Menelusuri Pelosok Madinah: Danau Tersembunyi di Tengah Gurun (Bagian 18)

Mentari telah berdiri tegak di tengah  bumi Madinatunnabi.   Sinar Surya memancar  tajam,  terasa seolah  hendak menikam.  Madinah  terik.  Madinah panas.  Madinah kering  meski tak sampai kerontang.  Tepat menjelang Dzuhur kami segera kabur.  Maklum,  perut  sudah keroncongan,  haus pun ikut  menyergap kerongkongan.

Mobil segera  meluncur  mencari rumah makan,  dengan menu  utama   onta sebagai lauk hidangan .  Ketika di Makkah,  mas Mubarak sebenarnya  sempat menawari  untuk mengantar kami  ke restoran dengan menu daging onta alias Hasyi.  Namun,  karena jadwal undangan makam malam (asya’) dari Syekh Ismail  jadwalnya  belum  pasti ,   kami akhirnya ragu menyambut tawaran mas Mubarak tadi.   Karena jadwal santap Onta Mekah batal  dilaksanakan,  akhirnya Onta Madinah ganti jadi sasaran.

Tak berapa lama   mobil menepi , langsung berhenti  tepat di depan restoran ’Asyi.  Lokasi restoran ada di depan Markaz Al Buhuts,  meski  sedikit bergeser ke arah kanan.  Markaz al Buhuts adalah sebuah lembaga penelitian,  atau  semacam LIPI nya Saudi.  Kami sempat  berjalan ke lokasi  sejajar  ke arah depan kantor itu,   yakni ketika  shalat dzuhur di masjid pasca makan.    Bahkan,  sepeninggal dari shalat  pun mobil kami melewati tepat di depannya.  Namun,  kantor kecil  berkaca itu tetap sepi keadaannya.  ”Markal al Buhuts terkesan seperti gudang buku belaka”,  komentar mas Hamdan  ketika mobil tepat ada di hadapan kantor.  ”Kantor  kok kosong tanpa penghuni”, timpal Fakhry.    Padahal  Markaz Al Buhuts semula  justru menjadi salah satu sasaran untuk dilakukan kunjungan.  Dus,  melihat realitas itu,  langsung  dia kami coret dari daftar penelitian.

Kembali ke soal  restoran,  ternyata tak ada yang spesial dari rasa daging onta,  kecuali seratnya yang agak besar ukurannya.  Hal yang agak beda dibanding  kambing dan sapi,  Bau daging onta  memang  sedikit menusuk,  meskipun makanan disajikan panas-panas.  Dilihat dari  wujud dan dibau dari aroma,  daging Onta  sepertinya dimasak dengan bumbu ”kare”.  Uniknya,  daging itu disajikan dengan cara  ditanam di bawah dibawah  gundukan nasi. Nasi nyapun tidak lagi berwarna putih,  melainkan seperti dicampur dengan bumbu-bumbu  sehingga kuning kecoklatan tampilannya.

Di tengah kelaparan yang mendera,   acara makan langsung dimulai segera.    ”Alhamdulilah,  setelah bertahun-tahun makan daging onta hanyalah cita-cita saja,  kali ini  ia telah menjadi realita”,  desis hatiku bersuka cita.

Tepat siang hari ini  kami benar-benar bergaya makan ala  Arab, bukan saja  dalam menu makanan,  bahkan termasuk menenggak Pepsi sebagai minum iringan.  ”Orang Arab memang aneh, sebagai iringan makan berat  bukannya air putih sebagai minuman,  tetapi justru  soft drink yang disajikan”, komentar Wawan sembari menyuap makanan.

Selesai berpesta daging Onta,  dan setelah memenuhi kebutuhan Rohani sholat menghadap Ilahi,  kami diajak meluncur  ke Sakan mahasiswa  Universitas Islam Madinah,  tempat kuliah mas  Izdihar dan mas Muhammad Isa.  Bahkan,  dilokasi ini kami berjumpa dengan kakaknya bernama Muhammad Ayub. Kakak beradik tinggal satu kamar serta kuliah di satu kampus.  Dari kakak beradik Isa dan Ayub inilah  banyak sekali informasi dapat kami gali,  sebab keduanya sejak SD sudah tinggal di Arab Saudi,  bahkan gaya bicara nya pun  sudah terlalu sulit dibedakan dengan orang Saudi.  ”Sebelum kumpul dengan kita-kita,  Isa sangat terbatas dalam bahasa Indonesia”,  kata Izdihar menjelaskan. Namun yang pasti,  dari gaya bicara,  tampak bahwa mahasiswa  kakak beradik ini memiliki sikap dewasa dari cara keduanya ngomong yang cukup tertata.

Dalam waktu tak terlalu lama,   kami berenam  telah menghabiskan dua porsi besar  satu nampan berisi  nasi domba  dan satu nampan besar lain berisi nasi onta .  Mblejer…itulah ungkapan tepat untuk menggambarkan kekenyangan.

Setelah istirahat sejenak,  kami lantas sholat di sebuah masjid  di sebelah kanan tak jauh dari restoran.  Sebelum perjalanan petualangan  kami lanjutkan,  kami sempat mampir ”rumah”  mas Isa,  tepatnya di  asrama mahasiswa universitas Islam Madinah.  Kala itulah,  Mohammad Ayub kakak dari Mohammad Isa  tertarik untuk mendampingi kami,  sehingga  kami bertujuh bertualang  menuju lokasi.

”Kemana berikutnya ?,  tanya mas Hamdan  penasaran.

”Ke sebuah lokasi  rahasia”,  jawab mas Istihar yang menimbulkan kepenasaran.

Singkat kata,  sampailah kami di sebuah lokasi ”rahasia” .  Tempat ini memang special sekali.  Lokasi ini benar-benar   tak pernah terbayang nalar pernah ada di sebuah  gurun di pinggiran  kota Madinatunnabi.  Yah,  sebuah danau  di tengah-tengah  padang pasir serta dikitari  bukit-bukit batu di segala penjurunya.  Dahulu lokasi ini mungkin benar-benar sesuatu yang rahasia,  karena tak terbayangkan maujud di tengah padang sahara. Danau bahkan diberi nama Wadi Al Jin,  yang bermakna  mata air Jin. Saya tak tahu,  kenapa lokasi itu dinamakan begitu.  Adakah eksistensinya terkait dengan bangsa jin ? Wallahu a’lam.

Wadi Al Jin cukup jernih airnya,  hanya saja sedikit bau aromanya. Meski demikian,  danau di tengah  gurun ini  menjadi lokasi piknik warga Saudi, terbukti dari satu dua mobil datang dan pergi dari lokasi ini.

Setelah sekian lama kami menikmati panorama,  mobil segera beranjak untuk menuju lokasi berikutnya, yang juga masih rahasia.  Roda-roda  mobil sempat terjebak dalam kubangan pasir. Roda hanya mampu berputar –putar di tempat,   namun tak mampu beranjak.  Para penumpang segera turun mengurangi beban,  bahkan terpaksa kami  sedikit bertolak memberi dorongan.  Walhasil,  sang  mobil  akhirnya terbebas dari jebakan. Alhamdulillah….

Mentari sedikit bergeser ke arah peraduannya,  menandai hari telah menjelang senja.  Disaat itulah mobil kembali menepi,  tak lama kemudian  berhenti.  ”Lho,  kenapa kita mesti berhenti ?,  tanyaku khawatir,  sebab  kami berada ”tepat”  di tengah sahara  yang tak terdapat  sesuatu apa.

Namun,  sebagai ”penumpang”  saya akhirnya turun  ikut penumpang lainnya.  Setelah menginjak bumi,  barulah kesadaran menguasai.  ”Subhanallah,  betapa indah lokasi ngentak-entak di tengah padang pasir ini ”,  ungkap hatiku terpesona.  Mataku terbelalak,  memicing terhentak.

Di hadapanku terhampar  tanah  lapang.  Di sepanjang mata memandang,  lautan pasir  yang tampak  terbentang..  Hanya di kejauhan tampat  bebukitan,  seolah  bukit-bukit  itu  mengitari lokasi  sekaligus menjadi pasukan penjagaan.   Walhasil,  ke arah manapun  sepanjang mata memandang yang terlihat  hanya pasir dan pasir,  bahkan hanya gurun dan gurun. Hanya di penghujung penglihatan saja,   tatapan terbentur tubuh molek  bebukitan.  Mulus tanpa ada  tanaman.  Postur  sebagian bukit itu tampak nyata,  karena jaraknya yang masih terjangkau oleh netra.  Namun,  sebagian bukit  lain ada yang hanya  tampak lekuk lika  bentu tubuhnya,  hanya kemolekannya  hanya remang-remang  akibat  sedemikian jauh jaraknya.

Meski hari telah menjelang senja,  namun mentari tetap leluasa menerabas  bebukitan,  sinarnya memantul  dari tubuh molek  padang pasir dan bebukitan.  Realitas ini sungguh menghasilkan panorama luar biasa,  sebab semua bukit yang terjangkau oleh pandangan  tampak  seolah merah-kekuningan warnanya..  Ketika  menghadap ke barat, timur, utara,  maupun selatan,  semua bukit kemerah-merahan warnanya,  kekuningan-kuningan kesannya.  Hamparan pasir  juga berwarna serupa,  kuning kemerahan akibat diterba sinar sang surya.  Hanya satu dua pokok  pohon, kulihat  menjulang,  dalam kegersangan.  Dari pohon yang ada pun tak satupun  menampilkan adanya dedauan baik di pokok,  ranting apalagi cabang.  Semua mranggas.  Kerontang.

Di tengah lokasi  “rahasia”  ini seolah saya tidak  lagi berada  di atas bumi.  Saya merasa  seakan ada di planet lain,  berdiri  di alam lain.  Andai saja,  saya di lokasi ini sendirian,  mungkin merasa  sedang di planet Mars yang konon berwarna kemerahan.  Hanya saja,  di lokasi ini  saya memang tak sendiri.  Ada  mas Hamdan,  ada  Fakhry, Wawan, Izdihar,  Mohammad Isa,  juga Muhammad Yakup.  Realitas inilah yang menyebabkan saya tetap tersadar bahwa saya masih ada di bumi tempatnya.  Apalagi sesekali  ada mobil  lewat,  mengaspal  di  jalanan yang membelah tepat di tengah sahara.  Bahkan,  sesekali melintas mobil off road yang berjalan  ngebut.  “Apakah mobil yang dijalankan kaum baduy itu  bisa disewa untuk petualangan di lokasi ini ?, kata Fakhry pelan sekali,  seolah bertanya pada diri sendiri.

Saya tak menyahut karena tidak  tahu,  dan memang  tak sempat bertanya untuk cari tahu.   Namun  dilihat dari situasi,  di  setiap liburan  lokasi ini biasa didatangi untuk plesiran di Arab Saudi.  Jika dugaanku benar berarti  kendaraan off road ini memang  sengaja di sewakan  untuk mengitari lokasi.

Mentari makin condong ke barat,  dan waktu maghrib telah mulai mendekat.  Meski kami masih sangat menikmati panorama  bak  di planet Mars ini,  namun tetap harus buru-buru meninggalkan padang pasir agar tak kemalaman  di lokasi.   Saya sempat  membayangkan,  ”bagaimana andai mobil mogok di lokasi,  tentu sulit sekali  mendapatkan bantuan untuk mengatasi”,  demikian bisik cemas di hati.  Dus,  jika problem itu benar-benar terjadi,  tentulah kami dipaksa  bermalam di lokasi.  ”Naudzubillah… ”,  doaku pelan berbaur perasaan.   Bayang-bayang menakutkan itupun segera kutepis  dari bayangan.

Perlahan kami bergerak meninggalkan lokasi.  Namun,  beberapa saat kemudian kami diajak  turun mobil lagi.  ”Kita telah sampai di Jabal Maghnit”,  jelas mas Isa.   Dinamakan demikian  karena  Lokasi ini memang  dipercaya punya kandungan maghnit.  Mas Isa segera memperlihatkan bukti: ketika mobil yang kami tumpangi dihentikan, dan mesin sengaja dimatikan,  mobil ternyata  tetap bisa bergerak jalan,  bahkan meskipun posisi jalan agak berupa tanjakan.  Apakah memang demikian ?,  ataukah posisi tanjakan hanya sebuah tipuan pandangan ?  Wallahu a’lam,  aku tak terlalu konsen memikirkan hal itu.  karena  suasana sudah temaram-malam,  konsentrasiku pun lebih tertuju pada keinginan untuk pulang. ***

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: