Archive for Februari, 2018

Menelusuri Pelosok Madinah: Danau Tersembunyi di Tengah Gurun (Bagian 18)

Mentari telah berdiri tegak di tengah  bumi Madinatunnabi.   Sinar Surya memancar  tajam,  terasa seolah  hendak menikam.  Madinah  terik.  Madinah panas.  Madinah kering  meski tak sampai kerontang.  Tepat menjelang Dzuhur kami segera kabur.  Maklum,  perut  sudah keroncongan,  haus pun ikut  menyergap kerongkongan.

Mobil segera  meluncur  mencari rumah makan,  dengan menu  utama   onta sebagai lauk hidangan .  Ketika di Makkah,  mas Mubarak sebenarnya  sempat menawari  untuk mengantar kami  ke restoran dengan menu daging onta alias Hasyi.  Namun,  karena jadwal undangan makam malam (asya’) dari Syekh Ismail  jadwalnya  belum  pasti ,   kami akhirnya ragu menyambut tawaran mas Mubarak tadi.   Karena jadwal santap Onta Mekah batal  dilaksanakan,  akhirnya Onta Madinah ganti jadi sasaran.

Tak berapa lama   mobil menepi , langsung berhenti  tepat di depan restoran ’Asyi.  Lokasi restoran ada di depan Markaz Al Buhuts,  meski  sedikit bergeser ke arah kanan.  Markaz al Buhuts adalah sebuah lembaga penelitian,  atau  semacam LIPI nya Saudi.  Kami sempat  berjalan ke lokasi  sejajar  ke arah depan kantor itu,   yakni ketika  shalat dzuhur di masjid pasca makan.    Bahkan,  sepeninggal dari shalat  pun mobil kami melewati tepat di depannya.  Namun,  kantor kecil  berkaca itu tetap sepi keadaannya.  ”Markal al Buhuts terkesan seperti gudang buku belaka”,  komentar mas Hamdan  ketika mobil tepat ada di hadapan kantor.  ”Kantor  kok kosong tanpa penghuni”, timpal Fakhry.    Padahal  Markaz Al Buhuts semula  justru menjadi salah satu sasaran untuk dilakukan kunjungan.  Dus,  melihat realitas itu,  langsung  dia kami coret dari daftar penelitian.

Kembali ke soal  restoran,  ternyata tak ada yang spesial dari rasa daging onta,  kecuali seratnya yang agak besar ukurannya.  Hal yang agak beda dibanding  kambing dan sapi,  Bau daging onta  memang  sedikit menusuk,  meskipun makanan disajikan panas-panas.  Dilihat dari  wujud dan dibau dari aroma,  daging Onta  sepertinya dimasak dengan bumbu ”kare”.  Uniknya,  daging itu disajikan dengan cara  ditanam di bawah dibawah  gundukan nasi. Nasi nyapun tidak lagi berwarna putih,  melainkan seperti dicampur dengan bumbu-bumbu  sehingga kuning kecoklatan tampilannya.

Di tengah kelaparan yang mendera,   acara makan langsung dimulai segera.    ”Alhamdulilah,  setelah bertahun-tahun makan daging onta hanyalah cita-cita saja,  kali ini  ia telah menjadi realita”,  desis hatiku bersuka cita.

Tepat siang hari ini  kami benar-benar bergaya makan ala  Arab, bukan saja  dalam menu makanan,  bahkan termasuk menenggak Pepsi sebagai minum iringan.  ”Orang Arab memang aneh, sebagai iringan makan berat  bukannya air putih sebagai minuman,  tetapi justru  soft drink yang disajikan”, komentar Wawan sembari menyuap makanan.

Selesai berpesta daging Onta,  dan setelah memenuhi kebutuhan Rohani sholat menghadap Ilahi,  kami diajak meluncur  ke Sakan mahasiswa  Universitas Islam Madinah,  tempat kuliah mas  Izdihar dan mas Muhammad Isa.  Bahkan,  dilokasi ini kami berjumpa dengan kakaknya bernama Muhammad Ayub. Kakak beradik tinggal satu kamar serta kuliah di satu kampus.  Dari kakak beradik Isa dan Ayub inilah  banyak sekali informasi dapat kami gali,  sebab keduanya sejak SD sudah tinggal di Arab Saudi,  bahkan gaya bicara nya pun  sudah terlalu sulit dibedakan dengan orang Saudi.  ”Sebelum kumpul dengan kita-kita,  Isa sangat terbatas dalam bahasa Indonesia”,  kata Izdihar menjelaskan. Namun yang pasti,  dari gaya bicara,  tampak bahwa mahasiswa  kakak beradik ini memiliki sikap dewasa dari cara keduanya ngomong yang cukup tertata.

Dalam waktu tak terlalu lama,   kami berenam  telah menghabiskan dua porsi besar  satu nampan berisi  nasi domba  dan satu nampan besar lain berisi nasi onta .  Mblejer…itulah ungkapan tepat untuk menggambarkan kekenyangan.

Setelah istirahat sejenak,  kami lantas sholat di sebuah masjid  di sebelah kanan tak jauh dari restoran.  Sebelum perjalanan petualangan  kami lanjutkan,  kami sempat mampir ”rumah”  mas Isa,  tepatnya di  asrama mahasiswa universitas Islam Madinah.  Kala itulah,  Mohammad Ayub kakak dari Mohammad Isa  tertarik untuk mendampingi kami,  sehingga  kami bertujuh bertualang  menuju lokasi.

”Kemana berikutnya ?,  tanya mas Hamdan  penasaran.

”Ke sebuah lokasi  rahasia”,  jawab mas Istihar yang menimbulkan kepenasaran.

Singkat kata,  sampailah kami di sebuah lokasi ”rahasia” .  Tempat ini memang special sekali.  Lokasi ini benar-benar   tak pernah terbayang nalar pernah ada di sebuah  gurun di pinggiran  kota Madinatunnabi.  Yah,  sebuah danau  di tengah-tengah  padang pasir serta dikitari  bukit-bukit batu di segala penjurunya.  Dahulu lokasi ini mungkin benar-benar sesuatu yang rahasia,  karena tak terbayangkan maujud di tengah padang sahara. Danau bahkan diberi nama Wadi Al Jin,  yang bermakna  mata air Jin. Saya tak tahu,  kenapa lokasi itu dinamakan begitu.  Adakah eksistensinya terkait dengan bangsa jin ? Wallahu a’lam.

Wadi Al Jin cukup jernih airnya,  hanya saja sedikit bau aromanya. Meski demikian,  danau di tengah  gurun ini  menjadi lokasi piknik warga Saudi, terbukti dari satu dua mobil datang dan pergi dari lokasi ini.

Setelah sekian lama kami menikmati panorama,  mobil segera beranjak untuk menuju lokasi berikutnya, yang juga masih rahasia.  Roda-roda  mobil sempat terjebak dalam kubangan pasir. Roda hanya mampu berputar –putar di tempat,   namun tak mampu beranjak.  Para penumpang segera turun mengurangi beban,  bahkan terpaksa kami  sedikit bertolak memberi dorongan.  Walhasil,  sang  mobil  akhirnya terbebas dari jebakan. Alhamdulillah….

Mentari sedikit bergeser ke arah peraduannya,  menandai hari telah menjelang senja.  Disaat itulah mobil kembali menepi,  tak lama kemudian  berhenti.  ”Lho,  kenapa kita mesti berhenti ?,  tanyaku khawatir,  sebab  kami berada ”tepat”  di tengah sahara  yang tak terdapat  sesuatu apa.

Namun,  sebagai ”penumpang”  saya akhirnya turun  ikut penumpang lainnya.  Setelah menginjak bumi,  barulah kesadaran menguasai.  ”Subhanallah,  betapa indah lokasi ngentak-entak di tengah padang pasir ini ”,  ungkap hatiku terpesona.  Mataku terbelalak,  memicing terhentak.

Di hadapanku terhampar  tanah  lapang.  Di sepanjang mata memandang,  lautan pasir  yang tampak  terbentang..  Hanya di kejauhan tampat  bebukitan,  seolah  bukit-bukit  itu  mengitari lokasi  sekaligus menjadi pasukan penjagaan.   Walhasil,  ke arah manapun  sepanjang mata memandang yang terlihat  hanya pasir dan pasir,  bahkan hanya gurun dan gurun. Hanya di penghujung penglihatan saja,   tatapan terbentur tubuh molek  bebukitan.  Mulus tanpa ada  tanaman.  Postur  sebagian bukit itu tampak nyata,  karena jaraknya yang masih terjangkau oleh netra.  Namun,  sebagian bukit  lain ada yang hanya  tampak lekuk lika  bentu tubuhnya,  hanya kemolekannya  hanya remang-remang  akibat  sedemikian jauh jaraknya.

Meski hari telah menjelang senja,  namun mentari tetap leluasa menerabas  bebukitan,  sinarnya memantul  dari tubuh molek  padang pasir dan bebukitan.  Realitas ini sungguh menghasilkan panorama luar biasa,  sebab semua bukit yang terjangkau oleh pandangan  tampak  seolah merah-kekuningan warnanya..  Ketika  menghadap ke barat, timur, utara,  maupun selatan,  semua bukit kemerah-merahan warnanya,  kekuningan-kuningan kesannya.  Hamparan pasir  juga berwarna serupa,  kuning kemerahan akibat diterba sinar sang surya.  Hanya satu dua pokok  pohon, kulihat  menjulang,  dalam kegersangan.  Dari pohon yang ada pun tak satupun  menampilkan adanya dedauan baik di pokok,  ranting apalagi cabang.  Semua mranggas.  Kerontang.

Di tengah lokasi  “rahasia”  ini seolah saya tidak  lagi berada  di atas bumi.  Saya merasa  seakan ada di planet lain,  berdiri  di alam lain.  Andai saja,  saya di lokasi ini sendirian,  mungkin merasa  sedang di planet Mars yang konon berwarna kemerahan.  Hanya saja,  di lokasi ini  saya memang tak sendiri.  Ada  mas Hamdan,  ada  Fakhry, Wawan, Izdihar,  Mohammad Isa,  juga Muhammad Yakup.  Realitas inilah yang menyebabkan saya tetap tersadar bahwa saya masih ada di bumi tempatnya.  Apalagi sesekali  ada mobil  lewat,  mengaspal  di  jalanan yang membelah tepat di tengah sahara.  Bahkan,  sesekali melintas mobil off road yang berjalan  ngebut.  “Apakah mobil yang dijalankan kaum baduy itu  bisa disewa untuk petualangan di lokasi ini ?, kata Fakhry pelan sekali,  seolah bertanya pada diri sendiri.

Saya tak menyahut karena tidak  tahu,  dan memang  tak sempat bertanya untuk cari tahu.   Namun  dilihat dari situasi,  di  setiap liburan  lokasi ini biasa didatangi untuk plesiran di Arab Saudi.  Jika dugaanku benar berarti  kendaraan off road ini memang  sengaja di sewakan  untuk mengitari lokasi.

Mentari makin condong ke barat,  dan waktu maghrib telah mulai mendekat.  Meski kami masih sangat menikmati panorama  bak  di planet Mars ini,  namun tetap harus buru-buru meninggalkan padang pasir agar tak kemalaman  di lokasi.   Saya sempat  membayangkan,  ”bagaimana andai mobil mogok di lokasi,  tentu sulit sekali  mendapatkan bantuan untuk mengatasi”,  demikian bisik cemas di hati.  Dus,  jika problem itu benar-benar terjadi,  tentulah kami dipaksa  bermalam di lokasi.  ”Naudzubillah… ”,  doaku pelan berbaur perasaan.   Bayang-bayang menakutkan itupun segera kutepis  dari bayangan.

Perlahan kami bergerak meninggalkan lokasi.  Namun,  beberapa saat kemudian kami diajak  turun mobil lagi.  ”Kita telah sampai di Jabal Maghnit”,  jelas mas Isa.   Dinamakan demikian  karena  Lokasi ini memang  dipercaya punya kandungan maghnit.  Mas Isa segera memperlihatkan bukti: ketika mobil yang kami tumpangi dihentikan, dan mesin sengaja dimatikan,  mobil ternyata  tetap bisa bergerak jalan,  bahkan meskipun posisi jalan agak berupa tanjakan.  Apakah memang demikian ?,  ataukah posisi tanjakan hanya sebuah tipuan pandangan ?  Wallahu a’lam,  aku tak terlalu konsen memikirkan hal itu.  karena  suasana sudah temaram-malam,  konsentrasiku pun lebih tertuju pada keinginan untuk pulang. ***

 

 

Iklan

Menelusuri Pelosok Madinah : Kunjungan ke Uhud dan Khandaq (Bagian 17)

Kota Nabi. Meski hari  masih fajar  pagi,  namun  sama sekali tak ada rasa menggigil  di lokasi.  Saya dan Fakhry  bahkan telah melangkah gagah  untuk  mengejar  jamaah shubuh di Nabawy.  Maklum di tanah suci ini,  bahkan di malam hari termasuk pagi,  suhu udara tidak bergeser dari angka 35 derajad celcius.  Apalagi kami memang telah berniat  untuk  ziarah ke makam Baqy,  tempat jasad  para sahabat dan  keluarga Nabi dikubur disimpan dalam bumi.

Tepat pasca wiridan Subuh,  dan tepat pasca kembali  menziarahi makam nabi,   kami langsung menuju lokasi  :  makam baqi.  Dilokasi Baqy sebenarnya tak ada  tanda dan atau informasi  tentang apa,  bagaimana, dan siapa yang dimakamkan di lokasi.  Siapa orang utama yang dikuburkan, tidak ada seorang pun bisa memberi penjelasan dengan kepastian.  Hal yang pasti adalah :  khusus makam orang-orang spesial,   niscaya akan kita temukan keistimewaan,  yakni:   (1).  Jika kubur  orang biasa hanya ditandai dengan  dua bongkah batu,  di bagian kepala dan kaki,  khusus makam orang spesial  disisakan space tertentu ditambah dengan  batas  bebatuan  pada pinggir atas – bawah kiri dan kanan. (2).  Makam istimewa senantiasa  ditunggu di jaga seorang asyakar di dekatnya,  meskipun sang penjaga diam tak memberi informasi apapun tentang makam yang dia jaga. Setiap kali  bertanya padanya,  jawaban asykar hanya Allah a’lam: Allah yang paling tahu.

Sebagai peneliti tentu kami tak kehilangan akal untuk sedikit menguat rahasia.  Melalui tanya pada orang-orang tertentu yang kami perkirakan tahu,  kami langsung  tanya ini dan itu.  Alhamdulillah,  beberapa orang Arab yang kami tanyai:  ternyata mereka memberi informasi.    Berbagai kubur  di bagian depan tak jauh dari pintu gerbang misalnya,  ternyata merupakan  kubur  ’ailatun nabi : keluarga nabi  alias anak-anak dan istri.  Kami  juga berhasil  menemukan makam  sayyidina utsman yang lokasinya di tengah-tengah baqi”,  dengan batas bebatuan relatif lebih luas dibanding makam-makam istimewa lainnya

Kami juga menemukan makam  ibu susu Nabi, yakni :  Siti Halimatus Sya’diah,  yang posisinya ke arah kiri dari lokasi makam Utsman.  Berikutnya berjalan masuk ke dalam lagi  ke  makam ibunya sayyidina Ali yang tak lain  istri paman nabi  bernama Abu Thalib. Posisi makam  lebih  ke belakang tak jauh dari  tembok  di pinggir sebelah kiri.  Tidak lama kami  berada di dalam Baqy,  sebab sekitar jam 7 kami bersegera pulang ke penginapan,  untuk mengisi perut alias sarapan.

Sabtu,  8 April 2017 kantor – kampus masih libur semua,  sehingga agenda berikut yang kami susun adalah menelusuri Madinah pelosok  atau luar kota.  Sorang sarjana  yang tinggal di Madinah sejak  SD mengantar kami,  untuk merealir tujuan ”penting”  ini.  Mohammad Isa Abdullah,  itulah nama yang disandangnya.  Pria muda berbadan tambun ini ternyata  seorang Hafidz.  Masya Allah.

Singkat kata,  sekitar jam 10 pagi  kami telah  meluncur ke   masjid Quba’ dan Qiblatain,  dua buah masjid  monumental  dalam sejarah peradaban Islam.  Quba’  merupakan masjid pertama yang dibangun Nabi, bahkan sebelum Nabawi.  Quba’ dahulu berada di pintu gerbang Madinah.  Dalam perjalanan Hijrah,  Nabi sempat ”membangun”  dan mendirikan shalat di Quba’ ini.  Walhasil,  siapaun menyempatkan shalat di Quba’  dia akan mendapat keutamaan.

Adapun masjid Qiblatain  bermakna dua kiblat.  Kenapa dinamakan demikian,  tentu ada sejarah yang bisa dijelaskan.  Dahulu :  jamaah shalat semula  menghadap ke arah masjidil Aqsa (Yerussalem) .  Suatu hari,   turun perintah Ilahi untuk mengubah  kiblat dari al Aqsa menjadi  ke  Baitullah di Mekkah.  Mendengar berita itu,  jamaah masjid Qiblatain yang semula ke arah Al Aqsa,  maka serta merta mengubah arah ke arah Makah.  Akibat peristiwa ini:  karena  dalam satu waktu shalat mereka sempat mengarahkan diri pada dua kiblat,   sang masjid lantas dinamakan masjid qiblatain.  Kami tidak shalat di dalamnya,  sebab memang tak ada penjelasan tentang keutamaan untuk shalat di sana ,  sebagaimana dijelaskan terkait masjid Quba.

Dari dua masjid,  kami  lantas  meluncur benteng Orwah bin Al Zubair,  sebelum akhirnya  ke bukit Uhud dan lalu ke bukit Hondaq. Berbeda dengan jamaah haji  – umroh yang biasa menaiki bus besar,   kami  memakai mobil kecil seukuran Avanza.  Walhasil,  berbeda  dengan bus yang harus melalui jalan-jalan besar,  kami sengaja diantar melalui perkampungan Arab. Tujuannya untuk mengenal  situasi dan kondisi pemukiman masyarakat.  Di tengah situasi terik seperti Madinah ini,  maka hampir tak dijumpai  orang lalu lalang dengan berjalan kaki.  Rumah-rumah dari luaran tampak berbentuk kubus kebanyakan,  dan amat sangat jarang dihisai denan tetumbuhan.  Gersang.  Panas.  Setelah blusukan ke berbagai kampung arab,  akhirnya sampailah ke  kawasan Jabal Uhud..  Uhud ternyata memang bukan sebuah gunung tunggal,  melainkan gugusan bukit yang memiliki bebeapa puncak.

Uhud –dahulu  sebagai  tempat terjadinya perang kedua dalam Islam—suasananya tetap sama,  tak ada beda dengan  dua tahun sebelumnya.  Di kaki bukit  kami tetap disambut  pasar tradisional dengan aneka dagangan yang dijajakan.  Sebuah bukit kecil  berjarak tak  jauh (bahkan paling dekat) dari  pasar  itulah ”inti” sejarah  uhud terjadi.  Konon di bukit paling kecil dan tak  terlalu tinggi ini,  dahulu menjadi tempat komando  pasukan panah yang dibentuk Nabi sang utusan.  Mereka disuruh menyerang bertahan,   namun akhirnya lokasi ini  justru  ditinggalkan,  akibat mereka terpesona oleh harta rampasan.   Akibat  melanggar perintah nabi,  muslimin banyak menjadi  korban dalam peperangan ini.  Para syuhada’  Uhud  ini dimakamkan di lembah tepat di depan bukit tadi,  pada posisi sebelah sisi lainnya dari pasaritradisional ini.  Salah tokoh legendaris  yang dimakamkan satu nya adalah :  Sayyidina Hamzah,  paman nabi yang tewas ditombak lengkap  dengan bekas 70 sabetan pedang.

Hanya saja,  di lokasi di tahun 2017 ini terdapat bangunan masjid   yang pada September 2015 belum ada. ”Masjid baru dibangun sejak akhir 2015”, jelas mas Mohammad Isa,  yang dirunut leluhur berasal dari Pati dan Yogya.   Saya duga  Masjid Uhud sengaja untuk memfasilitasi  penggalakan pariwisata,  sehingga  wisatawan dapat shalat  sekaligus menghilankan penat.  Bahkan,  sambil mengurangi penat,   wisatan dapat belanja berbagai ”cinderamata”  yang digelar di pasar tradisional termasuk toko mobil  yang kuperhatikan juga banyak keberadaannya.  .

Pembangunan  di bukit  Khandaq  –tempat terjadinya perang Khandaq—bahkan lebih  pesat pelaksanaannya.  Jika  di tahun 2015, saya tak  tertarik untuk  mengunjungi,  merasa  cukup memandang dari  kendaraan kami,  maka di  tahun 2017  jamaah  ”pastiakan tertarik untuk  turun  ke  lokasi.   Fasilitas penunjang telah banyak  dibangun dilokasi.  Setidaknya ada empat bangunan historis di wilayah Khandak.  Satu bangunan kecil berlokasi  di atas sebelah kiri,  disebut masjid nabi.  Tepat di bawahnya ada bangunan lebih kecil dan sederhana  disebut masjid Salman Al Farisi.   Di  sebelah kanan pada posisi juga  tinggi disebut masjid Ali.  Terakhir,  tepat di bagian tengah terdapat masjid yang paling besar disebut masjid Utsman bin Affan.  Di masjid inilah terdapat banyak toilet,  serta  memungkinkan wisatawan untuk shalat bahkan istirahat untuk melepaskan penat.

Keempat”masjid”,  sebenarnya hanya pertanda  bahwa tempat itu dahulu menjadi  lokasi  tafakur (dzikir dan shalat sunnah)  nama-nama bersangkutan,  sekaligus tempat mangkal untuk  mengawasi musuh  dari posisi bebukitan.  Di lokasi ini nama Salman Al Farisi menjadi legenda,  sebab tokoh inilah yang mengusulkan ide penggalian parit untuk mengelilingi lokasi,  sebagai beteng pertahanan,   karena umat Islam kala itu sedang dipaksa  menghadapi koalisi kejahatan  kaum kafir Qurais dan  para pengkhianat Yahudi Madinah.

Saudi memang sedang berbenah diri,  membangun berbagai fasilitas untuk mendukung program wisata sebagaimana visi Saudi 2030 nya.  Tak jauh dari Uhud,  tepatnya satu dua kilometer  sebelum menjangku kawasan Uhud,  terdapat  beteng kuno peninggalan Dinasti Utsmaniah,  yang  juga mengalami proses renovasi.  Dialah  benteng Orwah bin Al Zubair.   Bahkan,  di masing-masing lokasi wisata tadi,  saat ini telah pula dipajang papan besar yang berisi penjelasan tentang apa dan bagaimana  kejadian yang pernah terjadi  di  lokasi bersangkutan tadi.

Realitas ”pembenahan” situs  seperti ini sekarang bukan khas fenomena  Madinah,  melainkan juga telah  menjadi  fenomena Mekah.  Banyak fasilitas historis dibangun di Makkah Al Mukarromah.  Selain museum haromaian,  lokasi wukuf nabi misalnya,  jika dahulu disembunyikan/dikaburkan persis seperti  lokasi kelahiran nabi,   kini telah ditandai dengan bangunan kotak kecil  tepat di arah bawah jabal Rahmah.  ”Irigasi yang dibangun era Umayyah di sepanjang bukit di Makkah,  konon juga akan direnovasi”,  jelas mas Mubarrok ketika mengantar ziarah di kota Makkah.  Dahulu,  Irigasi itu konon dimaksud sebagai jaringan penyaluran air untuk memenuhi  kebutuhan minum para haji kota Makkah.  Bangunan ini terwujud atas inisiatif permaisuri Sultan  yang senantiasa dibayang-bayangi mimpi bertemu dengan lautan jamaah haji.  Mimpi ini terjadi berulang kali..  Atas mimpi inilah,  sang permaisuri ingin berbuat kebajikan pada jamaah haji, lantas memerintahkan pembangunan irigasi puluhan kilo meter panjang sekali,  menyusuri bukit-bukit terjal  terutama untuk memenuhi kebutuhan minum jamaah haji,  di tengah tanah terik  tanah haram yang tidak terkira. Subhanallah.***