Mengunjungi Pusat-pusat Peradaban Islam di Makkah Al Mukarromah : Masjid Ar Raj’i (Bagian 13)

Mentari masih menggantang di tengah-tengah tanah suci.  Panas menyengat  menjebak kami pada lingkaran  penat.  Gerah membuncah  menggiring kami  pada  kondisi serba  lelah.  Meski demikian  perjalanan terus dilanjutkan,  kali ini wilayah Armina : Arofah – Mudzalifah – Mina sebagai tujuan.  Tak ada sesuatu istimewa dari Armina yang  patut diungkapkan dalam sebuah tulisan,  sebab  lokasi  ini bagi  jamaah  Umrah – Haji  memang lazim dijadikan  fokus kunjungan.  Bagi  kaum berhaji  lokasi ini bahkan menjadi bagian  utama dalam prosesi peribadatan.  Hanya satu keistimewaan yang kudapat dari kunjungan di hari ini, yakni:  saya bisa melihat berbagai lokasi dalam situasi sepi.  Saya bisa memandang  semua tempat  dari berbagai sudut ketinggian selama masih dalam jangkau kemampuan.

Namun,  ada satu obyek kunjungan yang patut saya sampikan, yakni: kami juga diajak mengunjungi masjid terbesar kedua di Makkah pasca Masjidil Haram, yakni masjid Ar Raj’i.  Nah,  di lokasi  wakaf dari seorang bankir super kaya  Saudi inilah saya sempat berhenti,  menikmati  keindahan dan keanggunan arsitektur masjid  yang luar biasa untuk ukuran bangunan yang dibiayai oleh kantong pribadi.

Sesuai dengan namanya,  masjid ini memang dibangun seorang banker terbesar di Arab Saudi,  Sulaiman Ar Raj’i.. SIAPA  SULAYMAN AR RAJ’I  ? Nama aslinya adalah Skehikh sulaiman bin Abdul Aziz Al Rajhi,  seorang  milyader  Arab Saudi  dengan kekayaan 7,7 milyar dollar AS yang menjadikannya sebagai orang terkaya ke 36 di dunia Arab,  menjadi orang terkaya ke 120 di dunia versi majalah Forbes di tahun 2011. Lelaki yang tinggal di Jeddah ini hanyalah seorang lulusan SD.  Namun  ia barhasil menjadi Chairman pada national Agricultural Development Company (NADEC).

Sulaiman al Rajhi lahir di al Bukairiyah di provinsi Al Qassim,  dan tumbuh besar di wilayah padang pasir Nejd.  Dia bersama  saudaranya Saleh memulai bisnis dengan “menyewakan”  karavan onta untuk  perjalanan menerobos padang pasir untuk  menuju  Mekah dan Madinah  bagi jamaah haji. Sejak tahun 1957 dua bersaudara ini mendirikan perusahaan Tadawul.  Bersama Saleh pula ia mendirikan perusahaan jasa keuangan bernama  Al Rajhi . Perusahaan ini berkembang pesat seiring dengan membanjirnya para pekerja migran seiring dengan oil boom di Arab Saudi sejak 1970an.   Al Rajhi inilah yang membantu menyimpan dan mengirimkan  uang para pekerja ke berbagai negara asalnya.  Sejak tahun 1983,  Bank Al Rajhi diberi ijin sebagai bank Islam pertama di Arab Saudi.  Al Rajhi saat ini menjadi bank terbesar di Arab Saudi,  bahkan menjadi bank Islam dengan modal  terbesar di tahun 2015.  Bank  yang berpusat di Riyadh dengan total jumlah pegawai mencapai 9.600 orang ini,  total asetnya mencapai 316 milyar real (2015). Bank dengan jumlah cabang mencapai 600 buah,  termasuk di Kuwait, Yordania,  dan konon  ada sebuah cabang pembantu di Malaysia (sejak 2006) bahkan kini konon telah mencapai 25 caban..

Selain  berbisnis di sektor keuangan,  Sulaiman Ar Rajhi juga masuk ke sektor peternakan dan pertanian. Ar Rajhi  menggelontorkan 250 juta US dollar untuk berusaha di bidang pertanian organik,  yang menjamin masyarakat Saudi dan para Jamaah haji  memamakan makanan yang bebas dari kimia berbahaya.  Perusahaan pertanian yang diluncurkan sejak 1982 ini telah menjadi salah satu perusahaan  pertanian terkemuka di Arab Saudi.   Perusahaan ini memiliki ladang pertanian di  berbagai wilayah di utara,  tengah,  dan selatan Arab Saudi.

Adapun Pelibatan diri di sektor peternakan dilakukan setelah beliau berkunjung dan melihat sendiri porses peternakan di luar negeri yang prosesnya menurut dia salah dari segi syariah.  Dari pengamatan inilah akhirnya beliau membangun pusat peternakan Ayam al Watania di Bandar Qassim, Arab Saudi.  Peternakan ayam ini diberi makan dengan sempurna dan disembelih secara haal mengikuti aturan Syariah.   Kini,  al Wataniah berhasil  memperoduksi setengah  juta ayam plus satu juta telur setiap hari,  bahkan menguasai 40 persen pasaran di Arab Saudi  dan menjadi  peternakan terbesar di Timur Tengah.

Untuk membantu peningkatan SDM Saudi,  Al Rajhi juga telah mendirikan Universitas Sulaiman Al Rajhi yang terutama menangani sektor kesehatan dan perbankan Islam,  untuk memenuhi kebutuhan lokal.  Amal sumbangan pria ini sungguh luar biasa.  Pernah suatu kali ia beramal dengan memberi makan  pada hampir 3 juta jamaat haji  yang wukuf di Arafah.  Ia tidak cukup menggelontorkan uang saja,  tetapi dia juga turun aktif bersama dengan 800 juru masak dalam penyediaan  hidangan.  Subnahallah.   Pria super kaya inilah  yang pada tahun 2011 mewariskan sebagian kekayaannya kepada anak-anaknya,  dan sebagian besar lainnya justru  diberikan kepada badan-badan amal dan kebajikan.

Nah,  karena kiprah yang luar biasa,  maka selama di tanah suci nama Ar Raj’i  tentu menjadi tidak terlalu asing lagi.  Sebab,  ketika  jamaah umrah – haji mau membayar dam/denda  (juga  membeli hewan Qur’ban)  maka  prosesi bisa dilakukan di bank Ar Raj’i  yang dimiliki sulayman Ar Raj’i tadi. Hewan apa yang hendak kita kurbankan,  kita cukup mengisi formulis dan membayar sesuai dengan daftar harga  standar  yang telah ditentukan. Melalui Ar Raj’i ini jama’ah dari berbagai negara tak perlu pusing tujuh keliling untuk melakukan prosessi dam/denda (umroh – haji) maupun kurban (haji) karena uang yang disalurkan akan disampaikan kepada lembaga berwenang terkait prosesi penyembelihan dam dan qurban.  Itulah salah satu peran sentral Ar-Raj’i dalam memfasilitasi Jama’ah Umroh dan Haji.

Ar Raj’i juga punya peran signifikan dalam menyediakan mesin ATM di berbagai sudut di kota Makkah dan Madinah. Jamaah dari berbagai negara di era sekarang tak perlu membawa uang cash dari masing-masing negara,  tetapi cukup membawa kartu debet untuk menarik  uang cash langsung dalam bentuk Real Saudi.  Walhasil,  jika dahulu  setiap jamaah Haji dan Umroh harus menukar di berbagai money changer dengan  nilai tukar berbeda-beda, maka  melalui ATM  Ar Raj’i kita  mendapatkan standard harga yang baku alias sama.

Pada musim haji  tahun 1997,  pelayanan Ar Raj’i  memang belum sempat  saya rasakan,  mungkin karena keterbatasan informasi yang saya dapatkan.  Namun,   sejak  musim haji tahun 2015 saya telah memanfaatkan pelayanan dari bank Ar Raj’i,  dan kuulangi lagi  pada umroh di tahun 2017 ini.  Terima kasih Ar Raj’i,  pelayanan mu telah membantu jamaah Umrah – Haji termasuk kami.  Jazakallah Khoiron  katsiiron. ***

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: