Maasya Allah – Baarokallah : Sepatu Sandal Hilang (Bagian 14)

Kamis,  4 April 2017 sang surya sudah bertengger di tengah mega.  Sinarnya memancar perkasa,  menghunjam seolah hendak mencengkeram sang buana.    Terik.  Panas.  Menyengat.  Itulah aura yang berpendar kurasa.  Kami telah bersiap meninggalkan Makkah.

Pagi  setelah sholat subuh.  kami langsung bertawaf Wada’ alias mengitari  Ka’bah sebagai tanda perpisahan,  lengkap  dengan doa – harapan  semoga dapat berkunjung kembali ke Baitullah – rumah tuhan.  Amin…

Tak ada jadwal khusus di hari terakhir di Makkah, kecuali hanya menemui seorang mahasiswa UEA yang kebetulan menjadi peserta simposium Persatuan Pelajar Mahasiswa (PPMI) se Timur Tengah,  yang beberapa hari sebelumnya dilaksanakan  di Madinah.  Kebetulan pada Kamis ini dia yang bernama Oebaidillah  sudah tinggal di Mekkah untuk menjalankan ibadah umrah.  Dengan didampingi seorang temannya asal Palestina bernama  Mahmud,  kami ajak  pria muda itu  sarapan bersama di Zamzam Tower, sembari  diskusi serius tentang  berbagai su sosiokultural dan ekonomi politik UEA,  tempat dia tinggal sejak SMP.

Suatu hal istimewa,  lelaki belia yang telah ”terpisah dari orang tua”   dan merantau di UEA  sejak lama,  ternyata tampilan dan gayanya tetap khas  merefleksikan sebagai pria Jawa.  Prilakunya tetap kalem dengan unggah-ungguh  berkarakter  sangat Jawa. Keistimewaan lain dari anak ini adalah : tutur kata dan  perilakunya tampak  sangat dewasa,  sebuah tampilan yang jauh lebih matang dibanding anak seusia termasuk mahasiswa-mahasiswa di Indonesia.

Sekali lagi,  Kamis ini  merupakan hari terakhir kami berada di Mekkah untuk segera menuju Madinah.  Satu kenangan tak terlupakan terkait Makkah adalah kisah dari mas Mubarak  terkait  alasan  dibalik   tulisan-tulisan yang banyak  tertera pada mobil-mobil di Mekkah:  Maasya Allah dan atau Baarokallah.  Konon,   ada sebuah kepercayaan di kalangan masyarakat sekitar tanah suci :  adalah  pantangan  dalam menyikapi  ketakjuban terhadap (kehebatan seseorang,  kecanggihan alat perlengkapan,  keindahan pemandangan)  dilakukan dengan cara nuansa takabur-ujub penuh kesombongan.  Ketakjuban pada sesuatu tak sepantasnya  diekspresikan  dalam wujud decak kagum atau bahkan ucapan wow,  sebuah perilaku yang diyakini dapat mendatangkan bencana,  baik pada diri yang melihat dan mengaguminya apatah lagi  pada obyek yang dikaguminya.  Hal terpantas untuk  dilakukan adalah dan hanyalah berucap:   Maasya Allah Baarakallah.  Perilaku ini bila  dilanggar,  dipercaya  secara kontan akan mendapatkan balasan:  barang yang dikaguminya  hilang, rusak ,  atau bahkan karenanya bisa mendapat celaka.

Mendengar dua kosa kata, ”pamer” dan ”kehilangan” kontan kami terpana, bahkan akhirnya  tertawa. Yah…tertawa bersama,  mentertawakan peristiwa yang kami alami sebelumnya . Kontan  pikiran kami melayang pada hilangnya sepatu sandal  ketika Umroh  di hari pertama,  ketika  masuk Masjidil Haram di waktu perdana. Wawan kehilangan sandal jepit yang dibeli di bandara Soekarno Hatta. Saya kehilangan sepatu sandal yang dibeli di Ramayana khusus untuk  persiapan ke Saudi Arabia.  Sepatu sandal sempat kupakai dan kupamerkan pada tim satu hari sebelum berangkat ke Saudi.  Fakhry  sang koordinator bahkan terprofokasi akibat pamer vulgar ini, sehingga dia  akhirnya ikut beli. Walhasil,  hilangnya sepatu sandal yang kumiliki, akhirnya dikaitkan-kaitkan dengan peristiwa ”pamer”  tadi..

Wallahu a’lam,  entah ada kaitan atau tidak,  tetapi yang pasti,  peristiwa itu terjadi akibat kami  karena kurang antisipasi , kurang hati-hati.  Kami terlalu percaya pada  sang pemandu ”yang ternyata kurang berpengalaman”  pada medan Makkah,  sebab mas Izdihar memang mahasiswa di unibersitas  Madinah. He..he…,  maaf Izdihar,  sang  pemandu…

Ketika hendak  berangkat ke masjidil haram  sebenarnya saya bermaksud  –bahkan menganjurkan teman lain—untuk membawa tas guna mengantongi sandal-sepatu kami.  Kala itulah mas Izdihar berkata dengan penuh keyakinan, ”tak perlu bawa tas untuk sandal,  sebab di masjid telah disediakan plastik untuk buntal”.

Saya sebenarnya agak ragu di hati,  sebab  pengalaman dua kali  berkunjung ke tanah suci,  masjid  di Makkah tak pernah menyediakan plastik untuk jamaah haji.  Mekah memang  berbeda dibanding Madinah,  ketika saya berkunjung pertama kali di  tahun 1997 untuk berhaji,  kantong plastik memang senantiasa disediakan gratis  di sekitar pintu masuk masjid Nabawi. ”Mungkin saat ini kebijakannya  sudah sama, bukan hanya Madinah,  di Makkah juga disediakan kantong plastik gratis untuk jamaah”,  gumam hatiku setengah yakin.

Lhadalah,  begitu sampai masjidil haram ternyata plastik tetap tak ada,  sehingga Iztihar  sang pemandu setengah bingung mencarinya. Singkat kata,  dugaanku ternyata lebih tepat,  dan sang pemandu ternyata  tak tahu kebijakan masjid setempat. He..he.. maaf mas Istihar. Tapi.. apa boleh buat,   kita terpaksa pasrah bulat-bulat.  Walhasil, kepasrahan ini ternyata mengantarkan sandal-sandal kami terselip tak bisa dicari.

Dus,  peristiwa ini telah menjadi kesalahan kedua saya,   akibat tpta;  percaya pada sang pemandu kita.  Pertama,   kami terlalu percaya pada informasi mas Ferly  –yang mengatur mengurusi seluruh  proses perjalanan kami– bahwa sebagian besar jamaah umrah telah berbusana Ihram dari Malaysia.  Akibat mengikuti saran ini,  kami dibuat serba keki sebab  ternyata hanya kami (dan beberapa gelintir orang lainnya lagi)  yang terlanjur berkain ihram dari negeri jiran ini.  He..he…apa kabar mas Ferly ?.

Kedua, terkait soal  plastik dan sandal tadi.  Ketika  berhaji di  tahun 1997,  saya juga sempat  “kehilangan” sandal jepit di hari pertama.  Pengalaman ini menjadi guru berharga,  sehingga di hari-hari berikutnya selalu bawa tas untuk menyimpan  sandal dan berbagai keperluan lain di dalamnya.  Melalui ikhtiar inilah,  maka  selama puluhan hari di tanah suci,  baik di tahun 1997 maupun 2015,   saya tak pernah kehilangan sandal lagi,  kecuali kedatangan di  tahun 2017 akibat terlalu percaya pada  sang pemandu tadi..

Hilang sandal di tanah suci ?  Sebenarnya bukan hilang, tetapi ketlisut  dalam lautan  jutaan orang. Nah, untuk mencegah ketlingsutan ini,  kita tak boleh tawakal berserah diri namun  tanpa usaha mencegah  menghindari.  Ketika Nabi SAW mendapati sahabatnya membiarkan onta dilepas begitu saja,  beliau langsung menegurnya, “kenapa tak diikat  anda punya onta ?.  Sahabat itu menjawab, “saya berserah diri pada Allah”.  Kontan  nabi menimpali, “Ikatlah dulu onta yang kau miliki,  setelah itu baru bertawakal pada Ilahi”.

Singkat kata,  pertama,  pada pemandu kita memang harus percaya, namun sifatnya tidak  bulat-bulat apalagi sampai  bertentangan dengan logika,  Kedua,  jadikan pengalaman pribadi  sebagai guru berharga bagi diri sendiri.  Ketiga,  perilaku tawakal hendaknya didului  dengan usaha pada awal. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: