara,  tengah,  dan selatan Arab Saudi.

Adapun Pelibatan diri di sektor peternakan dilakukan setelah beliau berkunjung dan melihat sendiri porses peternakan di luar negeri yang prosesnya menurut dia salah dari segi syariah.  Dari pengamatan inilah akhirnya beliau membangun pusat peternakan Ayam al Watania di Bandar Qassim, Arab Saudi.  Peternakan ayam ini diberi makan dengan sempurna dan disembelih secara haal mengikuti aturan Syariah.   Kini,  al Wataniah berhasil  memperoduksi setengah  juta ayam plus satu juta telur setiap hari,  bahkan menguasai 40 persen pasaran di Arab Saudi  dan menjadi  peternakan terbesar di Timur Tengah.

Untuk membantu peningkatan SDM Saudi,  Al Rajhi juga telah mendirikan Universitas Sulaiman Al Rajhi yang terutama menangani sektor kesehatan dan perbankan Islam,  untuk memenuhi kebutuhan lokal.  Amal sumbangan pria ini sungguh luar biasa.  Pernah suatu kali ia beramal dengan memberi makan  pada hampir 3 juta jamaat haji  yang wukuf di Arafah.  Ia tidak cukup menggelontorkan uang saja,  tetapi dia juga turun aktif bersama dengan 800 juru masak dalam penyediaan  hidangan.  Subnahallah.   Pria super kaya inilah  yang pada tahun 2011 mewariskan sebagian kekayaannya kepada anak-anaknya,  dan sebagian besar lainnya justru  diberikan kepada badan-badan amal dan kebajikan.

Nah,  karena kiprah yang luar biasa,  maka selama di tanah suci nama Ar Raj’i  tentu menjadi tidak terlalu asing lagi.  Sebab,  ketika  jamaah umrah – haji mau membayar dam/denda  (juga  membeli hewan Qur’ban)  maka  prosesi bisa dilakukan di bank Ar Raj’i  yang dimiliki sulayman Ar Raj’i tadi. Hewan apa yang hendak kita kurbankan,  kita cukup mengisi formulis dan membayar sesuai dengan daftar harga  standar  yang telah ditentukan. Melalui Ar Raj’i ini jama’ah dari berbagai negara tak perlu pusing tujuh keliling untuk melakukan prosessi dam/denda (umroh – haji) maupun kurban (haji) karena uang yang disalurkan akan disampaikan kepada lembaga berwenang terkait prosesi penyembelihan dam dan qurban.  Itulah salah satu peran sentral Ar-Raj’i dalam memfasilitasi Jama’ah Umroh dan Haji.

Ar Raj’i juga punya peran signifikan dalam menyediakan mesin ATM di berbagai sudut di kota Makkah dan Madinah. Jamaah dari berbagai negara di era sekarang tak perlu membawa uang cash dari masing-masing negara,  tetapi cukup membawa kartu debet untuk menarik  uang cash langsung dalam bentuk Real Saudi.  Walhasil,  jika dahulu  setiap jamaah Haji dan Umroh harus menukar di berbagai money changer dengan  nilai tukar berbeda-beda, maka  melalui ATM  Ar Raj’i kita  mendapatkan standard harga yang baku alias sama.

Pada musim haji  tahun 1997,  pelayanan Ar Raj’i  memang belum sempat  saya rasakan,  mungkin karena keterbatasan informasi yang saya dapatkan.  Namun,   sejak  musim haji tahun 2015 saya telah memanfaatkan pelayanan dari bank Ar Raj’i,  dan kuulangi lagi  pada umroh di tahun 2017 ini.  Terima kasih Ar Raj’i,  pelayanan mu telah membantu jamaah Umrah – Haji termasuk kami.  Jazakallah Khoiron  katsiiron. ***