Maasya Allah – Baarokallah : Kena Penyakit ‘Ain(Bagian 15)

 

Mentari  siang  kurasakan  tambah menjadi  garang.  Sinarnya  meraja,  seolah  hendak menguasai memerintah dunia.   Terik.  Panas,  kurasakan kian  ganas.

“Dahulu pernah  ada kejadian di wilayah kota suci ini.  Sebuah gedung menawan,  tiba-tiba  rubuh  tanpa sesuatupun  alasan ”,  kata mas Mubarak menjelaskan. “Telisik punya telisik,  tragedi itu terjadi akibat gedung menawan itu telah memancing decak ketakjuban,  yang sayangnya tak  diekspresikan dalam kata-kata Maasya Allah   Baarakallah sebagaimana nabi telah ajarkan”, tandas  sang kandidat Doktor.  “Sejak saat itulah,  sosialisasi ucapan MaasyaAllah-Baarakallah digencarkan sedemikian rupa,  bahkan kini menjadi kultur Saudi yang tampaknya tak bakalan lepas lagi.  Mobil-mobil yang mengaspal di tanah haram sini,  sebagian besar ditulisi dua ungkapan tadi”.

Sejenak  mas  Mubarak tak bersuara,  setelah  mengakhiri kisahnya.  Hening.  Bisu.  Suwung.

”Percaya tak percaya,  itulah realitasnya”,  mas Mubarak kembali bersuara,  ”Saya sendiri pernah mengalami penyakit ’ain tadi,  terjadi akibat ketakjuban dan  atau pandangan mata yang kita miliki.  Suatu kali,  di sebuah masjid,   saya bertatapan mata dengan seorang lelaki tua,  yang tatapannya sangat tajam  dan  sampai kini  tak akan pernah terlupa”, tandas mas Mubarak,  ”Astaghfirullah,  ketika sampai di rumah tiba-tiba badan terasa gatal merata,    kulit memerah  melepuh seperti terbakar sinar surya.  Pengobatan ke dokter telah berulangkali kulakukan,  namun sembuh tiada kunjung ku dapatkan.  Pada situasi kalut  itulah,  saya teringat tatapan tajam bapak tua di masjid beberapa hari sebelumnya.  Beberapa hari  berikutnya  saya berusaha menemui bapak tua tadi,  sayangnya  tak kunjung bisa  kutemui.  Saya pun meminta tolong pada teman-teman untuk  mencarikan,  tetapi  mereka berhari-hari tidak kunjung mendapatkan”,  tambah pria yang telah belasan tahun tinggal di Makkah itu.

”Dalam situasi demikian,  tak ada yang bisa kulakutan, kecuali rajin ke masjidil haram  untuk bertobat mohon ampunan,   sekaligus meminta  kesembuhan.    Bahkan,  saya menyempatkan umrah dengan lantunan do’a agar penyakit segera diangkat oleh Nya.  Namun,  upaya demikian  ternyata tak lantas kesembuhan  segera kudapatkan”,  suaranya bernada mengenang kepahitan.

”Walhasil,  suatu hari,  ketika  jamaah di sebuah masjid,  sang imam kebetulan  melantunkan  ayat-ayat yang biasa dipakai sebagai bacaan rukyah untuk mengusir jin-setan laknat.  Dus,  pada saat itulah tiba-tiba kurasakan bahwa  bacaan imam telah  berpengaruh luar biasa pada badan”,  kisah mas Mubarak dengan ekspresi kegirangan, ”Subhanallah wal  alhamdulillah,  sejak saat itu penyakit a’in yang menimpaku tiba-tiba menjauh dariku.  Sembuh”.

Itulah sekelumit peristiwa yang mas Mubarak pernah alami,   lelaki yang telah yang belasan tahun tinggal di tanah suci.,  terserang sakit akibat  tatapan mata alias a’in.   Semoga kisah nyata ini ,  senantiasa mengingatkan kami  untuk mentradisikan ucapan Masyaallah –  Baarakallah tatkala  dihadapkan pada ketakjuban pandangan netra yang kami miliki.

Selamat tinggal Makkah,  kami beranjak menuju Madinah.

Jarak Mekah – Madinah sekitar 425 km.  Telah tiga kali kami menapaki  jalanan ini,  dua kali di tahun 1997 dan sekali di tahun 2015.  Ditambah dengan yang terakhir pada Kamis,  4 April 2017 ini,  berarti saya telah empat kali menapaki  jalanan yang dahulu dilalui nabi.  Jika ditempuh dengan bis yang mengangkut jamaah hati, maka  rata-rata dibutuhkan waktu 6-8 jam.  Namun,  dengan mobil kecil  sewaan kami,  maka  jarak yang sama dapat dicapai sekitar 4-6 jam saja.

Beberapa waktu pasca Dzuhur,    sopir beretnis Asia Selatan (Pakistan ataukah India)  menjemput  untuk  mengantar kami.  ”Tatapannya dingin”,  kata Wawan ketika pertama kali  melihat wajah sang sopir.  ”Wajahnya mirip bintang film India”,  aku menimpali.  Dalam hati aku bahkan berkata,  ”sopir ini bahkan lebih cakep dibanding Sakh Rukh Khan dari segi tampangnya”.   Singkat kata,  berangkat dari Makkah sekitar jam 15.00 sampailah kami  di Madinah  di  sekitar jam 20.00 waktu Madinatun Nabi.   Assalamu ’alaikum Ya Rasulullah. Assalamu ’alaikum Ya Nabiyallah. Assalamu ’alaikum Ya Habiballah.***.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: